#LebarandiJonggol

Lebaran di Jonggol

Gunung Batu, Curug Ciherang, Wisata Pinus, RM Bano Raya #LebarandiJonggol

“Mau kemana, Yud?” Ke Jonggol.
“Mau ngapain, Yud?” Mau silaturahmi ke rumah saudara, nih.
“Di mana?” Di Jonggol.

Saya tidak sedang bercanda. 🙂

Anak-anak sekarang kalau ditanya serius mau ke mana, biasanya dijawab sambil bercanda, “Ke Jonggol…” Atau kalau ditanya di mana, dijawab lagi sambil bercanda, “Di Jonggol…” #wakwaw 😀

Lebaran H+2 atau hari Minggu, 18 Juli 2015 kemarin kami bertiga mengunjungi kerabat yang tinggal di Desa Warga Jaya Kecamatan Sukamakmur, Jonggol. Anggota rombongan adalah saya sendiri menunggangi si Sepira dan om saya yang memboncengi anaknya, sepupu saya menunggangi Blade 110 cc lawas. Tujuan kami adalah rumah  om saya yang lain, yang letaknya dekat dengan kawasan wisata Pinus dan Curug Ciherang.

Janji bertemu di depan CCM (Cibinong City Mall) sekitar pukul sebelas siang, dengan riding gear lengkap kami menyusuri jalan raya Bogor hingga sampai di depan Cibinong Square. Disana kami berbelok ke kanan menuju TPU Cirimekar, mengambil jalan pintas ke Pasar Citeureup.

Sampai di pos polisi Pasar Citeureup kami berbelok lagi menuju jalan Sabilillah. Selepas Pasar Citeureup saya lihat banyak sekali tumpukan plastik sampah di pinggir jalan yang merusak pemandangan. Jalan aspalnya lumayan mulus tapi di sana-sini saya jumpai polisi tidur. Dengan mengikuti jalan aspal kami melewati kecamatan Tarikolot hingga sampai di jalan raya Tajur desa Pasir Mukti.

Beberapa menit kemudian sampailah kami di pertigaan jalan dengan penunjuk arah kanan menuju Hambalang dan kiri menuju Jonggol. Kami pun mengambil arah ke kiri. Melewati kawasan pasar di pertigaan ini jalannya rusak parah. Tapi di ujung pasar kembali kami jumpai aspal yang mulus.

Kontur jalannya sangat menantang, banyak turunan dan tanjakan terjal serta kelokan tajam. Selain itu di beberapa ruas jalan aspalnya hancur atau tidak rata. Hutan dan sawah menjadi pemandangan yang menghibur selama perjalanan. Masih ada bajak-bajak tradisional yang ditarik oleh kerbau. Saran saya saat melewati jalan ini adalah penuhi tangki bensin karena tidak ada SPBU di sini. Harga per botol bensin Premium yang dijajakan oleh pengecer bensin di pinggir jalan berkisar dari delapan ribu lima ratus hingga sembilan ribu rupiah.

Seingat saya kami melewati tiga jembatan beton. Dua diantaranya bercat hijau dan sepertinya masih baru. Setelah beberapa lama (saya lupa berapa menit atau jam, yang jelas rasanya lama sekali saya mengendarai sepeda motor 🙂 ) kami tiba di Desa Jogjogan. Ternyata disini terjadi kemacetan. Jalan aspal yang hanya cukup dilewati sebuah mobil dan motor ini kemarin dipadati oleh mobil dan motor dari dua arah. Selain itu, karena rute jalan yang menanjak banyak mobil dan motor yang harus berhenti di tanjakan.

Dua tiga pemotor yang tidak kuat menahan rem dan kehilangan keseimbangan akhirnya jatuh! Saya lihat seorang pemotor yang membonceng seorang ibu yang menggendong bayi jatuh kemudian sepeda motornya menyenggol motor yang dikemudikan oleh om saya. Tidak pelak lagi om saya pun roboh saat berusaha menyeimbangkan kendaraannya. Foot step sobek dan spion kanan pecah akibat terbentur aspal. Kemacetan di jalan raya itu membuat stres, tetapi kemacetan di jalur pegunungan yang terjal itu membuat stres dan MENCEKAM!

Banyak pemotor, termasuk kami, akhirnya menepi di halaman rumah warga. Membiarkan mobil-mobil yang terjebak macet lewat lebih dahulu. Kalau dipikir-pikir seperti ini egoisnya roda empat. Jalan kecil yang biasanya lancar untuk roda dua sebanyak apapun, jadi macet tak karuan dijejali roda empat. Saran saya lagi, kalau baru bisa mengemudikan roda empat jangan lewat jalur ini. Jalurnya sempit dan banyak tikungan ci-luk-ba. Kalau tidak mahir mengemudikannya, maka siap-siaplah roda empat itu mundur lagi saat terjebak macet. Tidak kuat menanjak!

Akibat macet, kami mencoba berbelok ke kiri di Desa Jogjogan. Jalur aspal harus kami lupakan, karena kali ini kami akan melewati jalur desa dan hutan yang masih off-road. Melewati hutan-hutan Sukawangi saya mencium keharuman di udara. Amazing!!! Udara di sini tidak hanya sejuk, tetapi juga wangi bunga-bunga. Tepat sekali jika disebut Sukawangi. Lain udara lain pula track yang kami lewati. Jalur ini penuh dengan batu-batu cadas dan tanah. Dikarenakan musim panas, tanah dan batuan tersebut meninggalkan debu saat dilewati kendaraan. Dan jangan berharap ada penjual bensin eceran di sini. Kalau kehabisan bensin disini maka siap-siaplah mendorong kendaraan melewati tanjakan-tanjakan sadis berbatu cadas! Itupun kalau kuat mendorong. 😀

Jalan off-road semakin menantang setelah kami melewati parkiran Gunung Batu dan sebuah menara BTS. Tanjakan menjadi semakin terjal dan sepeda motor serasa seperti tidak bertenaga, gas ditarik sedalam apapun tetap saja berjalan lambat. Jangan harap gear di posisi 2 kuat, gear di posisi 1 pun rasanya seperti tidak kuat untuk menggerakkan sepeda motor. Suara gemeretak batu-batu dan kerikil bermentalan akibat terlindas ban motor.

Akibat udara yang sepertinya semakin tipis, saya pun harus menarik napas dalam-dalam di rute ini. Badan harus berusaha menyesuaikan diri di ketinggian seperti ini, sambil masih berusaha mengendalikan sepeda motor agar tidak tergelincir di bebatuan. Tapi tak pelak juga saya pun jatuh tergelincir. 🙂 Kelelahan, saya berusaha mendirikan lagi sepeda motor saya, tapi tak kuat. Akhirnya dibantu om saya, saya coba menunggangi sepeda motor lagi. Beberapa kali menyela kick starter tidak hidup, sialnya lagi starter elektrik ternyata tidak kuat juga. Dengan dipegangi om saya, saya coba menyela kick starter beberapa kali lagi sambil menahan rem depan. Alhamdulillah, akhirnya mesin motor saya kembali hidup. Saya lihat sepupu saya pun harus turun dari motor dan berjalan di tanjakan ini.

Dengan rumus nekat gas terus, akhirnya saya berhasil melewati tanjakan ini dengan sepeda motor saya. Setelah menemukan jalan yang agak landai mendatar, saya tepikan sepeda motor dan kembali menjemput om dan sepupu saya dibelakang. Akhirnya beberapa menit kemudian kami menjumpai jalur aspal kembali. Entah berapa kilometer jalur off-road yang sudah kami lewati. Off-road is amazing!!!

Kami pun melewati hutan wisata pinus yang jalur aspalnya menurun tajam dan banyak tikungan bersama banyak pemotor lain. Akhirnya setelah melewati Curug Ciherang kami beristirahat di sebuah kedai bakso di pinggir jalan yang letaknya di perkebunan. Saya pun memesan segelas kopi instan sambil menunggu om dan sepupu saya menikmati semangkuk bakso. Berhubung saya tidak makan daging, saya tidak ikut memesan bakso. 🙂 Sepeda motor kami parkirkan di lapangan berumput.

Duduk lesehan menikmati kopi hangat dan sejuknya udara gunung, saya melihat kembali pemandangan hutan dan bukit yang tadi kami lewati. Dari tempat kami duduk, Gunung Batu yang kata kaskuser pemandangannya mirip seperti Tebing Keraton, hanya terlihat seperti sebuah bukit lancip yang salah satu sisinya seperti dipangkas rata. Sambil beristirahat saya coba memeriksa kondisi si Sepira. Sial! Ternyata shock breaker depan sebelah kiri bocor. Tidak heran karena saya tadi menghajar bebatuan cadas dari Jogjogan, Sukawangi hingga melewati Gunung Batu 3.

Selepas istirahat kami kembali menelusuri jalan menuju Desa Warga Jaya. Kalau tadi jalan off-road dan menanjak, sekarang jalan aspal mulus dan menurun. Tidak perlu menarik gas dan gear di posisi 4, motor saya melaju turun. Cukup menahan rem depan dan belakang. Disini juga agak macet karena banyak mobil dan motor yang naik dan turun. Akhirnya beberapa menit kemudian sampailah kami di tempat om saya di Warga Jaya. Alhamdulillah.

Coba mengingat kembali perjalanan kami, om saya berseloroh, “Kalau naik matik mentok tuh tadi. Matik kan pendek.” Saya pun menanggapi, “Mestinya kita naik motor trail, om. Jalan penuh batu kaya gitu.” Heuheuheu…

Malam hari itu juga om saya pulang membawa anaknya. Wew, tidak terbayang deh keadaannya kalau malam-malam jalan di gunung seperti itu. Saya sendiri menginap di sini.

Menikmati suasana pedesaan yang masih asri. Jangan bayangkan nyaman dan hangatnya kamar hotel. Justru yang saya cari adalah dinginnya udara pegunungan. Di sini semuanya masih tradisional, memasak dengan tungku kayu bakar hingga air minumnya pun masih beraroma khas air yang dimasak dengan kayu bakar. Untuk mandi pun saya lebih senang mandi di pancuran mata air yang ada di sungai, walau sudah ada kamar mandi di rumah. Heheuheu… back to nature.

Di sini ada beberapa objek wisata. Ada dua curug (air terjun) lagi selain Curug Ciherang, wisata Pinus, Gunung Batu dan danau Rawa Gede. Ada beberapa restoran/rumah makan yang menyediakan ikan bakar. Satu yang sempat saya kunjungi adalah RM Bano Raya. Mata pencarian warga di sini pun kebanyakan bertani, berdagang atau berternak. Ada juga yang bekerja sebagai pegawai/karyawan yang tentunya lokasi kerjanya jauh dari tempat tinggal. Sebetulnya bukan jauhnya lokasi, tapi track-nya yang aduhai. 😀

Setelah dua malam saya lewati, hari Selasa pagi saya pulang. Menikmati jalan aspal yang menurun dan beberapa tanjakan lagi. Pemandangan terasering (sengkedan) dan kerbau di sawah menemani perjalanan pulang. Mirip dengan cerita-cerita di buku SD. 😀

Ssst… sobat jangan cerita ke yang lain, yah. In case of traffic jam in Puncak, kita bisa lewat sini kalau mau ke Jakarta via Citeureup atau Jonggol. Atau dari sana kita bisa menikmati sejuknya udara Cipanas seperti yang saya lakukan tahun lalu.

Iklan

One thought on “#LebarandiJonggol

  1. Ping-balik: Selamat Tinggal HSX 125D – RiderAlit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s