Solo Riding Ke Curug Nangka (Bagian III: Mendaki Belantara Curug Kaung)

Curug Kaung

Pemandangan Curug Kaung dari kejauhan. Ketinggian Curug Kaung +/- 25 meter.

Perjalanan selanjutnya setelah saya singgah di Curug Nangka kemudian Curug Daun adalah mendaki menuju Curug Kaung yang letaknya jauh diatas Curug Daun. Saya katakan mendaki karena rutenya sebagian besar mendaki. Saat saya berjalan, jarang terlihat orang tua yang menuju kesana. Balita dan anak-anak pun tidak ada. Hal ini dikarenakan rute ke Curug Kaung cukup melelahkan bagi balita, anak-anak atau orang tua lanjut usia. Mereka biasanya cukup singgah sampai di Curug Daun. Maka tidak heran teman seperjalanan saya adalah para remaja atau orang tua yang masih cukup bertenaga untuk menempuh jalur menanjak.

Setelah melompati bebatuan besar di aliran sungai diatas Curug Daun, maka selanjutnya saya menelusuri tepi sungai. Setelah jalan di sisi kanan saya habis karena aliran sungai, maka saya dan wisatawan lain menyeberangi sungai dengan kembali melompat-lompat diatas bebatuan sungai. Rute jalan di sini tertutup dengan dahan dan daun-daun pepohonan. Di sebuah batang pohon saya lihat ada sebuah papan peringatan bahaya banjir.

Curug Kaung

Menyeberangi sungai diatas bebatuan karena tidak ada jembatan membuat perjalanan terasa semakin menyenangkan.

Setelah menyeberangi aliran sungai, rute menanjak pun dimulai. Jalan di sisi kiri awalnya hanya tanah berumput dan bebatuan, tetapi tidak jauh kemudian adalah anak tangga-anak tangga yang tersusun rapi. Pepohonan besar di kiri dan kanan membuat kita terasa seperti berada di hutan belantara. Udara yang lembab saat itu, membuat dedaunan seperti basah. Aliran kecil air sungai diantara bebatuan ditengah-tengah dinding tebing menghiasi panorama belantara pepohonan ini.

Curug Kaung

Menanjak mengikuti anak tangga batu yang berkelok diantara rimbun pepohonan.

Curug Kaung

Aliran kecil air sungai diantara bebatuan ditengah-tengah dinding tebing menghiasi panorama rimbun pepohonan.

Setelah mengikuti jalan menanjak dan berkelok, maka tibalah saya disebuah pos pemantauan. Pos ini berdiri dibagian tertinggi tanjakan yang tadi saya lewati. Tidak ada petugas berpakaian resmi, hanya remaja-remaja yang sepertinya memang sudah terbiasa berada disana. Jalan selanjutnya adalah dataran yang landai sepanjang beberapa meter kemudian jalan menurun yang membawa saya kembali ke aliran sungai.

Pos Pemantauan di dekat Curug Kaung.

Pos pemantauan di dekat Curug Kaung.

Curug Kaung

Setelah melewati pos pemantauan, jalan kemudian landai dan menurun.

Kembali memintasi aliran sungai dimana batu-batu berukuran lebih besar terlihat lebih banyak disini, ada sebuah bangunan berdinding bata di sebelah kanan. Didepan bangunan ini jalan menanjak kembali harus saya lalui untuk mencapai Curug Kaung yang gerojogan air terjunnya sudah terlihat di ketinggian. Gemuruh suara air, rimbun pepohonan dan udara sejuk membuat perjalanan semakin menantang rasa penasaran.

Setelah menanjak saya kembali masih harus memintas sungai ke sebelah kiri dengan memijak batu-batu besar di aliran sungai. Saya pun semakin berhati-hati saat melompat dari satu batu ke batu yang lain. Untunglah sudah tidak ada lagi jalan menanjak, rute menurun harus saya lalui dengan amat cermat. Setelah sampai di sisi sebelah kiri, tampaklah di depan saya dinding tebing dan disebelah kanannya adalah putihnya aliran air terjun yang sangat deras yang jatuh dari ketinggian kurang lebih 25 meter. Akhirnya saya tiba di Curug Kaung.

Sebelum saya berjalan mendekati aliran air terjun Curug Kaung, saya seperti diterpa hujan deras akibat rintik-rintik air yang meluncur dari ketinggian seperti hujan deras yang berangin kencang. Saya takjub dengan putih dan derasnya air yang menghempas bebatuan dan indahnya lekuk-lekuk bebatuan dan pola-pola bebatuan dinding tebing di balik derasnya aliran air terjun tersebut. Maha Suci Allah.

Jika melihat perbandingan dinding tebing dan aliran air terjun dengan wisatawan, tampak jelaslah betapa tingginya tebing tempat aliran air ini terjun kebawah. Juga betapa kecilnya kita sebagai manusia dibandingkan dengan alam ini. Deru suara air dan cipratan rintik-rintik air menjadikan wisatawan semakin histeris menikmati pemandangan alam dan rela berbasah-basahan dibawah aliran air terjun serta melupakan dinginnya air. Karena memang dingin sejuknya air yang langsung keluar dari mata air pegunungan inilah yang dicari oleh saya dan wisatawan lainnya.

Curug Kaung

Basah-basahan dibawah air terjun Curug Kaung.

Curug Kaung

Aliran air terjun Curug Kaung dari atas tebing menuju ceruk aliran sungai dibawahnya.

Curug Kaung

Perbandingan tinggi wisatawan dengan tinggi air terjun.

Beberapa wisatawan menikmati berbasah-basahan ditengah aliran sungai tepat dibawah air terjun, beberapa lainnya sibuk berfoto-foto bersama rombongan tanpa takut kamera dan handphone mereka tercebur ke sungai, beberapa wisatawan lain juga sibuk berpose sambil membidikan handphone ke arah wajah mereka untuk berfoto diri dengan latar air terjun. Wisatawan lainnya hanya berdiri di kejauhan mengamati indahnya pemandangan air terjun.

Saya pun memberanikan diri untuk berdiri dibawah air terjun untuk mengambil beberapa frame foto. Beruntung jaket yang saya kenakan dapat menahan serbuan rintik-rintik air yang menerpa saya. Sebab kalau basah saya tidak membawa pakaian lain untuk berganti pakaian. Beberapa kali saya harus mengelap kacamata saya karena embun dan rintik-rintik air. Pengalaman yang sangat mengesankan buat saya.

Curug Kaung

Berfoto diri dengan latar air terjun Curug Kaung.

Curug Kaung

Lihatlah indahnya pola-pola dan lekukan dinding tebing dibalik aliran air terjun Curug Kaung.

Curug Kaung

Derasnya air terjun Curug Kaung saat menerpa bebatuan dibawahnya.

Curug Kaung

Pola dinding tebing dibalik derasnya Curug Kaung yang menarik perhatian saya.

Curug Kaung

Rintik-rintik air dari Curug Kaung yang deras menerpa saya saat memotret air terjun ini.

Curug Kaung

Betapa putih dan derasnya aliran air terjun Curug Kaung.

IMG-20141227-02233

Bermain air ditengah ceruk dan berpose untuk berfoto diri adalah kegiatan favorit wisatawan Curug Kaung.

Curug Kaung

Lihatlah tingginya air terjun Curug Kaung.

IMG-20141227-02244

Beberapa wisatawan menyaksikan dari kejauhan keindahan Curug Kaung.

Setelah puas mengambil beberapa frame foto, saya duduk diatas bebatuan untuk beristirahat sejenak. Kemudian karena hari sepertinya mulai menjelang sore, saya memutuskan untuk kembali ke pelataran parkir. Saat saya lihat handphone ternyata sudah pukul dua siang lewat beberapa menit. Perjalanan menanjak dan menurun serta memintasi sungai kembali saya lakukan.

Saat perjalanan kembali menuju Curug Daun dan Curug Nangka saya berpapasan dengan wisatawan lain yang menanyakan lokasi Curug Kaung. “Masih jauh nggak?” kata seorang wanita. Saya menjawab, “Nggak, sudah deket kok.” Perjalanan dari Curug Daun ke Curug Kaung memang cukup jauh, sekitar satu kilometer. Hal ini membuat wisatawan yang baru pertama kali singgah penasaran. Selain karena air terjunnya tertutup belantara pepohonan sehingga tidak tampak dari lokasi yang jauh. Beberapa wisatawan menenteng sandal dan alas kaki menapaki jalan berbatu menuju Curug Kaung. Beberapa diantara mereka membawa kamera saku/prosumer dan SLR sambil membidikannya kearah teman-teman mereka yang meminta dipotret sambil berpose. Bahkan beberapa remaja ada yang membawa selfie stick dengan handphone diujungnya.

Kembali ke pelataran parkir, saya mengarahkan Si Sepira menuju gerbang keluar. Sebelum saya sampai di gerbang, saya mengembalikan karcis parkir dan membayar uang parkir sebesar lima ribu rupiah. Untuk perjalanan pulang saya memilih rute angkot 03 jurusan Ramayana-Ciapus. Kondisi aspal lumayan mulus dan jalan menurun. Sampai di Pulo Empang saya temui kemacetan hingga tanjakan ke Bogor Trade Mall (BTM). Melewati jalan Ir. H. Juanda saya menuju jalan Sudirman kemudian jalan Pemuda untuk selanjutnya menuju Cilebut dan akhirnya sampailah di tempat tinggal saya di Bojonggede.

***

Tulisan ini adalah tulisan penutup dari dua tulisan sebelumnya.

Iklan

3 thoughts on “Solo Riding Ke Curug Nangka (Bagian III: Mendaki Belantara Curug Kaung)

  1. Ping-balik: Solo Riding Ke Curug Nangka (Bagian II: Menelusuri Setapak Aliran Sungai) | RiderAlit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s