Gowes ke Bendungan Katulampa

Taqobbalallahu minna wa minkum.Β Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian.

Sebelumnya saya selaku punggawa blog RiderAlit mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri bagi sobat yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin jika ada pos, tulisan atau komentar yang kurang berkenan. πŸ™‚

Oke, sesuai janji saya pada tulisan sebelumnya maka kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya saat gowes ke Bendungan Katulampa. Nah, biar tidak berpanjang kalam, maka tulisannya saya ringkas menjadi sebuah vlog saja, ya. Jadi sobat tinggal nikmati saja tayangan video diatas.

Pengalaman kali ini saya dokumentasikan pada tanggal 21 April 2018 lalu. Saat anak-anak sekolah sedang sibuk merayakan hari Kartini. Rute gowesnya adalah Bojonggede – Babakan Madang – Sentul – Cikeas – Sukaraja – Katulampa – Pasir Angin – Gadog – Tajur. Kemudian kembali lagi ke Bojonggede melalui jalan raya Cilebut.

Banyak hal yang tidak bisa diceritakan melalui video sebetulnya. Seperti harumnya rimbun hutan saat melewati Sukaraja menuju Katulampa (karena disana banyak tumbuh bunga dan ada pemakaman tepat di sisi jalan), sejuk udara di Sukaraja dan Katulampa, siswa-siswi yang sedang melakukan pawai marching band dengan pemimpin mayoret yang gemuk imut-imut di SD Babakan Madang (sorry, yang merasa gemuk jangan baperΒ heuhuehue…), indahnya sungai Ciliwung dan Kawani (Kampung Warna-Warni) Katulampa, karena tidak sempat terekam.

Singkat cerita, ada dua jalur dari Katulampa. Jalur ke kiri menuju Ciawi (Pasir Angin) atau jalur ke kanan yang langsung tembus di jalan raya Tajur. Nah, pada gowes kali ini saya mengambil rute ke kiri, Ciawi. Rute ini rute yang asyik, banyak pesepeda saya temui disana. Dengan tanjakan yang tidak terlalu tinggi, tidak seperti ketika kita melewati Bukit Pelangi. Ujung dari jalur ini adalah pertigaan tepat di depan SMP Negeri 1 Megamendung dekat dengan simpang Pasir Angin.

Oke deh, buat sobat yang punya rencana gowes saat akhir pekan, jalur ini sangat recommended. Salam olahraga.

Iklan

Gowes ke Curug Nangka Lewat Ciomas

Semakin menanjak jalannya, semakin dekat dan semakin jelas pemandangan air terjun Curug Nangka.

Semakin menanjak jalannya, semakin dekat dan semakin jelas pemandangan air terjun Curug Nangka.

Sabtu pagi yang dingin,Β 27 Januari 2018, setelah hujan di malam sebelumnya saya memutuskan gowes MTB andalan saya ke Curug Nangka. Jika sebelumnya saya menggowes MTB ke Curug Nangka melalui Pancasan lurus hingga ke Kota Batu, maka kali ini saya akan melewati rute yang sama seperti yang saya lakukan pada akhir 2014 lalu. Yup, saya akan lewat Ciomas.

Tanpa persiapan berarti saya melaju melewati jalan Pemda Karadenan. Jam saat itu menunjukan hampir tiga puluh menit lewat dari pukul enam pagi saat berangkat dari rumah. Sampai di perempatan BORR saya lurus kemudian terhalang lampu merah di perempatan Plaza Jambu Dua (Warung Jambu). Setelah lampu berubah hijau saat berbelok ke Jalan Ahmad Yani kemudian lurus menuju jalan Jenderal Sudirman. Tepat di pertigaan lampu merah sebelum Rumah Sakit Salak saya kembali berbelok ke kanan menuju Jalan Pengadilan kemudian melewati Pasar Anyar dan samping Taman Ade Irma Suryani (Taman Topi).

Singgah sebentar di KCU BCA Taman Topi kemudian saya memutari jalan Kapten Muslihat menuju jalan Paledang. Suasana lalu lintas lumayan sepi hari itu, apalagi di jalan Paledang. Tidak terlihat keramaian angkot menunggu penumpang. Sepi dan lancar. Hanya satu dua angkot dan sepeda motor lewat. Kembali di pertigaan jalan Ir. H. Juanda, saya menuntun sepeda saya melewati trotoar menuju BTM. Sistem Satu Arah, jadi daripada melawan arus lebih baik menepi di trotoar. Hingga tiba di BTM saya kembali gowes menuju kawasan Pulo Empang.

Dari Pulo Empang saya teruskan jalan yang sedikit menanjak menuju pertigaan Pancasan-Ciomas. Sesampainya disana saya tidak lurus, melainkan berbelok ke kanan menuju Ciomas. Jika sobat kurang menyukai tanjakan tanpa ampun di Kota Batu, saya sarankan lewat rute ini. Menyusuri jalan di Ciomas sangat menyenangkan. Jalannya landai dengan banyak pepohonan dan trotoar lebar dan sedikit angkot. Rute ini lebih elok daripada Kota Batu yang membosankan.

Sampailah saya di Pertigaan Kreteg setelah menyusuri jalan raya Ciomas. Saya pun berbelok ke kiri. Beberapa rumah makan dan pangkalan ojek motor menandai Pertigaan Kreteg. Beberapa meter setelah melewati pertigaan terlihat beberapa orang aktivis masjid meminta donasi kepada pengguna jalan yang lewat. Pemandangan Gunung Salak di depan mata menjadi penyemangat perjalanan.

Gowes terus mengikuti jalan. Jangan takut tersesat, beberapa penunjuk jalan menunjukan arah ke Curug Nangka ada di pinggir jalan. Jalan setelah ini adalah kawasan pemukiman padat penduduk. Jalannya tidak selebar jalan utama jalan raya Ciomas. Rumah-rumah, warung dan toko milik penduduk setempat di kanan-kiri jalan.

Hingga tibalah saya di desa Sukamakmur. Jalan raya disini sudah sepi angkot. Di kanan-kiri jalan banyak sawah-sawah dan pepohonan serta bangunan milik warga setempat. Jangan harap ada SPBU, ATM atau mini market. Pola kehidupan disini masih tradisional. Hanya warung-warung milik warga setempat yang dapat dijadikan persinggahan. Satu-dua ABG kadang menggeber skutik mereka mendahului saya. Mangga duluan aja, kang. Seandainya saya naik motor juga bisa ngebut kaya akang. πŸ™‚

Udara sejuk dengan hijau pemandangan sawah-sawah di kejauhan menjadi pembeda rute ini dengan rute Kota Batu. Beberapa anak sekolah berjalan berbarengan dengan saya. Ah ya, tadi saya melewati sebuah SD. Berarti anak-anak kecil ini hendak pulang sepertinya. Beberapa anak lainnya terlihat dari kaca sebuah angkot yang lewat mendahului saya.

Saya memutuskan untuk beristirahat di sebuah warung di pinggir jalan. Ternyata pemilik warung tidak ada. Saya bertanya pada bapak pemilik bengkel di seberang jalan yang kemudian berteriak memanggil anak si pemilik warung. Si pemilik bengkel menyapa saya dengan bahasa Sunda. Aduh, nggak ngerti nih hahaha…. Paham saya tidak memahami maksudnya dia pun menggunakan bahasa sehari-hari.

“Ke Curug Nangka ‘A?” beliau bertanya.

“Iya pak,” saya menjawab.

“Biasanya rame di sini,” beliau mejelaskan.

Saya bertanya, “Gowes sepeda?”

“Iya,” jawabnya lagi.

“Oh, mungkin karena lagi musim hujan aja ya jadi sepi.” Saya menimpali setelah menenggak air dari botol minuman saya.

“Biasanya mah kalo libur atau minggu banyak yang lewat sini,” tambah beliau.

“Oh…”

Saya pun pamit melanjutkan perjalanan. Mulai banyak tanjakan saya rasakan. Sebelum pertigaan jalan saya dapatkan lagi penunuk jalan mengarahkan saya ke Curug Nangka. Arah lainnya menunjukkan arah ke Nambo. Dikejauhan nampak pemandangan petak-petak bangunan di kota Bogor. Jalan terasa berkelok-kelok. Hups… rasa-rasanya dulu akhir 2014 saya lewat sini naik motor tidak terasa sejauh ini deh. Beda banget rasanya gowes sepeda hahaha… πŸ™‚

Rumah-rumah pemukiman penduduk sudah semakin jarang, jarak antara rumah satu dengan rumah berikutnya pun sudah agak jauh. Bangunan-bangunan disini semuanya adalah bangunan permanen dari tembok bata. Sudah tidak ada lagi bangunan kayu selain warung tradisional di pinggir jalan atau bangunan penjual bensin eceran. Beberapa lahan kosong dan terkesan terbengkalai saya temui di perjalanan.

Dari lawan arah terlihat dua orang pesepeda. Dari wajah terlihat masih usia SMA sepertinya. “Mari,om!” sapa mereka. Saya pun membalas, “Mari…” Banyak anak kecil juga terlihat bermain-main di pinggir jalan. Beberapa dari mereka menyapa saya dan melambaikan tangan, “Da-da… Da-da…” Saya tersenyum senang melihat mereka dan membalas, “Daa-daaa…” Masya Allah. Penduduk disini ramah-ramah. Itulah yang saya sukai dengan pola hidup tradisional.

Di penunjuk jalan terlihat arah kiri menuju Curug Nangka. Ah, saya ingat disini setiap belokan ke kiri atau lurus pun pada akhirnya akan menuju Curug Nangka. Saya pun berbelok. Terlihat sebuah madrasah besar berdiri tepat di pinggir jalan. Mungkin setingkat SD atau SMP. Saya lupa namanya, tidak memperhatikan. Puncak Gunung Salak terlihat di kejauhan, menjulang melebihi bangunan-bangunan di kanan jalan. Beberapa anak kecil yang sedang bermain kembali menyapa saya, “Da-da… Da-daaa…” Saya pun kembali membalas sapaan mereka. Subhanallah. Mungkin mereka diajarkan orang tua mereka untuk menyapa setiap pengunjung atau pesepeda karena banyak pesepeda yang sering lewat di desa ini.

Saya terus menelusuri jalan yang semakin menanjak ini. Semakin lama tanjakan terasa semakin tinggi. Menanjak dan terus menanjak. Akhirnya di jalan yang sepi ini terbentanglah pemandangan eksotik nan mengagumkan. Maha Suci Allah… bangunan-bangunan tradisional khas Sunda berlatar belakang Gunung Salak dengan gumpalan awan yang menaunginya, berteras hijaunya hamparan pepohonan dan sawah menjadi pembatas jalur aspal berkelok yang saya lewati. Saya terkejut. Akhir 2014 saya lewat sini sepertinya jalurnya masih off-road deh, masih banyak alang-alang seolah lahan terbengkalai. Sekarang saya lewat sini seolah saya menginjakan kaki di Shire dalam Lord of The Ring atau The Hobbit. Masya Allah.

Saya lanjutkan gowes sambil mengagumi keindahan yang terbentang di hadapan saya. Tidak lama kemudian terlihat sebuah komplek bangunan seperti perumahan dengan pagar besi membatasi jalan dengan lahan. Oh… bukan. Ini bukan komplek perumahan. Rupanya ini Nurul Fikri Boarding School (NFBS) Bogor. Rumah-rumah tradisional yang tadi terlihat di kejauhan juga merupakan bagian dari komplek NFBS Bogor.

Saya teruskan perjalanan mengikuti aspal jalan di NFBS ini. Saya ingat, seperti akhir 2014 dulu, jalan manapun disini harusnya berujung di jalan raya Ciapus.

Jalannya masih menanjak, saya lalui dengan sabar. Namanya juga kaki gunung. Tidak salah saya lewat rute ini. Pemandangannya sungguh mengagumkan. Akhirnya sampailah saya di ujung aspal. Ada warung tradisional di kiri saya. Beberapa pesepeda terlihat menuju warung di sebelah kanan. Oh… tempat itu Saung Pakis namanya. Harap dicatat ya, lain kali kalau kembali dari Curug Nangka dan sudah bosan menuruni aspal jalan raya di Cimanglid dan Kota Batu, bisa berbelok di Saung Pakis dan lewat NFBS Bogor. Pemandangannya wow!

Rombongan pesepeda tadi menggunakan dua sepeda lipat dan satu MTB. Pengendaranya sudah tua juga. Mantab, raga boleh tua tapi semangat tetap muda. Sambil berisitirahat saya perhatikan mereka mendahului saya mengarah ke Curug Nangka. Benarkan. Jalan tadi selalu berujung di jalan raya Ciapus. Saya lanjutkan perjalanan.

Melewati Pura Parahyangan Agung Jagatkarta terus sedikit turunan kemudian menanjak kembali sampai akhirnya bertemu dengan The Highland Park Resort Hotel Bogor (Mongolian Camp). Dari sini saya lanjutkan hingga sampai gerbang Curug Nangka. Ah, sampai juga. Cukuplah sampai gerbang ini saja. Sudah tiga kali saya ke Curug Nangka. Berikut foto-foto Curug Nangka yang pernah saya potret.

Sampai jumpa dalam catatan gowes saya berikutnya ke Katulampa dan Situ Gede. Selamat berakhir pekan. Jangan lupa berolahraga.

Salam hangat dari kota hujan.

Gowes Seru di Bukit Pelangi

Sabtu pagi, 17 Maret 2018 bertepatan dengan libur nasional hari raya Nyepi, saya bersiap-siap untuk melakukan biketrip menuju salah satu rute gowes yang terkenal di Bogor, Bukit Pelangi. Jam menunjukan hampir pukul tujuh. Dalam sling bag sudah saya siapkan tiga botol air minum, tissue, iPhone, perlengkapan pribadi dan kartu identitas. Headset yang tercolok ke sambungan jack Blackberry di saku celana juga sudah siap menemani perjalanan gowes saya.

Bismillahirahmanirrahim. Lantunan canda penyiar radio dan musik-musik pop kekinian dari Megaswara FM terdengar seraya saya melaju membelah sejuk pagi dari Bojonggede menuju Stadion Pakansari. Riding gearΒ bersepeda lengkap dengan helm, berputar mengelilingi Stadion Pakansari sekali sebagai pemanasan, setelah itu saya melesat menuju jalan Alternatif Sentul. Suasana pagi yang masih sepi terlihat di jalan ini, tidak banyak kendaraan yang lewat, hanya satu-dua truk yang diparkir di pinggir jalan dan beberapa pemotor memacu kecepatan.

Melewati gerbang sirkuit Sentul terlihat beberapa pengendara roadbike berkumpul, beberapa menyapa saya yang saya balas dengan senyuman. Tua-muda, dari bapak-bapak berumur hingga anak usia SMA sepertinya. Hm, sepertinya akan ramai dengan pesepeda nih rute Sentul. Terus melaju melintasi Babakan Madang beberapa pesepeda roadbike mendahului saya. Dari arah berlawanan juga terlihat rombongan group riding, beberapa mengendarai MTB seperti saya, tapi lebih banyak mengendarai roadbike.

Memasuki kawasan Sentul City saya berbelok kanan menuju terowongan ke arah desa Gumati. Jalan mulus dan sepi dengan pepohonan rindang, gemericik aliran sungai serta udara yang sejuk. Maha Suci Allah. Seorang pesepeda terlihat melaju kencang di depan saya. Hm… sepeda dan riding gear-nya fancy sekali yah. πŸ™‚

Jalan menanjak lumayan tinggi. Akhirnya saya tiba di depan komplek ruko Pine Forest. Istirahat sebentar, recharge, sambil memperhatikan lalu lintas. Suasana sudah cukup ramai. Beberapa mobil dan bus terlihat berlalu lalang, rombongan pemotor besar juga terlihat memarkirkan sepeda motor mereka di sebuah warung di depan Pine Forest. Dan benar saja dugaan saya! Beberapa rombongan group riding MTB terlihat melintas di depan mata saya. Wah, pasti seru nih! Beberapa diantaranya berhasil tertangkap kamera handphone. Cekrek, cekrek, cekrek. πŸ™‚

Selesai beristirahat saya kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa anggota rombongan MTB tersebut masih berada di depan saya. Gowes santai sambil menikmati pemandangan. Rombongan sepeda motor terlihat ngebut, memacu kecepatan. Hm, mungkin karena libur nasional jadi banyak orang jalan-jalan. Akhirnya saya sampai di lapangan parkir dengan bangunan tradisional khas Sunda. Tempat ini adalah restoran tradisional, Waroeng Sentul namanya. Terlihat atapnya berbentuk segitiga yang sepertinya terbuat dari kirai (alang-alang atau rumbai) dan tiang-tiangnya terbuat dari bambu. Wow, pemandangannya instagramable, nih. πŸ˜€

Sambil gowes saya temukan satu lagi bangunan seperti ini. Karena saya berhenti untuk mengambil foto, rombongan yang tadi ada di depan saya sudah tidak terlihat lagi. Tidak lama kemudian saya sampai di pertigaan jalan. Kanan menuju Telaga Cikeas, kiri Bukit Pelangi. Saya pun berbelok ke kiri. Jalan menanjak tinggi. Pemandangan pepohonan dan sawah di kejauhan mengundang decak kagum. Masya Allah. Beberapa pesepeda roadbike melesat kencang dari lawan arah. Oh, enaknya melesat turun, apalagi pakai roadbike hahaha… πŸ˜€

Saya teruskan perjalanan menanjak, sambil beberapa kali istirahat. Saya hapal benar jalur di Bukit Pelangi ini. Jika pada catatan saya sebelumnya menuju Curug Nangka lewat Pancasan jalannya cuma menanjak saja tanpa turunan berarti, maka kontur jalan di rute menuju Bukit Pelangi ini adalah naik-turun. Nah, sekarang saya sedang kebagian tidak enaknya hiks… hiks… hiks… πŸ™‚

Menyusuri jalan yang ramai dengan pesepeda, baik yang searah maupun berlawanan arah menambah semangat saya menggowes MTB. Saling menyapa dengan bel, senyum ataupun lambaian tangan. Cuma sayangnya saya tidak memasang bel di MTB saya, jadi saya balas dengan senyum saja. Bukannya sombong heuheuheu… tapi sepeda saya nggak ada belnya. Suasana disini benar-benar pedesaan. Namun tidak seperti perjalanan saya menuju Bukit Pelangi empat tahun lalu, sekarang disini sudah banyak pemukiman. Dan karena masih benar-benar desa, saya masih berpapasan dengan dua orang menunggang kuda poni. Hm…. jarang sekali melihat pemandangan orang berkuda kalau bukan di lokasi wisata. Benar-benar kesempatan yang berharga, sayang saya sedang melaju kencang jadi tidak bisa mengabadikan.

Dari kejauhan saya lihat seorang pesepeda melesat turun. Helm batok hitam yang sama dengan model helm saya. Tapi, hei! Dia tidak seperti pesepeda lain. Ketika dekat ternyata dia mengendarai sepeda lipat dengan ban 20 inci. Oops, Polygon Urbano rupanya. Dia menyapa saya dan pesepeda lain di belakang saya. “Mari, Om…” Saya balas dengan acungan jempol. Sepeda lipat sepertinya semakin populer dimasyarakat. Saya pun menyimpan satu unit sepeda lipat 16 inci United Stylo yang saya gunakan untuk gowes ringan, Bojonggede – Depok misalnya. Memang asyik naik sepeda lipat itu.

Beberapa pesepeda terlihat mendorong sepedanya. Beberapa beristirahat di halaman bangunan yang ada di sebelah kiri jalan. Beberapa rombongan masih kuat mengayuh pedal walau terengah-engah. Maklum jalan ini menanjak tinggi. Saya ingat, setelah jalan menanjak tinggi ini saya akan menemui gerbang Bukit Pelangi. Sampai di sebuah warung akhirnya saya beristirahat. Beberapa MTB terlihat diparkir. Satu unit terlihat digeletakan begitu saja, melintang dipinggir jalan. Seorang pesepeda menyapa saya. “Sini, om. Ngopi dulu, om. Ngeteh,” begitu ajaknya. SayaΒ  pun mengiyakan. Kami pun mengobrol.

“Dari mana, om?”

Saya jawab, “Bojonggede, mas.”

“Rumahnya di Bojonggede? Kalau dari stasiun Bojonggede jauh?” Kembali dia bertanya.

Sambil ngos-ngosan saya jawab, “Lumayan, sepuluh menit kalau jalan kaki.” Wow! Stasiun Bojonggede terkenal euy. πŸ˜€

“Ini full gowes dari rumah?” Dia bertanya sambil memperhatikan sepeda saya dari ujung ke ujung dengan air muka bingung.

“Iya!”

“Jam berapa tadi dari rumah?” Dia bertanya.

“Tujuh,” saya kembali menjawab.

“Oh… sekarang jam berapa?” Kembali dia bertanya.

Saya melirik angka digital Casio di lengan kiri saya, “Delapan empat puluh.”

“Berarti nggak sampai dua jam ya kesini…” Begitu dia menyimpulkan. Obrolan pun berlanjut. Sambil mengobrol saya memperhatikan suasana jalan. Sesekali pengendara roadbike melesat kencang dan beberapa pesepeda yang naik berusaha mengayuh atau mendorong sepedanya. Banyak diantara mereka seusia saya dan lebih banyak lagi yang paruh baya. Mantab, raga boleh tua tapi semangat tetap muda.

Karena sudah cukup saya beristirahat, saya pun mohon pamit melanjutkan perjalanan. Rombongan tadi masih asyik ngobrol di warung dengan papan nama Panandjakan itu. Ah, iya. Disebut panandjakan mungkin karena letaknya memang tepat di tanjakan tinggi. Nama yang umum sekali.

Terus menanjak kemudian saya memutuskan untuk menyeberang ke kanan untuk beristirahat di sebuah masjid. Gila! Dengan sepeda motor saja harus memuntir gas dalam-dalam kalau lewat sini. Apalagi gowes sepeda. Tidak menyerah, saya kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa MTB terlihat diparkir disebuah rumah makan tidak jauh dari pertigaan gerbang Bukit Pelangi.

Fuiiih…. ngos-ngosan hahaha. Tapi hijau rerumputan nan elok, warna bunga-bunga di pepohonan dan cerahnya langit serta gumpalan-gumpalan awan seolah memberikan semangat untuk terus mengayuh sepeda. Gowes, gowes, gowes. Saya pun sampai di gerbang Bukit Pelangi. Alhamdulillah.

Ramai sepeda motor juga ikut melintas. Sesekali satu-dua mobil terlihat keluar dari gerbang Bukit Pelangi menuju desa Cijayanti yang tadi saya lewati. Saya pun ingat. Disini pasti pengendara sepeda motor memuntir gasnya dalam-dalam agar tidak kehilangan momentum dan bisa melaju kencang karena tanjakannya tinggi sekali! Astagfirullahaladzim. Seolah tanjakan yang tadi masih kurang tinggi.

Okelah, saya tetap melanjutkan perjalanan. Untungnya pemandangannya indah dengan rimbun dahan pepohonan di kanan-kiri jalan yang membentuk terowongan alami membuat suasana teduh. Seorang petugas keamanan berseragam terlihat mengendarai sepeda motornya, melaju mendahului saya. Menanjak, menanjak, menanjak. Seolah tak ada habisnya tanjakan ini. Dikejauhan saya lihat seorang pesepeda terlihat mengobrol dengan warga setempat yang sedang mengurus tanaman. Saya pun menyapa, “Punten, kang.” Mereka membalas sambil tersenyum, “Mangga…”

Penunjuk jalan menuju Club House Rainbow Hills terlihat dikejauhan. Ah, dari sini masih jauh lagi dan masih harus menanjak. Saya berisitirahat dan menghabiskan air di botol pertama. Lanjutkan lagi perjalanan menanjak hingga tiba diputaran Club House. Beberapa orang terlihat sedang mencabuti rumput. Mungkin mereka warga setempat yang diupah untuk mengurus tanaman disini. Beberapa pesepeda kembali terlihat melaju dari depan saya ke arah yang berlawanan. Saya memutuskan untuk beristirahat kembali sambil menenggak air dari botol kedua.

Akhirnya setelah putaran tersebut jalan menurun. Tidak saya sia-siakan untuk menikmati turunan yang tinggi ini. Meluncur tidak lupa rem. Diakhir turunan terlihat jalan mendatar dan beberapa warung dipinggir jalan dan beberapa pedagang keliling menjajakan dagangan di pikulannya.

Jalan semakin lebar dengan pemandangan hamparan rumput hijau dan pepohonan di kejauhan. Subhanallah. Saya berhenti untuk mengagumi keindahan di halaman sebuah bangunan. Terlihat dibalik pagarnya ada danau kecil dan seorang satpam dengan seragam safari formal terlihat berjaga.

“Wah, gowes pak?” Bapak tersebut berbasa-basi.

“Iya, nih. Mumpung libur heuheuheu…”

Kemudian beliau melanjutkan, “Iya ya, olahraga.”

“Masih jaga, pak?” saya balik bertanya.

“Iya, masih ada yang main golf,” beliau menerangkan.

“Oh, iya ya. Libur gini malah rame ya.”

Selesai bertukar sapa dengan bapak tersebut saya melanjutkan perjalanan. Keluar dari kawasan Bukit Pelangi saya ingat saya akan menemui jalan pedesaan yang berkelok-kelok. Saya terus melaju dan melihat jalan pedesaan ini ternyata ramai dengan pesepeda. Dan pemandangan yang paling menghibur mata adalah melihat tulisan-tulisan yang tertera pada frame sepeda yang dinaiki para pesepeda tersebut.

Canyon, Giant, Cervelo, Colnago, Scott, S-Work, Cannondale, Specialized! What a bike!

Satu unit fullbike dari brand tersebut bisa lebih mahal daripada sebuah Kawasaki Ninja 250 Fi! Riding gear yang dikenakan ridernya pun keren-keren. Kalau bukan karena gengsi, rider sepeda-sepeda tersebut pastilah atlet atauΒ bicycle enthusiast. Terima kasih telah menyuguhkan pemandangan indah ini pada saya heuheuheu… Saya tidak salah memilih waktu gowes. Beberapa merk lokal bergengsi pun terlihat melesat, seperti Polygon Stratos dan Thrill.

Jalanan berkelok-kelok dan menanjak. Sesekali udara sejuk menjadi berbau kampas rem terbakar. Banyak mobil dan sepeda motor melaju kencang ke arah Megamendung. Dibeberapa ruas jalan, tanjakannya sangat curam. Beberapa rombongan touring sepeda motor terlihat beriring-iringan. Hingga sampai di halaman sebuah villa saya memutuskan beristirahat menghabiskan sisa air minum dalam botol kedua. Seperti kata iklan, life is never flat. Begitu pula kontur jalan di Sentul sampai Bukit Pelangi ini.

Hingga disebuah pertigaan jalan, dari jauh terlihat ada seorang lelaki mengendarai motor bebek membocengi istri dan anaknya, sepertinya. Tanpa helm. Sang istri terlihat jelas (mohon maaf) over weight. Nah, mungkin karena bobot lelaki yang mengendarai motor tersebut tidak seimbang dengan beban penumpangnya, ditambah jalan yang menanjak curam, maka motor yang mereka tumpangi jatuh dengan posisi seperti orang gagal wheelie. Stang dan roda depan terangkat keatas kemudian terbalik. Punggung sang istri terlihat jelas menghantam batu-batu di pinggir jalan sambil menahan bobot anak yang digendongnya. Sementara lelaki tersebut terlihat kesakitan sambil memegangi bibirnya. Stang motornya mungkin secara tidak disadari mengenai bibirnya. Anaknya terdengar menangis.

Karena shock, lelaki tersebut kesulitan mendirikan dan menghidupkan sepeda motornya. Akhirnya seorang penjaga warung terdekat membantu mereka mendirikan kemudian menghidupkan sepeda motornya. Innalillahi. Banyak warga setempat dan pesepeda di kejauhan menyaksikan kejadian tersebut. Untunglah setelah saya lihat tidak ada yang terluka. Si bapak sendiri terlihat masih menahan sakit di bibirnya.

Saya bersama pesepeda lain kembali melanjutkan perjalanan. Satu pelajaran untuk kami hari ini. Sambil menanjak saya perhatikan keindahan jalan disini. Disebelah kanan jalan adalah jurang yang dibawahnya adalah padang golf. Pemandangannya sangat menawan. Beberapa saung gazebo didirikan dipinggir jalan dimana pengunjung bisa bersantai menikmati kopi hangat dan mie rebus sambil menikmati keindahan pemandangan padang golf tersebut. Daerah ini namanya Bukit Geulis. Seperti namanya, pemandangannya sungguh geulis pisan.

Setelah tanjakan sadis, jalan kemudian melandai lalu saya temui turunan. Sampailah saya di desa Pasir Angin. Semangat! Semangat! Kalau sudah sampai di desa Pasir Angin berarti tidak lama lagi saya akan menjumpai pertigaan Simpang Pasir Angin dan jalan raya Puncak Megamendung. Yesss!

Benar saja. Akhirnya saya lihat disebelah kiri saya SMP Negeri 1 Megamendung. Ah, tidak jauh lagi. Lanjut gowes! Sampailah saya di pangkalan ojek pertigaan Simpang Pasir Angin. Istirahat sebentar bersama para tukang ojek, saya sedikit bertanya, “Satu arah ya, kang?” Salah seorang tukang ojek mengiyakan. Saya pun menunggu lalu lintas sepi. Ternyata ada beberapa sepeda motor yang ingin menuju ke arah Ciawi menyeberang. Memanfaatkan kesempatan, saya pun ikut menyeberang bersama mereka.

Alhamdulillah, akhirnya target perjalanan saya berhasil saya capai. Dari sana saya terus gowes ke arah terminal Ciawi. Dari pertigaan Simpang Pasir Angin tadi ke Gadog perjalanan masih menanjak. Lalu lintas terlihat ramai ke arah Puncak. Menjelang masjid Harakatul Jannah jalan macet hingga saya dan beberapa pemotor harus melewati trotoar. Tapi akhirnya saya berhasil keluar dari kemacetan. Kemudian mampir sebentar di masjid Harakatul Jannah.

Awal tahun 2015 dari dalam bus pariwisata saya lihat masjid ini masih dalam konstruksi. Beberapa kali perjalanan melewati Puncak saya belum pernah singgah disini. Akhirnya kini saya singgah sebentar dan masjidnya sudah berdiri kokoh.

Melanjutkan perjalanan menuju Tajur saya berpapasan dengan rombongan tiga orang pesepeda yang menuju arah Puncak. Mereka menyapa saya yang saya balas dengan anggukan kepala. Udara sudah semakin panas hingga saya sampai di terminal Ciawi. Melewati terminal Ciawi ke arah Tajur jalan yang menuju Bogor terlihat lenggang. Berbeda dengan sebelah kanannya yang ramai. Disini perjalanan cukup menyenangkan karena menurun, sehingga tidak perlu repot-repot mengayuh pedal.

Sampai dipusat perbelanjaan Tajur yang terkenal sebagai pusat tas lalu lintas masih ramai. Sampai di sebuah halte saya berhenti sebentar untuk mengabadikan momen perjalanan.

Akhirnya saya sampai di Plaza Ekalokasari. Di putaran Elos, begitu kata orang Bogor, saya berbelok ke kanan menuju jalan Pajajaran. Sebenarnya saya bisa lurus, tapi nanti saya harus melewati Batu Tulis dan Jalan Pahlawan kemudian menanjak di BTM. Nope! Saya tidak mau lewat situ karena biasanya macet. Sampai di depan Masjid Raya Kota Bogor saya teruskan mengayuh. Akhirnya karena sudah mendekati jam makan siang saya beristirahat di depan MAN 2 Bogor.

Tidak terasa, keringat yang mengalir di lengan saya berubah menjadi kristal-kristal garam. Puas rasanya target perjalanan bisa diselesaikan. Saya pun melanjutkan perjalanan pulang. Dari jalan Pajajaran saya menempuh jalan Otista hingga di persimpangan BTM berbelok ke kanan menuju Istana Bogor ke jalan Jenderal Sudirman, lalu ke jalan Pemuda. Dari sana melewati Kebon Pedes saya menuju Cilebut hingga sampai di Bojonggede.

Sampai jumpa di catatan saya berikutnya tentang gowes ke Curug Nangka lewat Ciomas dan gowes ke bendungan Katulampa lewat Cikeas hingga Megamendung.

Salam hangat dari kota hujan.

Gowes ke Gunung Pancar

Selasa, 7 November 2017 lalu saya jalan-jalan ke Gunung Pancar. Yah… walaupun tidak sungguh-sungguh jalan juga sih. πŸ˜€ Dikarenakan tidak ada kendaraan umum yang melewati rute dan langsung tembus ke Gunung Pancar maka saya memilih gowes sepeda gunung andalan saya ke sana. Dengan pertimbangan kalau naik sepeda motor sepertinya jalan-jalannya jadi kurang seru, karena jaraknya juga cuma selemparan bola bekel heuheu… juga karena Gunung Pancar adalah salah satu rute MTB dan downhill favorit banyak pecinta sepeda. Selain juga karena anjuran salah seorang kawan di FB saat saya posting foto-foto weekend ride saya di Sentul Highlands. “Lanjut ke Gunung Pancar, kang.” Siap, kang bro! Lanjutkan! πŸ˜€

Berangat kira-kira jam 8 pagi saya melewati rute gowes favorit saya, yaitu Jalan Tegar Beriman, Stadion Pakansari, Jalur Alternatif Sentul, Babakan Madang hingga ke kawasan Sentul Highlands. Saat tiba di gerbang sirkuit Sentul saya sempatkan untuk mengisi perbekalan air minum di sebuah mini market tidak jauh dari gerbang sirkuit. Walaupun saya juga membawa persediaan air minum dalam botol di tas dan kondisi cuaca saat itu sangat sejuk karena malam sebelumnya hujan lebat mengguyur kawasan Bogor, tetap saja menambah persediaan air minum adalah ide yang sangat baik.

Dari sana saya langsung melanjutkan perjalanan menuju Sentul, melewati gerbang terus menanjak hingga ke Sentul Highlands. Sempat disalip oleh serombongan group riding yang menggowes road bike secepat kilat, saya lanjutkan menanjak santai. Saya mau jalan-jalan, Om. Bukan mau balapan, karena kalau balapan sudah pasti saya kalah. Sampeyan pakai road bike ringan sedangkan saya MTB Hi-Ten, ban lebar, fullsus pula, sudah pasti kalah cepat heuheu… πŸ˜€ Sampai di halte bus dekat Mediterania II, saya sempatkan recharge lagi. Eh, ada seorang bapak yang ikut mampir juga. “Dari mana, pak?” tanya saya. Beliau jawab, “Dari pasar Madang, giling daging buat bakso.”Β  Obrol-obrol, ternyata si bapak ini punya usaha kedai bakso di sekitaran Sentul. Sambil istirahat kami mengobrol santai.

Ternyata beliau pendatang yang sudah lama tinggal di daerah Sentul, sebelum kawasan elite Sentul City ini dibangun. Asalnya dari Wonogiri. Lah, kebetulan. πŸ˜€ “Tiap hari naik sepeda ke pasar Madang, pak?” tanya saya. “Ah, nggak. Seminggu dua tiga kali lah. Biasanya naik motor.” begitu katanya. Beliau menunjukan rute-rute yang bisa dilewati menuju Gunung Pancar. Selain lewat Jungleland Sentul ini, bisa lurus dari pasar Madang sebelum berbelok di pertigaan jalan ke Sentul City ini. Atau dari arah Bellanova juga bisa. Ok, itu saya tau dan paham. Tapi tetap saya hargai informasi dari beliau. Akhirnya saya pamit lebih dahulu melanjutkan perjalanan. Sempat berhenti beberapa kali di spot-spot yang menarik untuk memotret.

Dari Mediterania II Β terus mengikuti aspal menanjak arah ke Jungleland. Melewati Taman Budaya jalan datar terasa nikmat, penawar rasa lelah saat menanjak. Setelah jalan datar ini ada turunan surga. Masya Allah… jooooosss tenan. πŸ˜€

Setelah turunan yang lumayan asoy ini saya berbelok ke kiri melewati Masjid Jami Al Munawaroh. Mampir sebentar. Lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju bundaran Sentul Nirwana.

Dari bundaran Sentul Nirwana saya ambil jalur ke kiri melewati lingkungan perumahan. Arah ke Jungleland.

Keluar dari kawasan Sentul City saya memasuki Desa Karang Tengah. Aspal jalan di sana tidak semulus aspal di Sentul City tentunya, dengan jalan yang tidak lebar, cukup untuk satu mobil dan satu sepeda motor. Pemukiman warga di kiri dan kanan jalan. Ada beberapa penunjuk arah yang memberitahukan pengguna jalan beberapa objek wisata seperti curug di kawasan Sentul ini. Tapi saya tetap lurus menuju Gunung Pancar. Melewati kantor Desa Karang Tengah jalan menanjak semakin tinggi. Beberapa warga setempat terlihat berseliweran, melaju kencang mengendarai skutik, baik turun atau naik.

Terus menanjak sampai terengah-engah, udara tetap sejuk, pemandangan semakin indah. Sawah dan gunung di kejauhan memanjakan mata dan kamera di handphone. Melewati sebuah camping ground saya teruskan perjalanan menanjak kembali. Kemudian kembali beristirahat di sebuah bangunan kosong, recharge, mengurangi beban air minum dalam tas punggung lalu mengkonversinya menjadi energi dengan sisa ekskresi berupa keringat. Walau sejuk, tapi karena banyak tenaga yang digunakan keringat tetap bercucuran. Beberapa mobil dan motor terlihat berlalu lalang di jalanan yang sepi itu.

Jam menunjukan pukul sepuluh lebih beberapa menit. Saya terus lanjutkan menanjak. Agak keheranan juga, karena di sana mungkin pertaniannya masih sangat alami maka di udara yang sejuk ini tercium aroma, mohon maaf, kandang sapi atau kerbau heuheuheu… Menanjak, menanjak, menanjak dan terus menanjak sambil menikmati pemandangan. Akhirnya terlihat beberapa pohon pinus di kejauhan. Alhamdulillah, sudah dekat.

Jalan sudah mulai datar. Beberapa warung milik warga terlihat di sisi kiri saya, hingga masuk ke jalan yang sangat teduh karena sudah memasuki hutan pinus Gunung Pancar. Tidak lama kemudian saya sampai di gerbang Taman Wisata Alam Gunung Pancar. Karena bukan hari libur, jadi objek wisata ini cukup sepi. Ada beberapa camping ground di dalam sini yang bisa digunakan untuk berkemah. Kios, kedai atau warung makan banyak tersedia. Beberapa pemuda-pemudi terlihat asyik nongkrong dengan skutik mereka. Beberapa anak berseragam sekolah terlihat berjalan. Hm, pasti rumah dan sekolahnya jaraknya jauuuuuh heuheuheu… Ini seperti cerita klasik anak-anak sekolah di daerah pelosok. Remote site! Bersyukurlah anda yang tinggal di wilayah perkotaan.

Pemandian air panas adalah salah satu objek yang membuat Gunung Pancar terkenal. Selain kesejukan, hutan pinus serta track MTB dan downhill-nya. Ada dua macam pemandian air panas di sana. Satu yang deluxe dan yang biasa-biasa saja. Tidak hanya wisatawan lokal, wisman pun kadang menikmati pemandian air panas di sini. Tarif pemandian air panas yang deluxe sekitar dua ratus ribu rupiah saja. Silahkan dicoba.

Apa lagi yang membuat Gunung Pancar terkenal? Gardu pandang! Yup, kalau dulu di wilayah hutan dan pegunungan biasanya dibangun pos-pos pemantauan berupa rumah pohon, nah karena zaman now anak-anak mudanya senang berswafoto maka di Gunung Pancar banyak di bangun rumah pohon yang fungsinya mirip seperti pos pemantauan cuma tanpa atap. Fungsinya untuk membuat latar swafoto semakin keren, hits, kekinian dan membuat objek fotonya kece badai heuheuheu… πŸ˜€ Rumah-rumah pohon ini populer disebut gardu pandang. Racun fotonya banyak bertebaran di Instagram.

Kalau diikuti terus jalan disana terus menanjak. Akhirnya karena perut saya mulai nge-rock, bukan keroncongan lagi, maka saya memilih beristirahat di sebuah kedai. Jadi deh sebutir kelapa muda dan sepiring mie instan menjadi pelampiasan lapar saya heuheuheu… πŸ˜€ Perut lapar, udara sejuk, hutan yang teduh, angin sepoi-sepoi dan semangkuk mie hangat dan kelapa muda segar… Subhanallah.

Sambil beristirahat saya menikmati asrinya pemandangan di sana. Sudah sekitar jam dua belas siang lewat beberapa menit, tapi udaranya masih seperti pukul enam pagi. Subhanallah. Asyik memotret tidak terasa cahaya matahari semakin lama semakin gelap dan teduh. Kabut tipis mulai terlihat di dedaunan. Tidak lama kemudian hujan lebat mengguyur. Saya pun berteduh di sebuah kedai kosong menunggu hujan reda.

Hujan ditunggu tidak kunjung reda. Barulah pukul empat sore lewat beberapa menit hujan mulai reda, menyisakan rintik-rintik gerimis yang masih menetes dari langit, dedaunan dan dahan-dahan. Akhirnya saya bulatkan tekad untuk turun. “Pak…?!” begitu reaksi seorang pemilik kios saat melihat saya menaiki sepeda dan mulai menggowes. Loh, kok heran? Sudah sering lihat orang naik sepeda kan heuheuheu… πŸ˜€

Kalau tadi saya menanjak maka sekarang saat pulang saatnya menikmati turunan. Yeaaay… Jalan licin, hujan rintik-rintik, genangan air dimana-mana, aspal yang hancur dan turunan terjal… Mantab! Semakin asyik nih turunannya. Saat seperti itulah keterampilan bersepeda diuji. Phone holder yang saya pasang ternyata cukup kuat menahan iPhone yang saya pasang. Berkali-kali guncangan tidak membuat posisinya bergeser.

Melesat kencang menuruni jalan terjal diatas sepeda. Sensasi yang sama dengan melesat kencang diatas sepeda motor. Saat-saat seperti itulah kita benar-benar menyadari bahwa kita sepenuhnya bergantung pada Allah Yang Maha Kuasa. Seterampil apapun kita, hanya Allah yang berhak menentukan hidup mati kita. Nikmati. Tidak semua orang bisa merasakan sensasi seperti ini.

Pemandangan puncak gunung berselimut kabut lah yang akhirnya bisa merayu saya menghentikan sepeda sejenak.

Asyik menikmati pemandangan dan memotret, tidak terasa genangan air hujan menembus sepatu saya. Ditambah aliran air yang turun cukup deras, jadilah sepatu basah tembus hingga ke kaos kaki. Dingin.

Saat turun dari Desa Karang Tengah saya memutuskan berbelok ke kanan. Melewati Jungleland menuju Sentul Nirwana lalu menanjak ke Sentul Highlands. Kalau tadi saat berangkat turunannya lumayan nah saat pulang menjadi lumanyun hahaha… πŸ˜€ Sampai di Sentul Highlands jalan datar sedikit kemudian… TURUNAN SURGA! Yeaaay… melesat kencang tanpa gowes terus sampai ke jalan M. H. Thamrin. Masya Allah. Aspal mulus, turunan tinggi, sensasinya WOW! BIG WOW!

Berputar arah di U-Turn jalan M. H. Thamrin saya harus menunggu beberapa saat karena lalu lintas cukup ramai. Menunggu jalan agak sepi dari motor dan mobil yang melesat kencang, baru kemudian berputar. Hehehe… gila juga tadi itu. Naik sepeda tapi melesat berbarengan dengan motor dan mobil padahal ada rambu rawan kecelakaan. Masya Allah.

Balik di jalan Babakan Madang. Suasana ramai dengan bermacam-macam kendaraan dengan aspal becek dan tanah basah seperti lumpur. Jadilah cipratan-cipratan air mengotori celana, baju dan tas. Fender/spakbor belakang yang saya pasang tidak efektif untuk menahan cipratan air dan tanah dari roda. Aspal yang rusak dan berlumpur serta truk-truk besar ke arah jalan Alternatif Sentul menjadi tantangan saat pulang. Semburat jingga kemerahan di ufuk barat menyambut kepulangan saya saat memasuki Stadion Pakansari.

Berputar setengah lingkaran dari Stadion Pakansari menuju jalan Tegar Beriman kemudian berbelok ke arah Jalan Sukahati. Lurus melewati lampu merah di perempatan jalan Sukahati menuju Bambu Kuning saya sempat menikmati pemandangan matahari terbenam diatas jembatan beton sungai Ciliwung. Tanpa saya sadari sebelum saya sampai sudah ada seorang pesepeda lain yang menepi di pinggir jembatan, juga sedang menikmati pemandangan. Pemandangan disini memang indah. Derasnya arus sungai Ciliwung dengan bebatuan besar di bawah, pepohonan, puncak gunung berhias gumpalan-gumpalan awan sebagai latar belakang, kilasan sinar matahari yang memudar dan mega-mega kemerahan di langit sore ditambah pemandangan waterboom di sebelah kanan. Maha Suci Allah. “Mari, pak.” Saya pamit mendahului pesepeda yang tadi saya jumpai. Dia membalas dengan senyum dan anggukan kepala.

Menjelang maghrib saya sampai di rumah. Dengan kondisi badan, pakaian dan sepeda yang kotor seperti habis bermain lumpur. πŸ˜€

Weekend Ride 28 Oktober 2017

Jalan MH Thamrin, Sentul City, Bogor

Jalan MH Thamrin, Sentul City, Bogor

Yeaah… Setelah bosan dengan track yang itu-itu saja, akhirnya saya mencoba mencari track yang belum pernah saya coba dengan sepeda akhir pekan kemarin. Jadi deh saya jalan-jalan ke kawasasan Sentul Highlands via Stadion Pakansari dan Jalan Alternatif Sentul. Sampai di Sentul City udara sejuk menjadi kompensasi keringat yang mengucur akibat melintas di Babakan Madang yang berdebu dan banyak roda empat serta truk besar.

Menanjak ke kawasan Golf Mediterania II lurus terus kemudian berputar arah menuju Jalan MH Thamrin. Nah, setelah tanjakan yang tingggggggi pastinya ketika berputar kita akan mendapatkan turunan yang tinggggggggggggggi… Heuheuheu. Wow, amazing!!! Pedal sepeda sudah tidak berarti lagi. Udara pagi Gunung Geulis yang sejuk menerpa kulit selama melesat kencang. Mantab!

Solo Riding ke Karang Hawu Pelabuhan Ratu (Lagi)

Panorama Pantai Karang Hawu

Panorama Pantai Karang Hawu, Cisolok, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat

Kuseberangi sungai kecil ke hutan
melintasi gunung ke desa.

Aku melangkah kini seperti kulakukan kemarin
ku teruskan langkah – perjalanan baru.

Sepanjang perjalanan itu
Mindelrae bermekaran, murai berterbangan
gadis-gadis lalu-lalang dan angin mengembang.

Perjalananku senantiasa baru,
hari ini dan esok.

Kuseberangi sungai kecil ke hutan
dan melintasi gunung menuju desa.

(Yoon Dongju, 1917-1945)

Demikianlah untaian puisi berjudul Perjalanan Baru karangan Yoon Dongju, penyair Korea kelahiran Haehwan, Mancuria 30 Desember 1917. Yoon terkenal karena narasi puisinya yang seakan dibawakan oleh seorang anak kecil. Tiga kumpulan tulisan tangan Yoon dan sembilan belas puisinya dipublikasikan pada tahun 1948 dengan judul The Heavens and The Wind and The Stars and Poetry (Haneulgwa Baramgwa Byeolgwa Si). Yoon masuk dalam jajaran penyair pejuang Korea di masa akhir pendudukan Jepang. Sedikit-banyak Perjalanan Baru karangan Yoon menggambarkan perjalanan solo riding yang saya lakukan kemarin Kamis, 21 September 2017 yang bertepatan dengan hari raya 1 Muharram 1439 Hijriah.

Tidak banyak yang bisa diceritakan untuk persiapan perjalanan, karena memang perjalanan hari ini memang perjalanan untuk bersantai. Cuma sebuah tas selempang kecil berisi power bank, dompet dan dua unit ponsel super cerdas tentunya. πŸ˜€ Tidak lupa jas hujan two pieces dan sepasang sandal jepit di bagasi bawah jok sang bebek besi. Kira-kira pukul enam sang bebek besi warming-up dan pukul enam lebih sepuluh menit saya berpamitan kepada ortu. Bismillahirahmanirrahim, perjalanan pun dimulai.

Tujuan saya adalah pantai di kawasan Pelabuhan Ratu, Cisolok, Sukabumi. Rute yang akan saya tempuh adalah Batu Tulis, Cigombong, Cicurug, Cibadak, Warung Kiara hingga Citepus dan Cisolok, Pelabuhan Ratu. Dari rumah saya mengarah ke Pemda Cibinong lalu menelusuri jalan Karadenan. Dikarenakan fuel meter hampir menyentuh garis empty, saya sempatkan mengisi BBM hingga penuh di sebuah SPBU. Melanjutkan perjalanan hingga di Kedunghalang Talang jalanan agak tersendat karena jalur sebelah kiri yang mengarah ke jalan KS Tubun sedang dalam pengecoran. Ruas-ruas behel mencuat di sebelah kanan, jalan jadi satu arah bergantian. Sampai di jalan KS Tubun saya mengarah ke Warung Jambu.

Lalu lintas yang menuju jalan Pajajaran sudah mulai ramai pagi hari itu. Hingga di depan SPBU sebuah sport enduro besutan Kawasaki menyalip saya, KLX 250 sepertinya. Benar-benar bergaya adventure, lengkap dengan perkakas di kanan kiri dan ban untuk garuk tanah. Di jok belakangnya saja sepertinya mengangkut carrier, matras dan tenda. Kontras sekali dengan penampilan saya, yang walaupun mengenakan riding gear lengkap tapi cukup membawa sebuah tas selempang kecil. Boots yang biasanya saya pakai saat berkendara saya ganti dengan sneakers. Yah, tujuan perjalanan saya tidak jauh, akan lebih nyaman bergaul dengan warga disana nanti jika saya terlihat seperti warga setempat. Baik plat nopol Bogor atau Sukabumi masih sama-sama F. Jadi, kalau saya bergaya dengan riding gear yang wuah akan terlihat sangat berbeda dengan warga setempat. Oleh karena itu, saya memilih kustom santai.

Sampai di lampu merah Plaza Jambu Dua saya berbelok ke kanan menuju jalan Ahmad Yani. Loh, kalau mau ke Batu Tulis bukannya lebih enak lewat Pajajaran karena sekarang sudah sistem satu arah? Ya, sih. Cuma saya bosan lewat sana, tidak lama sebelumnya untuk suatu keperluan di Cianjur saya sudah melewati jalan tersebut. Saya cuma ingin melepas kangen menikmati De Grote Postweg jalan Ahmad Yani dengan rimbun pohon beringin besar di kanan-kirinya, Taman Air Mancur, melintas di depan museum PETA jalan Jenderal Sudirman hingga sampai depan Istana Bogor berbelok ke kiri melintasi jalan dengan pemandangan lapangan Sempur di kiri dan Kebun Raya Bogor di kanan. Sampai di pertigaan saya berbelok ke kiri menuju jalan Salak arah Taman Kencana. Ketika berbelok dari belakang terdengar suara khas drem drem drem drem… Wah, pasti HD ini. Ketika saya cek spion ternyata benar, sebuah HD Sportster berwarna merah mendahului saya. Apik sekali. Firasat mengatakan saya akan melihat motor-motor besar di jalur menuju Sukabumi. Di perempatan jalan Pajajaran saya berbelok ke kanan menuju Tugu Kujang. Dari Tugu Kujang saya mengarah ke kanan menuju Kebun Raya dan Bogor Trade Mall (BTM). Kalau dulu dari depan Istana menuju BTM bisa praktis cukup menelusuri jalan Ir. Juanda sekarang tidak bisa lagi. Tapi ya tidak apa-apa, lumayan kan cuci mata melihat keindahan kota Bogor yang bernuansa kolonial.

Dari BTM saya menuruni jalan hingga berbelok ke kiri kemudian menanjak lagi menuju Bondongan. Terus melaju lurus ke arah Lawang Gintung melewati satu lagi situs bersejarah, Istana Batu Tulis. Inilah uniknya Kota Bogor. Melintas di kota ini seperti masuk ke dalam film dokumenter atau buku sejarah perdjoengan Indonesia. πŸ™‚ Di pertigaan Lawang Gintung saya memilih jalan berbelok menurun di sebelah kanan menuju satu lagi bangunan tua, stasiun Batu Tulis. Jika Anda melihat kereta jurusan Bogor-Sukabumi sedang melintas, akan sangat menarik sekali memotretnya karena jalur keretanya berada lebih tinggi diatas bangunan lain disekitarnya dengan latar pemandangan runcing atap bangunan Bukit Gumati Cafe yang ikonik berada lebih tinggi lagi daripada rel kereta dan stasiun Batu Tulis tersebut. Sudah beberapa kali saya menikmati keindahan tersebut. Sampai di pertigaan Rancamaya-Sukabumi, saya berbelok ke kanan melintasi jembatan menuju Cipinang Gading, Pamoyanan lalu lurus ke arah Cihideung.

Tanjakan Pamoyanan yang lumayan tinggi cukuplah sebagai pemanasan. Perjalanan dilanjutkan dengan mengikuti jalan lurus. Sesekali jalan berkelok lalu menurun kemudian menanjak cukup tinggi khas perbukitan. Menjelang River Valley indahnya perbukitan di sebelah kanan seakan menggoda pengendara untuk melupakan kendaraan di depannya. Padahal akibatnya bisa berbahaya, karena jalurnya menanjak semakin tinggi dan jika kehilangan fokus maka bisa kehilangan pengendalian kendaraan dan berakibat kecelakaan. Udara yang sejuk dan cenderung dingin menembus jaket yang tebal menambah kenikmatan berkendara di jalur perbukitan dengan aspal yang relatif mulus ini. Sampai di River Valley jurang yang cukup dalam di sebelah kiri mengingatkan saya agar tetap fokus berkendara. Hingga sampai di SPBU 33.167.02 saya memilih untuk mampir sebentar.

Kemudian saya kembali melanjutkan perjalanan melewati Dapoer Warso atau yang lebih dikenal dengan Durian Warso di wilayah Cijeruk ini. Sepanjang perjalanan beberapa baliho kampanye calon bupati kabupaten Bogor terpasang mentereng. Di beberapa ruas jalan aspal rusak sehingga banyak lubang dan berpasir atau kerikil dan di beberapa titik banyak aspal terkikis yang membuat pengendara harus berhati-hati dan memelankan kendaraan.

Memasuki wilayah Cigombong jalan menikung tajam dengan tanjakan dan turunan yang semakin terjal. Lumayan, pemanasan sebelum memasuki wilayah Pelabuhan Ratu. Di salah satu petak sawah sebelah kiri saya lihat seorang petani membajak sawahnya dengan bantuan dua ekor kerbau. Wow! Pemandangan khas buku bahasa Indonesia zaman SD. πŸ˜€ Akhirnya saya bersama beberapa pengendara lain melintasi sebuah rel kereta api dan tidak lama kemudian melewati stasiun Cigombong. Dari sana tidak beberapa jauh saya sudah tiba di jalan raya Sukabumi. Berhenti sejenak mengamati lalu lintas di kiri dan kanan kemudian saya memuntir gas dan mengarahkan sang bebek besi ke arah kanan menuju ke Sukabumi. Lalu lintas terlihat lenggang atau sepi, hanya beberapa bus dan truk-truk besar yang dapat saya overtake dengan hati-hati. Lalu lintas belum ramai oleh mobil-mobil pribadi atau sepeda motor lain. Sesekali saya melihat pengendara atau pembonceng sepeda motor menggendong ransel di punggung mereka.

Jalur yang lurus dan lebar serta relatif masih sepi kendaraan membuat perjalanan semakin menyenangkan. Sesekali mendahului truk dan saya pun beberapa kali disalip city car yang melaju kencang saat memasuki wilayah Cicurug. Defensive riding tetap saya pegang, tidak terpancing oleh mobil tersebut. Keramaian saya temui saat melintasi pasar di sepanjang jalan yang melintasi kantor kecamatan Cicurug. Beberapa supir angkutan umum menunggu penumpang dan orang-orang berlalu-lalang dan menyeberang jalan. Ditengah keramaian tersebut saya mendengar dari pengeras suara, “Motor tetap di kiri! Motor tetap di kiri!” Wah, rupanya seorang polisi menunggang Yamaha FJR 1300 bertindak sebagai voorijder mengawal rombongan motor besar HD. Dan rupanya HD Sportster merah yang saya jumpai di jalan Salak Bogor tadi adalah anggota rombongan motor besar ini. Yeah, menyenangkan melihat rombongan kurang lebih enam HD ini. Orang-orang jadi mengarahkan pandangan pada mereka, karena selain motor besarnya, atribut-atribut berlogo HD pada rompi dan jaket merekapun menarik perhatian. Seorang polisi juga ikut mengatur lalu lintas di depan kantor kecamatan Cicurug.

Lepas pasar Cicurug jalanan kembali sepi dan lancar. Memasuki Parung Kuda saya perhatikan jarum fuel meter menunjukan setengah menuju empty. Saya putuskan untuk mengisi kembali BBM hingga penuh di SPBU 34.433.11 Cipanggulaan. Kembali melanjutkan perjalanan melewati Museum Palagan Perjuangan 1945 di jalan raya desa Bojongkokosan. Truk-truk besar menemani perjalanan saya di depan dan belakang. Bus-bus pariwisata, MGI dan bus trayek Pelabuhan Ratu-Bogor berseliweran. Kemacetan kembali saya jumpai saat lewat di depan terminal Cibadak. Daerah ini terkenal macet karena merupakan terminal yang bersambung dengan pasar yang panjang hingga ke perempatan pos polisi Simpang Pelabuhan Ratu. Lepas dari kemacetan saya lanjutkan menyusuri jalan Surya Kencana dan akhirnya berbelok ke kanan di Simpang Pelabuhan Ratu. Melewati Simpang Pelabuhan Ratu jalan relatif sepi dari kendaraan. Alhamdulillah.

Pemandangan hijau pegunungan memanjakan mata di kejauhan saat akan memasuki Warung Kiara. Di salah satu tempat saya jumpai keramaian saat akan memasuki wilayah Warung Kiara. Ternyata penyebabnya adalah warga dan siswa-siswi sekolah yang merayakan hari raya 1 Muharram dengan pawai dan marching band serta delman yang sudah dihias warna-warni. Sehingga ruas sebelah kiri yang saya gunakan juga digunakan oleh kendaraan dari arah berlawanan. Waduh, rata-rata mobil dan kendaraan besar lagi!Β Ditambah warga setempat yang berkendara tanpa helm memenuhi jalan.

Setelah melewati keramaian pawai, saya kembali menelusuri jalur yang meliuk-liuk di salah satu punggung Gunung Salak ini. Di sebelah kiri pemandangan hijau perbukitan seolah menyampaikan pesan selamat bertualang. Sementara warung rokok atau warung kopi di seberang jalan seperti memanggil untuk mampir sejenak. Saya memelankan sang bebek besi untuk menikmati pemandangan ini dan akhirnya beberapa kali berhenti untuk memotret. Tidak lupa berhati-hati karena dari depan atau belakang sepeda motor atau kendaraan lain selalu melaju kencang di jalur yang agak menanjak ini.

Jalan lurus dengan banyak pepohonan rindang di kiri dan bendera merah putih saya jumpai saat melintas di depan kantor Kodim. Saya sempatkan lagi untuk mengambil beberapa foto. Setelah asyik memotret, kendaraan-kendaraan besar yang tadi terjebak kemacetan saat pawai ternyata sudah datang menyusul saya. Saya putuskan agar mereka lewat lebih dahulu untuk menjaga jarak aman berkendara. Dari arah berlawanan angkot-angkot putih dan bus MGI melaju berpapasan dengan saya. Tidak beberapa jauh setelah Kodim jalan lurus dengan kebun dan pohon-pohon besar di kanan-kiri kembali berhasil mengajak saya untuk menghentikan sang bebek besi sejenak.

Kembali menyusuri jalan yang semakin berkelok seperti ulir dengan tetap menjaga jarak aman dengan kendaraan besar. Sebuah HD diiringi dua ER6N menyalip saya dan mobil depan saya di sebuah tanjakan menikung dengan kecepatan tinggi. Beberapa muda-mudi terlihat berkendara menuju rute yang sama dengan saya, lalu lintas sudah mulai ramai dengan sepeda motor. Matahari semakin bersinar terang dan udara sudah terasa panas saat memasuki kawasan Pelabuhan Ratu. Perbukitan di kejauhan terlihat semakin jelas, pepohonan besar di kanan-kiri jalan sudah mulai berkurang, digantikan bangunan-bangunan permanen pemukiman warga setempat, toko-toko atau warung dan mushola/masjid. Marka jalan sepertinya baru dicat, terlihat masih tebal dan kinclong. Akhirnya disebuah warung pinggir jalan saya putuskan lagi untuk berhenti. Lihat jam di ponsel sudah menunjukan pukul 10:06. Kembali mengambil beberapa foto kemudian melanjutkan perjalanan. Di sebuah pertigaan jalan saya lanjutkan lurus, karena kalau berbelok ke kiri sampainya ke Ujung Genteng, bukan Pelabuhan Ratu. πŸ˜€

Sampai di sebuah lampu merah perempatan jalan saya berbelok ke kiri menuju pasar ikan Pelabuhan Ratu. Belok kiri langsung, begitu pesan di rambu lalu lintas. Jalannya terlihat lebar, bersih dan indah. Di kanan-kiri jalan adalah perkantoran dengan trotoar yang cukup lebar. Memasuki pasar ikan bau anyir (amis) menyergap penciuman saya. Tapi hei, kemana perahu-perahu nelayan yang biasanya menjadi pemandangan menarik di kanan-kiri jalan kawasan ini? Ternyata lokasi pasar ikan dipindahkan untuk sementara waktu. Demikian bunyi pesan disebuah spanduk lebar yang dibentangkan di pinggir jalan. Padahal perahu-perahu tersebut akan menjadi objek foto yang menarik sekali. Tidak seperti dua tahun lalu saat saya ke sini. Tapi ya sudahlah.

Melewati pasar ikan jalan sedikit menanjak dengan rimbun pepohonan kembali menyambut kedatangan saya. Tidak lama kemudian saya tengok ke sebelah kiri terlihatlah keelokan pemandangan Pantai Laut Selatan. Akhirnya, sampailah saya di Pelabuhan Ratu. Perjalanan masih saya lanjutkan kembali karena bukan pantai disini tempat tujuan saya. Setelah rimbun pepohonan, eloknya persawahan dengan padi yang masih hijau menghiasi jalan. Sawah di kanan, laut di kiri, Subhanallah. Grand Inna Samudra Beach dengan latar deru ombak yang bergulung-gulung sangat menggoda ketika menyusuri suatu tanjakan di sebelah kiri. Next time, baby. Heuheuheu… πŸ˜€

Aspal yang lumayan mulus dilewati oleh berbagai kendaraan. Umumnya sepeda motor, angkot dan mobil Colt/mini bus khas Pelabuhan Ratu dengan muatan yang bisa dikatakan overload hingga ke atap mobil. πŸ˜€ Sesekali berpapasan dengan pick-up yang mengangkut hasil pertanian. Di beberapa titik kawasan pantai, sawah-sawah menghijau menghiasi bibir pantai dengan beberapa petani yang sedang menggarap sawah. Jauh di sebelah kanan saya perbukitan hijau melengkapi latar pemandangan sawah. Saya pun menghentikan sang bebek besi di sebuah pelataran yang sepertinya memang disediakan untuk menikmati eloknya pemandangan sawah disana.

Kurang lebih 3 KM lagi saya mencapai pantai Karang Hawu. Demikian bunyi sebuah petunjuk jalan ketika saya melewati kawasan Citepus. Fuel meter belum menyentuh tanda setengah, masih aman. Toh, BBM eceran dalam botol banyak dijual di pinggir jalan. SPBU pun masih saya jumpai. Ketika sampai di hamparan luas jalan raya di pinggir Karang Hawu, saya jumpai pelataran parkirnya masih sepi. Hanya terlihat tiga-empat mobil dan satu-dua sepeda motor. Beberapa wisatawan terlihat sedang asyik menikmati pemandangan dan hembusan angin di pantai ini.

Saya memelankan laju sang bebek besi sambil mencari kawasan yang enak untuk parkir di bibir pantai. Melewati Karang Hawu ternyata tidak ada tempat yang diharapkan. Akhirnya saya putuskan untuk kembali ke Karang Hawu dan memarkirkan sang bebek besi di sana. Alhamdulillah, sampai juga. Biasanya pelataran parkir ini ramai dengan kendaraan dan wisatawan, siang atau malam. Tapi saya beruntung karena sampai disini pada hari libur yang tepat ketika banyak wisatawan belum tiba. Sudah kuduga hahaha… πŸ˜€ Seandainya saya pergi keesokan hari, pada hari Jum’at atau Sabtu, pasti suasananya ramai sekali disini. Jam menunjukan sekitar pukul sepuluh lebih tiga puluh menit.

Saya parkiran sang bebek besi, melepas helm dan sapu tangan slayer yang saya gunakan sebagai masker. Duduk sebentar, bersyukur karena bisa sampai di tujuan dan mengagumi keindahan pantai. Deru ombak dikejauhan terdengar menyapa telinga saya yang sejak perjalanan hanya mendengarkan deru mesin kendaraan dan suara polygonal muffler sang bebek besi yang khas. Bulir-bulir putih ombak dan percikan air yang menghantam karang serta laut biru kehijauan dibawah terik mentari Cisolok menjadi pengobat lelah berkendara. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah dan membelai rambut. Maha Suci Allah.

Sebutir kelapa muda pun menjadi pelepas dahaga setelah kurang lebih empat jam berkendara. Masya Allah, sungguh segar. Beberapa ekor burung melesat beterbangan dari satu dahan pohon ke dahan pohon lain yang tinggi diatas jalan raya pantai Karang Hawu. Dari tempat saya duduk terlihat banyak wisatawan tengah mencumbui pasir dan ombak di kejauhan. Ada yang berkejar-kejaran, berswafoto dipinggir pantai atau diatas batu karang besar. Ada juga yang sedang menikmati hidangan jajanan bersama saya di dekat pelataran parkir.

Beberapa juru foto keliling terlihat berjalan-jalan menawarkan jasa pemotretan. Kasihan, saat ini kamera pada ponsel sedikit-banyak mengubah cara orang-orang berlibur dan mengabadikan momen liburan. Teknologi memang mengubah banyak hal. Padahal jasa pemotretan tidak seberapa. Seorang juru foto keliling pun sempat menawarkan jasanya.

Sambil masih menikmati segarnya air dan manisnya buah kelapa muda, sebuah rombongan roda empat tiba di dekat saya. Seorang ibu dan beberapa orang anaknya mungkin, memesan sepiring rujak tumbuk yang dipikul oleh seorang pedagang. Ya, seperti inilah suasananya. Banyak wisatawan datang untuk menikmati keindahan pantai atau demi kenikmatan berkendara atau tujuan lain. Tidak harus bermegah-megahan, walau sebenarnya mereka atau saya bisa saja bermegah-megahan kalau mau. Justru sebaliknya, mereka dan saya ingin menikmati kemewahan yang diberikan oleh Allah SWT melalui alam ciptaannya yang tidak kami miliki. Menyadari bahwa sebetulnya kita seperti buih atau pasir di pantai ini, akan mudah tersaput atau terhempas jika Allah menghendaki.

Seorang Penjual Rujak di Pantai Karang Hawu

Ingatlah bapak penjual rujak ini jika suatu saat kamu menginginkan sepeda motor dengan mesin yang lebih besar dan tenaga yang lebih kencang. Bapak ini mungkin sedang kepanasan atau kehujanan saat menjajakan rujaknya di pinggir pantai Karang Hawu.

Selesai melayani pembeli bapak penjual rujak tersebut membuka bungkusan plastik kresek. Ternyata bekal makan siangnya. Sambil tersenyum bapak tersebut menawari saya makan dengan setengah memaksa. “Silahkan, pak. Mangga. Ini saya juga lagi makan.” Ramah. Inilah tipikal warga Jawa Barat. Obrolan pun berlanjut, “Dari mana, den?” Saya jawab, “Bogor, pak.” Sambil menyendok daging buah kelapa, saya mengobrol santai dengan bapak ini. Selesai makan saya membayar tukang kelapa dan permisi sebentar kepada bapak penjual rujak tersebut. “Punten, pak. Mau turun.” Dia membalas, “Mangga, den.”

Saya membuka bagasi motor dan mengeluarkan sandal jepit, memasukan sneakers ke dalam plastik, melepas sarung tangan dan jaket lalu mengunci kembali bagasi. Ada tangga untuk turun ke pantai beberapa meter dari tempat kami duduk tadi. Saya pun mulai menjejaki pasir-pasir pantai dan memotret keindahan panorama pantai Karang Hawu ini. Sesekali bercanda dengan ombak yang membasahi kaki saya. Batu karang disini membedakan pantai ini dengan bibir pantai lain yang sebelumnya sudah dilewati. Disebut Karang Hawu karena batu karangnya menjorok ke laut dan berlubang di beberapa tempat, sehingga menyerupai hawu (tungku).

Saat asyik memotret terdengar suara adzan Dzuhur berkumandang. Oke, saya kembali ke atas. Agak repot juga kalau mau segera sholat karena letak mushola lumayan jauh dari tempat parkir. Plus, ujung celana saya masih basah tersiram ombak. Saya putuskan untuk menunggu adzan berkumandang sambil beristirahat dahulu. Setelah istirahat saya masih sempat mengambil beberapa foto lagi. Pantai seakan surga untuk para pecinta fotografi. Memanjakan mata dan kamera. πŸ™‚

Kira-kira pukul satu lebih beberapa menit saya putuskan untuk kembali. Pulang, capcus. Pamit kepada bapak penjual rujak yang tadi menemani makan. Bapak yang tampaknya miskin tetapi hatinya kaya. Lalu saya menuju ke tempat sang bebek besi diparkirkan. Kenakan kembali sepatu, jaket dan sarung tangan. Sebelum pulang tidak lupa memberi tips pada salah satu penjaja jajanan disana yang menjaga sang bebek besi. Mengobrol sebentar, si tukang parkir coba-coba menebar racun. Mencoba menawarkan batu, dari yang sebesar kelapa sampai sebesar kerikil dan menawarkan bertemu emak atau nyai anu. Teuinglah… mau mak lampir kek, nyai dasimah kek, saya mah menolak percaya yang begituan. πŸ˜€Β Hadeuh… aya-aya wae si akang. πŸ˜€

Harap diingat, menurut nasihat orang tua dan orang-orang yang sering bepergian ke sini, banyak wisatawan datang ke pantai ini dengan niat yang tidak lurus dan bisa mengotori akidah. Pelabuhan Ratu selain terkenal dengan panorama laut dan pantainya yang indah, juga terkenal sebagai daerah tempat orang mencari pesugihan. Jangan sampai Anda tertipu oleh muslihat orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dari diri Anda dengan iming-iming jabatan/pangkat, harta atau yang lainnya. Tidak hanya uang, kalau Anda dikelabui bisa-bisa Anda harus pulang berjalan kaki sampai rumah. Hati-hati. Kita mohon perlindungan kepada Allah dari perbuatan syirik dan kejahatan jin dan manusia.

Sampai di SPBU 31.433.01, SPBU terdekat dengan pantai Karang Hawu, saya memutuskan mampir sebentar untuk bersih-bersih, berwudhu dan sholat Dzuhur. Tempatnya luas, bersih dan indah. Begitu juga fasilitas toiletnya. Mushola dibagi dua, kanan mushola wanita, kiri mushola pria. Selesai sholat, saya kembali mengisi tangki BBM sampai penuh, karena jarum fuel meter sudah menunjukan setengah sebelum kosong (empty).

Perjalanan pulang terasa lebih ramai dari pada perjalanan saat datang pagi tadi. Jumlah sepeda motor terasa sedikit sekali dibandingkan dengan roda empat. Beberapa truk mengangkut batu-batu kali besar di jalan yang menanjak ini. Supir-supir truk ini berjalan lambat, tapi mobil-mobil pribadi lah yang memaksa untuk melaju kencang di jalur ini. Sebuah truk pengangkut batu berjalan tersendat saat mendaki tanjakan, menyisakan kepulan asap hitam dan debu jalan. Hal ini membuat saya merasa bersyukur sudah mau repot-repot mengenakan slayer untuk masker dan jaket tebal.

Jika pada perjalan berangkat tadi bisa sedikit santai karena cukup aman dimana tebing tepat disebelah kiri dan jurang jauh di kanan, maka sekarang sebaliknya. Perjalanan pulang keluar dari Citepus harus ekstra konsentrasi karena jurang menganga tepat disebelah kiri. Ditambah pengendara mobil-mobil pribadi yang cenderung melesat kencang. Jangan sampai lengah atau gagal fokus berkendara. Akibatnya bisa celaka. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Singkat cerita saya sampai kembali di jalan Surya Kencana dan melaju ke arah terminal Cibadak. Jika pada pagi hari tadi angkot-angkot ungu belum terlihat banyak, sekarang mereka sudah menampakan dominasinya. Beberapa Colt atau Elf trayek Bogor-Sukabumi yang biasanya ‘mangkal’ di sekitar jalan Pajajaran Baranang Siang pun mulai terlihat mengarah ke Bogor. Perjalanan pulang di jalan raya Sukabumi sore hari itu sangat ramai dan di beberapa titik terjadi kemacetan. Penyebabnya adalah truk-truk besar yang keluar atau masuk pabrik disekitar situ. Sampai melewati terminal Cibadak saya melihat rombongan dua Yamaha XMax 250 dan sebuah R25 beriringan. Menyelip diantara kendaraan lain. Salah satu XMax eye-catching sekali karena berwarna kuning. Pengendaranya terlihat mengenakan headphone di helm sebagai radio komunikasi antar pengendara. Motor-motor besar seperti ini menjadi hiburan dikala kemacetan. Senang melihat biker-biker tulen seperti mereka.

Sampai di Parung Kuda saya memutuskan untuk singgah di masjid Nurul Anda. Lagi-lagi ishoma. πŸ˜€ Semenjak melintas di Warung Kiara tadi sudah terdengar adzan Ashar. Tapi karena saya keasyikan memuntir gas akhirnya bablas ketika melewati sebuah masjid besar. Akhirnya saya pilih masjid Nurul Anda, pas karena letaknya disebelah kiri dan kondisi lalu lintas tidak terlalu ramai dan plang nama masjidnya terlihat di kejauhan ditambah tulisan retoris: Sudahkah Anda Sholat? Heuheuheu… πŸ˜€

Selesai ishoma saya lanjutkan kembali perjalanan. Hingga menjelang kawasan LIDO iring-iringan XMax dan R25 yang tadi saya lihat di dekat terminal Cibadak terlihat menepi, mungkin masih menunggu rekan mereka yang tertinggal. Akhirnya saya berbelok ke kiri kembali menuju stasiun Cigombong untuk menuju Batu Tulis, Bogor. Jalan Cijeruk menuju Batu Tulis saat itu ramai oleh kendaraan roda dua dan roda empat, tidak seperti saat berangkat pagi tadi.

Sampai di Batu Tulis ternyata terjadi kemacetan hingga di perempatan lampu merah Pulo Empang. Wajarlah, Bogor memang selalu macet saat akhir pekan. Mobil-mobil plat B pun terlihat mengisi ruas-ruas jalan. Akhirnya saya berhasil menerobos kemacetan tersebut lalu berbelok ke kanan, menanjak ke arah BTM kemudian berbelok ke kiri ke arah jalan Ir. Juanda lalu ke jalan Jenderal Sudirman untuk selanjutnya kembali Β ke rumah melewati Cilebut. Ternyata dari dulu sampai sekarang Cilebut belum berubah, masih banyak jurang menganga dan tanah longsor, jalan jadi sempit. Hahaha… πŸ˜€

Alhamdulillah, sampai di rumah ba’da Maghrib. Selamat sampai di tujuan. Perjalanan pulang pergi sekitar 232 km. Perjalanan yang hanya selemparan bola basket ini cukup berkesan dan memberikan sensasi berkendara yang selama ini saya rindukan. Semoga tulisan panjang lebar ini bermanfaat. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Selamat berakhir pekan, salam hangat dari kota hujan.

Jalan-jalan ke Situ Babakan

Situ Babakan

Situ Babakan, Kecamatan Jagakarsa, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan

BagaimanaΒ kira-kira caranya mengisiΒ liburan atau akhir pekan di Jakarta tanpa harus pergi ke mall, nonton film baik di bioskop ataupun on-line, atau main games di komputer/gadget? JawabannyaΒ adalah pergi jalan-jalan ke tempat wisata alam. Loh, memangnya ada wisata alam di Jakarta? Jelas ada! Situ Babakan di Srengseng Sawah, kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan misalnya. Selain wisata alam di Situ Babakan sobat bisa melihat budaya asli Jakarta, budaya Betawi.

Untuk mencapai Situ Babakan cukup mudah. Jika kita berasal dari Bogor atau Depok cukup ikuti jalan raya Margonda hingga menjumpai pertigaan jalan sebelum JPO stasiun Lenteng Agung. Dari pertigaan tersebut kita berbelok ke kiri di jalan Mohammad Kafi II. Cukup ikuti arah yang ada di papan penunjuk jalan di sepanjang jalan tersebut untuk mencapai Situ Babakan.

Situ Babakan

Ada apa saja di Situ Babakan? Selain pemandangan alam danau atau situ, di sini kita bisa jumpai kekhasan budaya Betawi, misalnya bangunan, pakaian adat dan makanan/minuman. Pemandangan indahnya bisa dinikmati sambil menyantap jajanan-jajanan yang dijajakan oleh para pedagang di sekeliling situ atau pedagang kaki lima yang kebetulan mampir di dekat tempat kita duduk di kursi-kursi atau lesehan di tempat yang disediakan.

Jangan takut dompet terkuras karenan jajanan yang dijajakan di sini tidak semahal kalau sobat pergi ke Plaza Indonesia, Kota Casablanca atau PIM. Heuheuheu… πŸ˜€ Yup, pedagang disini berdagang untuk mencari nafkah, bukan untuk membangun real estate, mall, atau kawasan perkantoran elite. Jadi, jangan sungkan-sungkan merogoh kocek sobat.

Baiklah, daripada saya berpanjang lebar bercerita seperti apa Situ Babakan apalagi sampai ngobrol ngalor-ngidul tidak karu-karuan, lebih baik sobat lihat foto-foto berikut ini. Jangan salahkan saya kalau sobat jadi penasaran dan ingin berkunjung sendiri ke Situ Babakan ini. πŸ˜€

Selamat Datang di Situ Babakan

Selamat Datang di Situ Babakan

Lahan parkir di Situ Babakan

Lahan parkir di Situ Babakan

Kerak telor makanan khas Betawi

Kerak telor makanan khas Betawi

Salah satu kios dagangan di Situ Babakan

Salah satu kios dagangan di Situ Babakan

Pedagang kaki lima di Situ Babakan

Pedagang kaki lima di Situ Babakan. “Bang, senyum bang!” πŸ˜€

Jalan di Pinggir Situ Babakan

Pemandangan jalan di sepanjang Situ Babakan

Wisata Air Situ Babakan

Ajak anak-anak atau keluarga sobat untuk menikmati pemandangan Situ Babakan dengan perahu-perahu yang disediakan.

Menara Masjid Terlihat Dari Seberang Situ Babakan

Pemandangan menara masjid di kejauhan yang terlihat dari salah satu sudut di seberang Situ Babakan.

Wisatawan Menikmati Hidangan di Tepi Situ Babakan

Menikmati jajanan kuliner di bawah pohon rindang di tepi Situ Babakan bersama teman, keluarga atau handai taulan.

Wisatawan di Situ Babakan

Masih menikmati kuliner di sepanjang tepi Situ Babakan. Tapi kenapa adik yang satu itu sepertinya tertidur ya, heuheuheu… πŸ˜€

Pedagang Keliling di Situ Babakan

Pedagang keliling menawarkan dagangannya pada seorang wisatawan.

Jalan di Pinggir Situ Babakan

Seperti inilah jalan di sekeliling Situ Babakan. Cukup lebar untuk dilewati dua mobil dengan kios-kios di sepanjang pinggir jalan dan meja-meja dan kursi berpeneduh di pinggir situ.
Bir Pletok

Jangan lupa dengan bir pletok, minuman khas Betawi.

Semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.