Jalan-jalan ke Situ Babakan

Situ Babakan

Situ Babakan, Kecamatan Jagakarsa, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan

Bagaimana kira-kira caranya mengisi liburan atau akhir pekan di Jakarta tanpa harus pergi ke mall, nonton film baik di bioskop ataupun on-line, atau main games di komputer/gadget? Jawabannya adalah pergi jalan-jalan ke tempat wisata alam. Loh, memangnya ada wisata alam di Jakarta? Jelas ada! Situ Babakan di Srengseng Sawah, kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan misalnya. Selain wisata alam di Situ Babakan sobat bisa melihat budaya asli Jakarta, budaya Betawi.

Untuk mencapai Situ Babakan cukup mudah. Jika kita berasal dari Bogor atau Depok cukup ikuti jalan raya Margonda hingga menjumpai pertigaan jalan sebelum JPO stasiun Lenteng Agung. Dari pertigaan tersebut kita berbelok ke kiri di jalan Mohammad Kafi II. Cukup ikuti arah yang ada di papan penunjuk jalan di sepanjang jalan tersebut untuk mencapai Situ Babakan.

Situ Babakan

Ada apa saja di Situ Babakan? Selain pemandangan alam danau atau situ, di sini kita bisa jumpai kekhasan budaya Betawi, misalnya bangunan, pakaian adat dan makanan/minuman. Pemandangan indahnya bisa dinikmati sambil menyantap jajanan-jajanan yang dijajakan oleh para pedagang di sekeliling situ atau pedagang kaki lima yang kebetulan mampir di dekat tempat kita duduk di kursi-kursi atau lesehan di tempat yang disediakan.

Jangan takut dompet terkuras karenan jajanan yang dijajakan di sini tidak semahal kalau sobat pergi ke Plaza Indonesia, Kota Casablanca atau PIM. Heuheuheu… 😀 Yup, pedagang disini berdagang untuk mencari nafkah, bukan untuk membangun real estate, mall, atau kawasan perkantoran elite. Jadi, jangan sungkan-sungkan merogoh kocek sobat.

Baiklah, daripada saya berpanjang lebar bercerita seperti apa Situ Babakan apalagi sampai ngobrol ngalor-ngidul tidak karu-karuan, lebih baik sobat lihat foto-foto berikut ini. Jangan salahkan saya kalau sobat jadi penasaran dan ingin berkunjung sendiri ke Situ Babakan ini. 😀

Situ Bababakan

Selamat Datang di Situ Babakan

Situ Babakan

Lahan parkir di Situ Babakan

Situ Babakan

Kerak telor makanan khas Betawi

Situ Babakan

Salah satu kios dagangan di Situ Babakan

Pedagang kaki lima di Situ Babakan.

Pedagang kaki lima di Situ Babakan. “Bang, senyum bang!” 😀

Jalan di Pinggir Situ Babakan

Pemandangan jalan di sepanjang Situ Babakan

Wisata Air Situ Babakan

Ajak anak-anak atau keluarga sobat untuk menikmati pemandangan Situ Babakan dengan perahu-perahu yang disediakan.

Menara Masjid Terlihat Dari Seberang Situ Babakan

Pemandangan menara masjid di kejauhan yang terlihat dari salah satu sudut di seberang Situ Babakan.

Wisatawan Menikmati Hidangan di Tepi Situ Babakan

Menikmati jajanan kuliner di bawah pohon rindang di tepi Situ Babakan bersama teman, keluarga atau handai taulan.

Wisatawan di Situ Babakan

Masih menikmati kuliner di sepanjang tepi Situ Babakan. Tapi kenapa adik yang satu itu sepertinya tertidur ya, heuheuheu… 😀

Pedagang Keliling di Situ Babakan

Pedagang keliling menawarkan dagangannya pada seorang wisatawan.

Jalan di Pinggir Situ Babakan

Seperti inilah jalan di sekeliling Situ Babakan. Cukup lebar untuk dilewati dua mobil dengan kios-kios di sepanjang pinggir jalan dan meja-meja dan kursi berpeneduh di pinggir situ.
Situ Babakan

Jangan lupa dengan bir pletok, minuman khas Betawi.

Semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.

Gathering di Camp Bravo Cidahu

Camp Bravo

Camp Bravo, Cidahu, Sukabumi

Entah kenapa rasanya malas sekali menuliskan pengalaman saya yang satu ini. Tapi daripada arsipnya cuma tersimpan rapi dalam harddisk dan semoga dengan menuliskannya saya jadi cepat lupa, jadi saya tuliskan saja. Ok, here it is.

Jum’at sore menjelang malam, 13 Mei 2016, hujan menyambut saya dan teman-teman di tanah Cidahu, Sukabumi. Kami merupakan rombongan terakhir yang tiba disana dalam acara gathering kantor. Gelapnya suasana, dinginnya udara dan tanah yang becek tidak mengurangi keceriaan teman-teman saya dalam acara tersebut. Karena setibanya saya disana beberapa orang sedang asyik bercanda di warung pinggir jalan sambil menyeruput kopi dan mie rebus yang mereka pesan sambil berteduh menunggu hujan reda. Beberapa orang saling kontak dengan teman-teman yang sudah lebih dulu berjalan menuju perkemahan menggunakan walkie-talkie.

Awal perjalanan dari bilangan Tebet di Jakarta Selatan sekitar pukul tiga sore kurang beberapa menit. Mobil yang saya tumpangi merupakan rombongan terakhir yang berangkat setelah sebelumnya rombongan empat mobil lain berjalan lebih dahulu. Melaju melewati tol Cawang hingga keluar gerbang tol Ciawi perjalanan lancar tanpa kendala. Bahkan saya yang duduk di samping pak kusir yang mengendarai kuda rekan saya yang menyupir mobil sempat memperhatikan beberapa kali jarum speedometer melewati 120 km/jam. Ah, sudah ngebut, di dalam mobil mereka masih sempat cekakakan ketawa-ketiwi. Seandainya saat itu nahas menimpa, mampuslah kami semua! Kelakuan!

Singkat cerita, setelah menikmati (sumpah nikmat banget!) kemacetan jalur Ciawi-Sukabumi akhirnya kami sampai juga di pelataran parkir samping masjid di Cidahu. Mobil-mobil harus diparkir di sana karena untuk mencapai camping ground harus melewati jalan setapak. Rombongan kami jadi paling akhir tidak saja karena macet, tapi juga karena sempat sekali salah menikung di Cicurug akibat mengikuti rute yang ditunjukan oleh aplikasi GPS di ponsel seorang teman. Hm, makan tuh GPS! Ujung-ujungnya, “Misi, mas. Kalau ke Cidahu lewat mana ya?” Pada seorang, mungkin, tukang ojek yang ada di warung pinggir jalan Cicurug. Jadi deh, putar balik lagi. Tapi ya akhirnya sampai juga, toh.

Setelah hujan reda, seorang pemandu mengantarkan kami menuju lokasi perkemahan. Sampai di perkemahan kami disambut teman-teman yang sudah lebih dulu tiba disana. Duduk-duduk di bawah jajaran gubuk yang ada di teras atas yang sudah disediakan sebagai tempat untuk menyajikan makanan. Omong-omong, pengelola Camp Bravo sudah menyediakan listrik di area perkemahan. Jadi, kami tidak perlu takut gadget yang kami bawa kehabisan listrik. Selain itu, makanan dan minuman juga disediakan oleh pengelola.

Acara malam itu adalah acara keakraban. Duduk-duduk diatas rerumputan basah yang sudah digelari alas semacam tikar/karpet sambil mengisinya dengan obrolan, ada yang sibuk main remi, ada yang sudah asyik tiduran dalam kemah. Suara arus sungai di bawah lokasi kami berkemah, deras air terjun dikejauhan dan suara-suara katak meramaikan suasana malam itu. Dikejauhan temaram lampu-lampu listrik yang remang-remang menerangi gubuk dan jalan di pinggir lapangan tempat kami berkumpul.

Kemudian pengelola terlihat sibuk menyiapkan tumpukan kayu-kayu kering. Berkemah rasanya memang tidak lengkap jika tidak ada api unggun. Tidak lama kemudian kobaran api unggun pun tambah menyemarakan suasana malam itu. Tidak hanya api unggun ternyata, pengelola pun sudah menyiapkan seekor kambing untuk dihidangkan menjadi kambing guling.

Camp Bravo

Kambing guling, enak. Kata yang suka daging.

Malam pun semakin larut. Saya lebih memilih istirahat di dalam tenda bersama seorang rekan saya. Beberapa orang saya dengar masih asyik mengobrol saat saya terbangun dini hari. Saya pun melanjutkan tidur hingga subuh. Selesai sholat Shubuh saya kembali duduk-duduk berdua seorang teman di bawah gubuk sambil menikmati hidangan sisa semalam sambil mengobrol dan menyeruput kopi panas.

Ketika kemilau putih matahari sudah mulai menampakan sinarnya dan semburat jingga sudah menghilang dari ufuk timur, saya mulai berjalan-jalan mengelilingi lokasi perkemahan ini. Melacak sudut-sudut yang tidak bisa saya jangkau di malam hari berbekal kamera handphone. Ternyata sungai di bawah lokasi perkemahan cukup lebar dan banyak batu-batu besar serta berair jernih. Lapangan lokasi kami berkemah ada di bawah tebingan tanah, untuk menuju pintu keluar harus mendaki anak tangga yang tidak curam tapi cukup tinggi. Tepat diatas lapangan tersebut ada sebuah bangunan semi permanen dan sebuah generator listrik.

Camp Bravo

Sungai di bawah lokasi kemah.

Camp Bravo

Barisan tenda di lokasi perkemahan.

Camp Bravo

Lokasi perkemahan dilihat dari atas tangga.

Camp Bravo

Jalan setapak untuk mencapai tangga menuju lokasi perkemahan. Bangunan yang terlihat sepertinya bangunan untuk menempatkan generator pembangkit listrik.

Camp Bravo

Bangunan generator pembangkit listrik.

Camp Bravo

Jembatan penghubung dua sisi sungai di lokasi perkemahan.

Camp Bravo

Dapur, pancuran untuk berwudhu, dan sarana MCK di dekat lokasi perkemahan.

Selesai memotret beberapa spot di sekitar lokasi perkemahan, saya memutuskan untuk mandi. Lumayan bersih juga sarana MCK yang disediakan oleh pengelola. Air yang digunakan sepertinya langsung dari sumber mata air pegunungan, jadi dinginnya terasa sampai ke tulang. Setelah mandi ternyata saya tertinggal acara senam pagi. Walhasil saya tidak bisa ikut senam pagi tersebut.

Camp Bravo

Senam pagi biar segar.

Setelah senam pagi, acara berikutnya adalah sarapan, sesi pribadi, beberapa lomba dan renungan. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan outbound. Outbound yang dilakukan adalah mencari petunjuk di lokasi-lokasi yang sudah ditentukan oleh panitia. Kami dibagi menjadi dua tim besar, setiap tim dibekali kompas yang akan digunakan oleh anggota tim yang ditunjuk sebagai navigator. Fungsi kompas tersebut adalah untuk menentukan arah jalan yang harus ditempuh. Besarnya sudut yang harus diukur dengan kompas itulah petunjuk yang disembunyikan oleh pengelola dan harus kami temukan jika kami ingin memenangkan perlombaan ini.

Camp Bravo

Memintas lebatnya tumbuh-tumbuhan di dalam hutan mencari petunjuk.

Camp Bravo

Pohonnya tinggi-tinggi, daun dan dahannya lebat, udaranya lembab. Sesekali terlihat kera melompat di dahan-dahan.

Camp Bravo

Stick together as a team. Ikuti satu arahan, tidak perlu sok pintar dengan berpencar-pencar mencari petunjuk. Itulah tim yang menang.

Melintasi hutan, mendaki gunung (aih lebainya), melintasi tebing-tebing curam, jalan berbatu licin akhirnya tim saya memenangkan perlombaan. Akhir pencarian adalah kami harus menemukan bendera yang disembunyikan. Setelah bendera ditemukan kami beristirahat sebentar, kemudian dilanjutkan acara terakhir, yaitu seru-seruan bareng di air terjun/curug. Akhir lokasi dari outbound ini memang dirancang berada di dekat sebuah air terjun.

Mohon maaf, foto-foto keseruannya tidak dapat saya tampilkan untuk menjaga privasi masing-masing pribadi dalam foto.

Camp Bravo

Air terjun/curug. Namanya apa? Entahlah.

Menjelang akhir acara, kami semua foto bareng untuk kenang-kenangan. Ada fotografer resmi untuk melakukan hal tersebut.

Camp Bravo

Selepas Dzuhur kami kembali ke pelataran parkir untuk pulang. Kembali menelusuri jalan sempit Cidahu menuju Cicurug sebelum akhirnya kami menuju Pamoyanan, Batu Tulis lewat Cijeruk.

Inilah salah satu pengalaman jalan-jalan yang kurang berkesan bagi saya. Semoga bermanfaat.

Berlibur ke Situs Megalitikum Gunung Padang

Tiiin… Tiiin… Suara klakson sepeda motor terdengar saat saya melintasi Jalan KS Tubun dari Kedunghalang melintasi perempatan lampu merah Bogor Outer Ring Road ke arah Jalan Pajajaran. Tanpa mempedulikan saya terus menarik gas menuju SPBU yang letaknya ada di sebelah kiri sebelum perempatan lampu merah Plaza Jambu Dua. Tiba-tiba terdengar lagi suara klakson dan suara orang di belakang saya, “Mau sendirian ke Gunung Padang, mas Peb?”

Wah, saya baru ingat kalau saya memang janji bertemu di SPBU untuk sama-sama bersepeda motor ke situs Gunung Padang di Cianjur. Tapi tanpa disangka ternyata rekan saya ini malah mencegat saya di lampu merah Jalan KS Tubun. Sontak saya menjawab, “Kita ke SPBU dulu, De.”

Kemarin, 06 Mei 2016 memanfaatkan momen liburan saya sempatkan berwisata bersama Kang Ade. Berhubung rekan saya ini memang warga Cianjur dan sudah beberapa kali ke Gunung Padang untuk memotret. Selesai mengisi bensin di SPBU kami langsung tancap gas menyusuri Jalan Pajajaran menuju Ciawi. Sepanjang jalan terlihat banyak rombongan sepeda motor yang mungkin juga ingin menghabiskan liburan di kawasan Puncak. Melewati Ekalokasari menuju Tajur terjadi kemacetan di beberapa ruas jalan. Setelah melewati pasar Ciawi kami sempatkan berhenti sebentar di sebuah kedai lontong sayur tidak jauh dari kantor  Polsek Ciawi untuk sarapan.

Melanjutkan perjalanan, kawasan Puncak pagi hari itu diberlakukan jalur satu arah naik saja. Di beberapa ruas jalan kami harus bersabar karena macet, atau berjalan di pinggir trotoar karena padatnya jalan oleh roda empat. Sejuknya udara dan indahnya pemandangan menjadi penawar kepenatan berkendara bagi saya. Di beberapa ruas jalan yang menurun tapi tidak macet juga memberikan kenikmatan berkendara bagi saya.

Kemacetan tidak lagi saya temui setelah melewati Rindu Alam memasuki wilayah Ciloto. Jalannya pun sepi dan menurun. Walau banyak tikungan, saya tidak segan-segan menarik gas agak dalam dan baru mengurangi kecepatan ketika terlihat akan memasuki tikungan. Kemacetan baru kami jumpai lagi setelah melewati Istana Cipanas melewati pasar Cipanas, setelah itu kami terus tancap gas menuju kota Cianjur.

Setibanya di perempatan tugu kota Cianjur kami berbelok ke kanan melewati jalan KH. Abdullah bin Nuh. Bus dan truk menemani kami sepanjang jalan ini. Di jalan ini kami lurus saja sebelum berbelok ke kiri di pertigaan jalan Cianjur-Gunung Pandang. Jalan ini sepi dan sempit, cuma cukup untuk dilewati sebuah roda empat satu arah. Di beberapa titik jalannya hancur menyisakan kerikil dan pasir sehingga kami harus berhati-hati jika ingin tancap gas. Saya cukup heran dengan rekan saya, di jalan yang sempit, banyak tikungan dan hancur aspalnya, berani sekali dia memacu kencang-kencang matiknya. Saya sendiri beberapa kali harus menurunkan kaki, menghindari agar tidak tergelincir karena pasir dan kerikil di aspal yang rusak. Di wilayah ini kami melewati perlintasan rel kereta api yang menuju ke stasiun KA Lampegan.

Semakin ke atas medannya semakin terjal dan rusak aspalnya. Malah di dua titik kami temui jalan yang masih berupa tumpukan batu belum diaspal. Semakin ke atas saya semakin khawatir jika kehabisan bensin walau waktu melewati jalan KH. Abdullah bin Nuh tadi kami sempat mengisi tangki BBM kendaraan kami. Di sebuah tikungan, rekan saya itu berhenti untuk menunggu saya yang berjalan sangat santai. Saya pun berhenti dulu untuk beristirahat sambil melihat-lihat pemandangan. Teman saya itu menunjuk-nunjukan jarinya, memberitahu posisi situs Gunung Padang. Ternyata masih harus menanjak lagi ke atas.Wow! Dalam hati saya berdoa agar BBM dalam tangki cukup untuk kembali turun nanti dan sampai di SPBU terdekat. Karena di sini jarang ada rumah dan penjual bensin eceran jarang terlihat.

Akhirnya kami sampai di depan sebuah sekolah dasar. Jalan yang hendak kami lewati sudah dipalang agar tidak dilewati oleh masyarakat sekitar dan petunjuk parkir saya lihat mengarah ke halaman sekolah tersebut. Dengan aksen Sunda yang kental, rekan saya menanyakan ada apa. Ternyata di situs Gunung Padang sedang ada pagelaran seni budaya. Jadi, halaman parkirnya tidak bisa digunakan untuk kendaraan. Kami memasuki halaman sekolah tersebut untuk memarkirkan sepeda motor kami. Karcis parkir berstempel desa Karyamukti kami bayar dengan harga tiga ribu rupiah.

Kami pun harus berjalan menuju ke pintu masuk situs megalitikum Gunung Padang. Teman saya bercerita bahwa dulu jalan ke halaman situs ini belum diaspal seperti sekarang. Dulu pengendara sepeda motor harus membayar orang yang membantu mendorong sepeda motornya untuk naik karena jalannya masih berupa batu-batu dan terjal. Jarak jalannya ternyata tidak jauh, kira-kira seratus meter dari tempat kami parkir. Di pinggir jalan kami temui rumah-rumah warga setempat yang dijadikan rumah makan dan warung.

Sesampainya di halaman masuk, kami lihat sebuah panggung dan deretan kursi kosong sudah disiapkan untuk acara pagelaran seni yang dimaksud. “Wah, kebetulan dong!” ujar saya kepada rekan saya yang seorang fotografer profesional. “Iya, mas Peb. Lumayan, human interest.” Kami lihat sebuah jam besar di halaman menunjukan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. Wah, lama juga perjalanan kami. Dari rumah saya berangkat kira-kira jam enam kurang lima belas menit. Berarti lama perjalanan kira-kira empat jam lebih. Kami kemudian bersiap dan merapikan diri di sebuah mushola. Dua orang wanita cantik berkebaya menyambut kami layaknya pagar ayu. Kami diwajibkan mengisi buku tamu sebelum masuk ke situs Gunung Padang.

Menurut informasi yang saya dapatkan, situs Gunung Padang lebih tua daripada Piramida Giza di Mesir. Konon Gunung Padang digunakan sebagai tempat pertemuan ketua-ketua adat Sunda Kuno. Sejatinya, Gunung Padang bukanlah sebuah gunung. Tapi bangunan berbentuk punden berundak-undak (terasering) yang dibangun secara bergotong-royong. Menakjubkan! Bayangkan, betapa hebatnya masyarakat zaman dahulu kala membuat bangunan-bangunan dari batu besar (megalitikum = zaman batu besar) di lokasi yang terjal hingga setinggi gunung.

Dari halaman kami harus mendaki tangga dari batu-batu alam yang berbentuk balok. Tingginya berapa meter? Tinggi banget deh pokoknya! 😀 Bukan cuma tinggi, tapi juga terjal. Luar biasa ya, bisa-bisanya batu-batu sebesar ini disusun membentuk tangga yang terjal. Di sisi kanan dan kiri sudah dipasang pegangan dari besi untuk keamanan pengunjung situs.

Ketika sampai diatas kami beristirahat sejenak, menikmati pemandangan desa dari atas. Pengunjung lain terlihat sedang mendaki anak tangga yang tadi kami lewati. Di hadapan kami terhampar ‘teras’ dengan tumpukan balok-balok batu alam berukuran besar disana-sini. Beberapa tiang bendera dan umbul-umbul warna-warni terpancang. Angin meniup bendera dan umbul-umbul tersebut.

Situs Megalitikum Gunung Padang

Pemandangan ke Arah Atas dari Tangga Situs Gunung Padang Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka Cianjur, Jawa Barat

Di teras yang lebih tinggi terlihat para pengunjung berkumpul, berjalan-jalan, duduk-duduk diatas batu dan berfoto diri atau memotret pemandangan dan menuntun anak-anak mereka yang masih balita. Beberapa ABG dengan mencoloknya selfie menggunakan smartphone dan menjulurkan selfie stick andalan mereka. 😀 Terdapat beberapa pesan larangan, seperti larangan menaiki atau berdiri di atas batu yang berdiri (menhir) dan larangan untuk mengetuk-ngetuk batu.

Kawat-kawat merintangi beberapa tumpukan batu dan ada larangan untuk menjangkau tumpukan batu-batu tersebut. Mungkin kekhawatiran akan rusaknya situs tersebut akibat ulah wisatawan yang tidak bertanggung jawab. Saya pun melihat tidak ada pengunjung yang berani melanggar larangan tersebut. Pengunjung lain yang terlihat membawa kamera profesional dan menenteng-nenteng tripod pun mencari lokasi yang aman dan posisi yang bagus untuk memotret di sekitar tumpukan batu tersebut. Saya pun  asyik memotret.

Sampai di teras paling atas ada pagelaran seni budaya Sunda yang dibawakan oleh civitas MAN 1 Cianjur. Saya sempat melihat dan menikmati beberapa tarian dan aksi teater siswa-siswi tersebut. Hal ini menambah menarik kunjungan saya hari ini. Saya perhatikan para pengunjung lain pun memadati ‘aula’ alam di teras paling atas situs Gunung Padang ini. Bagi saya yang paling menarik adalah aksi teaternya.

Saya dan pengunjung lain dibuat tertawa oleh aksi dan dialog siswa-siswi ini. Tema dramanya seputar politik lokal yang dibingkai dengan kehidupan rumah tangga suami istri dan kepercayaan lokal tentang ilmu pemikat. Pokoknya lucu habis deh mendengar percakapan dan gaya anak-anak ini. 😀 Foto-foto mereka akan saya tampilkan pada tulisan terpisah.

Kira-kira pukul satu siang kami turun untuk kembali pulang ke rumah. Untuk turun dari teras Gunung Padang ternyata ada jalan lain yang lebih landai. Jika untuk naik anak tangganya terbuat dari batu-batu alam yang besar, untuk turun anak tangganya terbuat dari batu-batu kanstin yang lebar-lebar. Cukup aman untuk dilewati oleh anak-anak.

Dari situs Gunung Padang ini untuk kembali ke kota Cianjur jika tidak ingin tersesat cukup ikuti papan petunjuk jalan ke arah Warungkondang. Walau hanya ada satu ruas jalan yang kecil, ada beberapa tikungan yang membuat bingung. Kiri atau kanan ya? 🙂 Sesampainya di jalan raya, kami berbelok ke kanan menuju kota Cianjur. Kami sempatkan beristirahat di sebuah kedai ayam bakar untuk makan siang. Belum selesai makan, ternyata hujan turun. Kami pun memilih menunggu hujan reda.

Selepas hujan reda perjalanan kami lanjutkan. Sebelum sampai di kota Cianjur kami berpisah. Teman saya berbelok ke kanan sedangkan saya lurus menuju tugu kota Cianjur untuk selanjutnya menikmati perjalanan seorang diri di kawasan Puncak. Ketika fuel meter menunjukan tiga bar, saya sempatkan kembali untuk mampir ke sebuah SPBU di kawasan Cianjur. Jangan sampai kehabisan bensin jika ternyata jalur Cipanas-Puncak macet karena track-nya mendaki. Melewati Atta’awun hingga Gunung Mas saya perhatikan kebun teh di sana ramai oleh wisatawan.

Ternyata jalur naik satu arah masih diberlakukan hingga sore hari kemarin bagi kendaraan yang berasal dari arah Jakarta atau Bogor. Saya dan pemotor lainnya masih tetap bisa lewat menuju Bogor dengan hati-hati karena melawan arus. Kemacetan parah saya temui di sekitar Gadog. Di pos polisi persimpangan Gadog terlihat bapak-bapak polisi yang bertugas mengatur lalu lintas membantu kami untuk meneruskan perjalanan. Selepas Gadog perjalanan lancar. Dari Ciawi melewati Tajur hingga Baranangsiang pun lalu lintas ramai lancar.

Demikianlah perjalanan saya menuju Gunung Padang di kota yang terkenal dengan beras dan tauconya ini. Semoga bermanfaat. Selamat berakhir pekan dan salam hangat dari kota hujan.

#LebarandiJonggol

Lebaran di Jonggol

Gunung Batu, Curug Ciherang, Wisata Pinus, RM Bano Raya #LebarandiJonggol

“Mau kemana, Yud?” Ke Jonggol.
“Mau ngapain, Yud?” Mau silaturahmi ke rumah saudara, nih.
“Di mana?” Di Jonggol.

Saya tidak sedang bercanda. 🙂

Anak-anak sekarang kalau ditanya serius mau ke mana, biasanya dijawab sambil bercanda, “Ke Jonggol…” Atau kalau ditanya di mana, dijawab lagi sambil bercanda, “Di Jonggol…” #wakwaw 😀

Lebaran H+2 atau hari Minggu, 18 Juli 2015 kemarin kami bertiga mengunjungi kerabat yang tinggal di Desa Warga Jaya Kecamatan Sukamakmur, Jonggol. Anggota rombongan adalah saya sendiri menunggangi si Sepira dan om saya yang memboncengi anaknya, sepupu saya menunggangi Blade 110 cc lawas. Tujuan kami adalah rumah  om saya yang lain, yang letaknya dekat dengan kawasan wisata Pinus dan Curug Ciherang.

Janji bertemu di depan CCM (Cibinong City Mall) sekitar pukul sebelas siang, dengan riding gear lengkap kami menyusuri jalan raya Bogor hingga sampai di depan Cibinong Square. Disana kami berbelok ke kanan menuju TPU Cirimekar, mengambil jalan pintas ke Pasar Citeureup.

Sampai di pos polisi Pasar Citeureup kami berbelok lagi menuju jalan Sabilillah. Selepas Pasar Citeureup saya lihat banyak sekali tumpukan plastik sampah di pinggir jalan yang merusak pemandangan. Jalan aspalnya lumayan mulus tapi di sana-sini saya jumpai polisi tidur. Dengan mengikuti jalan aspal kami melewati kecamatan Tarikolot hingga sampai di jalan raya Tajur desa Pasir Mukti.

Beberapa menit kemudian sampailah kami di pertigaan jalan dengan penunjuk arah kanan menuju Hambalang dan kiri menuju Jonggol. Kami pun mengambil arah ke kiri. Melewati kawasan pasar di pertigaan ini jalannya rusak parah. Tapi di ujung pasar kembali kami jumpai aspal yang mulus.

Kontur jalannya sangat menantang, banyak turunan dan tanjakan terjal serta kelokan tajam. Selain itu di beberapa ruas jalan aspalnya hancur atau tidak rata. Hutan dan sawah menjadi pemandangan yang menghibur selama perjalanan. Masih ada bajak-bajak tradisional yang ditarik oleh kerbau. Saran saya saat melewati jalan ini adalah penuhi tangki bensin karena tidak ada SPBU di sini. Harga per botol bensin Premium yang dijajakan oleh pengecer bensin di pinggir jalan berkisar dari delapan ribu lima ratus hingga sembilan ribu rupiah.

Seingat saya kami melewati tiga jembatan beton. Dua diantaranya bercat hijau dan sepertinya masih baru. Setelah beberapa lama (saya lupa berapa menit atau jam, yang jelas rasanya lama sekali saya mengendarai sepeda motor 🙂 ) kami tiba di Desa Jogjogan. Ternyata disini terjadi kemacetan. Jalan aspal yang hanya cukup dilewati sebuah mobil dan motor ini kemarin dipadati oleh mobil dan motor dari dua arah. Selain itu, karena rute jalan yang menanjak banyak mobil dan motor yang harus berhenti di tanjakan.

Dua tiga pemotor yang tidak kuat menahan rem dan kehilangan keseimbangan akhirnya jatuh! Saya lihat seorang pemotor yang membonceng seorang ibu yang menggendong bayi jatuh kemudian sepeda motornya menyenggol motor yang dikemudikan oleh om saya. Tidak pelak lagi om saya pun roboh saat berusaha menyeimbangkan kendaraannya. Foot step sobek dan spion kanan pecah akibat terbentur aspal. Kemacetan di jalan raya itu membuat stres, tetapi kemacetan di jalur pegunungan yang terjal itu membuat stres dan MENCEKAM!

Banyak pemotor, termasuk kami, akhirnya menepi di halaman rumah warga. Membiarkan mobil-mobil yang terjebak macet lewat lebih dahulu. Kalau dipikir-pikir seperti ini egoisnya roda empat. Jalan kecil yang biasanya lancar untuk roda dua sebanyak apapun, jadi macet tak karuan dijejali roda empat. Saran saya lagi, kalau baru bisa mengemudikan roda empat jangan lewat jalur ini. Jalurnya sempit dan banyak tikungan ci-luk-ba. Kalau tidak mahir mengemudikannya, maka siap-siaplah roda empat itu mundur lagi saat terjebak macet. Tidak kuat menanjak!

Akibat macet, kami mencoba berbelok ke kiri di Desa Jogjogan. Jalur aspal harus kami lupakan, karena kali ini kami akan melewati jalur desa dan hutan yang masih off-road. Melewati hutan-hutan Sukawangi saya mencium keharuman di udara. Amazing!!! Udara di sini tidak hanya sejuk, tetapi juga wangi bunga-bunga. Tepat sekali jika disebut Sukawangi. Lain udara lain pula track yang kami lewati. Jalur ini penuh dengan batu-batu cadas dan tanah. Dikarenakan musim panas, tanah dan batuan tersebut meninggalkan debu saat dilewati kendaraan. Dan jangan berharap ada penjual bensin eceran di sini. Kalau kehabisan bensin disini maka siap-siaplah mendorong kendaraan melewati tanjakan-tanjakan sadis berbatu cadas! Itupun kalau kuat mendorong. 😀

Jalan off-road semakin menantang setelah kami melewati parkiran Gunung Batu dan sebuah menara BTS. Tanjakan menjadi semakin terjal dan sepeda motor serasa seperti tidak bertenaga, gas ditarik sedalam apapun tetap saja berjalan lambat. Jangan harap gear di posisi 2 kuat, gear di posisi 1 pun rasanya seperti tidak kuat untuk menggerakkan sepeda motor. Suara gemeretak batu-batu dan kerikil bermentalan akibat terlindas ban motor.

Akibat udara yang sepertinya semakin tipis, saya pun harus menarik napas dalam-dalam di rute ini. Badan harus berusaha menyesuaikan diri di ketinggian seperti ini, sambil masih berusaha mengendalikan sepeda motor agar tidak tergelincir di bebatuan. Tapi tak pelak juga saya pun jatuh tergelincir. 🙂 Kelelahan, saya berusaha mendirikan lagi sepeda motor saya, tapi tak kuat. Akhirnya dibantu om saya, saya coba menunggangi sepeda motor lagi. Beberapa kali menyela kick starter tidak hidup, sialnya lagi starter elektrik ternyata tidak kuat juga. Dengan dipegangi om saya, saya coba menyela kick starter beberapa kali lagi sambil menahan rem depan. Alhamdulillah, akhirnya mesin motor saya kembali hidup. Saya lihat sepupu saya pun harus turun dari motor dan berjalan di tanjakan ini.

Dengan rumus nekat gas terus, akhirnya saya berhasil melewati tanjakan ini dengan sepeda motor saya. Setelah menemukan jalan yang agak landai mendatar, saya tepikan sepeda motor dan kembali menjemput om dan sepupu saya dibelakang. Akhirnya beberapa menit kemudian kami menjumpai jalur aspal kembali. Entah berapa kilometer jalur off-road yang sudah kami lewati. Off-road is amazing!!!

Kami pun melewati hutan wisata pinus yang jalur aspalnya menurun tajam dan banyak tikungan bersama banyak pemotor lain. Akhirnya setelah melewati Curug Ciherang kami beristirahat di sebuah kedai bakso di pinggir jalan yang letaknya di perkebunan. Saya pun memesan segelas kopi instan sambil menunggu om dan sepupu saya menikmati semangkuk bakso. Berhubung saya tidak makan daging, saya tidak ikut memesan bakso. 🙂 Sepeda motor kami parkirkan di lapangan berumput.

Duduk lesehan menikmati kopi hangat dan sejuknya udara gunung, saya melihat kembali pemandangan hutan dan bukit yang tadi kami lewati. Dari tempat kami duduk, Gunung Batu yang kata kaskuser pemandangannya mirip seperti Tebing Keraton, hanya terlihat seperti sebuah bukit lancip yang salah satu sisinya seperti dipangkas rata. Sambil beristirahat saya coba memeriksa kondisi si Sepira. Sial! Ternyata shock breaker depan sebelah kiri bocor. Tidak heran karena saya tadi menghajar bebatuan cadas dari Jogjogan, Sukawangi hingga melewati Gunung Batu 3.

Selepas istirahat kami kembali menelusuri jalan menuju Desa Warga Jaya. Kalau tadi jalan off-road dan menanjak, sekarang jalan aspal mulus dan menurun. Tidak perlu menarik gas dan gear di posisi 4, motor saya melaju turun. Cukup menahan rem depan dan belakang. Disini juga agak macet karena banyak mobil dan motor yang naik dan turun. Akhirnya beberapa menit kemudian sampailah kami di tempat om saya di Warga Jaya. Alhamdulillah.

Coba mengingat kembali perjalanan kami, om saya berseloroh, “Kalau naik matik mentok tuh tadi. Matik kan pendek.” Saya pun menanggapi, “Mestinya kita naik motor trail, om. Jalan penuh batu kaya gitu.” Heuheuheu…

Malam hari itu juga om saya pulang membawa anaknya. Wew, tidak terbayang deh keadaannya kalau malam-malam jalan di gunung seperti itu. Saya sendiri menginap di sini.

Menikmati suasana pedesaan yang masih asri. Jangan bayangkan nyaman dan hangatnya kamar hotel. Justru yang saya cari adalah dinginnya udara pegunungan. Di sini semuanya masih tradisional, memasak dengan tungku kayu bakar hingga air minumnya pun masih beraroma khas air yang dimasak dengan kayu bakar. Untuk mandi pun saya lebih senang mandi di pancuran mata air yang ada di sungai, walau sudah ada kamar mandi di rumah. Heheuheu… back to nature.

Di sini ada beberapa objek wisata. Ada dua curug (air terjun) lagi selain Curug Ciherang, wisata Pinus, Gunung Batu dan danau Rawa Gede. Ada beberapa restoran/rumah makan yang menyediakan ikan bakar. Satu yang sempat saya kunjungi adalah RM Bano Raya. Mata pencarian warga di sini pun kebanyakan bertani, berdagang atau berternak. Ada juga yang bekerja sebagai pegawai/karyawan yang tentunya lokasi kerjanya jauh dari tempat tinggal. Sebetulnya bukan jauhnya lokasi, tapi track-nya yang aduhai. 😀

Setelah dua malam saya lewati, hari Selasa pagi saya pulang. Menikmati jalan aspal yang menurun dan beberapa tanjakan lagi. Pemandangan terasering (sengkedan) dan kerbau di sawah menemani perjalanan pulang. Mirip dengan cerita-cerita di buku SD. 😀

Ssst… sobat jangan cerita ke yang lain, yah. In case of traffic jam in Puncak, kita bisa lewat sini kalau mau ke Jakarta via Citeureup atau Jonggol. Atau dari sana kita bisa menikmati sejuknya udara Cipanas seperti yang saya lakukan tahun lalu.

Enam Hal Ini Menandakan Anda Traveler Pemula

Traveler Pemula

Enam Hal Ini Menandakan Anda Traveler Pemula – Reader’s Digest Edisi Mei 2015

Gambar diatas adalah foto sebuah halaman majalah, Reader’s Digest edisi Mei 2015. Foto tersebut dibagikan oleh Arbain Rambey, fotografer senior Kompas, melalui lini masa Twitter @arbainrambey kemarin sore (23/05/2015). Isi halaman majalahnya cukup menarik untuk disimak. Kira-kira kita termasuk traveler pemula bukan, ya? Yuk, kita simak bersama.

Anda adalah traveler pemula, jika…

#1 Memotret Sayap Pesawat Terbang

“Wow! Ini penampakan awan dari ketinggian 30.000 kaki. Gemuk dan bergumpa-gumpal,” tutur Anda. Ketahuilah bahwa para traveler sering melihat hal serupa. Jadi, jangan mengumbar foto semacam itu, kecuali ada puncak Gunung Everest yang menyembul di sela-sela awan, atau pesawat UFO di sana.

#2 Mengunggah Foto “Temperatur Saat Ini”

Anda sedang di pantai, dan teman-teman Anda melihat posting Instagram yang menunjukan temperatur di lokasi Anda. Selamat! Itu tandanya Anda kurang kreativitas.

#3 Mengabadikan Kamar Hotel

Ya, kami tahu Anda menginap di hotel. Selamat.

#4 Mengambil Gambar dengan iPad

Tahukah Anda bahwa sebaik-baiknya kamera pada iPad, masih lebih bagus kamera saku? Alasannya: Lensa dan sensor digital pada kamera saku lebih besar. Itu akan berdampak besar pada hasil jepretan.

#5 Memotret Setiap Makanan

Kami akan bingung. Apakah Anda ahli nutrisi, fotografer kuliner, kritikus restoran, atau Anda hanya tak bisa menahan selera makan.

#6 Selfie

Kami senang melihat pemandangan indah, atau hal-hal lain terkait budaya suatu daerah. Tetapi tolong, jangan perlihatkan foto close-up wajah Anda, ketika sedang berada di Nepal atau foto kaki Anda ketika bersantai di Pantai Bondi.

Sebenarnya tulisan yang lebih lengkap juga bisa dibaca di laman readersdigest.co.id. Pada laman tersebut terdapat delapan point yang menandakan seorang traveler pemula. Mungkin karena terkait tata letak (layout) dan keterbatasan halaman, maka pada versi cetaknya hanya ada enam.

Terus terang, ada hal yang saya anggap bertentangan dengan pandangan saya pribadi. Misalnya, jika kita menginap di sebuah hotel dan kita ingin mendeskripsikan tentang layanan hotel, fasilitas, suasana dan kebersihan hotel. Tentunya akan lebih baik jika kita menyertakan foto tentang hotel tersebut. Walau tidak semua sudut hotel, minimal ada satu dua foto yang mewakili. Terlebih lagi jika hotel tersebut berlokasi di tempat yang tidak terkenal, atau sebuah hotel yang belum lama berdiri. Tentunya akan membantu traveler lain yang belum pernah singgah di tempat tersebut.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda yang senang jalan-jalan. Semoga suatu saat kita semua bisa membuat essai foto yang keren atau kisah-kisah perjalanan yang hebat, seperti Ibnu Battutah atau Marco Polo. Karena foto traveling bukan cuma untuk dibagikan di media sosial. Iya nggak bro… 😀

Jalan-jalan ke Pantai Karang Hawu

The Boats in Karang Hawu Beach

Minggu, 17 Mei 2015 kemarin saya beserta keluarga dan teman-teman pergi plesiran ke pantai Karang Hawu, Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Bersama rombongan tiga mobil, kami semua memulai perjalanan dari Cibinong melalui Jalan Raya Pemda Karadenan lalu menuju Pajajaran. Di putaran mall Ekalokasari kami berbelok ke kanan menuju Batu Tulis. Terus menelusuri kawasan Batu Tulis melewati Lawang Gintung, Pamoyanan dengan kontur jalan yang banyak tanjakan/turunan dan kelokan hingga akhirnya sampai di jalan raya Cigombong (LIDO).

Sampai di sebuah SPBU di kawasan Cigombong sudah lepas adzan Dzuhur. Kami semua memutuskan untuk singgah dan ishoma (istirahat, sholat, makan). Setelah ishoma perjalanan kembali dilanjutkan dari Cigombong menuju Cicurug. Kemacetan kami temui di beberapa ruas jalan Cicurug. Banyak truk dan bus, selain itu aspal yang rusak menambah lama waktu perjalanan.

Selepas Cicurug kami masih harus menempuh lagi beberapa ruas jalan yang macet di Parung Kuda. Melewati kawasan pasar semakin jelas tercium kawasan wisata Pelabuhan Ratu dengan banyaknya iringan sepeda motor. Selepas Parung Kuda, kami berbelok ke kanan menuju kawasan Pelabuhan Ratu. Rute jalan di sini meliuk-liuk dan menanjak seperti pegunungan dengan pemandangan pepohonan dan bukit di kanan-kiri jalan.

Menelusuri jalan yang meliuk-meliuk ini membutuhkan kehati-hatian karena ruas jalan yang sempit, banyak kelokan tajam dan harus bisa mengimbangi kendaraan besar yang ada di depan kita. Tetapi suasana perjalanan kami bertambah menyenangkan dengan pemandangan iringan touring pengendara sepeda motor yang mungkin kembali dari kawasan wisata. Mulai dari rombongan sepeda motor batangan, bebek, matic hingga rombongan Vespa tua kami temui kemarin. Sesekali beberapa biker tersebut menunjukan aksi hand signal-nya. Terus terang, aksi-aksi mereka kadang terkesan agak arogan bagi kami di dalam mobil. Tapi saya cukup terkesan dengan cara mereka berpakaian yang menggunakan riding gear lengkap. Nuansa warna jaket mereka yang seragam membuat pemandangan jadi tidak membosankan.

Kira-kira saat adzan Ashar berkumandang kami melewati suatu kawasan pasar ikan. Pemandangan kumpulan perahu dan beberapa penjual sayuran di tepi jalan menjadi objek pemandangan yang sangat khas dan menarik untuk di potret. Sayang beribu sayang, saya tidak membawa si Amstrong andalan saya. Akhirnya kami pun memasuki kawasan pantai. Beberapa lapangan parkir mobil di bibir pantai kami temui di sana. Pemandangan ombak yang bergulung-gulung menjadi penyegar mata dan badan kami yang lelah. Kamipun memilih sebuah lapangan parkir di bibir pantai Karang Hawu.

Selepas Ashar kami semua baru menikmati indahnya pemandangan pantai. Saya pun langsung menyiapkan camera gear saya. Pemandangan perahu-perahu dari atas karang, garis pantai, karang-karang, ombak yang menerjang menjadi surga bagi lensa kamera saya. Tidak terasa waktu semakin lama semakin sore. Karena asyiknya memotret, saya tidak sadar kalau deburan ombak semakin lama semakin tinggi. Jika sebelumnya ombak tidak mencapai karang tempat saya berdiri, ternyata menjelang sore itu mulai dari mata kaki hingga betis, jeans saya basah terjilat ombak yang menerjang. Sadar akan situasi, saya segera berpindah tempat. Alhamdulillah, sedikit pemandangan matahari terbenam di pantai (sunset) sekarang menambah koleksi foto-foto saya.

Karena sudah memasuki waktu Maghrib, kami semua kembali ishoma. Ada tempat yang menarik untuk menikmati pemandangan sambil beristirahat, yaitu di sebuah warung makan tepat di ujung parkir mobil di bibir pantai Karang Hawu. Di tempat ini kami menikmati kopi hangat dan sajian makanan diiringi suara deburan ombak di pantai di bawah kami. Tepat di belakang warung ini ada sebuah jalan menurun yang sudah diplester menuju ke pantai. Di sebelah kiri warung, persis di pinggir jalan, ada setapak undakan menuju mushola.

Saat pulang, saya baru menyadari bahwa teman saya yang mengemudikan mobil ini sedikit ‘gila’. Betapa tidak gila, di jalan yang gelap dan menurun serta banyak kelokan, dengan asyiknya dia ngebut. Motor disalip, truk disalip, bus disalip. Beberapa kali kami yang berada di dalam mobil tersebut ajrut-ajrutan dari atas kursi, terlonjak karena aspal yang tidak rata. Jalan yang berkelok-kelok tidak membuat teman saya itu takut ternyata. Dapat sedikit straight, langsung hajar bleh! Ampun. Hanya kemacetan yang bisa membuat teman saya itu tidak mengebut saat pulang.

Pemandangan di pinggir jalan raya Cicurug menuju Cigombong malam itu diramaikan oleh para biker yang melepas lelah atau beristirahat di pinggir jalan. Banyak dari biker tersebut yang duduk-duduk bersama rombongannya di halaman toko atau warung. Yang menarik adalah rombongan pengendara Vespa tua yang asyik tidur-tiduran, menggelar tikar di bawah atap bangunan, membiarkan Vespanya diparkir di pinggir jalan. Dengan santainya mereka mengamati kendaraan yang terjebak macet di jalan raya. Mungkin bagi sebagian orang pemandangan seperti ini terkesan kumuh, tapi bagi saya hal tersebut sedikit sense of freedom yang ditawarkan saat bersepeda motor. Tidak selamanya touring harus fancy atau luxury. Iya nggak bro… 🙂

Yup, itulah sedikit pengalaman yang bisa saya ceritakan kemarin saat bertamasya ke Pelabuhan Ratu. Sedikit pesan bagi pengendara sepeda motor yang mau touring ke sana: Keep safety riding, hati-hati, tidak perlu ngebut, jangan arogan dan jaga stamina Anda semua.

Pantai Karang Hawu, Pelabuhan Ratu, Sukabumi

Bamboo Bridge

Karang Hawu Beach

The Waves in Karang Hawu Beach

Sunset in Karang Hawu Beach

Solo Riding Ke Curug Nangka (Bagian III: Mendaki Belantara Curug Kaung)

Curug Kaung

Pemandangan Curug Kaung dari kejauhan. Ketinggian Curug Kaung +/- 25 meter.

Perjalanan selanjutnya setelah saya singgah di Curug Nangka kemudian Curug Daun adalah mendaki menuju Curug Kaung yang letaknya jauh diatas Curug Daun. Saya katakan mendaki karena rutenya sebagian besar mendaki. Saat saya berjalan, jarang terlihat orang tua yang menuju kesana. Balita dan anak-anak pun tidak ada. Hal ini dikarenakan rute ke Curug Kaung cukup melelahkan bagi balita, anak-anak atau orang tua lanjut usia. Mereka biasanya cukup singgah sampai di Curug Daun. Maka tidak heran teman seperjalanan saya adalah para remaja atau orang tua yang masih cukup bertenaga untuk menempuh jalur menanjak.

Setelah melompati bebatuan besar di aliran sungai diatas Curug Daun, maka selanjutnya saya menelusuri tepi sungai. Setelah jalan di sisi kanan saya habis karena aliran sungai, maka saya dan wisatawan lain menyeberangi sungai dengan kembali melompat-lompat diatas bebatuan sungai. Rute jalan di sini tertutup dengan dahan dan daun-daun pepohonan. Di sebuah batang pohon saya lihat ada sebuah papan peringatan bahaya banjir.

Curug Kaung

Menyeberangi sungai diatas bebatuan karena tidak ada jembatan membuat perjalanan terasa semakin menyenangkan.

Setelah menyeberangi aliran sungai, rute menanjak pun dimulai. Jalan di sisi kiri awalnya hanya tanah berumput dan bebatuan, tetapi tidak jauh kemudian adalah anak tangga-anak tangga yang tersusun rapi. Pepohonan besar di kiri dan kanan membuat kita terasa seperti berada di hutan belantara. Udara yang lembab saat itu, membuat dedaunan seperti basah. Aliran kecil air sungai diantara bebatuan ditengah-tengah dinding tebing menghiasi panorama belantara pepohonan ini.

Curug Kaung

Menanjak mengikuti anak tangga batu yang berkelok diantara rimbun pepohonan.

Curug Kaung

Aliran kecil air sungai diantara bebatuan ditengah-tengah dinding tebing menghiasi panorama rimbun pepohonan.

Setelah mengikuti jalan menanjak dan berkelok, maka tibalah saya disebuah pos pemantauan. Pos ini berdiri dibagian tertinggi tanjakan yang tadi saya lewati. Tidak ada petugas berpakaian resmi, hanya remaja-remaja yang sepertinya memang sudah terbiasa berada disana. Jalan selanjutnya adalah dataran yang landai sepanjang beberapa meter kemudian jalan menurun yang membawa saya kembali ke aliran sungai.

Curug Kaung

Pos pemantauan.

Curug Kaung

Setelah melewati pos pemantauan, jalan kemudian landai dan menurun.

Kembali memintasi aliran sungai dimana batu-batu berukuran lebih besar terlihat lebih banyak disini, ada sebuah bangunan berdinding bata di sebelah kanan. Didepan bangunan ini jalan menanjak kembali harus saya lalui untuk mencapai Curug Kaung yang gerojogan air terjunnya sudah terlihat di ketinggian. Gemuruh suara air, rimbun pepohonan dan udara sejuk membuat perjalanan semakin menantang rasa penasaran.

Setelah menanjak saya kembali masih harus memintas sungai ke sebelah kiri dengan memijak batu-batu besar di aliran sungai. Saya pun semakin berhati-hati saat melompat dari satu batu ke batu yang lain. Untunglah sudah tidak ada lagi jalan menanjak, rute menurun harus saya lalui dengan amat cermat. Setelah sampai di sisi sebelah kiri, tampaklah di depan saya dinding tebing dan disebelah kanannya adalah putihnya aliran air terjun yang sangat deras yang jatuh dari ketinggian kurang lebih 25 meter. Akhirnya saya tiba di Curug Kaung.

Curug KaungCurug KaungCurug Kaung

Sebelum saya berjalan mendekati aliran air terjun Curug Kaung, saya seperti diterpa hujan deras akibat rintik-rintik air yang meluncur dari ketinggian seperti hujan deras yang berangin kencang. Saya takjub dengan putih dan derasnya air yang menghempas bebatuan dan indahnya lekuk-lekuk bebatuan dan pola-pola bebatuan dinding tebing di balik derasnya aliran air terjun tersebut. Maha Suci Allah.

Jika melihat perbandingan dinding tebing dan aliran air terjun dengan wisatawan, tampak jelaslah betapa tingginya tebing tempat aliran air ini terjun kebawah. Juga betapa kecilnya kita sebagai manusia dibandingkan dengan alam ini. Deru suara air dan cipratan rintik-rintik air menjadikan wisatawan semakin histeris menikmati pemandangan alam dan rela berbasah-basahan dibawah aliran air terjun serta melupakan dinginnya air. Karena memang dingin sejuknya air yang langsung keluar dari mata air pegunungan inilah yang dicari oleh saya dan wisatawan lainnya.

Curug Kaung

Basah-basahan dibawah air terjun Curug Kaung.

Curug Kaung

Aliran air terjun Curug Kaung dari atas tebing menuju ceruk aliran sungai dibawahnya.

Curug Kaung

Perbandingan tinggi wisatawan dengan tinggi air terjun.

Beberapa wisatawan menikmati berbasah-basahan ditengah aliran sungai tepat dibawah air terjun, beberapa lainnya sibuk berfoto-foto bersama rombongan tanpa takut kamera dan handphone mereka tercebur ke sungai, beberapa wisatawan lain juga sibuk berpose sambil membidikan handphone ke arah wajah mereka untuk berfoto diri dengan latar air terjun. Wisatawan lainnya hanya berdiri di kejauhan mengamati indahnya pemandangan air terjun.

Saya pun memberanikan diri untuk berdiri dibawah air terjun untuk mengambil beberapa frame foto. Beruntung jaket yang saya kenakan dapat menahan serbuan rintik-rintik air yang menerpa saya. Sebab kalau basah saya tidak membawa pakaian lain untuk berganti pakaian. Beberapa kali saya harus mengelap kacamata saya karena embun dan rintik-rintik air. Pengalaman yang sangat mengesankan buat saya.

Curug Kaung

Berfoto diri dengan latar air terjun Curug Kaung.

Curug Kaung

Lihatlah indahnya pola-pola dan lekukan dinding tebing dibalik aliran air terjun Curug Kaung.

Curug Kaung

Derasnya air terjun Curug Kaung saat menerpa bebatuan dibawahnya.

Curug Kaung

Pola dinding tebing yang menarik perhatian saya.

Curug Kaung

Rintik-rintik air yang deras menerpa saya saat memotret air terjun ini.

Curug Kaung

Betapa putih dan derasnya aliran air terjun.

Curug Kaung

Bermain air ditengah ceruk dan berpose untuk berfoto diri adalah kegiatan favorit wisatawan.

Curug Kaung

Lihatlah tingginya air terjun Curug Kaung.

Curug Kaung

Beberapa wisatawan menyaksikan dari kejauhan keindahan Curug Kaung.

Setelah puas mengambil beberapa frame foto, saya duduk diatas bebatuan untuk beristirahat sejenak. Kemudian karena hari sepertinya mulai menjelang sore, saya memutuskan untuk kembali ke pelataran parkir. Saat saya lihat handphone ternyata sudah pukul dua siang lewat beberapa menit. Perjalanan menanjak dan menurun serta memintasi sungai kembali saya lakukan.

Saat perjalanan kembali menuju Curug Daun dan Curug Nangka saya berpapasan dengan wisatawan lain yang menanyakan lokasi Curug Kaung. “Masih jauh nggak?” kata seorang wanita. Saya menjawab, “Nggak, sudah deket kok.” Perjalanan dari Curug Daun ke Curug Kaung memang cukup jauh, sekitar satu kilometer. Hal ini membuat wisatawan yang baru pertama kali singgah penasaran. Selain karena air terjunnya tertutup belantara pepohonan sehingga tidak tampak dari lokasi yang jauh. Beberapa wisatawan menenteng sandal dan alas kaki menapaki jalan berbatu menuju Curug Kaung. Beberapa diantara mereka membawa kamera saku/prosumer dan SLR sambil membidikannya kearah teman-teman mereka yang meminta dipotret sambil berpose. Bahkan beberapa remaja ada yang membawa selfie stick dengan handphone diujungnya.

Kembali ke pelataran parkir, saya mengarahkan Si Sepira menuju gerbang keluar. Sebelum saya sampai di gerbang, saya mengembalikan karcis parkir dan membayar uang parkir sebesar lima ribu rupiah. Untuk perjalanan pulang saya memilih rute angkot 03 jurusan Ramayana-Ciapus. Kondisi aspal lumayan mulus dan jalan menurun. Sampai di Pulo Empang saya temui kemacetan hingga tanjakan ke Bogor Trade Mall (BTM). Melewati jalan Ir. H. Juanda saya menuju jalan Sudirman kemudian jalan Pemuda untuk selanjutnya menuju Cilebut dan akhirnya sampailah di tempat tinggal saya di Bojonggede.

***

Tulisan ini adalah tulisan penutup dari dua tulisan sebelumnya.