Duo Riding Ditengah Kabut Puncak

Istirahat di warung kopi menjelang Gunung Mas sambil menunggu gerimis reda dan kabut menipis.

Istirahat di warung kopi menjelang Gunung Mas sambil menunggu gerimis reda dan kabut menipis.

Berawal dari ajakan bro Eka di hari Sabtu, RiderAlit akhirnya menyetujui ajakannya riding ke Puncak hari Minggu. Karena bro Eka punya acara di Minggu siang, akhirnya kami berangkat Minggu sore. Bertemu di pos polisi jalan Tegar Beriman, perjalanan dilanjutkan menuju Sentul. RiderAlit menunggangi Si Sepira dan bro Eka mengendarai Mio GT gresnya. Kami berjalan beriringan, RiderAlit didepan dan bro Eka mengikuti. Berbelok ke kiri dari lampu merah Sentul di jalan Raya Bogor, kami sempatkan sholat Maghrib di mushola SPBU.

Melewati Rainbow Hills (Bukit Pelangi) jalan gelap walau tidak ada kabut dan semakin banyak aspal yang rusak. Sampai di Simpang Pasir Angin, fuel meter Si Sepira hanya menunjukan tiga bar. Akhirnya menepi sebentar di SPBU Cibogo untuk mengisi bensin. Lalu perjalanan kami lanjutkan, hingga menjelang perkebunan teh Gunung Mas kabut semakin tebal dan rintik gerimis mulai terasa semakin lebat.

RiderAlit dan Bro Eka menunggu gerimis reda dan kabut menipis.

RiderAlit dan Bro Eka menunggu gerimis reda dan kabut menipis.

Mengobrol sambil mengamati lalu lalang kendaraan ditemani jagung bakar. Lumayan untuk mengusir dingin.

Mengobrol sambil mengamati lalu lalang kendaraan ditemani jagung bakar. Lumayan untuk mengusir dingin.

Teh hangat  dan kopi susu, teman yang pas untuk mengusir dingin dan menghangatkan suasana.

Teh hangat dan kopi susu, teman yang pas untuk mengusir dingin dan menghangatkan suasana.

Kami berdua akhirnya menepi di sebuah warung kopi. Beristirahat sambil menunggu rintik-rintik gerimis reda dan kabut menipis. Dipesanlah segelas teh hangat untuk bro Eka dan kopi susu untuk RiderAlit. Mengobrol bertukar cerita pengalaman bro Eka di Tulungagung dan Pantai Pasir Putih serta Pantai Damas disana. Bro Eka juga menceritakan pengalaman riding-nya dari Tulungagung ke kota Malang dan Nganjuk. Lalu kami berdua memesan jagung bakar. Lumayan, menikmati jagung bakar dan kabut yang turun sambil mengobrol dan mengamati lalu lalang kendaraan.

Cuaca dingin, kabut dan rintik gerimis yang lebat membuat kaca helm mengembun. Ditambah uap dari pernapasan membuat jalan jadi tidak terlihat.

Cuaca dingin, kabut dan rintik gerimis yang lebat membuat kaca helm mengembun. Ditambah uap dari pernapasan membuat jalan jadi tidak terlihat.

Jalan licin dan gelap akibat kabut. Terlalu melebar di tikungan tajam, resikonya dihajar kendaraan.

Jalan licin dan gelap akibat kabut. Terlalu melebar di tikungan tajam, resikonya dihajar kendaraan dari lawan arah.

Karena kabut tak kunjung menipis, diputuskanlah untuk pelan-pelan melanjutkan perjalanan. Sempat berteduh lagi disebuah warung didepan Masjid Atta’awun dan bertemu seorang bapak yang mau berangkat ke Cibodas yang juga sedang berteduh. Setelah mengobrol sebentar, bapak tersebut bercerita bahwa beliau dari Pemda Cibinong. Wah, berarti sama dong. Katanya beliau kehilangan surat-surat STNK dan BPKB motornya yang baru ditukar tambah serta uang senilai dua koma delapan juta rupiah ketika melewati rel KA Bojonggede. Karena beliau menyimpannya dalam plastik kresek dan kemungkinan terjatuh. Katanya beliau tinggal di jalan Pemuda, Rawamangun dan sering touring ke luar kota dengan Ninja 250-nya. RiderAlit lihat beliau membawa Mio smile-nya, yang baru ditukar dan sempat memodifikasinya hingga habis sekitar satu koma enam juta rupiah katanya.

Karena tebalnya kabut, yang terlihat dari Masjid Atta'awun cuma terang lampunya saja.

Karena tebalnya kabut, yang terlihat dari Masjid Atta’awun cuma terang lampunya saja.

Kami akhirnya berpamitan dengan bapak tersebut, perjalanan kami lanjutkan ke Rindu Alam I. Berharap pemandangan Puncak malam hari, malah dapat kabut tebal ternyata πŸ˜€ . Tak apalah, untuk menyenangkan hati sahabat heuheu… Masih banyak muda-mudi menghabiskan malam disini rupanya dan ada pemuda dengan pasangannya mungkin, yang mengenakan hotpants πŸ˜€ . Waduh, RiderAlit saja yang pakai jeans dan jaket tebal kedinginan, apa lagi itu ya. Cuma kaos dan hotpants ckckck… Ngga malu, neng?

Rindu Alam I

Pemandangan jalan di Rindu Alam I yang terselimuti kabut. Walau di tempat parkirnya banyak mobil berjajar dan muda-mudi tapi suasananya sedang sepi, bro. Lain kali jangan riding malam-malam berkabut kalau mau kesini menikmati pemandangan πŸ™‚ .

Setelah lama menunggu akhirnya RiderAlit putuskan untuk mengenakan jas hujan lalu pulang. Sampai di Cisarua bro Eka menghampiri RiderAlit dari kanan dan minta izin untuk pamit duluan karena sudah mengantuk. Hihihi… Siapa yang mengajak riding malam-malam ya πŸ˜€ . Silahkan bro, hati-hati. Bro Eka pun ngacir sementara RiderAlit santai berkendara. Perjalanan malam juga bisa dinikmati, jalannya pun sepi. Menjelang Cimory Riverside sebuah sedan dari lawan arah memaksa mendahului mobil didepannya dan mengambil jalur RiderAlit. Klakson panjang Sepira pun berbunyi dan RiderAlit membanting kemudi ke kiri. Jalanan menurun yang licin dan aspal keriting ditambah percikan gerimis di kaca helm membuat resiko riding malam sangat tinggi. Eh, masih ada saja supir seruntulan. Astagfirullahaladzim.

Sampai di Tajur gerimis mulai reda. RiderAlit pun menelusuri jalan hingga sampai di jalan Pajajaran kemudian beristirahat sebentar di trotoar depan pagar Masjid Raya Bogor sambil merapikan jas hujan. Niat mau sholat Isya ternyata pintu pagar masjidnya sudah ditutup. Terlihat juga beberapa biker lain berhenti untuk beristirahat sekedar merokok dan meluruskan kaki di depan pagar masjid. RiderAlit kembali melanjutkan perjalanan pulang.

Malam hari menuju Tugu Kujang di Jalan Pajajaran. Sepi, bro. Silahkan tarik gas dalam-dalam tapi tetap waspada dan konsentrasi .

Malam hari menuju Tugu Kujang di Jalan Pajajaran. Sepi, bro. Silahkan tarik gas dalam-dalam tapi tetap waspada dan konsentrasi .

Ya, seperti ini kisah RiderAlit dan bro Eka “ngebolang” malam-malam di Puncak πŸ™‚ . Salam hangat dari kota hujan dan selamat berlibur, sobat.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

6 thoughts on “Duo Riding Ditengah Kabut Puncak

  1. Ping-balik: Selamat Tinggal HSX 125D – RiderAlit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s