Perjalanan Singkat ke Bukit Pelangi

Sepira di Depan Gerbang Rainbow Hill

Sepira di Depan Gerbang Rainbow Hill

Senin, 04 November 2013, RiderAlit libur kerja karena esok harinya merupakan hari libur nasional memperingati tahun baru Islam, 1 Muharam 1435 H. Jadi, hari Senin kemarin adalah hari kejepit nasional heuheu… πŸ˜€ . Sepulang kuliah RiderAlit memanfaatkan hari libur tersebut untuk solo riding menjelajahi kawasan Sentul, yang RiderAlit dengar dari sebagian biker yang sering berwisata ke kawasan Puncak merupakan jalur alternatif melewati satu kawasan yang terkenal bernama Bukit Pelangi (Rainbow Hill).

Berangkat dari kampus H Universitas Gunadarma di jalan Akses UI pukul 14:30 (jam kuliah terakhir hari itu), RiderAlit menelusuri jalan Margonda Raya menuju jalan Tole Iskandar. Margonda Raya ramai lancar, karena memang belum waktunya jam pulang kerja yang biasanya menyebabkan kemacetan di depan Depok Town Square (Detos)/Margo City. Selepas terminal Depok, jalan lurus hingga sampai di lampu merah pertigaan Margonda – Jalan Kartini – Tole Iskandar. RiderAlit berbelok ke kiri langsung menuju Tole Iskandar. Akses tercepat dari Depok ke Sentul adalah melewati jalan Tole Iskandar kemudian tembus di jalan Raya Bogor.

Ketika sampai di depan Masjid Assalam RiderAlit menepi sebentar. Lihat jam di tangan ternyata sudah lewat beberapa menit dari jam tiga sore. Ok, waktunya sholat Ashar. Memasuki halaman parkir, RiderAlit melihat beberapa orang sedang sibuk menangani sound system. Mungkin panitia acara peringatan 1 Muharam 1435 H sedang mempersiapkan acara. Selepas sholat, RiderAlit bersiap kembali melanjutkan perjalanan. Hidupkan mesin Sepira, kemudian RiderAlit amati fuel meter masih menunjukan empat bar. Masih aman.

Masjid Assalam

Masjid Assalam, Jalan Tole Iskandar, Depok.

Melanjutkan perjalanan ke jalan Raya Bogor, arus lalu lintas juga masih lancar. Sesekali berpapasan dengan muda-mudi yang berboncengan, angkot dan truk serta bus. Kemacetan juga tidak ditemui menjelang fly over pasar Cibinong. Melewati lampu merah pertigaan Pemda Kabupaten Bogor, lalu lintas diwarnai oleh angkot dan banyak anak sekolah yang bermotor hendak pulang. Ada sedikit kejadian menyebalkan. Sebuah angkot menepi untuk mengangkut penumpang, otomatis RiderAlit mengambil jalur kanan untuk mendahului. Tapi belum sempat melakukan overtake, tiba-tiba terdengar klakson memekakan telinga. Ternyata sebuah bus melaju kencang, padahal RiderAlit sudah menyalakan lampu sein kanan. Seperti inilah situasi di jalan Raya Bogor. Jalannya memang cukup lebar dan lurus, tapi harus ekstra kosentrasi karena angkot dan kendaraan umum lain seenaknya menepi atau mendahului. Lengah sedikit josss πŸ˜€ .

Melewati Badan Informasi Geospasial, RiderAlit pasang mata mengamati setiap rambu penunjuk jalan. Tidak beberapa lama kemudian terlihat sebuah pertigaan dan penunjuk jalan bertuliskan “Sentul”. Tidak perlu ikut bermacet-macet ria di lampu merah, RiderAlit langsung belok kiri mengikuti petunjuk jalan. Sesekali mengecek fuel meter yang menunjukan indikator bensin masih tersisa tiga bar. Harus segera mencari pom bensin. RiderAlit berjalan pelan karena belum mengenal daerah ini. Sambil tengok kiri-kanan mencari orang untuk bertanya. Berhenti sebentar, tanya pada seorang penjual asongan dipinggir jalan arah ke Bukit Pelangi. “Lurus saja, mas. Ikuti jalannya.” Kira-kira seperti itulah jawabannya. Ok, RiderAlit jalan lurus.

Jalan Alternatif Sentul ini terdiri dari empat lajur. Dua lajur mengarah ke jalan Raya Bogor dan dua lajur mengarah ke Sentul. Kira-kira tiga ratus meter dari jalan Raya Bogor RiderAlit menjumpai sebuah SPBU Pertamina. Berbelok ke kiri, isi Premium sebanyak tujuh ribu rupiah ternyata tanki sudah hampir penuh. Memang, fuel meter Sepira agak kacau, kalau diisi bensin sampai bibir tanki pun fuel meter tidak menunjukan penuh. Dari tujuh bar yang ditunjukan hanya enam.

SPBU Pertamina di Jalan Alternatif Sentul

SPBU Pertamina di jalan Alternatif Sentul. Kira-kira tiga ratus meter dari pertigaan lampu merah, sebelah kiri.

Perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri jalan Alternatif Sentul sampai RiderAlit menemui sebuah perempatan lampu merah. Mengikuti naluri, RiderAlit berjalan lurus sampai melewati terowongan. Untung RiderAlit berjalan pelan, karena ternyata aspal di bawah terowongan yang RiderAlit lewati rusak parah. Banyak lubang besar dan dalam (setelah dicek dengan Google Maps ternyata terowongan itu adalah fly over jalan Tol Jagorawi). Keluar melewati terowongan RiderAlit kembali dihadapkan dengan persimpangan jalan. Masih mengikuti naluri, RiderAlit berbelok ke kiri.

Ternyata benar. Belum lama memacu Sepira, RiderAlit melihat gerbang bertuliskan “Welcome Sentul Indonesia”. Tapi kembali dihadapkan dengan persimpangan, ke kiri atau ke kanan. Karena tidak yakin, RiderAlit bertanya pada seorang anak muda di pinggir jalan, “Punten, A’. Kalau mau ke Bukit Pelangi jalannya ke kiri apa kanan ya?” Anak muda itu dengan ramah menjawab, “Bukit Pelangi lewat kanan aja A’.” Sambil menujukan arah jalannya. “Terima kasih, A’. Permisi.”

Sirkuit Internasional Sentul

Selamat datang di Sentul. Dari sini belok ke kanan untuk menuju Bukit Pelangi.

Setelah berbelok ke kanan, aspal di jalan masih terlihat mulus dan sesekali mendahului truk-truk besar yang mengangkut material bangunan. Beberapa ratus meter kemudian terlihat sebuah plang bertuliskan “Makam H. Masagung”. Setahu RiderAlit, Masagung itu pendiri toko buku Gunung Agung yang terkenal itu. Melewati makam H. Masagung beberapa ratus meter kemudian kondisi aspal tidaklah mulus, sedang ada perbaikan jalan. Sepira pun harus naik turun aspal yang rusak dan aspal beton yang baru selesai dicor. Untunglah ground clearance Sepira cukup tinggi. Berhati-hatilah melewati jalan ini karena banyak bocah berkendara seruntulan.

Menurut jawaban yang kembali RiderAlit dapatkan, untuk menuju Bukit Pelangi setelah menelusuri jalan lurus ini nanti harus berbelok ke kiri. Ketika sampai di jalan dengan kondisi yang rusak parah dan ada sisa-sisa aspal beton yang belum selesai, RiderAlit melihat sebuah persimpangan ke kiri. Mungkin ini belokan ke kiri yang dimaksud tadi. RiderAlit pun mengikutinya. Jalan menurun dan sepi agak ragu juga RiderAlit menelusurinya walau berjalan pelan. Akhirnya RiderAlit melihat seorang pemulung dan kemudian bertanya, “Punten A’. Kalau mau ke Bukit Pelangi lewat sini bukan ya?” Kemudian dia jawab, “Iya A’. Lurus aja terus, nanti ada Pasar Madang. Pasarnya sih ada di sebelah kanan. Nanti Aa’ belok kanan aja.” Oh, berarti benar. RiderAlit pun mengucapkan terima kasih. Kemudian dia kembali menjawab, “Sama-sama, A’. Nanti Aa’ tanya lagi ya di sana.” RiderAlit pun menjawab “Iya, A’. Punten.”

Subhanallah, pemulung itu ramah sekali ya. Sempat bingung, kalau dianggap pemulung kenapa orangnya ramah. Pakaian dan mukanya pun tidak kotor. Kalau bukan pemulung pun kenapa membawa-bawa karung dan kait besi dan mengais-ngais tumpukan sampah. Satu pelajaran. Jangan menilai orang dari penampilannya.

RiderAlit berbelok ke kanan setelah menemukan pertigaan pasar. Sesuai saran dari pemulung tadi, RiderAlit sempat bertanya lagi dan jawabannya sesuai. Bukit Pelangi belok kanan. Sekilas saat memacu Sepira, RiderAlit melihat plang sekolah bertuliskan “Babakan Madang”. Oh, mungkin ini desa Babakan Madang. Jalannya rusak, RiderAlit pun riding mengikuti jalan dan naluri saja.

Memasuki Kawasan Sentul dari Babakan Madang

Memasuki kawasan Sentul dari Babakan Madang. Ini adalah sebuah halte bus, executive shuttle. Pada dinding bangunan tertera butik MBoutique.

Sampailah RiderAlit di sebuah jalan beraspal mulus dan udara pun terasa sejuk. Di kanan-kiri jalan banyak pepohonan. Lihat-lihat petunjuk arah bertuliskan “Jungleland”. Aspal dan pepohonan terlihat basah, mungkin selepas hujan disini. Akhirnya RiderAlit berhenti sebentar di sebuah halte bus yang di jalan masuknya bertuliskan Executive Shuttle.

Jalan ke Jungleland

Jalan ke Jungleland. Aspalnya basah, udara sejuk dan banyak pepohonan. Riding semakin nikmat πŸ™‚ .

Ketika mengikuti arah ke Jungleland ternyata RiderAlit salah jalan. Setelah memasuki sebuah gapura besar, karena asyiknya menikmati pemandangan, RiderAlit semakin jauh memasuki kawasan perumahan mewah. Sampai disebuah putaran dengan patung kancil, RiderAlit bertanya pada beberapa anak yang sedang “nongkrong-nongkrong” dengan sepeda motornya. Ternyata RiderAlit harus balik arah untuk menuju Bukit Pelangi. Ya sudah, karena kebetulan ini adalah putaran U-turn, maka RiderAlit pun langsung tancap gas kembali ke arah semula. Jalan menurun dan sangat nyaman. Sepanjang berkendara di jalan ini RiderAlit tak habisnya mengagumi keindahan pemandangan. Subhanallah, alam yang sudah sangat indah ini jadi semakin indah dengan keterampilan manusia menatanya. Kemudian melewati sebuah gerbang yang di dindingnya bertuliskan Mediterania II Green Hill atau Mediterania II Golf Hill. Entahlah mana yang benar, RiderAlit lupa πŸ˜€ . Paling diingat ya tulisan mediteranianya itu.

Akhirnya RiderAlit berbelok ke kanan dan sampai di sebuah jalan yang lebar dan lurus. Jalan ini sepi tapi sesekali mobil atau motor melintas dengan kecepatan tinggi. Banyak pepohonan di kanan-kiri dan ditengah median jalannya. Di sebelah kiri jalan terlihat jalur khusus untuk sepeda bercat merah bata. Sampai lagi di sebuah putaran, bingung. Belok ke kiri dan jalan beberapa meter kemudian RiderAlit bertanya lagi. “Oh, kalau mau ke Bukit Pelangi balik arah dulu terus belok kanan. Nanti ada jalan yang ke atas sama ke bawah. Aa’ ambil yang ke bawah.” Waduh, balik arah lagi ternyata.

Setelah belok ke kanan dan riding beberapa meter, ternyata RiderAlit menjumpai sebuah SPBU Petronas. Di kejauhan terlihat plang bertuliskan Sentul City diatas sebuah bukit. Hari semakin sore dan langit pun terlihat semakin gelap. Kalau Bukit Pelangi masih jauh dari sini, berarti sampai disana sudah menjelang malam.

Jalan di Sentul City

Indahnya tanaman penghias median jalan di Sentul City.

SPBU Petronas di Sentul City

Selain beberapa SPBU Pertamina, ternyata ada SPBU Petronas di Sentul City.

Jalan di Sentul City

Jalan di Sentul City. Pemandangannya indah, aspalnya mulus, udaranya sejuk.

RiderAlit mengambil jalan menurun ke kiri dan melewati sebuah terowongan. Kira-kira setelah riding beberapa kilometer, RiderAlit melihat sebuah gerbang perumahan dengan penunjuk jalan di sebelah kanan bertuliskan Gadog. Hati jadi ragu. Mungkin ini jalan masuk ke Bukit Pelangi. RiderAlit pun terus berjalan lurus mengikuti arah jalan. Jalan yang dilewati banyak tanjakan, turunan dan tikungan tajam. Perjalanan pun semakin jauh dan hari semakin sore. RiderAlit perhatikan ini adalah sebuah desa.

Terlihat beberapa rumah yang jaraknya berjauhan. Di beberapa titik, aspal jalannya rusak parah. Tak terasa perjalanan semakin jauh, jalan menanjak semakin sering ditemui dan rumah-rumah semakin sedikit. Bisa repot kalau tanki Sepira kosong di tempat seperti ini. RiderAlit perhatikan fuel meter berubah menjadi empat bar ketika menanjak dan kembali menjadi lima bar ketika jalan datar atau menurun. Akhirnya di sebuah rumah RiderAlit bertanya arah ke Bukit Pelangi. Lagi-lagi RiderAlit salah jalan. Katanya jalan masuk ke Bukit Pelangi sudah terlewati dan lagi-lagi harus balik arah. Katanya nanti ada gerbangnya di sebelah kiri.

Menuju Bukit Pelangi

Balik arah menuju Bukit Pelangi. Hati-hati, jalan menurun dan banyak tikungan tajam.

RiderAlit pun balik arah. Langit semakin gelap dan rintik-rintik gerimis mulai membasahi aspal. Harus semakin berhati-hati, karena jalan jadi lebih licin karena basah dan menurun serta banyak tikungan tajam. Melihat sekilas ke kanan-kiri, RiderAlit menyaksikan pemandangan sebuah bukit di kejauhan. Ini yang dimaksud dengan Bukit Pelangi?

Inikah Bukit Pelangi?

Inikah Bukit Pelangi? Entahlah.

Akhirnya setelah riding beberapa lama, sampailah RiderAlit di sebuah gerbang dengan penunjuk arah bertuliskan Gadog yang tadi dilewati. Setelah melewati gerbang semakin yakinlah ini perumahan Rainbow Hill itu. Di gerbangnya ada informasi kalau waktu tutupnya jam 19:00 dan dibuka kembali jam 04:30. Alhamdulillah, berarti pencarian berakhir sudah. Inilah yang banyak biker sebut Rainbow Hill itu.

Memasuki jalannya yang beraspal mulus terasa puaslah pencarian yang tadi dilakukan. Setelah berputar-putar dan tanya sana-sini tibalah di tempat tujuan. Pemandangan yang indah semakin menambah rasa puas dan menentramkan hati. Terlihat beberapa biker lain memacu motornya kencang-kencang melewati jalan menanjak selepas gerbang masuk. Suasana semakin gelap tanda matahari pun sudah mau kembali ke peraduan. Tapi RiderAlit sempatkan mengambil beberapa foto.

Bukit Pelangi

Bukit Pelangi atau Rainbow Hill

Bukit Pelangi

Inilah jalan masuk ke Bukit Pelangi atau perumahan Rainbow Hill itu. Dari sini tancap gas kencang-kencang karena jalannya sepi dan menanjak.

Memasuki Rainbow Hill jalan menanjak menyambut kita. RiderAlit berjalan pelan karena belum pernah melewati daerah ini. Sebagai informasi, sebaiknya sobat memacu tunggangan agak kencang saat melewati gerbang karena tanjakannya cukup tinggi agar tidak kehilangan momentum saat menanjak. Berjalan pelan juga cukup aman jika sobat ingin menikmati pemandangan. Ternyata bukit yang RiderAlit lihat saat tersesat tadi juga terlihat lebih jelas dan lebih indah saat menanjak di jalan ini. Tapi sayangnya RiderAlit tidak sempat mengambil foto karena hari sudah semakin gelap.

Jalan menuju gerbang keluar ternyata rusak di beberapa titik dan saat itu banyak yang tergenang air hujan. Sampai di gerbang keluar, gerimis semakin lebat dan jalanan bertambah basah. RiderAlit berjalan menelusuri jalan, setiap tanjakan dan turunan serta tikungan tajam harus dilewati hati-hati karena jalannya gelap sore itu. Pepohonan di kanan-kiri membayangi jalan sehingga sebaiknya sobat menggunakan lampu jauh jika melewati daerah ini malam atau sore hari.

Lebih berhati-hatilah saat melibas tikungan saat hujan karena genangan airnya cukup tinggi di sebelah kiri jalan. Jika dilibas bisa membuat pakaian kotor, tetapi jika terlalu ke kanan maka pastikan tidak ada kendaraan lain dari arah berlawanan. Kendaraan dari lawan arah dapat muncul secara tiba-tiba tanpa terlihat sebelumnya di tikungan. Lengah sedikit josss πŸ˜€ .

Saat melewati beberapa bangunan RiderAlit melihat plang bertuliskan “Cibogo”. Mungkin ini desa Cibogo. Sepanjang perjalanan itu RiderAlit mencari masjid atau mushola. Hari sudah gelap dan gerimis semakin deras juga sudah memasuki waktu sholat Maghrib sepertinya. Tapi sepanjang jalan itu RiderAlit tidak melihat bangunan masjid atau mushola. Sampai akhirnya RiderAlit melihat sebuah jalan raya lebar dimana banyak kendaraan berhenti melaju. Benar, akhirnya sampai juga di jalan Raya Puncak. Berhenti sebentar untuk menanyakan masjid atau mushola dan arah ke Bogor atau ke Puncak di pertigaan jalan itu pada seorang tukang ojek yang sedang mangkal. Riding berputar-putar di wilayah yang belum dikenal dan jalan gelap membuat RiderAlit seperti kehilangan orientasi spasial.

“Buka dulu helmnya, bang!” teriak tukang ojek lain, padahal RiderAlit tidak bertanya padanya. RiderAlit tidak pedulikan teriakan tolol itu, dalam hati RiderAlit bergumam, “Pemulung yang tadi saja bisa bicara lebih santun.” Sudah tahu gerimis cukup deras dan di pinggir jalan raya pula. Tukang ojek yang RiderAlit tanya pun memberitahukan “Kalau Puncak kiri, kalau ke Bogor kanan.” Si tukang ojek yang teriak pun menambahkan beberapa keterangan. Katanya kalau masjid atau SPBU masih jauh diatas. Kalau mau sholat katanya bisa menitipkan motor lalu sholat di warung sambil menambahkan, “Tenang aja. Disini aman, bang.” Tapi RiderAlit tidak percaya begitu saja.

Sebelum mengambil arah ke kanan RiderAlit sempat mengamati pangkalan ojek itu. Ternyata pangkalan ojek itu bersebelahan dengan pos polisi Simpang Pasir Angin, diketahui dari plang yang tertulis di posnya. Oh, jadi jalan tembus dari Bukit Pelangi atau Rainbow Hill ke Puncak berujung di pos polisi Simpang Pasir Angin. Jangan sampai lupa!Β Jalan ke Puncak pun kembali ditelusuri hingga akhirnya tiba di SPBU Cibogo.Β Tidak jauh, ah. Walau memang lalu lintas agak macet, tapi macetnya tidak parah.

Di Depan SPBU Cibogo

Di depan SPBU Cibogo. Terlihat lalu lintas memang macet tapi tidak (belum) parah.

Antrian Sepeda Motor di SPBU Cibogo

Antrian sepeda motor di SPBU Cibogo malam itu tidak panjang.

Parkiran mobil di SPBU Cibogo

Mobil yang diparkir di SPBU Cibogo juga tidak terlalu banyak.

Sampai di SPBU Cibogo jam di tangan menunjukan pukul 18:19. Alhamdulillah, belum terlambat untuk sholat Maghrib. Selepas sholat RiderAlit menunggu sampai gerimis agak reda sebelum melanjutkan perjalanan ke SPBU Cipayung, kurang lebih 200 meter sebelah kanan dari SPBU Cibogo. Baru setelah itu perjalanan pulang RiderAlit putuskan untuk lewat Ciawi dan Tajur. Perjalanan pulang pun agak macet sampai RiderAlit tiba di pertigaan jalan Puncak – Tajur/Sukabumi – Bogor/Jakarta. Selepas itu jalanan lancar.

Oleh-oleh dari Puncak

Mampir sebentar, beli oleh-oleh πŸ™‚ .

Melewati Tajur jalan ramai lancar. Sempat terlihat iringan anak-anak, pemuda-pemudi dan orang tua membawa bendera atau obor berpakaian putih lengkap dengan sorban atau peci. Mereka melantunkan sholawat Badar. Mereka berkonvoi memperingati tahun baru Islam, 1 Muharam 1435 Hijriah. RiderAlit menepi sebentar di sebuah mini market untuk mengambil beberapa foto. Di kejauhan terlihat kelap-kelip cahaya letusan kembang api di langit. Senang melihatnya πŸ™‚ .

Pawai Memperingati 1 Muharam 1435 H di Tajur

Iringan pawai memperingati 1 Muharam 1435 H di Tajur.

Sampai di persimpangan Ekalokasari, RiderAlit mengambil jalan menyerong ke kanan menuju Baranang Siang, jalan Pajajaran. Ternyata di depan Masjid Raya Kota Bogor iringan pemuda-pemudi membawa obor dengan pengawalan polisi ini lebih banyak lagi. Mereka terlihat mengarah ke Tugu Kujang. Sayang, pemandangan menarik ini tidak sempat RiderAlit abadikan karena jalan Pajajaran macet, penuh dengan motor dan mobil ditambah iringan pawai disebelah kiri dan RiderAlit sedang dalam posisi stop and go diatas Sepira.

Selepas Tugu Kujang keadaan lalu lintas lancar. RiderAlit lurus terus hingga sampai di persimpangan Plaza Jambu Dua, Warung Jambu. Berbelok ke kiri dan langsung mengarah ke jalan Ahmad Yani. Jalan Ahmad Yani malah terlihat sepi, hanya satu dua mobil atau motor melintas. RiderAlit kangen melintas di jalan ini. Pohon-pohon besar dan arus kendaraan yang lancar walau di hari libur pun membuat jalan ini selalu nyaman untuk dilintasi.

Jalan Ahmad Yani, Bogor

Jalan Ahmad Yani menjelang bundaran Air Mancur, Bogor malam itu.

Ketika sampai di SPBU Total di bundaran Air Mancur, RiderAlit menepi sebentar untuk beristirahat. Suasana saat itu sepi, tidak seperti malam Minggu yang selalu ramai dengan kendaraan dan orang-orang yang berlalulalang menikmati kuliner di restoran atau kedai-kedai di tepi jalan. Saat berjalan-jalan melemaskan kaki, RiderAlit melihat empat motor trail Kawasaki diparkir berjajar. Ternyata keempat motor itu milik komunitas supermoto Bogor. RiderAlit sempat berkenalan dan mengobrol bersama mereka.

SPBU Total di Bundaran Air Mancur

SPBU Total di bundaran Air Mancur, Bogor. Motor yang terlihat bukan trail yang RiderAlit maksud.

Selesai berbincang-bincang dengan empat pecinta supermoto tersebut, RiderAlit melanjutkan perjalanan pulang. Memutar di bundaran Air Mancur langsung mengarah ke Kebon Pedes lalu lanjut melintasi jalan KH. Sholeh Iskandar yang masih padat kendaraan karena proyek pembangunan fly over belum selesai. Sampai di pertigaan Cilebut RiderAlit berbelok ke kiri arahΒ  jalan Raya Cilebut menuju Bojonggede. Sampai di Batu Gede ternyata sedang ada perbaikan jalan, aspal yang memang sudah lama rusak sedang dibeton.

Kesimpulan dari perjalanan ini adalah jalur Sentul – Bukit Pelangi hingga Puncak ternyata berkelok-kelok dan terasa lebih jauh dari pada jika kita lewat jalan Pajajaran – Tajur – Ciawi yang berupa track lurus. Selain itu, jalannya sepi, banyak tikungan tajam, tanjakan serta turunan. Mungkin bagi yang ingin melatih kemampuan berkendara jalur ini sangat sesuai. Tapi semua susah payah kita jika melewati jalur ini terbayar dengan pemandangan yang indah dan jalan yang lancar tanpa kemacetan. Sedikit saran, sebaiknya sobat mengisi penuh tanki bensin di SPBU yang sobat jumpai saat memasuki kawasan Sentul agar tidak kehabisan bahan bakar. Juga berhati-hatilah saat melintas di jalan raya Sentul hingga ke Babakan Madang karena banyak truk besar dan biker asitas (alay situ asli) yang seruntulan.

Demikianlah pengalaman yang dapat RiderAlit bagikan dengan sobat semua, semoga berguna. Salam hangat dari kota hujan πŸ™‚ .

Iklan

22 thoughts on “Perjalanan Singkat ke Bukit Pelangi

  1. Ping-balik: Beramah-tamah di Dua SPBU Puncak | RiderAlit

  2. saya sudah pernah melewati pake mobil dan motor…jalurnya enak…asal ngga hujan aja…lebih enak pagi hari..kalau sore sering hujan…kebetulan saya kost di babakan madang…maklum baru pindah kerja di sentul…tadinya di cikupa tangerang…

  3. Waahh..pengen tau tuh lewat Bukit Pelangi…hari Sabtu 10 Mei 2014 mau coba lewat situ..kebetulan saya baru tinggal dikawasan Bojonggede..Salam kenal Bro..

  4. saya kemarin baru lewat situh malem2 lg seram di tmbh lg hujan semakin merinding,untung ada pemotor plat D jg yg mau ke arah puncak jd bareng aja.

  5. Wah kayaknya petualanganmya seru bikers. Saya dan teman2 bsk berniat kesana. Kalau gn.geulis dibogor kira2 jauhan mana ya?boleh minta sarannya?trims salam bikers.

    • Dengan senang hati.
      Maksudnya G. Geulis dengan apa nih perbandingannya?
      Kalau lewat Bukit Pelangi belok kiri (Sentul City) sudah termasuk G. Geulis. Jaraknya lebih jauh Bukit Pelangi daripada G. Geulis. Karena Bukit Pelangi lebih dekat dengan Mega Mendung/Cisarua.

  6. Lewat bukit pelangi lebih seru tengah malem gan, ngeri ngeri sedap, di sebagian spot sama sekali gelap total, uji nyali sama setan yg katanya angker apalagi banyak begal.. klo setan alhamdulillah gak pernah ketemu, nah klo begal ini ada 2 motor yg buntutin terus, sekitar setengah jam klo gak salah inget, sampe akhirnya doi puter balik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s