Pengalaman Distut Motor di Jalan Margonda

Stut Motor

Ilustrasi Stut Motor

Hari Kamis minggu lalu sepulang kerja saya mampir ke sebuah SPBU di Jalan Margonda, Depok dekat Informa & Ace Hardware untuk beristirahat dan menunaikan sholat Maghrib. Selesai sholat, saya berniat melanjutkan perjalanan menuju rumah. Motor yang diparkir pun saya hidupkan dan mulai ‘take off’. Entah karena aspal yang tidak rata dan banyak genangan air hujan di parkiran tersebut atau karena saya yang #gagalfokus tidak konsentrasi, tiba-tiba motor saya, Si Sepira (Supra X 125 keluaran 2007), tergelincir ke kanan. Saya yang berusaha menahan, tak kuasa akhirnya harus melepas. Jatuh deh tuh motor di genangan air. Innalillahi.

Ada seorang satpam dan petugas SPBU yang membantu mengangkat motor saya dari genangan air. Setelah diangkat, saya coba hidupkan motor tersebut. Celaka! Kunci kontak dalam posisi ON tetapi tidak ada tanda-tanda kelistrikan hidup. Lampu speedometer yang seharusnya hidup ternyata mati. Saya putar-putar kunci dan coba menyelah kick starter tapi mesin tidak hidup juga. Ada seorang biker lain yang menghampiri dan berpendapat bahwa accu motor saya yang ‘soak’. Yah, dalam hati saya mengatakan tidak mungkin, sebab sebelumnya electric starter-nya bisa dipakai menghidupkan mesin cuma dengan sekali tekan.

Saya coba dorong Si Sepira keluar SPBU dengan harapan ada bengkel, walau sebenarnya mustahil. Sepanjang jalan Margonda itu banyaknya restoran/rumah makan, kafe, mall dan tempat-tempat nongkrong. Tak ada bengkel motor. Sampai di depan Ace Hardware ada seorang biker yang menyapa, “Kenapa, mas? Tangkinya kosong?” Saya pun menjawab, “Nggak, mas. Mogok aja, nggak hidup.” Akhirnya dia pun menawarkan bantuannya untuk menyetut motor saya. Saya perhatikan biker tersebut disiplin, terlihat dari riding gear yang dikenakan. Helmnya pun helm mahal. Sempat saya perhatikan blok mesin motornya. Suzuki Thunder 125 lawas tapi dalam kondisi yang terlihat sangat gres. Biker apik, nih.

Sampai di lampu merah perempatan Margonda, saya persilakan dia untuk melanjutkan perjalanan. Tidak enak hati juga melihat dia kesusahan membantu saya diantara hiruk pikuk lalu lintas Margonda. Saya berterima kasih yang dibalasnya dengan, “Mas, nanti di samping Yamaha ada bengkel.” Ah, ya kembali saya berterima kasih. Showroom Yamaha yang dimaksud kan letaknya di jalan Kartini, Depok Lama. Tempat nongkrong saya dulu. Masih jauh. Well, saya pun terus mendorong Si Sepira melewati Plaza Depok hingga sampai di depan kantor walikota Depok. Menyelip diantara angkot yang menunggu penumpang dan berseliweran seenaknya di depan Terminal Depok.

Melewati kantor walikota, saya disapa sepasang muda-mudi mengendarai sebuah matic. Kalau diperhatikan sepertinya kakak beradik, karena mirip. Sang kakak, pemuda yang mengendarai matic tersebut berkeras menawarkan bantuan pada saya. Saya pun tidak enak menolak bantuannya. Ketika saya tanyakan memangnya mau kemana dia menjawab, “Nggak apa-apa, pak. Saya lagi jalan-jalan aja.” Hm… white lie. Saya bisa membaca dia rela berbohong demi menolong saya. Dalam hati saya bergumam bahwa saya berhutang budi padanya dan salut akan ketulusannya untuk membantu orang lain walau tidak saling kenal.

Dia pun menyetut motor saya sambil menyarankan agar melewati Depok Dua karena sepanjang Kartini hingga Margonda tidak ada bengkel yang buka. Dari caranya menyetut motor, sepertinya dia sangat berpengalaman. Tidak kesulitan sedikit pun mendorong diantara lalu lalang kendaraan padahal ada penumpang yang diboncengnya. Singkat cerita, saya sampai di sebuah bengkel setelah Bella Casa dan Pasar Seger. Saya banyak mengucapkan terima kasih pada muda-mudi yang membantu saya tersebut.

Usut punya usut ternyata montir bengkel tersebut tidak bisa memperbaiki motor saya. Yah, saya pun memintanya tolong untuk memasang ulang komponen yang dilepas. Ternyata ada seorang bapak bersama anaknya yang juga mengalami mogok motornya tidak bisa diperbaiki di bengkel tersebut. Yang lebih parah sepertinya ada kebocoran di tangkinya. Hm… mendorong bebek saja lumayan pegel. Apa lagi mendorong motor bapak itu ya, sebuah CB150R. Ternyata ada yang lebih malang daripada saya.

Alhamdulillah, ada seorang remaja lagi yang juga mengendarai matic yang baru selesai mengganti ban dalam motornya di bengkel tersebut bersedia menyetut motor saya hingga lampu merah jalan Kartini. Dari caranya menyetut sangat jelas bahwa ini pengalaman pertamanya. Saya pun berterima kasih padanya. Sebagai salam perpisahan dia mengatakan, “Hati-hati, pak.” Alhamdulillah, masih ada remaja-remaja yang tulus membantu orang lain. Saya mendorong hingga tepat di ujung perempatan jalan Kartini di mana angkot biasanya menunggu penumpang.

Sambil beristirahat, saya iseng memutar-mutar kunci kontak motor saya. Betapa kaget dan bersyukurnya saya ketika melihat pendaran cahaya kekuningan pada speedometer dan jarumnya berputar ke kanan tanda melakukan kalibrasi. Saya coba menyelah kick starter dan memuntir gas. Brrrmmm… terdengar suara khas mesin Si Sepira. Subhanallah. Sungguh sore yang penuh pelajaran. Saya bersyukur karena saya bisa kembali ke rumah menunggangi sepeda motor saya.

Kepada rider Thunder 125 yang menolong saya di Margonda dan kepada adik-adik yang menolong saya kemarin, semoga Allah SWT membalas kebaikan dan ketulusan hati Anda semua dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin.

Sumber gambar: Satu Vespa Sejuta Saudara

Posted from WordPress for Android

Iklan

One thought on “Pengalaman Distut Motor di Jalan Margonda

  1. Ping-balik: Selamat Tinggal HSX 125D – RiderAlit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s