Bayar Pajak Motor di Samsat Outlet Detos

Samsat Outlet

Samsat Outlet

Antrian wajib pajak yang membludak di depan Samsat Outlet Depok Town Square (Detos).

Si Sepira akan memasuki waktu tenggat pembayaran pajak pada tanggal 17 Agustus 2014 nanti. Tepat pada hari kemerdekaan RI. Jadi, berhubung seminggu kemarin saya tidak memiliki waktu luang dan Samsat Outlet-nya pun masih tutup karena cuti hari raya, akhirnya saya baru sempat membayarnya pada hari Sabtu kemarin, 09 Agustus 2014.

Sampai di basement parkir Detos pukul 09:53 pagi berdasarkan tiket parkir. Dari lower ground saya menuju lantai 1 Detos. Sesampainya di depan Samsat Outlet ternyata sudah banyak pengunjung, para wajib pajak yang mau menyetorkan pajak. Antrian untuk mengumpulkan berkas-berkas terkait pajak kendaraan bermotor pun sudah cukup panjang. Saya pun mengantri untuk menyerahkan map folio berisi fotocopy STNK, KTP, BPKB dan STNK asli. Sesekali petugas pengumpul berkas memanggil nama-nama wajib pajak yang berkas-berkasnya belum lengkap atau ada masalah dengan berkasnya atau wajib pajak yang tidak termasuk dalam wilayah Depok untuk pergi ke Samsat yang sesuai. Seorang petugas polisi juga membantu mengatur antrian.

Selesai mengumpulkan berkas, saya keluar dari ruangan dan melihat kursi-kursi tunggu yang disediakan tidak ada satupun yang kosong. Banyak sekali pengunjung yang memilih duduk lesehan sambil bersandar di kaca-kaca toko yang masih kosong atau yang belum dibuka. Saya akhirnya memilih untuk ikut duduk mengampar di lantai bersama mereka. Dari pada lelah berdiri karena saya perkirakan waktu menunggu sudah pasti lama.

Antrian Wajib Pajak di Samsat Outlet

Antrian wajib pajak yang hendak mengumpulkan berkas-berkas terkait pajak kendaraan bermotor.

Wajib Pajak Duduk Lesehan di Depan Samsat Outlet

Banyak wajib pajak yang memilih lesehan karena semua kursi tunggu yang disediakan tidak ada yang kosong.

Untuk membunuh kejenuhan banyak wajib pajak yang memilih sibuk memainkan gadget mereka sambil menunggu kasir memanggil. Sesekali terdengar suara wanita kasir outlet memanggil nama-nama wajib pajak yang sudah dapat giliran untuk menyetorkan uangnya. Saya mencoba menyapa seorang pria seusia yang duduk lesehan di sebelah saya. “Sudah lama, mas?” Sambil melirik jam tangan dia menjawab, “Baru lima belas menit, mas.” Terdengar aksen Medan yang khas dari suaranya. Dia pun berujar, “Wasting time nih yah, antri kaya begini. Depok penduduknya banyak begini tapi outlet Samsatnya cuma satu.” Saya pun membalas, “Iya, bakal lama kayanya, nih. Baru jam segini aja sudah penuh kaya begini. Jangan-jangan outletnya belum buka tapi yang nunggu diluar sudah banyak begini.”

Pria disamping saya kembali membalas, “Seharusnya yang kaya begini nih bisa dibikin sistem on-line biar nggak kaya gini.” Saya menjawab, “Iya yah, jadi kita datang kesini cuma setor uangnya aja.” Pria disebelah saya kembali asyik dengan BB-nya. Kami pun mengobrol tentang bagaimana repotnya mengurus SIM karena memang ada praktek calo SIM. Pria disamping saya pun bercerita bahwa waktu dia di Sumatera dulu mengurus SIM A dan C melalui ‘bantuan’.

“Dulu waktu di Sumatera saya bikin SIM A sama SIM C dibantu calo. Kemarin sebelum lebaran saya coba mengurus SIM sendiri. Mau tau kan kaya gimana.” Dia kembali berujar, “Akhirnya waktu tes naik motor saya gagal. Kan ada patok-patok tuh, kita disuruh jalan zig-zag. Nah, pas patok terakhir saya nyenggol. Patoknya jatoh.” Saya menimpali, “Terus gagal?” Dia balas menjawab, “Iya. Pas saya bilang tolong dibantulah, pak. Dia jawab ,’ya sudah sini dua ratus ribu’ gitu.” Saya nyeletuk, “Waduh! Lucu ya disini. Kita mau jujur malah dibikin susah.” Dia melanjutkan ceritanya, “Wah, kalo segitu mah pak mendingan saya pake calo. Seratus ribu aja, deh. Eh, dia bilang ngga mau.” Saya pun ber-Ooo.

“Nanti siang nih, saya mau coba lagi. Tapi ngga tau nih masih buka apa ngga.” Lama juga kami mengobrol. Karena sudah bosan duduk akhirnya saya coba ikut masuk ke dalam outlet disamping. Didalam terlihat kesibukan para petugas yang menyortir map-map berkas wajib pajak. Wajib pajak yang sudah membayar pun  menunggu petugas disebelah kasir untuk memberikan lembaran pajak STNK yang baru.

Petugas Menyortir Berkas Wajib Pajak

Petugas Menyerahkan Berkas Waijb Pajak pada Kasir

Pukul sebelas lebih sepuluh menit, terdengar petugas pengumpul berkas menyebutkan nama yang tertera pada STNK saya. Ternyata saya harus menyertakan KTP asli dalam berkas yang sudah saya kumpulkan. Setelah itu masih lama lagi saya harus menunggu kasir memanggil saya. Sambil memperhatikan petugas menyerahkan berkas yang sudah disortir ke kasir, saya menantikan barang kali salah satu berkas tersebut adalah berkas saya sehingga saya tidak perlu menunggu lama lagi.

Beberapa saat kemudian, saya melihat pria yang tadi mengobrol dengan saya maju ke loket kasir saat namanya disebutkan. Saya tersenyum dan menyapa, “Wah, akhirnya selesai juga.” Dia membalas sapaan saya, “Iya, nih. Akhirnya.” Kira-kira menjelang jam dua belas siang saya mendengar kasir memanggil. Alhamdulillah, akhirnya saya pun dapat giliran membayar. Kasir menyebutkan sejumlah uang yang harus saya setorkan setelah itu saya pun membayarnya. Kemudian dia memberikan uang kembalian dan kertas bukti setoran pajak berwarna putih. Sekarang saya tinggal menunggu berkas STNK dan KTP asli dikembalikan oleh petugas disebelah kasir.

Wajib Pajak Mengantri di Loket Kasir

Para wajib pajak menunggu giliran menyetorkan uang di loket kasir dan menunggu lembaran pajak STNK yang baru.

Tidak lama kemudian petugas yang memberikan lembaran pajak STNK  memanggil dan mengembalikan KTP serta lembaran pajak yang baru. Saya segera keluar dan ada satu kursi tunggu yang kosong disana. Lelah berdiri, akhirnya saya duduk sambil memasukan lembaran pajak kedalam plastik pembungkus. Ada seorang bapak disamping saya menyapa, “Kena berapa, mas?” Saya menjawab, “Dua ratus dua puluh ribuan, pak. Maklum cuma bebek. Ini pun sudah kena pajak progresif.”

Bapak disebelah kanan saya bertanya, “Satu nama, ya?” Saya kembali menjawab, “Iya, nih.” Ada seorang bapak lagi bertanya, “Berapa persen kenanya, mas?” Saya balas, “Wah, saya ngga ngitung tuh, pak.” Ada seorang ibu disebelah kiri saya bertanya, “Memangnya kalo kita punya motor dua pajaknya jadi nambah, ya?” Bapak disebelah kanan saya menjelaskan, “Iya, bu. Kalo ibu punya dua motor tapi satu nama kena progresif.” Ibu disebelah saya pun kembali berujar, “Oh, kalo begitu saya juga kena dong. Motor saya yang lama dipakai anak saya. Kan dia belum punya KTP, jadi pakai KTP saya. Kena apa tadi?” Bapak-bapak disebelah saya kembali menjawab, “Pajak progresif, bu.”

Setelah merapikan dompet ke dalam tas, saya pun permisi pada bapak-bapak dan ibu yang tadi mengobrol. “Mari, pak, bu.” Saat melangkah menuju basement parkir ternyata adzan Dzuhur berkumandang. Saya pun mampir sholat di mushola di lantai lower ground Detos.

Iklan

8 thoughts on “Bayar Pajak Motor di Samsat Outlet Detos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s