Gathering di Camp Bravo Cidahu

Camp Bravo, Cidahu, Sukabumi

Camp Bravo, Cidahu, Sukabumi

Entah kenapa rasanya malas sekali menuliskan pengalaman saya yang satu ini. Tapi daripada arsipnya cuma tersimpan rapi dalam harddisk dan semoga dengan menuliskannya saya jadi cepat lupa, jadi saya tuliskan saja. Ok, here it is.

Jum’at sore menjelang malam, 13 Mei 2016, hujan menyambut saya dan teman-teman di tanah Cidahu, Sukabumi. Kami merupakan rombongan terakhir yang tiba disana dalam acara gathering kantor. Gelapnya suasana, dinginnya udara dan tanah yang becek tidak mengurangi keceriaan teman-teman saya dalam acara tersebut. Karena setibanya saya disana beberapa orang sedang asyik bercanda di warung pinggir jalan sambil menyeruput kopi dan mie rebus yang mereka pesan sambil berteduh menunggu hujan reda. Beberapa orang saling kontak dengan teman-teman yang sudah lebih dulu berjalan menuju perkemahan menggunakan walkie-talkie.

Awal perjalanan dari bilangan Tebet di Jakarta Selatan sekitar pukul tiga sore kurang beberapa menit. Mobil yang saya tumpangi merupakan rombongan terakhir yang berangkat setelah sebelumnya rombongan empat mobil lain berjalan lebih dahulu. Melaju melewati tol Cawang hingga keluar gerbang tol Ciawi perjalanan lancar tanpa kendala. Bahkan saya yang duduk di samping pak kusir yang mengendarai kuda rekan saya yang menyupir mobil sempat memperhatikan beberapa kali jarum speedometer melewati 120 km/jam. Ah, sudah ngebut, di dalam mobil mereka masih sempat cekakakan ketawa-ketiwi. Seandainya saat itu nahas menimpa, mampuslah kami semua! Kelakuan!

Singkat cerita, setelah menikmati (sumpah nikmat banget!) kemacetan jalur Ciawi-Sukabumi akhirnya kami sampai juga di pelataran parkir samping masjid di Cidahu. Mobil-mobil harus diparkir di sana karena untuk mencapai camping ground harus melewati jalan setapak. Rombongan kami jadi paling akhir tidak saja karena macet, tapi juga karena sempat sekali salah menikung di Cicurug akibat mengikuti rute yang ditunjukan oleh aplikasi GPS di ponsel seorang teman. Hm, makan tuh GPS! Ujung-ujungnya, “Misi, mas. Kalau ke Cidahu lewat mana ya?” Pada seorang, mungkin, tukang ojek yang ada di warung pinggir jalan Cicurug. Jadi deh, putar balik lagi. Tapi ya akhirnya sampai juga, toh.

Setelah hujan reda, seorang pemandu mengantarkan kami menuju lokasi perkemahan. Sampai di perkemahan kami disambut teman-teman yang sudah lebih dulu tiba disana. Duduk-duduk di bawah jajaran gubuk yang ada di teras atas yang sudah disediakan sebagai tempat untuk menyajikan makanan. Omong-omong, pengelola Camp Bravo sudah menyediakan listrik di area perkemahan. Jadi, kami tidak perlu takut gadget yang kami bawa kehabisan listrik. Selain itu, makanan dan minuman juga disediakan oleh pengelola.

Acara malam itu adalah acara keakraban. Duduk-duduk diatas rerumputan basah yang sudah digelari alas semacam tikar/karpet sambil mengisinya dengan obrolan, ada yang sibuk main remi, ada yang sudah asyik tiduran dalam kemah. Suara arus sungai di bawah lokasi kami berkemah, deras air terjun dikejauhan dan suara-suara katak meramaikan suasana malam itu. Dikejauhan temaram lampu-lampu listrik yang remang-remang menerangi gubuk dan jalan di pinggir lapangan tempat kami berkumpul.

Kemudian pengelola terlihat sibuk menyiapkan tumpukan kayu-kayu kering. Berkemah rasanya memang tidak lengkap jika tidak ada api unggun. Tidak lama kemudian kobaran api unggun pun tambah menyemarakan suasana malam itu. Tidak hanya api unggun ternyata, pengelola pun sudah menyiapkan seekor kambing untuk dihidangkan menjadi kambing guling.

Kambing guling, enak. Kata yang suka daging.

Kambing guling, enak. Kata yang suka daging.

Malam pun semakin larut. Saya lebih memilih istirahat di dalam tenda bersama seorang rekan saya. Beberapa orang saya dengar masih asyik mengobrol saat saya terbangun dini hari. Saya pun melanjutkan tidur hingga subuh. Selesai sholat Shubuh saya kembali duduk-duduk berdua seorang teman di bawah gubuk sambil menikmati hidangan sisa semalam sambil mengobrol dan menyeruput kopi panas.

Ketika kemilau putih matahari sudah mulai menampakan sinarnya dan semburat jingga sudah menghilang dari ufuk timur, saya mulai berjalan-jalan mengelilingi lokasi perkemahan ini. Melacak sudut-sudut yang tidak bisa saya jangkau di malam hari berbekal kamera handphone. Ternyata sungai di bawah lokasi perkemahan cukup lebar dan banyak batu-batu besar serta berair jernih. Lapangan lokasi kami berkemah ada di bawah tebingan tanah, untuk menuju pintu keluar harus mendaki anak tangga yang tidak curam tapi cukup tinggi. Tepat diatas lapangan tersebut ada sebuah bangunan semi permanen dan sebuah generator listrik.

Sungai di bawah lokasi kemah.

Sungai di bawah lokasi kemah.

Barisan tenda di lokasi perkemahan.

Barisan tenda di lokasi perkemahan.

Lokasi perkemahan dilihat dari atas tangga.

Lokasi perkemahan dilihat dari atas tangga.

Jalan setapak untuk mencapai tangga menuju lokasi perkemahan. Bangunan yang terlihat sepertinya bangunan untuk menempatkan generator pembangkit listrik.

Jalan setapak untuk mencapai tangga menuju lokasi perkemahan. Bangunan yang terlihat sepertinya bangunan untuk menempatkan generator pembangkit listrik.

Bangunan generator pembangkit listrik.

Bangunan generator pembangkit listrik.

Jembatan penghubung dua sisi sungai di lokasi perkemahan.

Jembatan penghubung dua sisi sungai di lokasi perkemahan.

Dapur, pancuran untuk berwudhu, dan sarana MCK di dekat lokasi perkemahan.

Dapur, pancuran untuk berwudhu, dan sarana MCK di dekat lokasi perkemahan.

 

Selesai memotret beberapa spot di sekitar lokasi perkemahan, saya memutuskan untuk mandi. Lumayan bersih juga sarana MCK yang disediakan oleh pengelola. Air yang digunakan sepertinya langsung dari sumber mata air pegunungan, jadi dinginnya terasa sampai ke tulang. Setelah mandi ternyata saya tertinggal acara senam pagi. Walhasil saya tidak bisa ikut senam pagi tersebut.

Senam pagi biar segar.

Senam pagi biar segar.

Setelah senam pagi, acara berikutnya adalah sarapan, sesi pribadi, beberapa lomba dan renungan. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan outbound. Outbound yang dilakukan adalah mencari petunjuk di lokasi-lokasi yang sudah ditentukan oleh panitia. Kami dibagi menjadi dua tim besar, setiap tim dibekali kompas yang akan digunakan oleh anggota tim yang ditunjuk sebagai navigator. Fungsi kompas tersebut adalah untuk menentukan arah jalan yang harus ditempuh. Besarnya sudut yang harus diukur dengan kompas itulah petunjuk yang disembunyikan oleh pengelola dan harus kami temukan jika kami ingin memenangkan perlombaan ini.

Memintas lebatnya tumbuh-tumbuhan di dalam hutan mencari petunjuk.

Memintas lebatnya tumbuh-tumbuhan di dalam hutan mencari petunjuk.

Pohonnya tinggi-tinggi, daun dan dahannya lebat, udaranya lembab. Sesekali terlihat kera melompat di dahan-dahan.

Pohonnya tinggi-tinggi, daun dan dahannya lebat, udaranya lembab. Sesekali terlihat kera melompat di dahan-dahan.

Stick together as a team. Ikuti satu arahan, tidak perlu sok pintar dengan berpencar-pencar mencari petunjuk. Itulah tim yang menang.

Stick together as a team. Ikuti satu arahan, tidak perlu sok pintar dengan berpencar-pencar mencari petunjuk. Itulah tim yang menang.

Melintasi hutan, mendaki gunung (aih lebainya), melintasi tebing-tebing curam, jalan berbatu licin akhirnya tim saya memenangkan perlombaan. Akhir pencarian adalah kami harus menemukan bendera yang disembunyikan. Setelah bendera ditemukan kami beristirahat sebentar, kemudian dilanjutkan acara terakhir, yaitu seru-seruan bareng di air terjun/curug. Akhir lokasi dari outbound ini memang dirancang berada di dekat sebuah air terjun.

Air terjun/curug. Namanya apa? Entahlah.

Air terjun/curug. Namanya apa? Entahlah.

Mohon maaf, foto-foto keseruannya tidak dapat saya tampilkan untuk menjaga privasi masing-masing pribadi dalam foto.

Menjelang akhir acara, kami semua foto bareng untuk kenang-kenangan. Ada fotografer resmi untuk melakukan hal tersebut.

Selepas Dzuhur kami kembali ke pelataran parkir untuk pulang. Kembali menelusuri jalan sempit Cidahu menuju Cicurug sebelum akhirnya kami menuju Pamoyanan, Batu Tulis lewat Cijeruk.

Inilah salah satu pengalaman jalan-jalan yang kurang berkesan bagi saya. Semoga bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s