Berlibur ke Situs Megalitikum Gunung Padang

Tiiin… Tiiin… Suara klakson sepeda motor terdengar saat saya melintasi Jalan KS Tubun dari Kedunghalang melintasi perempatan lampu merah Bogor Outer Ring Road ke arah Jalan Pajajaran. Tanpa mempedulikan saya terus menarik gas menuju SPBU yang letaknya ada di sebelah kiri sebelum perempatan lampu merah Plaza Jambu Dua. Tiba-tiba terdengar lagi suara klakson dan suara orang di belakang saya, “Mau sendirian ke Gunung Padang, mas Peb?”

Wah, saya baru ingat kalau saya memang janji bertemu di SPBU untuk sama-sama bersepeda motor ke situs Gunung Padang di Cianjur. Tapi tanpa disangka ternyata rekan saya ini malah mencegat saya di lampu merah Jalan KS Tubun. Sontak saya menjawab, “Kita ke SPBU dulu, De.”

Kemarin, 06 Mei 2016 memanfaatkan momen liburan saya sempatkan berwisata bersama Kang Ade. Berhubung rekan saya ini memang warga Cianjur dan sudah beberapa kali ke Gunung Padang untuk memotret. Selesai mengisi bensin di SPBU kami langsung tancap gas menyusuri Jalan Pajajaran menuju Ciawi. Sepanjang jalan terlihat banyak rombongan sepeda motor yang mungkin juga ingin menghabiskan liburan di kawasan Puncak. Melewati Ekalokasari menuju Tajur terjadi kemacetan di beberapa ruas jalan. Setelah melewati pasar Ciawi kami sempatkan berhenti sebentar di sebuah kedai lontong sayur tidak jauh dari kantor  Polsek Ciawi untuk sarapan.

Melanjutkan perjalanan, kawasan Puncak pagi hari itu diberlakukan jalur satu arah naik saja. Di beberapa ruas jalan kami harus bersabar karena macet, atau berjalan di pinggir trotoar karena padatnya jalan oleh roda empat. Sejuknya udara dan indahnya pemandangan menjadi penawar kepenatan berkendara bagi saya. Di beberapa ruas jalan yang menurun tapi tidak macet juga memberikan kenikmatan berkendara bagi saya.

Kemacetan tidak lagi saya temui setelah melewati Rindu Alam memasuki wilayah Ciloto. Jalannya pun sepi dan menurun. Walau banyak tikungan, saya tidak segan-segan menarik gas agak dalam dan baru mengurangi kecepatan ketika terlihat akan memasuki tikungan. Kemacetan baru kami jumpai lagi setelah melewati Istana Cipanas melewati pasar Cipanas, setelah itu kami terus tancap gas menuju kota Cianjur.

Setibanya di perempatan tugu kota Cianjur kami berbelok ke kanan melewati jalan KH. Abdullah bin Nuh. Bus dan truk menemani kami sepanjang jalan ini. Di jalan ini kami lurus saja sebelum berbelok ke kiri di pertigaan jalan Cianjur-Gunung Pandang. Jalan ini sepi dan sempit, cuma cukup untuk dilewati sebuah roda empat satu arah. Di beberapa titik jalannya hancur menyisakan kerikil dan pasir sehingga kami harus berhati-hati jika ingin tancap gas. Saya cukup heran dengan rekan saya, di jalan yang sempit, banyak tikungan dan hancur aspalnya, berani sekali dia memacu kencang-kencang matiknya. Saya sendiri beberapa kali harus menurunkan kaki, menghindari agar tidak tergelincir karena pasir dan kerikil di aspal yang rusak. Di wilayah ini kami melewati perlintasan rel kereta api yang menuju ke stasiun KA Lampegan.

Semakin ke atas medannya semakin terjal dan rusak aspalnya. Malah di dua titik kami temui jalan yang masih berupa tumpukan batu belum diaspal. Semakin ke atas saya semakin khawatir jika kehabisan bensin walau waktu melewati jalan KH. Abdullah bin Nuh tadi kami sempat mengisi tangki BBM kendaraan kami. Di sebuah tikungan, rekan saya itu berhenti untuk menunggu saya yang berjalan sangat santai. Saya pun berhenti dulu untuk beristirahat sambil melihat-lihat pemandangan. Teman saya itu menunjuk-nunjukan jarinya, memberitahu posisi situs Gunung Padang. Ternyata masih harus menanjak lagi ke atas.Wow! Dalam hati saya berdoa agar BBM dalam tangki cukup untuk kembali turun nanti dan sampai di SPBU terdekat. Karena di sini jarang ada rumah dan penjual bensin eceran jarang terlihat.

Akhirnya kami sampai di depan sebuah sekolah dasar. Jalan yang hendak kami lewati sudah dipalang agar tidak dilewati oleh masyarakat sekitar dan petunjuk parkir saya lihat mengarah ke halaman sekolah tersebut. Dengan aksen Sunda yang kental, rekan saya menanyakan ada apa. Ternyata di situs Gunung Padang sedang ada pagelaran seni budaya. Jadi, halaman parkirnya tidak bisa digunakan untuk kendaraan. Kami memasuki halaman sekolah tersebut untuk memarkirkan sepeda motor kami. Karcis parkir berstempel desa Karyamukti kami bayar dengan harga tiga ribu rupiah.

Kami pun harus berjalan menuju ke pintu masuk situs megalitikum Gunung Padang. Teman saya bercerita bahwa dulu jalan ke halaman situs ini belum diaspal seperti sekarang. Dulu pengendara sepeda motor harus membayar orang yang membantu mendorong sepeda motornya untuk naik karena jalannya masih berupa batu-batu dan terjal. Jarak jalannya ternyata tidak jauh, kira-kira seratus meter dari tempat kami parkir. Di pinggir jalan kami temui rumah-rumah warga setempat yang dijadikan rumah makan dan warung.

Sesampainya di halaman masuk, kami lihat sebuah panggung dan deretan kursi kosong sudah disiapkan untuk acara pagelaran seni yang dimaksud. “Wah, kebetulan dong!” ujar saya kepada rekan saya yang seorang fotografer profesional. “Iya, mas Peb. Lumayan, human interest.” Kami lihat sebuah jam besar di halaman menunjukan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. Wah, lama juga perjalanan kami. Dari rumah saya berangkat kira-kira jam enam kurang lima belas menit. Berarti lama perjalanan kira-kira empat jam lebih. Kami kemudian bersiap dan merapikan diri di sebuah mushola. Dua orang wanita cantik berkebaya menyambut kami layaknya pagar ayu. Kami diwajibkan mengisi buku tamu sebelum masuk ke situs Gunung Padang.

Menurut informasi yang saya dapatkan, situs Gunung Padang lebih tua daripada Piramida Giza di Mesir. Konon Gunung Padang digunakan sebagai tempat pertemuan ketua-ketua adat Sunda Kuno. Sejatinya, Gunung Padang bukanlah sebuah gunung. Tapi bangunan berbentuk punden berundak-undak (terasering) yang dibangun secara bergotong-royong. Menakjubkan! Bayangkan, betapa hebatnya masyarakat zaman dahulu kala membuat bangunan-bangunan dari batu besar (megalitikum = zaman batu besar) di lokasi yang terjal hingga setinggi gunung.

Dari halaman kami harus mendaki tangga dari batu-batu alam yang berbentuk balok. Tingginya berapa meter? Tinggi banget deh pokoknya! 😀 Bukan cuma tinggi, tapi juga terjal. Luar biasa ya, bisa-bisanya batu-batu sebesar ini disusun membentuk tangga yang terjal. Di sisi kanan dan kiri sudah dipasang pegangan dari besi untuk keamanan pengunjung situs.

Ketika sampai diatas kami beristirahat sejenak, menikmati pemandangan desa dari atas. Pengunjung lain terlihat sedang mendaki anak tangga yang tadi kami lewati. Di hadapan kami terhampar ‘teras’ dengan tumpukan balok-balok batu alam berukuran besar disana-sini. Beberapa tiang bendera dan umbul-umbul warna-warni terpancang. Angin meniup bendera dan umbul-umbul tersebut.

Situs Megalitikum Gunung Padang

Pemandangan ke Arah Atas dari Tangga Situs Gunung Padang Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka Cianjur, Jawa Barat

Di teras yang lebih tinggi terlihat para pengunjung berkumpul, berjalan-jalan, duduk-duduk diatas batu dan berfoto diri atau memotret pemandangan dan menuntun anak-anak mereka yang masih balita. Beberapa ABG dengan mencoloknya selfie menggunakan smartphone dan menjulurkan selfie stick andalan mereka. 😀 Terdapat beberapa pesan larangan, seperti larangan menaiki atau berdiri di atas batu yang berdiri (menhir) dan larangan untuk mengetuk-ngetuk batu.

Kawat-kawat merintangi beberapa tumpukan batu dan ada larangan untuk menjangkau tumpukan batu-batu tersebut. Mungkin kekhawatiran akan rusaknya situs tersebut akibat ulah wisatawan yang tidak bertanggung jawab. Saya pun melihat tidak ada pengunjung yang berani melanggar larangan tersebut. Pengunjung lain yang terlihat membawa kamera profesional dan menenteng-nenteng tripod pun mencari lokasi yang aman dan posisi yang bagus untuk memotret di sekitar tumpukan batu tersebut. Saya pun  asyik memotret.

Sampai di teras paling atas ada pagelaran seni budaya Sunda yang dibawakan oleh civitas MAN 1 Cianjur. Saya sempat melihat dan menikmati beberapa tarian dan aksi teater siswa-siswi tersebut. Hal ini menambah menarik kunjungan saya hari ini. Saya perhatikan para pengunjung lain pun memadati ‘aula’ alam di teras paling atas situs Gunung Padang ini. Bagi saya yang paling menarik adalah aksi teaternya.

Saya dan pengunjung lain dibuat tertawa oleh aksi dan dialog siswa-siswi ini. Tema dramanya seputar politik lokal yang dibingkai dengan kehidupan rumah tangga suami istri dan kepercayaan lokal tentang ilmu pemikat. Pokoknya lucu habis deh mendengar percakapan dan gaya anak-anak ini. 😀 Foto-foto mereka akan saya tampilkan pada tulisan terpisah.

Kira-kira pukul satu siang kami turun untuk kembali pulang ke rumah. Untuk turun dari teras Gunung Padang ternyata ada jalan lain yang lebih landai. Jika untuk naik anak tangganya terbuat dari batu-batu alam yang besar, untuk turun anak tangganya terbuat dari batu-batu kanstin yang lebar-lebar. Cukup aman untuk dilewati oleh anak-anak.

Dari situs Gunung Padang ini untuk kembali ke kota Cianjur jika tidak ingin tersesat cukup ikuti papan petunjuk jalan ke arah Warungkondang. Walau hanya ada satu ruas jalan yang kecil, ada beberapa tikungan yang membuat bingung. Kiri atau kanan ya? 🙂 Sesampainya di jalan raya, kami berbelok ke kanan menuju kota Cianjur. Kami sempatkan beristirahat di sebuah kedai ayam bakar untuk makan siang. Belum selesai makan, ternyata hujan turun. Kami pun memilih menunggu hujan reda.

Selepas hujan reda perjalanan kami lanjutkan. Sebelum sampai di kota Cianjur kami berpisah. Teman saya berbelok ke kanan sedangkan saya lurus menuju tugu kota Cianjur untuk selanjutnya menikmati perjalanan seorang diri di kawasan Puncak. Ketika fuel meter menunjukan tiga bar, saya sempatkan kembali untuk mampir ke sebuah SPBU di kawasan Cianjur. Jangan sampai kehabisan bensin jika ternyata jalur Cipanas-Puncak macet karena track-nya mendaki. Melewati Atta’awun hingga Gunung Mas saya perhatikan kebun teh di sana ramai oleh wisatawan.

Ternyata jalur naik satu arah masih diberlakukan hingga sore hari kemarin bagi kendaraan yang berasal dari arah Jakarta atau Bogor. Saya dan pemotor lainnya masih tetap bisa lewat menuju Bogor dengan hati-hati karena melawan arus. Kemacetan parah saya temui di sekitar Gadog. Di pos polisi persimpangan Gadog terlihat bapak-bapak polisi yang bertugas mengatur lalu lintas membantu kami untuk meneruskan perjalanan. Selepas Gadog perjalanan lancar. Dari Ciawi melewati Tajur hingga Baranangsiang pun lalu lintas ramai lancar.

Demikianlah perjalanan saya menuju Gunung Padang di kota yang terkenal dengan beras dan tauconya ini. Semoga bermanfaat. Selamat berakhir pekan dan salam hangat dari kota hujan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s