Whistleblower: Ketika Dinding Punya Mata dan Telinga

Pagi yang cerah di sebuah kantor. John sedang asyik menikmati secangkir kopi sambil browsing membaca beberapa headline news di sebuah surat kabar online. Kemudian datang Natasha, rekan kerjanya menyapa, “Hello, John. Apa kabar?” John balas menyapa, “Hi, Nat. Kabar baik. Hanya ada beberapa hal yang mengganggu pikiran.”

“What’s up, dear? Mau cerita? Mungkin bisa sedikit meringankan beban pikiran.” Natasha mencoba memulai percakapan sambil membalas beberapa pesan instan yang masuk di handphonenya. Akhirnya mereka terlibat percakapan yang cukup seru. John pun bercerita tentang ketidaksetujuannya terhadap beberapa kebijakan perusahaan. Hari berganti hari, tiba saatnya ketika perusahaan melakukan pertemuan antara seluruh karyawan dengan beberapa staf pimpinan.

Dalam pertemuan tersebut dibahas banyak hal. Sampai pada akhirnya dibahas beberapa kebijakan-kebijakan. Hingga pada ujung pertemuan tersebut pimpinan dari top level management, dengan gaya seorang George Bush, Jr. mengatakan, “If you aren’t with us, you’re with the terrorist.”

John pun akhirnya menyimpulkan kalau percakapannya dengan Natasha beberapa hari lalu berhasil “disadap”. John pun bersikap hati-hati saat berbicara dan mulai memilih-milih siapa diantara rekan kerja sekantor yang hanya pantas mendapatkan “say hi” dan siapa rekan satu tim. Ketika saat jam makan siang, berkumpul di ruang karyawan atau berpapasan di koridor pun pembicaraannya hanya seputar cuaca hari itu.

John pun kini lebih waspada saat mengupdate status Facebooknya, berkicau di Twitter atau menulis status BBM dan WhatsAppnya. Friend or foe tidak menjadi masalah bagi John. Toh mereka sama-sama bekerja, mereka yang suka menyadap pembicaraannya juga butuh menghidupi keluarganya. John pun masih sering bercanda dan tertawa bersama mereka. John teringat sebuah cerita.

Dahulu kala di negeri Cina, hidup seorang anak kecil yang dipanggil A Moa, tubuhnya agak pendek, matanya sipit, marga aslinya Xiahou. Karena ayahnya dididik oleh seorang kasim bernama Cao, maka ia berganti marga menjadi Cao. A Moa punya seorang paman yang usil dan suka mengadu.

Pada suatu hari, Cao kecil bermain dengan teman-temannya dan ketika pamannya lewat ia berpura-pura jatuh dari pohon. Pamannya langsung melaporkan kejadian itu pada ayahnya. Dengan tergopoh-gopoh sang ayah mendatangi tempat kejadian bersama pamannya. Namun, betapa terkejutnya ketika ia melihat A Moa sedang asyik bermain seolah tidak terjadi apa-apa. “A Moa, kata pamanmu tadi kamu pingsan?” sang ayah bertanya.

“Siapa bilang? Dari tadi aku bermain disini.”

“Tapi, tadi…” Sang paman yang belum sempat melanjutkan kata-katanya sudah disergap oleh Cao kecil.

“Ayah jangan percaya omongan paman. Dia sangat senang kalau melihat aku dihajar ayah!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s