Gowes ke Curug Nangka Lewat Ciomas

Semakin menanjak jalannya, semakin dekat dan semakin jelas pemandangan air terjun Curug Nangka.

Semakin menanjak jalannya, semakin dekat dan semakin jelas pemandangan air terjun Curug Nangka.

Sabtu pagi yang dingin,Β 27 Januari 2018, setelah hujan di malam sebelumnya saya memutuskan gowes MTB andalan saya ke Curug Nangka. Jika sebelumnya saya menggowes MTB ke Curug Nangka melalui Pancasan lurus hingga ke Kota Batu, maka kali ini saya akan melewati rute yang sama seperti yang saya lakukan pada akhir 2014 lalu. Yup, saya akan lewat Ciomas.

Tanpa persiapan berarti saya melaju melewati jalan Pemda Karadenan. Jam saat itu menunjukan hampir tiga puluh menit lewat dari pukul enam pagi saat berangkat dari rumah. Sampai di perempatan BORR saya lurus kemudian terhalang lampu merah di perempatan Plaza Jambu Dua (Warung Jambu). Setelah lampu berubah hijau saat berbelok ke Jalan Ahmad Yani kemudian lurus menuju jalan Jenderal Sudirman. Tepat di pertigaan lampu merah sebelum Rumah Sakit Salak saya kembali berbelok ke kanan menuju Jalan Pengadilan kemudian melewati Pasar Anyar dan samping Taman Ade Irma Suryani (Taman Topi).

Singgah sebentar di KCU BCA Taman Topi kemudian saya memutari jalan Kapten Muslihat menuju jalan Paledang. Suasana lalu lintas lumayan sepi hari itu, apalagi di jalan Paledang. Tidak terlihat keramaian angkot menunggu penumpang. Sepi dan lancar. Hanya satu dua angkot dan sepeda motor lewat. Kembali di pertigaan jalan Ir. H. Juanda, saya menuntun sepeda saya melewati trotoar menuju BTM. Sistem Satu Arah, jadi daripada melawan arus lebih baik menepi di trotoar. Hingga tiba di BTM saya kembali gowes menuju kawasan Pulo Empang.

Dari Pulo Empang saya teruskan jalan yang sedikit menanjak menuju pertigaan Pancasan-Ciomas. Sesampainya disana saya tidak lurus, melainkan berbelok ke kanan menuju Ciomas. Jika sobat kurang menyukai tanjakan tanpa ampun di Kota Batu, saya sarankan lewat rute ini. Menyusuri jalan di Ciomas sangat menyenangkan. Jalannya landai dengan banyak pepohonan dan trotoar lebar dan sedikit angkot. Rute ini lebih elok daripada Kota Batu yang membosankan.

Sampailah saya di Pertigaan Kreteg setelah menyusuri jalan raya Ciomas. Saya pun berbelok ke kiri. Beberapa rumah makan dan pangkalan ojek motor menandai Pertigaan Kreteg. Beberapa meter setelah melewati pertigaan terlihat beberapa orang aktivis masjid meminta donasi kepada pengguna jalan yang lewat. Pemandangan Gunung Salak di depan mata menjadi penyemangat perjalanan.

Gowes terus mengikuti jalan. Jangan takut tersesat, beberapa penunjuk jalan menunjukan arah ke Curug Nangka ada di pinggir jalan. Jalan setelah ini adalah kawasan pemukiman padat penduduk. Jalannya tidak selebar jalan utama jalan raya Ciomas. Rumah-rumah, warung dan toko milik penduduk setempat di kanan-kiri jalan.

Hingga tibalah saya di desa Sukamakmur. Jalan raya disini sudah sepi angkot. Di kanan-kiri jalan banyak sawah-sawah dan pepohonan serta bangunan milik warga setempat. Jangan harap ada SPBU, ATM atau mini market. Pola kehidupan disini masih tradisional. Hanya warung-warung milik warga setempat yang dapat dijadikan persinggahan. Satu-dua ABG kadang menggeber skutik mereka mendahului saya. Mangga duluan aja, kang. Seandainya saya naik motor juga bisa ngebut kaya akang. πŸ™‚

Udara sejuk dengan hijau pemandangan sawah-sawah di kejauhan menjadi pembeda rute ini dengan rute Kota Batu. Beberapa anak sekolah berjalan berbarengan dengan saya. Ah ya, tadi saya melewati sebuah SD. Berarti anak-anak kecil ini hendak pulang sepertinya. Beberapa anak lainnya terlihat dari kaca sebuah angkot yang lewat mendahului saya.

Saya memutuskan untuk beristirahat di sebuah warung di pinggir jalan. Ternyata pemilik warung tidak ada. Saya bertanya pada bapak pemilik bengkel di seberang jalan yang kemudian berteriak memanggil anak si pemilik warung. Si pemilik bengkel menyapa saya dengan bahasa Sunda. Aduh, nggak ngerti nih hahaha…. Paham saya tidak memahami maksudnya dia pun menggunakan bahasa sehari-hari.

“Ke Curug Nangka ‘A?” beliau bertanya.

“Iya pak,” saya menjawab.

“Biasanya rame di sini,” beliau mejelaskan.

Saya bertanya, “Gowes sepeda?”

“Iya,” jawabnya lagi.

“Oh, mungkin karena lagi musim hujan aja ya jadi sepi.” Saya menimpali setelah menenggak air dari botol minuman saya.

“Biasanya mah kalo libur atau minggu banyak yang lewat sini,” tambah beliau.

“Oh…”

Saya pun pamit melanjutkan perjalanan. Mulai banyak tanjakan saya rasakan. Sebelum pertigaan jalan saya dapatkan lagi penunuk jalan mengarahkan saya ke Curug Nangka. Arah lainnya menunjukkan arah ke Nambo. Dikejauhan nampak pemandangan petak-petak bangunan di kota Bogor. Jalan terasa berkelok-kelok. Hups… rasa-rasanya dulu akhir 2014 saya lewat sini naik motor tidak terasa sejauh ini deh. Beda banget rasanya gowes sepeda hahaha… πŸ™‚

Rumah-rumah pemukiman penduduk sudah semakin jarang, jarak antara rumah satu dengan rumah berikutnya pun sudah agak jauh. Bangunan-bangunan disini semuanya adalah bangunan permanen dari tembok bata. Sudah tidak ada lagi bangunan kayu selain warung tradisional di pinggir jalan atau bangunan penjual bensin eceran. Beberapa lahan kosong dan terkesan terbengkalai saya temui di perjalanan.

Dari lawan arah terlihat dua orang pesepeda. Dari wajah terlihat masih usia SMA sepertinya. “Mari,om!” sapa mereka. Saya pun membalas, “Mari…” Banyak anak kecil juga terlihat bermain-main di pinggir jalan. Beberapa dari mereka menyapa saya dan melambaikan tangan, “Da-da… Da-da…” Saya tersenyum senang melihat mereka dan membalas, “Daa-daaa…” Masya Allah. Penduduk disini ramah-ramah. Itulah yang saya sukai dengan pola hidup tradisional.

Di penunjuk jalan terlihat arah kiri menuju Curug Nangka. Ah, saya ingat disini setiap belokan ke kiri atau lurus pun pada akhirnya akan menuju Curug Nangka. Saya pun berbelok. Terlihat sebuah madrasah besar berdiri tepat di pinggir jalan. Mungkin setingkat SD atau SMP. Saya lupa namanya, tidak memperhatikan. Puncak Gunung Salak terlihat di kejauhan, menjulang melebihi bangunan-bangunan di kanan jalan. Beberapa anak kecil yang sedang bermain kembali menyapa saya, “Da-da… Da-daaa…” Saya pun kembali membalas sapaan mereka. Subhanallah. Mungkin mereka diajarkan orang tua mereka untuk menyapa setiap pengunjung atau pesepeda karena banyak pesepeda yang sering lewat di desa ini.

Saya terus menelusuri jalan yang semakin menanjak ini. Semakin lama tanjakan terasa semakin tinggi. Menanjak dan terus menanjak. Akhirnya di jalan yang sepi ini terbentanglah pemandangan eksotik nan mengagumkan. Maha Suci Allah… bangunan-bangunan tradisional khas Sunda berlatar belakang Gunung Salak dengan gumpalan awan yang menaunginya, berteras hijaunya hamparan pepohonan dan sawah menjadi pembatas jalur aspal berkelok yang saya lewati. Saya terkejut. Akhir 2014 saya lewat sini sepertinya jalurnya masih off-road deh, masih banyak alang-alang seolah lahan terbengkalai. Sekarang saya lewat sini seolah saya menginjakan kaki di Shire dalam Lord of The Ring atau The Hobbit. Masya Allah.

Saya lanjutkan gowes sambil mengagumi keindahan yang terbentang di hadapan saya. Tidak lama kemudian terlihat sebuah komplek bangunan seperti perumahan dengan pagar besi membatasi jalan dengan lahan. Oh… bukan. Ini bukan komplek perumahan. Rupanya ini Nurul Fikri Boarding School (NFBS) Bogor. Rumah-rumah tradisional yang tadi terlihat di kejauhan juga merupakan bagian dari komplek NFBS Bogor.

Saya teruskan perjalanan mengikuti aspal jalan di NFBS ini. Saya ingat, seperti akhir 2014 dulu, jalan manapun disini harusnya berujung di jalan raya Ciapus.

Jalannya masih menanjak, saya lalui dengan sabar. Namanya juga kaki gunung. Tidak salah saya lewat rute ini. Pemandangannya sungguh mengagumkan. Akhirnya sampailah saya di ujung aspal. Ada warung tradisional di kiri saya. Beberapa pesepeda terlihat menuju warung di sebelah kanan. Oh… tempat itu Saung Pakis namanya. Harap dicatat ya, lain kali kalau kembali dari Curug Nangka dan sudah bosan menuruni aspal jalan raya di Cimanglid dan Kota Batu, bisa berbelok di Saung Pakis dan lewat NFBS Bogor. Pemandangannya wow!

Rombongan pesepeda tadi menggunakan dua sepeda lipat dan satu MTB. Pengendaranya sudah tua juga. Mantab, raga boleh tua tapi semangat tetap muda. Sambil berisitirahat saya perhatikan mereka mendahului saya mengarah ke Curug Nangka. Benarkan. Jalan tadi selalu berujung di jalan raya Ciapus. Saya lanjutkan perjalanan.

Melewati Pura Parahyangan Agung Jagatkarta terus sedikit turunan kemudian menanjak kembali sampai akhirnya bertemu dengan The Highland Park Resort Hotel Bogor (Mongolian Camp). Dari sini saya lanjutkan hingga sampai gerbang Curug Nangka. Ah, sampai juga. Cukuplah sampai gerbang ini saja. Sudah tiga kali saya ke Curug Nangka. Berikut foto-foto Curug Nangka yang pernah saya potret.

Sampai jumpa dalam catatan gowes saya berikutnya ke Katulampa dan Situ Gede. Selamat berakhir pekan. Jangan lupa berolahraga.

Salam hangat dari kota hujan.

One thought on “Gowes ke Curug Nangka Lewat Ciomas

  1. Ping-balik: Cycling Vlog: Gowes ke Curug Nangka – RiderAlit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.