Ban Depan Si Putih Bocor

Senin malam, 04 Maret 2013 kemarin RiderAlit mengalami hal yang tidak mengenakan. Pulang dari tempat kerja kira-kira pukul sembilan lebih sepuluh menit, RiderAlit mengendarai Si Putih di jalan Dewi Sartika. Sampai lampu merah pertigaan Dewi Sartika menuju Cililitan RiderAlit berbelok ke kanan menuju arah Kalibata. Saat itu hujan masih rintik-rintik. Melewati flyover jembatan Pelangi kemudian RiderAlit berbelok ke kiri melewati pagar samping IPMI Bussiness School menuju Pasar Minggu.

Sampai di stasiun Pasar Minggu Baru, RiderAlit menepi untuk memeriksa apakah dompet dan HP tertinggal di kantor. RiderAlit buka tas dan ternyata keduanya ada dalam tas. RiderAlit lanjutkan perjalanan tanpa mengabaikan rintik-rintik hujan. Baru berjalan beberapa meter kemudian ternyata hujan menjadi semakin lebat. Akhirnya RiderAlit paksakan riding walau jaket dan celana mulai basah, sambil lirik kiri-kanan mencari tempat yang aman untuk memberhentikan motor dan memakai jas hujan. Sampai di jalan yang akan melintasi rel KA dari arah stasiun Pasar Minggu, RiderAlit lihat deretan warung makan dan banyak pengendara lain berhenti untuk memakai jas hujan. Akhirnya RiderAlit memutuskan untuk ikut berhenti dan memakai jas hujan. Beberapa menit kemudian, dengan mengenakan jas hujan RiderAlit lanjutkan perjalanan. Sepatu RiderAlit masukan dalam kantong plastik dan gantungkan di bagasi Si Putih. RiderAlit sendiri mengenakan sandal jepit. Hal ini RiderAlit lakukan karena takut sepatu jadi basah dan susah kering karena memang sekarang musim hujan.

Melewati Pasar Minggu menuju Tanjung Barat RiderAlit merasakan keanehan pada Si Putih. Stang terasa goyang dan menjadi sulit dikendalikan. Si Putih jadi terasa berjalan lambat padahal RiderAlit sudah menarik gas lumayan dalam. Sampai di Lenteng Agung RiderAlit berjalan pelan karena ramainya lalu lintas dan banyak polisi tidur. Ketika menerjang polisi tidur beruntun, RiderAlit rasakan tidak ada guncangan hebat. Padahal dalam keadaan normal walaupun berjalan pelan guncangan sangat terasa saat melintasi polisi tidur yang dibuat beruntun di jalan raya. Saat itu RiderAlit mulai curiga ban depan kempes, kurang angin atau memang karena hempasan angin yang kencang.

Saat melewati jalan Margonda, tepatnya di depan ruko-ruko wilayah Pondok Cina menuju Detos, RiderAlit melihat seorang rider lain terjatuh. Memang pada saat itu hujan sedang lebat-lebatnya dan hempasan angin kencang sekali. Wajar saja jika ada pemotor yang jatuh, karena RiderAlit pun merasakan hempasan angin dari sebelah kanan yang membuat RiderAlit hampir oleng ke kiri. Karena stang yang goyang dan angin serta hujan lebat, RiderAlit tidak berani melaju lebih dari 40 km/jam.

Ketika sampai di lampu merah perempatan Juanda, RiderAlit kaget bukan kepalang. Kalau ban kempes atau kurang angin biasanya masih terlihat menggembung, kenapa ban depan Si Putih tampak peyot seperti tidak ada anginnya sama sekali? Jarak antara velg dengan aspal kenapa jadi tipis? Akhirnya setelah lampu menjadi hijau RiderAlit segera melaju untuk menepi. Matikan mesin, turun dan menekan ban depan. Hal yang RiderAlit takutkan pun terjadi. Saat malam hari, hujan lebat dan ban motor bocor! Terlintas dalam benak RiderAlit adalah, “Berarti tadi riding dengan ban depan yang bocor berkilo-kilo meter sejak dari Pasar Minggu dengan menerjang polisi tidur juga!”

Dengan berat hati dan sisa tenaga RiderAlit dorong Si Putih untuk mencari tukang tambal ban. Alhamdulillah, tidak jauh dari perempatan Juanda, di sepanjang ruko-ruko di jalan Margonda menuju Mall Depok ada tukang tambal ban. Dengan hanya melihat sebuah mesin kompresor yang biasanya dipakai untuk memompa ban di sebelah warung rokok, RiderAlit tahu ini pasti tukang tambal ban. Si tukang tambal ban pun menghampiri. Karena cuaca hujan, dia meminta agar menunggu hujan agak reda.

Akhirnya hujan pun reda. Si tukang tambal ban mulai membongkar ban luar depan dan mengeluarkan ban dalamnya. Dia celupkan ban dalam ke dalam ember berisi air dan memperhatikan gelembung-gelembung. Hasilnya ada dua lubang di ban depan Si Putih. Singkat cerita, setelah si tukang tambal ban selesai menambal kebocoran tersebut, dia pun memeriksa ban luar Si Putih. Ternyata ada serpihan kaca/beling yang menusuk ban luar hingga membuat bocor ban dalam. Berikutnya dari ban dalam juga ada paku kecil yang patah yang membuat bocoran kedua. Selesai ditambal, RiderAlit memberikan ongkos pada si penambal ban. Uang Rp. 10.000,00 yang sebelumnya direncanakan untuk membeli premium harus direlakan untuk ongkos tambal ban. Hujan pun kembali lebat saat RiderAlit mulai melaju melintasi terminal Depok Baru. Berkendara dengan rasa waswas dalam hati, semoga ban tidak bocor lagi.

Sampai dirumah jam menunjukan 23:45 WIB. RiderAlit periksa tekanan angin dengan menekan ban depan, ternyata masih sama rasanya saat selesai dipompa setelah ditambal tadi. Huaah… mata pun sudah lengket rasanya ingin segera tidur. Seharusnya sampai rumah kurang lebih jam 22:30, malam ini terlambat sampai rumah lebih dari satu jam dalam keadaan basah pula. Seperti inilah rasanya ban bocor 😦 .

Iklan

2 thoughts on “Ban Depan Si Putih Bocor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s