Gowes ke Curug Nangka Lewat Ciomas

Semakin menanjak jalannya, semakin dekat dan semakin jelas pemandangan air terjun Curug Nangka.

Semakin menanjak jalannya, semakin dekat dan semakin jelas pemandangan air terjun Curug Nangka.

Sabtu pagi yang dingin, 27 Januari 2018, setelah hujan di malam sebelumnya saya memutuskan gowes MTB andalan saya ke Curug Nangka. Jika sebelumnya saya menggowes MTB ke Curug Nangka melalui Pancasan lurus hingga ke Kota Batu, maka kali ini saya akan melewati rute yang sama seperti yang saya lakukan pada akhir 2014 lalu. Yup, saya akan lewat Ciomas.

Tanpa persiapan berarti saya melaju melewati jalan Pemda Karadenan. Jam saat itu menunjukan hampir tiga puluh menit lewat dari pukul enam pagi saat berangkat dari rumah. Sampai di perempatan BORR saya lurus kemudian terhalang lampu merah di perempatan Plaza Jambu Dua (Warung Jambu). Setelah lampu berubah hijau saat berbelok ke Jalan Ahmad Yani kemudian lurus menuju jalan Jenderal Sudirman. Tepat di pertigaan lampu merah sebelum Rumah Sakit Salak saya kembali berbelok ke kanan menuju Jalan Pengadilan kemudian melewati Pasar Anyar dan samping Taman Ade Irma Suryani (Taman Topi).

Singgah sebentar di KCU BCA Taman Topi kemudian saya memutari jalan Kapten Muslihat menuju jalan Paledang. Suasana lalu lintas lumayan sepi hari itu, apalagi di jalan Paledang. Tidak terlihat keramaian angkot menunggu penumpang. Sepi dan lancar. Hanya satu dua angkot dan sepeda motor lewat. Kembali di pertigaan jalan Ir. H. Juanda, saya menuntun sepeda saya melewati trotoar menuju BTM. Sistem Satu Arah, jadi daripada melawan arus lebih baik menepi di trotoar. Hingga tiba di BTM saya kembali gowes menuju kawasan Pulo Empang.

Dari Pulo Empang saya teruskan jalan yang sedikit menanjak menuju pertigaan Pancasan-Ciomas. Sesampainya disana saya tidak lurus, melainkan berbelok ke kanan menuju Ciomas. Jika sobat kurang menyukai tanjakan tanpa ampun di Kota Batu, saya sarankan lewat rute ini. Menyusuri jalan di Ciomas sangat menyenangkan. Jalannya landai dengan banyak pepohonan dan trotoar lebar dan sedikit angkot. Rute ini lebih elok daripada Kota Batu yang membosankan.

Sampailah saya di Pertigaan Kreteg setelah menyusuri jalan raya Ciomas. Saya pun berbelok ke kiri. Beberapa rumah makan dan pangkalan ojek motor menandai Pertigaan Kreteg. Beberapa meter setelah melewati pertigaan terlihat beberapa orang aktivis masjid meminta donasi kepada pengguna jalan yang lewat. Pemandangan Gunung Salak di depan mata menjadi penyemangat perjalanan.

Gowes terus mengikuti jalan. Jangan takut tersesat, beberapa penunjuk jalan menunjukan arah ke Curug Nangka ada di pinggir jalan. Jalan setelah ini adalah kawasan pemukiman padat penduduk. Jalannya tidak selebar jalan utama jalan raya Ciomas. Rumah-rumah, warung dan toko milik penduduk setempat di kanan-kiri jalan.

Hingga tibalah saya di desa Sukamakmur. Jalan raya disini sudah sepi angkot. Di kanan-kiri jalan banyak sawah-sawah dan pepohonan serta bangunan milik warga setempat. Jangan harap ada SPBU, ATM atau mini market. Pola kehidupan disini masih tradisional. Hanya warung-warung milik warga setempat yang dapat dijadikan persinggahan. Satu-dua ABG kadang menggeber skutik mereka mendahului saya. Mangga duluan aja, kang. Seandainya saya naik motor juga bisa ngebut kaya akang. 🙂

Udara sejuk dengan hijau pemandangan sawah-sawah di kejauhan menjadi pembeda rute ini dengan rute Kota Batu. Beberapa anak sekolah berjalan berbarengan dengan saya. Ah ya, tadi saya melewati sebuah SD. Berarti anak-anak kecil ini hendak pulang sepertinya. Beberapa anak lainnya terlihat dari kaca sebuah angkot yang lewat mendahului saya.

Saya memutuskan untuk beristirahat di sebuah warung di pinggir jalan. Ternyata pemilik warung tidak ada. Saya bertanya pada bapak pemilik bengkel di seberang jalan yang kemudian berteriak memanggil anak si pemilik warung. Si pemilik bengkel menyapa saya dengan bahasa Sunda. Aduh, nggak ngerti nih hahaha…. Paham saya tidak memahami maksudnya dia pun menggunakan bahasa sehari-hari.

“Ke Curug Nangka ‘A?” beliau bertanya.

“Iya pak,” saya menjawab.

“Biasanya rame di sini,” beliau mejelaskan.

Saya bertanya, “Gowes sepeda?”

“Iya,” jawabnya lagi.

“Oh, mungkin karena lagi musim hujan aja ya jadi sepi.” Saya menimpali setelah menenggak air dari botol minuman saya.

“Biasanya mah kalo libur atau minggu banyak yang lewat sini,” tambah beliau.

“Oh…”

Saya pun pamit melanjutkan perjalanan. Mulai banyak tanjakan saya rasakan. Sebelum pertigaan jalan saya dapatkan lagi penunuk jalan mengarahkan saya ke Curug Nangka. Arah lainnya menunjukkan arah ke Nambo. Dikejauhan nampak pemandangan petak-petak bangunan di kota Bogor. Jalan terasa berkelok-kelok. Hups… rasa-rasanya dulu akhir 2014 saya lewat sini naik motor tidak terasa sejauh ini deh. Beda banget rasanya gowes sepeda hahaha… 🙂

Rumah-rumah pemukiman penduduk sudah semakin jarang, jarak antara rumah satu dengan rumah berikutnya pun sudah agak jauh. Bangunan-bangunan disini semuanya adalah bangunan permanen dari tembok bata. Sudah tidak ada lagi bangunan kayu selain warung tradisional di pinggir jalan atau bangunan penjual bensin eceran. Beberapa lahan kosong dan terkesan terbengkalai saya temui di perjalanan.

Dari lawan arah terlihat dua orang pesepeda. Dari wajah terlihat masih usia SMA sepertinya. “Mari,om!” sapa mereka. Saya pun membalas, “Mari…” Banyak anak kecil juga terlihat bermain-main di pinggir jalan. Beberapa dari mereka menyapa saya dan melambaikan tangan, “Da-da… Da-da…” Saya tersenyum senang melihat mereka dan membalas, “Daa-daaa…” Masya Allah. Penduduk disini ramah-ramah. Itulah yang saya sukai dengan pola hidup tradisional.

Di penunjuk jalan terlihat arah kiri menuju Curug Nangka. Ah, saya ingat disini setiap belokan ke kiri atau lurus pun pada akhirnya akan menuju Curug Nangka. Saya pun berbelok. Terlihat sebuah madrasah besar berdiri tepat di pinggir jalan. Mungkin setingkat SD atau SMP. Saya lupa namanya, tidak memperhatikan. Puncak Gunung Salak terlihat di kejauhan, menjulang melebihi bangunan-bangunan di kanan jalan. Beberapa anak kecil yang sedang bermain kembali menyapa saya, “Da-da… Da-daaa…” Saya pun kembali membalas sapaan mereka. Subhanallah. Mungkin mereka diajarkan orang tua mereka untuk menyapa setiap pengunjung atau pesepeda karena banyak pesepeda yang sering lewat di desa ini.

Saya terus menelusuri jalan yang semakin menanjak ini. Semakin lama tanjakan terasa semakin tinggi. Menanjak dan terus menanjak. Akhirnya di jalan yang sepi ini terbentanglah pemandangan eksotik nan mengagumkan. Maha Suci Allah… bangunan-bangunan tradisional khas Sunda berlatar belakang Gunung Salak dengan gumpalan awan yang menaunginya, berteras hijaunya hamparan pepohonan dan sawah menjadi pembatas jalur aspal berkelok yang saya lewati. Saya terkejut. Akhir 2014 saya lewat sini sepertinya jalurnya masih off-road deh, masih banyak alang-alang seolah lahan terbengkalai. Sekarang saya lewat sini seolah saya menginjakan kaki di Shire dalam Lord of The Ring atau The Hobbit. Masya Allah.

Saya lanjutkan gowes sambil mengagumi keindahan yang terbentang di hadapan saya. Tidak lama kemudian terlihat sebuah komplek bangunan seperti perumahan dengan pagar besi membatasi jalan dengan lahan. Oh… bukan. Ini bukan komplek perumahan. Rupanya ini Nurul Fikri Boarding School (NFBS) Bogor. Rumah-rumah tradisional yang tadi terlihat di kejauhan juga merupakan bagian dari komplek NFBS Bogor.

Saya teruskan perjalanan mengikuti aspal jalan di NFBS ini. Saya ingat, seperti akhir 2014 dulu, jalan manapun disini harusnya berujung di jalan raya Ciapus.

Jalannya masih menanjak, saya lalui dengan sabar. Namanya juga kaki gunung. Tidak salah saya lewat rute ini. Pemandangannya sungguh mengagumkan. Akhirnya sampailah saya di ujung aspal. Ada warung tradisional di kiri saya. Beberapa pesepeda terlihat menuju warung di sebelah kanan. Oh… tempat itu Saung Pakis namanya. Harap dicatat ya, lain kali kalau kembali dari Curug Nangka dan sudah bosan menuruni aspal jalan raya di Cimanglid dan Kota Batu, bisa berbelok di Saung Pakis dan lewat NFBS Bogor. Pemandangannya wow!

Rombongan pesepeda tadi menggunakan dua sepeda lipat dan satu MTB. Pengendaranya sudah tua juga. Mantab, raga boleh tua tapi semangat tetap muda. Sambil berisitirahat saya perhatikan mereka mendahului saya mengarah ke Curug Nangka. Benarkan. Jalan tadi selalu berujung di jalan raya Ciapus. Saya lanjutkan perjalanan.

Melewati Pura Parahyangan Agung Jagatkarta terus sedikit turunan kemudian menanjak kembali sampai akhirnya bertemu dengan The Highland Park Resort Hotel Bogor (Mongolian Camp). Dari sini saya lanjutkan hingga sampai gerbang Curug Nangka. Ah, sampai juga. Cukuplah sampai gerbang ini saja. Sudah tiga kali saya ke Curug Nangka. Berikut foto-foto Curug Nangka yang pernah saya potret.

Sampai jumpa dalam catatan gowes saya berikutnya ke Katulampa dan Situ Gede. Selamat berakhir pekan. Jangan lupa berolahraga.

Salam hangat dari kota hujan.

Iklan

Gowes ke Curug Nangka Lewat Kota Batu

Curug Kaung

Beberapa wisatawan menyaksikan dari kejauhan keindahan Curug Kaung.

Memanfaatkan cuti dan libur akhir tahun lalu saya bersepeda ke wisata alam Curug Nangka yang berlokasi di desa Sukajadi, kecamatan Tamansari, Ciapus, Bogor. Pukul enam lebih beberapa menit pada pagi 27 Desember 2017, saya bersiap-siap mengayuh sepeda dari rumah. Tak ada persiapan khusus, hanya riding gear lengkap dan sebotol air minum dalam tas dan doa dalam hati tentunya. 🙂

Menelusuri jalan raya Bojonggede, Cilebut hingga Kebon Pedes yang masih cukup sepi saya nikmati hembusan udara pagi yang masih terasa dingin diatas sepeda. Sesampainya di perlintasan kereta api jalan Kebon Pedes ke arah jalan Pemuda, saya memilih berbelok ke kanan lewat Pondok Rumput. Kawasan ini masih sepi, selain beberapa angkot dan sepeda motor yang lewat tidak ada aktivitas yang terlihat di ruko atau toko-toko di pinggir jalan. Tiba di ujung jalan Perwira saya mengarahkan sepeda ke kanan menuju jalan Merdeka.

Dari Merdeka saya menuju Pasar Mawar kemudian berbelok menuju Stasiun Bogor. Karena sistem satu arah sudah diterapkan, saya tidak bisa langsung menuju jalan Paledang dari Stasiun Bogor. Saya menelusuri jalan Kapten Muslihat hingga bertemu U-turn di jalan Ir. Juanda kemudian berputar kembali menuju jalan Paledang. Namun, belum sempat menyeberangi rel KA, ternyata lalu lintas terhenti karena ada rangkaian lokomotif yang melintas di jalur Bogor-Sukabumi. Saya pun menunggu hingga lokomotif tersebut lewat.

Menelusuri Paledang yang lenggang dari lalu lintas terasa sangat menyenangkan. Di jalan yang agak menanjak ketika saya hendak berbelok ke  arah Bogor Trade Mall (BTM) saya melambatkan laju sepeda. Jalan Ir. Juanda ini cuma satu arah, jadi kalau saya mau menuju ke Bogor Trade Mall harus melawan arah. Karena saya tidak mau melanggar aturan dengan melawan arus, maka saya menuntun sepeda saya melewati trotoar di depan perkantoran hingga sampai di BTM. Dari sana saya kembali mengayuh sepeda saya menuju Pulo Empang.

Jalur dari Pulo Empang sedikit menanjak menuju Pancasan. Suasana lalu lintas semakin ramai dan udara mulai panas. Sesampainya di sebuah apotik saya memilih beristirahat dan recharge. Hm… apotik ini letaknya strategis, tepat dipertigaan jalan. Kalau lurus saya menuju Curug Nangka melewati Pancasan dan Kota Batu. Kalau berbelok ke kanan saya tetap bisa ke Curug Nangka melewati Ciomas, seperti tiga tahun lalu. Akhirnya saya memilih lurus menuju Kota Batu.

Jalur ini adalah tanjakan tanpa ampun. Kita tidak akan menemui jalan datar. Beberapa kali saya memutuskan untuk beristirahat. Beberapa kali pula saya berpapasan dengan pesepeda lain. Kring… kring… begitu mereka membunyikan bel sepedanya menyapa saya. Saya pun membalasnya dengan seulas senyuman.

Menanjak, menanjak dan menanjak. Puncak Gunung Salak di kejauhan seolah menjadi penyemangat untuk terus melanjutkan perjalanan. Jangan menyerah. Ingatlah kalau berangkatnya harus bersusah-payah menanjak, nanti saat pulang rasanya seperti meluncur. Seperti beberapa pesepeda yang tadi menyapa. Beberapa penunjuk jalan seolah mengingatkan, “Kamu belum sampai! Ayo teruskan!”

Berbelok di pertigaan Perkemahan Sukamantri mengingatkan saya dengan pengalaman saat sekolah dulu. Kangen sekali saya rasanya, sudah lama sekali tidak menikmati gelapnya kabut dan dinginnya malam-malam di perkemahan Sukamantri, temaram obor dan lampu badai, kemah-kemah dan kedai-kedai berdinding bambu disana. Sejenak kenangan menghantui saya saat masih harus menanjak. Akhirnya saya beristirahat kembali di sisi jalan dimana pemandangan Gunung Salak tepat berada di kelokan jalan.

Seorang pesepeda dari arah berlawanan terlihat meluncur turun dengan asyiknya saat saya beristirahat. “Pagi…,” begitu beliau menyapa saya. Saya balas dengan acungan jempol. 🙂 Curug Nangka merupakan rute gowes favorit, tidak hanya wisatawan lokal, wisatawan asing pun banyak yang mencicipi tantangan jalan menanjak dan indahnya pemandangan disana. Seperti bapak keturunan Tionghoa yang menyapa saya tadi. Kalau sobat pernah berkunjung ke Curug Nangka, mungkin sobat pernah mendengar para pesepeda tersebut bercakap-cakap dalam bahasa asal negaranya diantara rombongan group riding mereka.

Sampailah saya di kecamatan Tamansari, Ciapus. Akhirnya karena persediaan air minum saya sudah habis, saya memutuskan untuk mengisi perbekalan di sebuah mini market di pinggir jalan. Kira-kira lima ratus meter dari sini ada jalan masuk menuju Pura Parahyangan Agung Jagatkarta.

Ampun! Benar-benar tanjakan yang menantang, membuat pesepeda termehek-mehek. 🙂 Setelah melewati jalan masuk ke Pura tadi sebenarnya ada turunan. Tapi tidak seberapa. Setelah itu aspal rusak dan jalan kembali menanjak. Tanjakannya semakin curam dan berkelok-kelok. Tidak ada trotoar, jangan harap. Inikan kaki gunung, siapa juga yang mau jalan-jalan di trotoar heuheuheu… 🙂 Hanya alang-alang atau lahan kosong di kanan-kiri jalan.

Menanjak, menanjak, menanjak… terus menanjak. Hingga sampailah disana. Inilah yang saya tunggu-tunggu sedari tadi. Pertigaan The Highland Park Resort Hotel Bogor! Ah, saya anggap ini garis finish, walau saya masih harus melanjutkan kembali perjalanan kurang lebih satu kilometer menuju gerbang Curug Nangka. Betapa senangnya hati saya. Alhamdulillah, sampai juga akhirnya. 🙂

Dari sana perjalanan masih harus menanjak lagi. Tapi saya lewati dengan sangat senang. Kabut putih dan pemandangan vila di tepi jalan menjadi pengobat lelah. Suasana sepi, tidak terlihat banyak kendaraan wisatawan. Hanya satu-dua sepeda motor dan mobil yang hilir mudik memasuki atau keluar dari gerbang karcis Curug Nangka.

Alhamdulillah, puas rasanya sudah sampai disini. Pemandangan disana bagaimana? Ah, baca saja catatan saya tiga tahun lalu tentang Curug Nangka disini, disini dan disini. Tulisan ini rasanya sudah terlalu panjang. Saya mau menikmati meluncur turun dulu dari Curug Nangka. 😀

Sampai jumpa di catatan saya berikutnya tentang gowes ke Curug Nangka lewat Ciomas. Tapi mungkin sebelumnya saya akan berbagi keindahan Bukit Pelangi dari atas sepeda.

Selamat berakhir pekan, jangan lupa berolahraga. Salam hangat dari kota hujan. 🙂

Solo Riding ke Karang Hawu Pelabuhan Ratu (Lagi)

Panorama Pantai Karang Hawu

Panorama Pantai Karang Hawu, Cisolok, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat

Kuseberangi sungai kecil ke hutan
melintasi gunung ke desa.

Aku melangkah kini seperti kulakukan kemarin
ku teruskan langkah – perjalanan baru.

Sepanjang perjalanan itu
Mindelrae bermekaran, murai berterbangan
gadis-gadis lalu-lalang dan angin mengembang.

Perjalananku senantiasa baru,
hari ini dan esok.

Kuseberangi sungai kecil ke hutan
dan melintasi gunung menuju desa.

(Yoon Dongju, 1917-1945)

Demikianlah untaian puisi berjudul Perjalanan Baru karangan Yoon Dongju, penyair Korea kelahiran Haehwan, Mancuria 30 Desember 1917. Yoon terkenal karena narasi puisinya yang seakan dibawakan oleh seorang anak kecil. Tiga kumpulan tulisan tangan Yoon dan sembilan belas puisinya dipublikasikan pada tahun 1948 dengan judul The Heavens and The Wind and The Stars and Poetry (Haneulgwa Baramgwa Byeolgwa Si). Yoon masuk dalam jajaran penyair pejuang Korea di masa akhir pendudukan Jepang. Sedikit-banyak Perjalanan Baru karangan Yoon menggambarkan perjalanan solo riding yang saya lakukan kemarin Kamis, 21 September 2017 yang bertepatan dengan hari raya 1 Muharram 1439 Hijriah.

Tidak banyak yang bisa diceritakan untuk persiapan perjalanan, karena memang perjalanan hari ini memang perjalanan untuk bersantai. Cuma sebuah tas selempang kecil berisi power bank, dompet dan dua unit ponsel super cerdas tentunya. 😀 Tidak lupa jas hujan two pieces dan sepasang sandal jepit di bagasi bawah jok sang bebek besi. Kira-kira pukul enam sang bebek besi warming-up dan pukul enam lebih sepuluh menit saya berpamitan kepada ortu. Bismillahirahmanirrahim, perjalanan pun dimulai.

Tujuan saya adalah pantai di kawasan Pelabuhan Ratu, Cisolok, Sukabumi. Rute yang akan saya tempuh adalah Batu Tulis, Cigombong, Cicurug, Cibadak, Warung Kiara hingga Citepus dan Cisolok, Pelabuhan Ratu. Dari rumah saya mengarah ke Pemda Cibinong lalu menelusuri jalan Karadenan. Dikarenakan fuel meter hampir menyentuh garis empty, saya sempatkan mengisi BBM hingga penuh di sebuah SPBU. Melanjutkan perjalanan hingga di Kedunghalang Talang jalanan agak tersendat karena jalur sebelah kiri yang mengarah ke jalan KS Tubun sedang dalam pengecoran. Ruas-ruas behel mencuat di sebelah kanan, jalan jadi satu arah bergantian. Sampai di jalan KS Tubun saya mengarah ke Warung Jambu.

Lalu lintas yang menuju jalan Pajajaran sudah mulai ramai pagi hari itu. Hingga di depan SPBU sebuah sport enduro besutan Kawasaki menyalip saya, KLX 250 sepertinya. Benar-benar bergaya adventure, lengkap dengan perkakas di kanan kiri dan ban untuk garuk tanah. Di jok belakangnya saja sepertinya mengangkut carrier, matras dan tenda. Kontras sekali dengan penampilan saya, yang walaupun mengenakan riding gear lengkap tapi cukup membawa sebuah tas selempang kecil. Boots yang biasanya saya pakai saat berkendara saya ganti dengan sneakers. Yah, tujuan perjalanan saya tidak jauh, akan lebih nyaman bergaul dengan warga disana nanti jika saya terlihat seperti warga setempat. Baik plat nopol Bogor atau Sukabumi masih sama-sama F. Jadi, kalau saya bergaya dengan riding gear yang wuah akan terlihat sangat berbeda dengan warga setempat. Oleh karena itu, saya memilih kustom santai.

Sampai di lampu merah Plaza Jambu Dua saya berbelok ke kanan menuju jalan Ahmad Yani. Loh, kalau mau ke Batu Tulis bukannya lebih enak lewat Pajajaran karena sekarang sudah sistem satu arah? Ya, sih. Cuma saya bosan lewat sana, tidak lama sebelumnya untuk suatu keperluan di Cianjur saya sudah melewati jalan tersebut. Saya cuma ingin melepas kangen menikmati De Grote Postweg jalan Ahmad Yani dengan rimbun pohon beringin besar di kanan-kirinya, Taman Air Mancur, melintas di depan museum PETA jalan Jenderal Sudirman hingga sampai depan Istana Bogor berbelok ke kiri melintasi jalan dengan pemandangan lapangan Sempur di kiri dan Kebun Raya Bogor di kanan. Sampai di pertigaan saya berbelok ke kiri menuju jalan Salak arah Taman Kencana. Ketika berbelok dari belakang terdengar suara khas drem drem drem drem… Wah, pasti HD ini. Ketika saya cek spion ternyata benar, sebuah HD Sportster berwarna merah mendahului saya. Apik sekali. Firasat mengatakan saya akan melihat motor-motor besar di jalur menuju Sukabumi. Di perempatan jalan Pajajaran saya berbelok ke kanan menuju Tugu Kujang. Dari Tugu Kujang saya mengarah ke kanan menuju Kebun Raya dan Bogor Trade Mall (BTM). Kalau dulu dari depan Istana menuju BTM bisa praktis cukup menelusuri jalan Ir. Juanda sekarang tidak bisa lagi. Tapi ya tidak apa-apa, lumayan kan cuci mata melihat keindahan kota Bogor yang bernuansa kolonial.

Dari BTM saya menuruni jalan hingga berbelok ke kiri kemudian menanjak lagi menuju Bondongan. Terus melaju lurus ke arah Lawang Gintung melewati satu lagi situs bersejarah, Istana Batu Tulis. Inilah uniknya Kota Bogor. Melintas di kota ini seperti masuk ke dalam film dokumenter atau buku sejarah perdjoengan Indonesia. 🙂 Di pertigaan Lawang Gintung saya memilih jalan berbelok menurun di sebelah kanan menuju satu lagi bangunan tua, stasiun Batu Tulis. Jika Anda melihat kereta jurusan Bogor-Sukabumi sedang melintas, akan sangat menarik sekali memotretnya karena jalur keretanya berada lebih tinggi diatas bangunan lain disekitarnya dengan latar pemandangan runcing atap bangunan Bukit Gumati Cafe yang ikonik berada lebih tinggi lagi daripada rel kereta dan stasiun Batu Tulis tersebut. Sudah beberapa kali saya menikmati keindahan tersebut. Sampai di pertigaan Rancamaya-Sukabumi, saya berbelok ke kanan melintasi jembatan menuju Cipinang Gading, Pamoyanan lalu lurus ke arah Cihideung.

Tanjakan Pamoyanan yang lumayan tinggi cukuplah sebagai pemanasan. Perjalanan dilanjutkan dengan mengikuti jalan lurus. Sesekali jalan berkelok lalu menurun kemudian menanjak cukup tinggi khas perbukitan. Menjelang River Valley indahnya perbukitan di sebelah kanan seakan menggoda pengendara untuk melupakan kendaraan di depannya. Padahal akibatnya bisa berbahaya, karena jalurnya menanjak semakin tinggi dan jika kehilangan fokus maka bisa kehilangan pengendalian kendaraan dan berakibat kecelakaan. Udara yang sejuk dan cenderung dingin menembus jaket yang tebal menambah kenikmatan berkendara di jalur perbukitan dengan aspal yang relatif mulus ini. Sampai di River Valley jurang yang cukup dalam di sebelah kiri mengingatkan saya agar tetap fokus berkendara. Hingga sampai di SPBU 33.167.02 saya memilih untuk mampir sebentar.

Kemudian saya kembali melanjutkan perjalanan melewati Dapoer Warso atau yang lebih dikenal dengan Durian Warso di wilayah Cijeruk ini. Sepanjang perjalanan beberapa baliho kampanye calon bupati kabupaten Bogor terpasang mentereng. Di beberapa ruas jalan aspal rusak sehingga banyak lubang dan berpasir atau kerikil dan di beberapa titik banyak aspal terkikis yang membuat pengendara harus berhati-hati dan memelankan kendaraan.

Memasuki wilayah Cigombong jalan menikung tajam dengan tanjakan dan turunan yang semakin terjal. Lumayan, pemanasan sebelum memasuki wilayah Pelabuhan Ratu. Di salah satu petak sawah sebelah kiri saya lihat seorang petani membajak sawahnya dengan bantuan dua ekor kerbau. Wow! Pemandangan khas buku bahasa Indonesia zaman SD. 😀 Akhirnya saya bersama beberapa pengendara lain melintasi sebuah rel kereta api dan tidak lama kemudian melewati stasiun Cigombong. Dari sana tidak beberapa jauh saya sudah tiba di jalan raya Sukabumi. Berhenti sejenak mengamati lalu lintas di kiri dan kanan kemudian saya memuntir gas dan mengarahkan sang bebek besi ke arah kanan menuju ke Sukabumi. Lalu lintas terlihat lenggang atau sepi, hanya beberapa bus dan truk-truk besar yang dapat saya overtake dengan hati-hati. Lalu lintas belum ramai oleh mobil-mobil pribadi atau sepeda motor lain. Sesekali saya melihat pengendara atau pembonceng sepeda motor menggendong ransel di punggung mereka.

Jalur yang lurus dan lebar serta relatif masih sepi kendaraan membuat perjalanan semakin menyenangkan. Sesekali mendahului truk dan saya pun beberapa kali disalip city car yang melaju kencang saat memasuki wilayah Cicurug. Defensive riding tetap saya pegang, tidak terpancing oleh mobil tersebut. Keramaian saya temui saat melintasi pasar di sepanjang jalan yang melintasi kantor kecamatan Cicurug. Beberapa supir angkutan umum menunggu penumpang dan orang-orang berlalu-lalang dan menyeberang jalan. Ditengah keramaian tersebut saya mendengar dari pengeras suara, “Motor tetap di kiri! Motor tetap di kiri!” Wah, rupanya seorang polisi menunggang Yamaha FJR 1300 bertindak sebagai voorijder mengawal rombongan motor besar HD. Dan rupanya HD Sportster merah yang saya jumpai di jalan Salak Bogor tadi adalah anggota rombongan motor besar ini. Yeah, menyenangkan melihat rombongan kurang lebih enam HD ini. Orang-orang jadi mengarahkan pandangan pada mereka, karena selain motor besarnya, atribut-atribut berlogo HD pada rompi dan jaket merekapun menarik perhatian. Seorang polisi juga ikut mengatur lalu lintas di depan kantor kecamatan Cicurug.

Lepas pasar Cicurug jalanan kembali sepi dan lancar. Memasuki Parung Kuda saya perhatikan jarum fuel meter menunjukan setengah menuju empty. Saya putuskan untuk mengisi kembali BBM hingga penuh di SPBU 34.433.11 Cipanggulaan. Kembali melanjutkan perjalanan melewati Museum Palagan Perjuangan 1945 di jalan raya desa Bojongkokosan. Truk-truk besar menemani perjalanan saya di depan dan belakang. Bus-bus pariwisata, MGI dan bus trayek Pelabuhan Ratu-Bogor berseliweran. Kemacetan kembali saya jumpai saat lewat di depan terminal Cibadak. Daerah ini terkenal macet karena merupakan terminal yang bersambung dengan pasar yang panjang hingga ke perempatan pos polisi Simpang Pelabuhan Ratu. Lepas dari kemacetan saya lanjutkan menyusuri jalan Surya Kencana dan akhirnya berbelok ke kanan di Simpang Pelabuhan Ratu. Melewati Simpang Pelabuhan Ratu jalan relatif sepi dari kendaraan. Alhamdulillah.

Pemandangan hijau pegunungan memanjakan mata di kejauhan saat akan memasuki Warung Kiara. Di salah satu tempat saya jumpai keramaian saat akan memasuki wilayah Warung Kiara. Ternyata penyebabnya adalah warga dan siswa-siswi sekolah yang merayakan hari raya 1 Muharram dengan pawai dan marching band serta delman yang sudah dihias warna-warni. Sehingga ruas sebelah kiri yang saya gunakan juga digunakan oleh kendaraan dari arah berlawanan. Waduh, rata-rata mobil dan kendaraan besar lagi! Ditambah warga setempat yang berkendara tanpa helm memenuhi jalan.

Setelah melewati keramaian pawai, saya kembali menelusuri jalur yang meliuk-liuk di salah satu punggung Gunung Salak ini. Di sebelah kiri pemandangan hijau perbukitan seolah menyampaikan pesan selamat bertualang. Sementara warung rokok atau warung kopi di seberang jalan seperti memanggil untuk mampir sejenak. Saya memelankan sang bebek besi untuk menikmati pemandangan ini dan akhirnya beberapa kali berhenti untuk memotret. Tidak lupa berhati-hati karena dari depan atau belakang sepeda motor atau kendaraan lain selalu melaju kencang di jalur yang agak menanjak ini.

Jalan lurus dengan banyak pepohonan rindang di kiri dan bendera merah putih saya jumpai saat melintas di depan kantor Kodim. Saya sempatkan lagi untuk mengambil beberapa foto. Setelah asyik memotret, kendaraan-kendaraan besar yang tadi terjebak kemacetan saat pawai ternyata sudah datang menyusul saya. Saya putuskan agar mereka lewat lebih dahulu untuk menjaga jarak aman berkendara. Dari arah berlawanan angkot-angkot putih dan bus MGI melaju berpapasan dengan saya. Tidak beberapa jauh setelah Kodim jalan lurus dengan kebun dan pohon-pohon besar di kanan-kiri kembali berhasil mengajak saya untuk menghentikan sang bebek besi sejenak.

Kembali menyusuri jalan yang semakin berkelok seperti ulir dengan tetap menjaga jarak aman dengan kendaraan besar. Sebuah HD diiringi dua ER6N menyalip saya dan mobil depan saya di sebuah tanjakan menikung dengan kecepatan tinggi. Beberapa muda-mudi terlihat berkendara menuju rute yang sama dengan saya, lalu lintas sudah mulai ramai dengan sepeda motor. Matahari semakin bersinar terang dan udara sudah terasa panas saat memasuki kawasan Pelabuhan Ratu. Perbukitan di kejauhan terlihat semakin jelas, pepohonan besar di kanan-kiri jalan sudah mulai berkurang, digantikan bangunan-bangunan permanen pemukiman warga setempat, toko-toko atau warung dan mushola/masjid. Marka jalan sepertinya baru dicat, terlihat masih tebal dan kinclong. Akhirnya disebuah warung pinggir jalan saya putuskan lagi untuk berhenti. Lihat jam di ponsel sudah menunjukan pukul 10:06. Kembali mengambil beberapa foto kemudian melanjutkan perjalanan. Di sebuah pertigaan jalan saya lanjutkan lurus, karena kalau berbelok ke kiri sampainya ke Ujung Genteng, bukan Pelabuhan Ratu. 😀

Sampai di sebuah lampu merah perempatan jalan saya berbelok ke kiri menuju pasar ikan Pelabuhan Ratu. Belok kiri langsung, begitu pesan di rambu lalu lintas. Jalannya terlihat lebar, bersih dan indah. Di kanan-kiri jalan adalah perkantoran dengan trotoar yang cukup lebar. Memasuki pasar ikan bau anyir (amis) menyergap penciuman saya. Tapi hei, kemana perahu-perahu nelayan yang biasanya menjadi pemandangan menarik di kanan-kiri jalan kawasan ini? Ternyata lokasi pasar ikan dipindahkan untuk sementara waktu. Demikian bunyi pesan disebuah spanduk lebar yang dibentangkan di pinggir jalan. Padahal perahu-perahu tersebut akan menjadi objek foto yang menarik sekali. Tidak seperti dua tahun lalu saat saya ke sini. Tapi ya sudahlah.

Melewati pasar ikan jalan sedikit menanjak dengan rimbun pepohonan kembali menyambut kedatangan saya. Tidak lama kemudian saya tengok ke sebelah kiri terlihatlah keelokan pemandangan Pantai Laut Selatan. Akhirnya, sampailah saya di Pelabuhan Ratu. Perjalanan masih saya lanjutkan kembali karena bukan pantai disini tempat tujuan saya. Setelah rimbun pepohonan, eloknya persawahan dengan padi yang masih hijau menghiasi jalan. Sawah di kanan, laut di kiri, Subhanallah. Grand Inna Samudra Beach dengan latar deru ombak yang bergulung-gulung sangat menggoda ketika menyusuri suatu tanjakan di sebelah kiri. Next time, baby. Heuheuheu… 😀

Aspal yang lumayan mulus dilewati oleh berbagai kendaraan. Umumnya sepeda motor, angkot dan mobil Colt/mini bus khas Pelabuhan Ratu dengan muatan yang bisa dikatakan overload hingga ke atap mobil. 😀 Sesekali berpapasan dengan pick-up yang mengangkut hasil pertanian. Di beberapa titik kawasan pantai, sawah-sawah menghijau menghiasi bibir pantai dengan beberapa petani yang sedang menggarap sawah. Jauh di sebelah kanan saya perbukitan hijau melengkapi latar pemandangan sawah. Saya pun menghentikan sang bebek besi di sebuah pelataran yang sepertinya memang disediakan untuk menikmati eloknya pemandangan sawah disana.

Kurang lebih 3 KM lagi saya mencapai pantai Karang Hawu. Demikian bunyi sebuah petunjuk jalan ketika saya melewati kawasan Citepus. Fuel meter belum menyentuh tanda setengah, masih aman. Toh, BBM eceran dalam botol banyak dijual di pinggir jalan. SPBU pun masih saya jumpai. Ketika sampai di hamparan luas jalan raya di pinggir Karang Hawu, saya jumpai pelataran parkirnya masih sepi. Hanya terlihat tiga-empat mobil dan satu-dua sepeda motor. Beberapa wisatawan terlihat sedang asyik menikmati pemandangan dan hembusan angin di pantai ini.

Saya memelankan laju sang bebek besi sambil mencari kawasan yang enak untuk parkir di bibir pantai. Melewati Karang Hawu ternyata tidak ada tempat yang diharapkan. Akhirnya saya putuskan untuk kembali ke Karang Hawu dan memarkirkan sang bebek besi di sana. Alhamdulillah, sampai juga. Biasanya pelataran parkir ini ramai dengan kendaraan dan wisatawan, siang atau malam. Tapi saya beruntung karena sampai disini pada hari libur yang tepat ketika banyak wisatawan belum tiba. Sudah kuduga hahaha… 😀 Seandainya saya pergi keesokan hari, pada hari Jum’at atau Sabtu, pasti suasananya ramai sekali disini. Jam menunjukan sekitar pukul sepuluh lebih tiga puluh menit.

Saya parkiran sang bebek besi, melepas helm dan sapu tangan slayer yang saya gunakan sebagai masker. Duduk sebentar, bersyukur karena bisa sampai di tujuan dan mengagumi keindahan pantai. Deru ombak dikejauhan terdengar menyapa telinga saya yang sejak perjalanan hanya mendengarkan deru mesin kendaraan dan suara polygonal muffler sang bebek besi yang khas. Bulir-bulir putih ombak dan percikan air yang menghantam karang serta laut biru kehijauan dibawah terik mentari Cisolok menjadi pengobat lelah berkendara. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah dan membelai rambut. Maha Suci Allah.

Sebutir kelapa muda pun menjadi pelepas dahaga setelah kurang lebih empat jam berkendara. Masya Allah, sungguh segar. Beberapa ekor burung melesat beterbangan dari satu dahan pohon ke dahan pohon lain yang tinggi diatas jalan raya pantai Karang Hawu. Dari tempat saya duduk terlihat banyak wisatawan tengah mencumbui pasir dan ombak di kejauhan. Ada yang berkejar-kejaran, berswafoto dipinggir pantai atau diatas batu karang besar. Ada juga yang sedang menikmati hidangan jajanan bersama saya di dekat pelataran parkir.

Beberapa juru foto keliling terlihat berjalan-jalan menawarkan jasa pemotretan. Kasihan, saat ini kamera pada ponsel sedikit-banyak mengubah cara orang-orang berlibur dan mengabadikan momen liburan. Teknologi memang mengubah banyak hal. Padahal jasa pemotretan tidak seberapa. Seorang juru foto keliling pun sempat menawarkan jasanya.

Sambil masih menikmati segarnya air dan manisnya buah kelapa muda, sebuah rombongan roda empat tiba di dekat saya. Seorang ibu dan beberapa orang anaknya mungkin, memesan sepiring rujak tumbuk yang dipikul oleh seorang pedagang. Ya, seperti inilah suasananya. Banyak wisatawan datang untuk menikmati keindahan pantai atau demi kenikmatan berkendara atau tujuan lain. Tidak harus bermegah-megahan, walau sebenarnya mereka atau saya bisa saja bermegah-megahan kalau mau. Justru sebaliknya, mereka dan saya ingin menikmati kemewahan yang diberikan oleh Allah SWT melalui alam ciptaannya yang tidak kami miliki. Menyadari bahwa sebetulnya kita seperti buih atau pasir di pantai ini, akan mudah tersaput atau terhempas jika Allah menghendaki.

Seorang Penjual Rujak di Pantai Karang Hawu

Ingatlah bapak penjual rujak ini jika suatu saat kamu menginginkan sepeda motor dengan mesin yang lebih besar dan tenaga yang lebih kencang. Bapak ini mungkin sedang kepanasan atau kehujanan saat menjajakan rujaknya di pinggir pantai Karang Hawu.

Selesai melayani pembeli bapak penjual rujak tersebut membuka bungkusan plastik kresek. Ternyata bekal makan siangnya. Sambil tersenyum bapak tersebut menawari saya makan dengan setengah memaksa. “Silahkan, pak. Mangga. Ini saya juga lagi makan.” Ramah. Inilah tipikal warga Jawa Barat. Obrolan pun berlanjut, “Dari mana, den?” Saya jawab, “Bogor, pak.” Sambil menyendok daging buah kelapa, saya mengobrol santai dengan bapak ini. Selesai makan saya membayar tukang kelapa dan permisi sebentar kepada bapak penjual rujak tersebut. “Punten, pak. Mau turun.” Dia membalas, “Mangga, den.”

Saya membuka bagasi motor dan mengeluarkan sandal jepit, memasukan sneakers ke dalam plastik, melepas sarung tangan dan jaket lalu mengunci kembali bagasi. Ada tangga untuk turun ke pantai beberapa meter dari tempat kami duduk tadi. Saya pun mulai menjejaki pasir-pasir pantai dan memotret keindahan panorama pantai Karang Hawu ini. Sesekali bercanda dengan ombak yang membasahi kaki saya. Batu karang disini membedakan pantai ini dengan bibir pantai lain yang sebelumnya sudah dilewati. Disebut Karang Hawu karena batu karangnya menjorok ke laut dan berlubang di beberapa tempat, sehingga menyerupai hawu (tungku).

Saat asyik memotret terdengar suara adzan Dzuhur berkumandang. Oke, saya kembali ke atas. Agak repot juga kalau mau segera sholat karena letak mushola lumayan jauh dari tempat parkir. Plus, ujung celana saya masih basah tersiram ombak. Saya putuskan untuk menunggu adzan berkumandang sambil beristirahat dahulu. Setelah istirahat saya masih sempat mengambil beberapa foto lagi. Pantai seakan surga untuk para pecinta fotografi. Memanjakan mata dan kamera. 🙂

Kira-kira pukul satu lebih beberapa menit saya putuskan untuk kembali. Pulang, capcus. Pamit kepada bapak penjual rujak yang tadi menemani makan. Bapak yang tampaknya miskin tetapi hatinya kaya. Lalu saya menuju ke tempat sang bebek besi diparkirkan. Kenakan kembali sepatu, jaket dan sarung tangan. Sebelum pulang tidak lupa memberi tips pada salah satu penjaja jajanan disana yang menjaga sang bebek besi. Mengobrol sebentar, si tukang parkir coba-coba menebar racun. Mencoba menawarkan batu, dari yang sebesar kelapa sampai sebesar kerikil dan menawarkan bertemu emak atau nyai anu. Teuinglah… mau mak lampir kek, nyai dasimah kek, saya mah menolak percaya yang begituan. 😀 Hadeuh… aya-aya wae si akang. 😀

Harap diingat, menurut nasihat orang tua dan orang-orang yang sering bepergian ke sini, banyak wisatawan datang ke pantai ini dengan niat yang tidak lurus dan bisa mengotori akidah. Pelabuhan Ratu selain terkenal dengan panorama laut dan pantainya yang indah, juga terkenal sebagai daerah tempat orang mencari pesugihan. Jangan sampai Anda tertipu oleh muslihat orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dari diri Anda dengan iming-iming jabatan/pangkat, harta atau yang lainnya. Tidak hanya uang, kalau Anda dikelabui bisa-bisa Anda harus pulang berjalan kaki sampai rumah. Hati-hati. Kita mohon perlindungan kepada Allah dari perbuatan syirik dan kejahatan jin dan manusia.

Sampai di SPBU 31.433.01, SPBU terdekat dengan pantai Karang Hawu, saya memutuskan mampir sebentar untuk bersih-bersih, berwudhu dan sholat Dzuhur. Tempatnya luas, bersih dan indah. Begitu juga fasilitas toiletnya. Mushola dibagi dua, kanan mushola wanita, kiri mushola pria. Selesai sholat, saya kembali mengisi tangki BBM sampai penuh, karena jarum fuel meter sudah menunjukan setengah sebelum kosong (empty).

Perjalanan pulang terasa lebih ramai dari pada perjalanan saat datang pagi tadi. Jumlah sepeda motor terasa sedikit sekali dibandingkan dengan roda empat. Beberapa truk mengangkut batu-batu kali besar di jalan yang menanjak ini. Supir-supir truk ini berjalan lambat, tapi mobil-mobil pribadi lah yang memaksa untuk melaju kencang di jalur ini. Sebuah truk pengangkut batu berjalan tersendat saat mendaki tanjakan, menyisakan kepulan asap hitam dan debu jalan. Hal ini membuat saya merasa bersyukur sudah mau repot-repot mengenakan slayer untuk masker dan jaket tebal.

Jika pada perjalan berangkat tadi bisa sedikit santai karena cukup aman dimana tebing tepat disebelah kiri dan jurang jauh di kanan, maka sekarang sebaliknya. Perjalanan pulang keluar dari Citepus harus ekstra konsentrasi karena jurang menganga tepat disebelah kiri. Ditambah pengendara mobil-mobil pribadi yang cenderung melesat kencang. Jangan sampai lengah atau gagal fokus berkendara. Akibatnya bisa celaka. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Singkat cerita saya sampai kembali di jalan Surya Kencana dan melaju ke arah terminal Cibadak. Jika pada pagi hari tadi angkot-angkot ungu belum terlihat banyak, sekarang mereka sudah menampakan dominasinya. Beberapa Colt atau Elf trayek Bogor-Sukabumi yang biasanya ‘mangkal’ di sekitar jalan Pajajaran Baranang Siang pun mulai terlihat mengarah ke Bogor. Perjalanan pulang di jalan raya Sukabumi sore hari itu sangat ramai dan di beberapa titik terjadi kemacetan. Penyebabnya adalah truk-truk besar yang keluar atau masuk pabrik disekitar situ. Sampai melewati terminal Cibadak saya melihat rombongan dua Yamaha XMax 250 dan sebuah R25 beriringan. Menyelip diantara kendaraan lain. Salah satu XMax eye-catching sekali karena berwarna kuning. Pengendaranya terlihat mengenakan headphone di helm sebagai radio komunikasi antar pengendara. Motor-motor besar seperti ini menjadi hiburan dikala kemacetan. Senang melihat biker-biker tulen seperti mereka.

Sampai di Parung Kuda saya memutuskan untuk singgah di masjid Nurul Anda. Lagi-lagi ishoma. 😀 Semenjak melintas di Warung Kiara tadi sudah terdengar adzan Ashar. Tapi karena saya keasyikan memuntir gas akhirnya bablas ketika melewati sebuah masjid besar. Akhirnya saya pilih masjid Nurul Anda, pas karena letaknya disebelah kiri dan kondisi lalu lintas tidak terlalu ramai dan plang nama masjidnya terlihat di kejauhan ditambah tulisan retoris: Sudahkah Anda Sholat? Heuheuheu… 😀

Selesai ishoma saya lanjutkan kembali perjalanan. Hingga menjelang kawasan LIDO iring-iringan XMax dan R25 yang tadi saya lihat di dekat terminal Cibadak terlihat menepi, mungkin masih menunggu rekan mereka yang tertinggal. Akhirnya saya berbelok ke kiri kembali menuju stasiun Cigombong untuk menuju Batu Tulis, Bogor. Jalan Cijeruk menuju Batu Tulis saat itu ramai oleh kendaraan roda dua dan roda empat, tidak seperti saat berangkat pagi tadi.

Sampai di Batu Tulis ternyata terjadi kemacetan hingga di perempatan lampu merah Pulo Empang. Wajarlah, Bogor memang selalu macet saat akhir pekan. Mobil-mobil plat B pun terlihat mengisi ruas-ruas jalan. Akhirnya saya berhasil menerobos kemacetan tersebut lalu berbelok ke kanan, menanjak ke arah BTM kemudian berbelok ke kiri ke arah jalan Ir. Juanda lalu ke jalan Jenderal Sudirman untuk selanjutnya kembali  ke rumah melewati Cilebut. Ternyata dari dulu sampai sekarang Cilebut belum berubah, masih banyak jurang menganga dan tanah longsor, jalan jadi sempit. Hahaha… 😀

Alhamdulillah, sampai di rumah ba’da Maghrib. Selamat sampai di tujuan. Perjalanan pulang pergi sekitar 232 km. Perjalanan yang hanya selemparan bola basket ini cukup berkesan dan memberikan sensasi berkendara yang selama ini saya rindukan. Semoga tulisan panjang lebar ini bermanfaat. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Selamat berakhir pekan, salam hangat dari kota hujan.

Infografis: Persiapan Sebelum Mudik Lebaran

Infografis Persiapan Mudik Lebaran

Infografis Persiapan Mudik Lebaran

Berikut ini adalah beberapa persiapan yang sebaiknya dilakukan sebelum melakukan perjalanan mudik lebaran pada tahun 2017.

  1. Pastikan semua pintu rumah dalam keadaan terkunci.
  2. Pastikan semua keran air/PAM dalam keadaan tertutup dan tidak bocor.
  3. Pastikan semua stop kontak tidak terhubung dengan sumber arus listrik.
  4. Pastikan tabung gas tidak bocor dan cabut selang serta regulatornya.
  5. Pastikan semua kendaraan yang ditinggalkan dikunci ganda.
  6. Koordinasi dengan RT/RW di lingkungan Anda.

Yang terakhir: Sebelum pulang ke kampung halaman pastikan halamannya halaman berapa. 😆

Jalan-jalan ke Situ Babakan

Situ Babakan

Situ Babakan, Kecamatan Jagakarsa, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan

Bagaimana kira-kira caranya mengisi liburan atau akhir pekan di Jakarta tanpa harus pergi ke mall, nonton film baik di bioskop ataupun on-line, atau main games di komputer/gadget? Jawabannya adalah pergi jalan-jalan ke tempat wisata alam. Loh, memangnya ada wisata alam di Jakarta? Jelas ada! Situ Babakan di Srengseng Sawah, kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan misalnya. Selain wisata alam di Situ Babakan sobat bisa melihat budaya asli Jakarta, budaya Betawi.

Untuk mencapai Situ Babakan cukup mudah. Jika kita berasal dari Bogor atau Depok cukup ikuti jalan raya Margonda hingga menjumpai pertigaan jalan sebelum JPO stasiun Lenteng Agung. Dari pertigaan tersebut kita berbelok ke kiri di jalan Mohammad Kafi II. Cukup ikuti arah yang ada di papan penunjuk jalan di sepanjang jalan tersebut untuk mencapai Situ Babakan.

Situ Babakan

Ada apa saja di Situ Babakan? Selain pemandangan alam danau atau situ, di sini kita bisa jumpai kekhasan budaya Betawi, misalnya bangunan, pakaian adat dan makanan/minuman. Pemandangan indahnya bisa dinikmati sambil menyantap jajanan-jajanan yang dijajakan oleh para pedagang di sekeliling situ atau pedagang kaki lima yang kebetulan mampir di dekat tempat kita duduk di kursi-kursi atau lesehan di tempat yang disediakan.

Jangan takut dompet terkuras karenan jajanan yang dijajakan di sini tidak semahal kalau sobat pergi ke Plaza Indonesia, Kota Casablanca atau PIM. Heuheuheu… 😀 Yup, pedagang disini berdagang untuk mencari nafkah, bukan untuk membangun real estate, mall, atau kawasan perkantoran elite. Jadi, jangan sungkan-sungkan merogoh kocek sobat.

Baiklah, daripada saya berpanjang lebar bercerita seperti apa Situ Babakan apalagi sampai ngobrol ngalor-ngidul tidak karu-karuan, lebih baik sobat lihat foto-foto berikut ini. Jangan salahkan saya kalau sobat jadi penasaran dan ingin berkunjung sendiri ke Situ Babakan ini. 😀

Selamat Datang di Situ Babakan

Selamat Datang di Situ Babakan

Lahan parkir di Situ Babakan

Lahan parkir di Situ Babakan

Kerak telor makanan khas Betawi

Kerak telor makanan khas Betawi

Salah satu kios dagangan di Situ Babakan

Salah satu kios dagangan di Situ Babakan

Pedagang kaki lima di Situ Babakan

Pedagang kaki lima di Situ Babakan. “Bang, senyum bang!” 😀

Jalan di Pinggir Situ Babakan

Pemandangan jalan di sepanjang Situ Babakan

Wisata Air Situ Babakan

Ajak anak-anak atau keluarga sobat untuk menikmati pemandangan Situ Babakan dengan perahu-perahu yang disediakan.

Menara Masjid Terlihat Dari Seberang Situ Babakan

Pemandangan menara masjid di kejauhan yang terlihat dari salah satu sudut di seberang Situ Babakan.

Wisatawan Menikmati Hidangan di Tepi Situ Babakan

Menikmati jajanan kuliner di bawah pohon rindang di tepi Situ Babakan bersama teman, keluarga atau handai taulan.

Wisatawan di Situ Babakan

Masih menikmati kuliner di sepanjang tepi Situ Babakan. Tapi kenapa adik yang satu itu sepertinya tertidur ya, heuheuheu… 😀

Pedagang Keliling di Situ Babakan

Pedagang keliling menawarkan dagangannya pada seorang wisatawan.

Jalan di Pinggir Situ Babakan

Seperti inilah jalan di sekeliling Situ Babakan. Cukup lebar untuk dilewati dua mobil dengan kios-kios di sepanjang pinggir jalan dan meja-meja dan kursi berpeneduh di pinggir situ.
Bir Pletok

Jangan lupa dengan bir pletok, minuman khas Betawi.

Semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.

Gelar Seni Budaya di Situs Megalitikum Gunung Padang

Sesuai janji di tulisan saya sebelumnya, dalam post kali ini saya tampilkan beberapa foto pagelaran seni budaya yang saya potret hari Kamis, 06 Mei 2016 kemarin. Pagelaran seni budaya Sunda di situs Gunung Padang ini dibawakan oleh civitas MAN 1 Cianjur. Dua tempat yang digunakan adalah halaman masuk ke situs dan teras paling atas Gunung Padang.

Di teras paling atas terlihat beberapa alat musik tradisional gamelan seperti gong, degung dan gendang. Beberapa pengeras suara (salon speaker) juga terlihat di teras yang dijadikan sebagai arena teater. Pengunjung menonton di sekeliling arena teater atau di saung yang ada di pinggir arena. Ada yang sibuk merekam pagelaran seni tersebut dengan ponsel pintar, ada yang asyik menonton sambil tertawa dan berkomentar dan ada juga yang repot berfoto diri dengan latar adegan seni budaya tersebut. Pengunjung lain dari dataran yang agak tinggi di atas arena mengatur kamera di tripod mereka untuk mengabadikan pagelaran seni budaya tersebut.

Macam-macam kostum yang digunakan oleh pelaku pementasan seni budaya ini. Ada yang menggunakan pakaian adat Sunda, pakaian modern, kostum ayam jago, dan selendang tari yang digunakan para penari. Pria rata-rata menggunakan kostum adat pria Sunda, yaitu celana panjang dan kemeja hitam, kaos dalaman berwarna putih serta ikat kepala bercorak batik. Siswi lain yang mungkin berperan sebagai petugas di belakang layar rata-rata mengenakan blus putih dan jilbab hitam. Para penonton yang mungkin juga berasal dari sekolah yang sama mengenakan kain batik, kebaya hijau dan jilbab putih. Banyak juga anak kecil yang ikut menyaksikan. Di sisi gamelan terlihat pria-pria berbusana Sunda dan ada yang bergamis serta bersorban. Mewakili norma yang erat pada masyarakat Sunda yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam dan budaya warisan leluhur.

Menyesal karena sepertinya saya datang agak terlambat sehingga tertinggal beberapa pementasan seni di awal acara. Dua pertunjukan yang sempat saya nikmati adalah pementasan tari dan teater. Padahal sepertinya juga ada pementasan pencak silat. Terlihat dari beberapa pria dan anak-anak yang berpakaian hitam-hitam dengan atribut perguruan pencak silat.

Menarik juga melihat ekspresi wajah orang-orang di sana. Guratan wajah, gesture dan ekspresi orang-orang yang dibalut pakaian adat sangat menarik untuk dijadikan objek foto. Saya pun berusaha mengabadikan mereka dalam foto-foto saya.

Senang rasanya bisa menikmati kekayaan budaya. Hal-hal yang indah seperti ini cuma ada pada masyarakat yang beragama dan berbudaya. Yuk, kita jaga nilai-nilai luhur agama dan warisan adi luhung nenek moyang agar masyarakat Indonesia tetap menjadi bangsa yang berbudaya luhur.

Salam hangat dari kota hujan.

Berlibur ke Situs Megalitikum Gunung Padang

Tiiin… Tiiin… Suara klakson sepeda motor terdengar saat saya melintasi Jalan KS Tubun dari Kedunghalang melintasi perempatan lampu merah Bogor Outer Ring Road ke arah Jalan Pajajaran. Tanpa mempedulikan saya terus menarik gas menuju SPBU yang letaknya ada di sebelah kiri sebelum perempatan lampu merah Plaza Jambu Dua. Tiba-tiba terdengar lagi suara klakson dan suara orang di belakang saya, “Mau sendirian ke Gunung Padang, mas Peb?”

Wah, saya baru ingat kalau saya memang janji bertemu di SPBU untuk sama-sama bersepeda motor ke situs Gunung Padang di Cianjur. Tapi tanpa disangka ternyata rekan saya ini malah mencegat saya di lampu merah Jalan KS Tubun. Sontak saya menjawab, “Kita ke SPBU dulu, De.”

Kemarin, 06 Mei 2016 memanfaatkan momen liburan saya sempatkan berwisata bersama Kang Ade. Berhubung rekan saya ini memang warga Cianjur dan sudah beberapa kali ke Gunung Padang untuk memotret. Selesai mengisi bensin di SPBU kami langsung tancap gas menyusuri Jalan Pajajaran menuju Ciawi. Sepanjang jalan terlihat banyak rombongan sepeda motor yang mungkin juga ingin menghabiskan liburan di kawasan Puncak. Melewati Ekalokasari menuju Tajur terjadi kemacetan di beberapa ruas jalan. Setelah melewati pasar Ciawi kami sempatkan berhenti sebentar di sebuah kedai lontong sayur tidak jauh dari kantor  Polsek Ciawi untuk sarapan.

Melanjutkan perjalanan, kawasan Puncak pagi hari itu diberlakukan jalur satu arah naik saja. Di beberapa ruas jalan kami harus bersabar karena macet, atau berjalan di pinggir trotoar karena padatnya jalan oleh roda empat. Sejuknya udara dan indahnya pemandangan menjadi penawar kepenatan berkendara bagi saya. Di beberapa ruas jalan yang menurun tapi tidak macet juga memberikan kenikmatan berkendara bagi saya.

Kemacetan tidak lagi saya temui setelah melewati Rindu Alam memasuki wilayah Ciloto. Jalannya pun sepi dan menurun. Walau banyak tikungan, saya tidak segan-segan menarik gas agak dalam dan baru mengurangi kecepatan ketika terlihat akan memasuki tikungan. Kemacetan baru kami jumpai lagi setelah melewati Istana Cipanas melewati pasar Cipanas, setelah itu kami terus tancap gas menuju kota Cianjur.

Setibanya di perempatan tugu kota Cianjur kami berbelok ke kanan melewati jalan KH. Abdullah bin Nuh. Bus dan truk menemani kami sepanjang jalan ini. Di jalan ini kami lurus saja sebelum berbelok ke kiri di pertigaan jalan Cianjur-Gunung Pandang. Jalan ini sepi dan sempit, cuma cukup untuk dilewati sebuah roda empat satu arah. Di beberapa titik jalannya hancur menyisakan kerikil dan pasir sehingga kami harus berhati-hati jika ingin tancap gas. Saya cukup heran dengan rekan saya, di jalan yang sempit, banyak tikungan dan hancur aspalnya, berani sekali dia memacu kencang-kencang matiknya. Saya sendiri beberapa kali harus menurunkan kaki, menghindari agar tidak tergelincir karena pasir dan kerikil di aspal yang rusak. Di wilayah ini kami melewati perlintasan rel kereta api yang menuju ke stasiun KA Lampegan.

Semakin ke atas medannya semakin terjal dan rusak aspalnya. Malah di dua titik kami temui jalan yang masih berupa tumpukan batu belum diaspal. Semakin ke atas saya semakin khawatir jika kehabisan bensin walau waktu melewati jalan KH. Abdullah bin Nuh tadi kami sempat mengisi tangki BBM kendaraan kami. Di sebuah tikungan, rekan saya itu berhenti untuk menunggu saya yang berjalan sangat santai. Saya pun berhenti dulu untuk beristirahat sambil melihat-lihat pemandangan. Teman saya itu menunjuk-nunjukan jarinya, memberitahu posisi situs Gunung Padang. Ternyata masih harus menanjak lagi ke atas.Wow! Dalam hati saya berdoa agar BBM dalam tangki cukup untuk kembali turun nanti dan sampai di SPBU terdekat. Karena di sini jarang ada rumah dan penjual bensin eceran jarang terlihat.

Akhirnya kami sampai di depan sebuah sekolah dasar. Jalan yang hendak kami lewati sudah dipalang agar tidak dilewati oleh masyarakat sekitar dan petunjuk parkir saya lihat mengarah ke halaman sekolah tersebut. Dengan aksen Sunda yang kental, rekan saya menanyakan ada apa. Ternyata di situs Gunung Padang sedang ada pagelaran seni budaya. Jadi, halaman parkirnya tidak bisa digunakan untuk kendaraan. Kami memasuki halaman sekolah tersebut untuk memarkirkan sepeda motor kami. Karcis parkir berstempel desa Karyamukti kami bayar dengan harga tiga ribu rupiah.

Kami pun harus berjalan menuju ke pintu masuk situs megalitikum Gunung Padang. Teman saya bercerita bahwa dulu jalan ke halaman situs ini belum diaspal seperti sekarang. Dulu pengendara sepeda motor harus membayar orang yang membantu mendorong sepeda motornya untuk naik karena jalannya masih berupa batu-batu dan terjal. Jarak jalannya ternyata tidak jauh, kira-kira seratus meter dari tempat kami parkir. Di pinggir jalan kami temui rumah-rumah warga setempat yang dijadikan rumah makan dan warung.

Sesampainya di halaman masuk, kami lihat sebuah panggung dan deretan kursi kosong sudah disiapkan untuk acara pagelaran seni yang dimaksud. “Wah, kebetulan dong!” ujar saya kepada rekan saya yang seorang fotografer profesional. “Iya, mas Peb. Lumayan, human interest.” Kami lihat sebuah jam besar di halaman menunjukan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. Wah, lama juga perjalanan kami. Dari rumah saya berangkat kira-kira jam enam kurang lima belas menit. Berarti lama perjalanan kira-kira empat jam lebih. Kami kemudian bersiap dan merapikan diri di sebuah mushola. Dua orang wanita cantik berkebaya menyambut kami layaknya pagar ayu. Kami diwajibkan mengisi buku tamu sebelum masuk ke situs Gunung Padang.

Menurut informasi yang saya dapatkan, situs Gunung Padang lebih tua daripada Piramida Giza di Mesir. Konon Gunung Padang digunakan sebagai tempat pertemuan ketua-ketua adat Sunda Kuno. Sejatinya, Gunung Padang bukanlah sebuah gunung. Tapi bangunan berbentuk punden berundak-undak (terasering) yang dibangun secara bergotong-royong. Menakjubkan! Bayangkan, betapa hebatnya masyarakat zaman dahulu kala membuat bangunan-bangunan dari batu besar (megalitikum = zaman batu besar) di lokasi yang terjal hingga setinggi gunung.

Dari halaman kami harus mendaki tangga dari batu-batu alam yang berbentuk balok. Tingginya berapa meter? Tinggi banget deh pokoknya! 😀 Bukan cuma tinggi, tapi juga terjal. Luar biasa ya, bisa-bisanya batu-batu sebesar ini disusun membentuk tangga yang terjal. Di sisi kanan dan kiri sudah dipasang pegangan dari besi untuk keamanan pengunjung situs.

Ketika sampai diatas kami beristirahat sejenak, menikmati pemandangan desa dari atas. Pengunjung lain terlihat sedang mendaki anak tangga yang tadi kami lewati. Di hadapan kami terhampar ‘teras’ dengan tumpukan balok-balok batu alam berukuran besar disana-sini. Beberapa tiang bendera dan umbul-umbul warna-warni terpancang. Angin meniup bendera dan umbul-umbul tersebut.

Situs Megalitikum Gunung Padang

Pemandangan ke Arah Atas dari Tangga Situs Gunung Padang Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka Cianjur, Jawa Barat

Di teras yang lebih tinggi terlihat para pengunjung berkumpul, berjalan-jalan, duduk-duduk diatas batu dan berfoto diri atau memotret pemandangan dan menuntun anak-anak mereka yang masih balita. Beberapa ABG dengan mencoloknya selfie menggunakan smartphone dan menjulurkan selfie stick andalan mereka. 😀 Terdapat beberapa pesan larangan, seperti larangan menaiki atau berdiri di atas batu yang berdiri (menhir) dan larangan untuk mengetuk-ngetuk batu.

Kawat-kawat merintangi beberapa tumpukan batu dan ada larangan untuk menjangkau tumpukan batu-batu tersebut. Mungkin kekhawatiran akan rusaknya situs tersebut akibat ulah wisatawan yang tidak bertanggung jawab. Saya pun melihat tidak ada pengunjung yang berani melanggar larangan tersebut. Pengunjung lain yang terlihat membawa kamera profesional dan menenteng-nenteng tripod pun mencari lokasi yang aman dan posisi yang bagus untuk memotret di sekitar tumpukan batu tersebut. Saya pun  asyik memotret.

Sampai di teras paling atas ada pagelaran seni budaya Sunda yang dibawakan oleh civitas MAN 1 Cianjur. Saya sempat melihat dan menikmati beberapa tarian dan aksi teater siswa-siswi tersebut. Hal ini menambah menarik kunjungan saya hari ini. Saya perhatikan para pengunjung lain pun memadati ‘aula’ alam di teras paling atas situs Gunung Padang ini. Bagi saya yang paling menarik adalah aksi teaternya.

Saya dan pengunjung lain dibuat tertawa oleh aksi dan dialog siswa-siswi ini. Tema dramanya seputar politik lokal yang dibingkai dengan kehidupan rumah tangga suami istri dan kepercayaan lokal tentang ilmu pemikat. Pokoknya lucu habis deh mendengar percakapan dan gaya anak-anak ini. 😀 Foto-foto mereka akan saya tampilkan pada tulisan terpisah.

Kira-kira pukul satu siang kami turun untuk kembali pulang ke rumah. Untuk turun dari teras Gunung Padang ternyata ada jalan lain yang lebih landai. Jika untuk naik anak tangganya terbuat dari batu-batu alam yang besar, untuk turun anak tangganya terbuat dari batu-batu kanstin yang lebar-lebar. Cukup aman untuk dilewati oleh anak-anak.

Dari situs Gunung Padang ini untuk kembali ke kota Cianjur jika tidak ingin tersesat cukup ikuti papan petunjuk jalan ke arah Warungkondang. Walau hanya ada satu ruas jalan yang kecil, ada beberapa tikungan yang membuat bingung. Kiri atau kanan ya? 🙂 Sesampainya di jalan raya, kami berbelok ke kanan menuju kota Cianjur. Kami sempatkan beristirahat di sebuah kedai ayam bakar untuk makan siang. Belum selesai makan, ternyata hujan turun. Kami pun memilih menunggu hujan reda.

Selepas hujan reda perjalanan kami lanjutkan. Sebelum sampai di kota Cianjur kami berpisah. Teman saya berbelok ke kanan sedangkan saya lurus menuju tugu kota Cianjur untuk selanjutnya menikmati perjalanan seorang diri di kawasan Puncak. Ketika fuel meter menunjukan tiga bar, saya sempatkan kembali untuk mampir ke sebuah SPBU di kawasan Cianjur. Jangan sampai kehabisan bensin jika ternyata jalur Cipanas-Puncak macet karena track-nya mendaki. Melewati Atta’awun hingga Gunung Mas saya perhatikan kebun teh di sana ramai oleh wisatawan.

Ternyata jalur naik satu arah masih diberlakukan hingga sore hari kemarin bagi kendaraan yang berasal dari arah Jakarta atau Bogor. Saya dan pemotor lainnya masih tetap bisa lewat menuju Bogor dengan hati-hati karena melawan arus. Kemacetan parah saya temui di sekitar Gadog. Di pos polisi persimpangan Gadog terlihat bapak-bapak polisi yang bertugas mengatur lalu lintas membantu kami untuk meneruskan perjalanan. Selepas Gadog perjalanan lancar. Dari Ciawi melewati Tajur hingga Baranangsiang pun lalu lintas ramai lancar.

Demikianlah perjalanan saya menuju Gunung Padang di kota yang terkenal dengan beras dan tauconya ini. Semoga bermanfaat. Selamat berakhir pekan dan salam hangat dari kota hujan.