Ada Ticket Vending Machine di Stasiun Pondok Cina

image

Seorang petugas membantu para calon penumpang menggunakan Commuter Line Ticket Vending Machine di stasiun Pondok Cina.

Pulang kerja hari Kamis sore kemarin saya mampir ke kampus tercinta Universitas Gunadarma. Sekembalinya dari sana saat memasuki halaman stasiun Pondok Cina ternyata ada pemandangan yang berbeda yang saya jumpai. Kalau sekitar sebulan yang lalu saya masih membeli tiket di loket yang dilayani oleh petugas, tadi sore saya mendapati loket-loket tersebut ditutup. Sebagai gantinya di dekat gate keluar-masuk stasiun saya melihat beberapa vending machine sebagai ganti petugas loket tiket Commuter Line. Selain itu, ada sekitar tiga petugas yang membantu calon penumpang dalam melakukan top-up ticket Commuter Line menggunakan mesin tersebut.

Well, good improvement. Di negara-negara maju pembelian tiket secara swalayan seperti ini mungkin sudah lama diterapkan. Sebagaimana penerapan teknologi yang berdampak pada perubahan atau kemajuan suatu sistem, pasti ada kontra opini yang menyertai. Begitu juga dengan penerapan vending machine ini. Seorang calon penumpang di belakang saya berkomentar, “Tenaga manusia semakin lama semakin berkurang, nih.” Nanti kita bahas, ya. πŸ™‚

Apakah ini cuma trial saja? Tidak sepertinya. Lebih dari sekedar trial, ini pilot project. Saya bisa paham kenapa stasiun Pondok Cina yang dipilih. Calon penumpang di stasiun ini memiliki rentang usia antara 18 s.d 40 tahun. Penumpang pada rentang usia ini adalah individu yang terbuka pada kemajuan teknologi dan senang mempelajari hal-hal yang baru, juga melek dunia TI, memanfaatkan gadget seperti makanan sehari-hari. Terlebih lagi, sebagian besar penumpang di stasiun ini adalah karyawan dan akademisi (dosen dan mahasiswa serta pelajar). Kaum terdidik. Mereka yang tidak hanya paham menggunakan alat/teknologi, tapi juga memiliki attitude yang positif terkait teknologi. Wajar, stasiun ini diapit dua universitas besar.

Cara Menggunakan Ticket Vending Machine

Untuk dikatakan secara sederhana, cara kerja mesin interaktif ini seperti kalau mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri) digabungkan dengan CDM (Cash Deposit Machine) serta access door.

Ada dua slot input, slot THB (Tiket Harian Berjaminan) dan slot untuk memasukan uang yang dibayarkan. Slot uang ini menerima denominasi seratus ribu, limapuluh ribu, duapuluh ribu, sepuluh ribu, lima ribu dan dua ribu rupiah. Untuk pengguna KMT (Kartu Multi Trip) disediakan semacam scanner di dekat layar sentuh, seperti yang biasa digunakan di loket dan gate keluar/masuk.

Karena saya menggunakan THB, maka hal berikut ini yang saya lakukan. Saya memasukan tiket ke slot untuk tiket, setelah itu mesin secara otomatis mendeteksi kartu tersebut. Jika sebelumnya kita tidak memiliki THB, maka klik dulu pada layar sentuh tersebut untuk membeli THB baru. Selanjutnya mesin akan menampilkan pilihan stasiun tujuan pada layar sentuh dalam bentuk rute/jalur rel Commuter Line. Terus terang, calon penumpang yang tidak terbiasa membaca rute kereta sepertinya bisa dibuat bingung saat memilih oleh gambar rutenya karena banyak sekali nama stasiun. πŸ™‚ Klik stasiun tujuan yang ada di layar, setelah itu tarif perjalanannya diketahui secara otomatis.

Langkah selanjutnya adalah kita wajib memasukan uang ke slot uang. Slot tersebut akan menarik uang yang kita sodorkan ke hadapannya. πŸ™‚ Ingat, nilai uangnya harus sama dengan atau lebih besar daripada nilai tarif perjalanan. Jangan tanya pada saya apa yang akan terjadi jika nilai uang yang dimasukan lebih kecil daripada tarif perjalanan, karena saya belum mencoba melakukan hal tersebut. πŸ™‚ THB akan dikeluarkan dari slot tiket yang sama di sebelah slot uang. Jangan lupa diambil THB-nya.

Berhubung mesin ini belum difungsikan secara penuh kemarin, maka slot output di sebelah kiri yang digunakan untuk mengeluarkan uang kembalian belum berfungsi. Lah, uang kembaliannya hilang, dong? Nah, disitulah fungsi petugas yang tadi saya katakan. Selain membantu dan mengedukasi calon penumpang, petugas tersebut juga memberikan uang kembalian yang seharusnya dilakukan oleh mesin ini. Jadi, kita tetap menerima uang kembalian kita. Kedepannya marilah kita berharap ticket vending machine ini bisa berfungsi secara penuh.

Disetiap langkah penggunaan mesin ini ada suara dalam bahasa Indonesia yang memandu kita dalam menggunakannya. Interaktif kan? πŸ™‚ And IT’s everywhere. #ubiquitos #autonomous

Sekarang kita bahas baik/buruknya penggunaan mesin ini.

The Good

  1. Transaksi menjadi lebih cepat, khususnya jika slot uang kembalian juga berfungsi dan masyarakat sudah familiar dengan mesin ini.
  2. Bagi pihak manajemen, investasi vending machine bisa memangkas pengeluaran terkait upah petugas loket. πŸ™‚
  3. Bisa difungsikan duapuluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu, dalam setahun penuh. Tidak perlu cuti atau izin sakit atau keluhan lain, dsb. πŸ™‚ Satu mesin mengalami malfungsi, mesin lain stand by.
  4. Semakin maju teknologi transportasi masal di suatu negara mencerminkan tingkat pendidikan masyarakat yang semakin baik dan budaya yang positif di negara tersebut.

The Bad and The Question

  1. Terkait lapangan pekerjaan, setidaknya satu posisi lagi yang sebelumnya diisi oleh manusia sekarang digantikan oleh mesin. #robot
  2. Jika komputer server yang menangani mesin ini mengalami galat (error), apakah imbasnya hanya pada satu stasiun, beberapa stasiun atau seluruh stasiun?
  3. In the worst case scenario, will the ticket counters are openned again when those machines are not in good working condition at the same time?
  4. Jika slot uang kembalian sudah berfungsi, bisakah kita ‘akali’ mesin tersebut seperti kejahatan yang sebelumnya pernah dilakukan pada mesin ATM? Heuheuheu… πŸ™‚
  5. Terkait privasi penumpang, apakah pihak kereta api menyimpan rekam jejak pengguna KMT? Jika ya, datanya digunakan untuk apa?

Lesson Learned

Membahas komentar seorang penumpang yang sebelumnya saya sampaikan diatas, maka dapatlah saya katakan:

Jika posisi pekerjaan kita sama halnya dengan petugas loket karcis kereta, tanpa keterampilan lain yang kita miliki, atau jika diri kita tidak memiliki value yang bisa membedakan kita dengan yang lainnya, maka bersiaplah menyerahkan pekerjaan kita pada benda-benda seperti vending machine ini. That’s it.

I, robot? We, robots? #StayingHuman

Posted from WordPress for Android

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s