Happy Graduation to You All

Dies Natalis Universitas Gunadarma XXXIV. Balai Sidang Jakarta Convention Center, Senin, 12 Oktober 2015

Hari itu penuh senyuman bahagia…

Puji syukur kusembahkan kepada Allah SWT, serta shalawat dan salam kepada nabi Muhammad SAW beserta para sahabat. Rasa terima kasih tak terkira kuucapkan kepada seluruh Bapak/Ibu dosen yang telah membimbing dan seluruh civitas Universitas Gunadarma.

Selamat berjuang kawan-kawan semua.

Terkhusus untuk ayah dan ibu tercinta…

Iklan

#LebarandiJonggol

Lebaran di Jonggol

Gunung Batu, Curug Ciherang, Wisata Pinus, RM Bano Raya #LebarandiJonggol

“Mau kemana, Yud?” Ke Jonggol.
“Mau ngapain, Yud?” Mau silaturahmi ke rumah saudara, nih.
“Di mana?” Di Jonggol.

Saya tidak sedang bercanda. 🙂

Anak-anak sekarang kalau ditanya serius mau ke mana, biasanya dijawab sambil bercanda, “Ke Jonggol…” Atau kalau ditanya di mana, dijawab lagi sambil bercanda, “Di Jonggol…” #wakwaw 😀

Lebaran H+2 atau hari Minggu, 18 Juli 2015 kemarin kami bertiga mengunjungi kerabat yang tinggal di Desa Warga Jaya Kecamatan Sukamakmur, Jonggol. Anggota rombongan adalah saya sendiri menunggangi si Sepira dan om saya yang memboncengi anaknya, sepupu saya menunggangi Blade 110 cc lawas. Tujuan kami adalah rumah  om saya yang lain, yang letaknya dekat dengan kawasan wisata Pinus dan Curug Ciherang.

Janji bertemu di depan CCM (Cibinong City Mall) sekitar pukul sebelas siang, dengan riding gear lengkap kami menyusuri jalan raya Bogor hingga sampai di depan Cibinong Square. Disana kami berbelok ke kanan menuju TPU Cirimekar, mengambil jalan pintas ke Pasar Citeureup.

Sampai di pos polisi Pasar Citeureup kami berbelok lagi menuju jalan Sabilillah. Selepas Pasar Citeureup saya lihat banyak sekali tumpukan plastik sampah di pinggir jalan yang merusak pemandangan. Jalan aspalnya lumayan mulus tapi di sana-sini saya jumpai polisi tidur. Dengan mengikuti jalan aspal kami melewati kecamatan Tarikolot hingga sampai di jalan raya Tajur desa Pasir Mukti.

Beberapa menit kemudian sampailah kami di pertigaan jalan dengan penunjuk arah kanan menuju Hambalang dan kiri menuju Jonggol. Kami pun mengambil arah ke kiri. Melewati kawasan pasar di pertigaan ini jalannya rusak parah. Tapi di ujung pasar kembali kami jumpai aspal yang mulus.

Kontur jalannya sangat menantang, banyak turunan dan tanjakan terjal serta kelokan tajam. Selain itu di beberapa ruas jalan aspalnya hancur atau tidak rata. Hutan dan sawah menjadi pemandangan yang menghibur selama perjalanan. Masih ada bajak-bajak tradisional yang ditarik oleh kerbau. Saran saya saat melewati jalan ini adalah penuhi tangki bensin karena tidak ada SPBU di sini. Harga per botol bensin Premium yang dijajakan oleh pengecer bensin di pinggir jalan berkisar dari delapan ribu lima ratus hingga sembilan ribu rupiah.

Seingat saya kami melewati tiga jembatan beton. Dua diantaranya bercat hijau dan sepertinya masih baru. Setelah beberapa lama (saya lupa berapa menit atau jam, yang jelas rasanya lama sekali saya mengendarai sepeda motor 🙂 ) kami tiba di Desa Jogjogan. Ternyata disini terjadi kemacetan. Jalan aspal yang hanya cukup dilewati sebuah mobil dan motor ini kemarin dipadati oleh mobil dan motor dari dua arah. Selain itu, karena rute jalan yang menanjak banyak mobil dan motor yang harus berhenti di tanjakan.

Dua tiga pemotor yang tidak kuat menahan rem dan kehilangan keseimbangan akhirnya jatuh! Saya lihat seorang pemotor yang membonceng seorang ibu yang menggendong bayi jatuh kemudian sepeda motornya menyenggol motor yang dikemudikan oleh om saya. Tidak pelak lagi om saya pun roboh saat berusaha menyeimbangkan kendaraannya. Foot step sobek dan spion kanan pecah akibat terbentur aspal. Kemacetan di jalan raya itu membuat stres, tetapi kemacetan di jalur pegunungan yang terjal itu membuat stres dan MENCEKAM!

Banyak pemotor, termasuk kami, akhirnya menepi di halaman rumah warga. Membiarkan mobil-mobil yang terjebak macet lewat lebih dahulu. Kalau dipikir-pikir seperti ini egoisnya roda empat. Jalan kecil yang biasanya lancar untuk roda dua sebanyak apapun, jadi macet tak karuan dijejali roda empat. Saran saya lagi, kalau baru bisa mengemudikan roda empat jangan lewat jalur ini. Jalurnya sempit dan banyak tikungan ci-luk-ba. Kalau tidak mahir mengemudikannya, maka siap-siaplah roda empat itu mundur lagi saat terjebak macet. Tidak kuat menanjak!

Akibat macet, kami mencoba berbelok ke kiri di Desa Jogjogan. Jalur aspal harus kami lupakan, karena kali ini kami akan melewati jalur desa dan hutan yang masih off-road. Melewati hutan-hutan Sukawangi saya mencium keharuman di udara. Amazing!!! Udara di sini tidak hanya sejuk, tetapi juga wangi bunga-bunga. Tepat sekali jika disebut Sukawangi. Lain udara lain pula track yang kami lewati. Jalur ini penuh dengan batu-batu cadas dan tanah. Dikarenakan musim panas, tanah dan batuan tersebut meninggalkan debu saat dilewati kendaraan. Dan jangan berharap ada penjual bensin eceran di sini. Kalau kehabisan bensin disini maka siap-siaplah mendorong kendaraan melewati tanjakan-tanjakan sadis berbatu cadas! Itupun kalau kuat mendorong. 😀

Jalan off-road semakin menantang setelah kami melewati parkiran Gunung Batu dan sebuah menara BTS. Tanjakan menjadi semakin terjal dan sepeda motor serasa seperti tidak bertenaga, gas ditarik sedalam apapun tetap saja berjalan lambat. Jangan harap gear di posisi 2 kuat, gear di posisi 1 pun rasanya seperti tidak kuat untuk menggerakkan sepeda motor. Suara gemeretak batu-batu dan kerikil bermentalan akibat terlindas ban motor.

Akibat udara yang sepertinya semakin tipis, saya pun harus menarik napas dalam-dalam di rute ini. Badan harus berusaha menyesuaikan diri di ketinggian seperti ini, sambil masih berusaha mengendalikan sepeda motor agar tidak tergelincir di bebatuan. Tapi tak pelak juga saya pun jatuh tergelincir. 🙂 Kelelahan, saya berusaha mendirikan lagi sepeda motor saya, tapi tak kuat. Akhirnya dibantu om saya, saya coba menunggangi sepeda motor lagi. Beberapa kali menyela kick starter tidak hidup, sialnya lagi starter elektrik ternyata tidak kuat juga. Dengan dipegangi om saya, saya coba menyela kick starter beberapa kali lagi sambil menahan rem depan. Alhamdulillah, akhirnya mesin motor saya kembali hidup. Saya lihat sepupu saya pun harus turun dari motor dan berjalan di tanjakan ini.

Dengan rumus nekat gas terus, akhirnya saya berhasil melewati tanjakan ini dengan sepeda motor saya. Setelah menemukan jalan yang agak landai mendatar, saya tepikan sepeda motor dan kembali menjemput om dan sepupu saya dibelakang. Akhirnya beberapa menit kemudian kami menjumpai jalur aspal kembali. Entah berapa kilometer jalur off-road yang sudah kami lewati. Off-road is amazing!!!

Kami pun melewati hutan wisata pinus yang jalur aspalnya menurun tajam dan banyak tikungan bersama banyak pemotor lain. Akhirnya setelah melewati Curug Ciherang kami beristirahat di sebuah kedai bakso di pinggir jalan yang letaknya di perkebunan. Saya pun memesan segelas kopi instan sambil menunggu om dan sepupu saya menikmati semangkuk bakso. Berhubung saya tidak makan daging, saya tidak ikut memesan bakso. 🙂 Sepeda motor kami parkirkan di lapangan berumput.

Duduk lesehan menikmati kopi hangat dan sejuknya udara gunung, saya melihat kembali pemandangan hutan dan bukit yang tadi kami lewati. Dari tempat kami duduk, Gunung Batu yang kata kaskuser pemandangannya mirip seperti Tebing Keraton, hanya terlihat seperti sebuah bukit lancip yang salah satu sisinya seperti dipangkas rata. Sambil beristirahat saya coba memeriksa kondisi si Sepira. Sial! Ternyata shock breaker depan sebelah kiri bocor. Tidak heran karena saya tadi menghajar bebatuan cadas dari Jogjogan, Sukawangi hingga melewati Gunung Batu 3.

Selepas istirahat kami kembali menelusuri jalan menuju Desa Warga Jaya. Kalau tadi jalan off-road dan menanjak, sekarang jalan aspal mulus dan menurun. Tidak perlu menarik gas dan gear di posisi 4, motor saya melaju turun. Cukup menahan rem depan dan belakang. Disini juga agak macet karena banyak mobil dan motor yang naik dan turun. Akhirnya beberapa menit kemudian sampailah kami di tempat om saya di Warga Jaya. Alhamdulillah.

Coba mengingat kembali perjalanan kami, om saya berseloroh, “Kalau naik matik mentok tuh tadi. Matik kan pendek.” Saya pun menanggapi, “Mestinya kita naik motor trail, om. Jalan penuh batu kaya gitu.” Heuheuheu…

Malam hari itu juga om saya pulang membawa anaknya. Wew, tidak terbayang deh keadaannya kalau malam-malam jalan di gunung seperti itu. Saya sendiri menginap di sini.

Menikmati suasana pedesaan yang masih asri. Jangan bayangkan nyaman dan hangatnya kamar hotel. Justru yang saya cari adalah dinginnya udara pegunungan. Di sini semuanya masih tradisional, memasak dengan tungku kayu bakar hingga air minumnya pun masih beraroma khas air yang dimasak dengan kayu bakar. Untuk mandi pun saya lebih senang mandi di pancuran mata air yang ada di sungai, walau sudah ada kamar mandi di rumah. Heheuheu… back to nature.

Di sini ada beberapa objek wisata. Ada dua curug (air terjun) lagi selain Curug Ciherang, wisata Pinus, Gunung Batu dan danau Rawa Gede. Ada beberapa restoran/rumah makan yang menyediakan ikan bakar. Satu yang sempat saya kunjungi adalah RM Bano Raya. Mata pencarian warga di sini pun kebanyakan bertani, berdagang atau berternak. Ada juga yang bekerja sebagai pegawai/karyawan yang tentunya lokasi kerjanya jauh dari tempat tinggal. Sebetulnya bukan jauhnya lokasi, tapi track-nya yang aduhai. 😀

Setelah dua malam saya lewati, hari Selasa pagi saya pulang. Menikmati jalan aspal yang menurun dan beberapa tanjakan lagi. Pemandangan terasering (sengkedan) dan kerbau di sawah menemani perjalanan pulang. Mirip dengan cerita-cerita di buku SD. 😀

Ssst… sobat jangan cerita ke yang lain, yah. In case of traffic jam in Puncak, kita bisa lewat sini kalau mau ke Jakarta via Citeureup atau Jonggol. Atau dari sana kita bisa menikmati sejuknya udara Cipanas seperti yang saya lakukan tahun lalu.

Human Interest: Kids Games

Tarian dari Papua

Kostum Tarian Papua

Papua Dance

Stick in the Air

Turn Around

Closing Dance

Balap Karung

Balap Karung

Balap Karung

Balap Bakiak

Lomba Balap Bakiak

Lomba Balap Bakiak

Lomba Balap Bakiak

Tarik Tambang

Tawa Seru

Tarik Terus!

Tarik dan Tarik Lagi

Terus Tarik!

Tarik Tambang

… dan lain-lain 😀

Joged

Ibu

Bonus Lanskap 🙂

Hijau Pepohonan

Taman Bunga Nusantara

Danau Angsa

Danau Angsa, Taman Bunga Nusantara, Cianjur.

“For one so small, you seem so strong. My arms will hold you, keep you safe and warm.”

— You’ll Be in My Heart, Phil Collins

Taman Bunga Nusantara, Cianjur, 15 Juni 2015.

Nostalgia Kamera Film Analog Novacam I

 

Cannon Mate Novacam I

Cannon Mate Novacam I

Kita yang besar di dekade 90-an pasti pernah memotret atau dipotret atau bahkan pernah memiliki kamera film analog. Saya sendiri masih menyimpan kamera film pertama saya yang dulu saya beli saat kelas 3 SMP. Kamera ini, Novacam I, adalah salah satu kamera film 35 mm yang cukup populer karena harganya dulu cukup terjangkau dan cukup praktis dalam penggunaannya. Ya walaupun kalah praktis dengan kamera saku digital saat ini yang tidak perlu cuci cetak untuk melihat hasil foto yang dipotret.

Dulu kalau kita jalan-jalan ke tempat wisata sering kita jumpai gerai-gerai yang menjual roll fim dan baterai untuk kamera analog di sepanjang pintu gerbang kawasan wisata tersebut. Pemandangan yang sudah tidak ada saat ini karena teknologi kamera analog sudah tergerus popularitas kamera digital. Roll film yang dijual biasanya berisi 24 atau 36 film ISO 100/200 atau ISO 400.

Cannon Mate Novacam I

Warna silver menjadi tren warna yang populer menjelang akhir 90-an. Orang-orang menyebutnya warna millenium. Banyak produk pun dibuat dalam warna tersebut, termasuk kamera ini.

Kamera ini ditenagai oleh dua baterai AA 1,5 volt. Fitur yang dimilikinya diantaranya adalah auto flash, auto wind power rewind dan indikator low-light serta indikator posisi roll film. Memiiki pre-focus f3.5 dengan lensa 35 mm. Kita bisa memilih ISO yang digunakan apakah 100/200 atau ISO 400. Karena memiliki motor, kita tidak perlu repot-repot memutar roll film (wind) saat ingin memotret atau memutar balik roll film yang sudah digunakan untuk mengganti roll (rewind).

Dulu dalam paket penjualannya sudah disediakan tas pinggang untuk membawa kamera ini, hand strap (tali) dan sebuah buku manual. Saya senang dengan tasnya, saat jalan-jalan biasanya saya menggantung tas tersebut di ikat pinggang. Saat sedang dibutuhkan, tinggal buka tutupnya lalu tarik kameranya dan bidik. Cukup aman untuk digunakan di kawasan wisata yang ramai sekalipun, tidak perlu takut terjatuh atau bahkan dicopet. 😀

Dulu ada joke yang paling sering dilakukan oleh pengguna kamera ini. Kita meminta teman-teman untuk berpose kemudian memotret mereka dengan lampu flash aktif. Padahal sudah jelas siang hari dan sinar matahari pun terang benderang, untuk apa menggunakan flash 😀 . Setelah memotret kita bilang, “Tertipu… nggak ada filmnya, lho.” Sambil cekikikan. Paling-paling teman-teman kita menyoraki kita ramai-ramai. Heuheu… 😀

Cannon Mate Novacam I

Indikator posisi roll film dan tombol shutter Cannon Mate Novacam I.

Seingat saya kamera ini digunakan pertama kali saat karya wisata di Gedung Museum KAA dan Tangkuban Perahu, Bandung. Setelah itu kamera ini sering saya gunakan baik untuk keperluan pribadi atau keperluan sekolah bersama teman-teman. Dulu kamera ini pernah gagal bertugas yang membuat saya kena tegur kakak kelas.

Ceritanya dulu ekstrakurikuler Pramuka di SMA tempat saya sekolah hendak melaksanakan lomba cepat tepat tingkat Kota Bogor. Malamnya saat persiapan saya bersama kakak-kakak alumni menyiapkan kamera ini dengan memasukan roll film dan baterai. Kemudian memeriksa kesiapan kamera ini dengan sekali memotret. Flash hidup, motornya pun bisa memutar film, berarti siap digunakan. Namun keesokan siang saat acara dilaksanakan, kamera “ngambek” tidak bisa digunakan. Saat tombol rana (shutter) ditekan, kameranya tidak memotret dan suara khas motornya tidak terdengar memutar roll film.

Waktu itu saya bersama kakak alumni sempat memeriksa lagi dengan mengeluar-masukan baterainya namun tetap tidak bisa. Akhirnya setelah sampai di rumah, saya coba memeriksa dengan lebih teliti. Saya temukan ternyata kutub baterai yang ada di body kamera tertekan terlalu ke bawah sehingga saat penutup baterainya mengunci tidak menekan dengan kuat kutub baterai yang ada di sisi penutup baterai. Dengan obeng saya coba tarik keatas kutub baterai tersebut dan saya coba memotret lagi. Bisa! Tapi acara yang seharusnya diabadikan sudah lewat.

Sekarang kamera ini masih tersimpan rapi di lemari saya dan tidak digunakan. Salah satu kenang-kenangan dari abad yang telah lalu dan jadi collector item. Berikut ini adalah beberapa foto yang saya potret dengan kamera ini dan sempat saya cetak kemudian dipindai (scan).

Karya Wisata SMUN 2 Bogor Kelulusan 2004

Matahari bulan Januari di Borobudur saat menjelang sore. Sepuluh tahun lalu.

Karya Wisata SMUN 2 Bogor Kelulusan 2004

Di Keraton Yogya.

Karya Wisata SMUN 2 Bogor Kelulusan 2004

Di Universitas Diponegoro, Semarang.

Karya Wisata SMUN 2 Bogor Kelulusan 2004

Ini di pantai Parangtritis, Yogya. Ini salah satu kesalahan sebenarnya. Yang dipotret orangnya atau pantainya. Heuheu… 😀

Dua jari terangkat terus bilang, “Piss…” Mainstream banget gesture itu dulu 😀 .

Karya Wisata SMUN 2 Bogor Kelulusan 2004

Di salah satu sudut Malioboro, bertemu dengan guru-guru saat SMP. Yang berjilbab itu teman sekolah saat SMP tapi dia lanjut SMA di Bandung. Pas banget bertemu dengan mereka semua di Yogya 😀 .

 

Sepenggal Kenangan Bersama Vespa

RiderAlit Diatas Vespa

RiderAlit diatas Vespa almarhum kakek saat berumur tiga tahun (menurut ibunda). Foto di depan warung almarhum kakek, Pondok Gede, Jatiwaringin.

Vespa diatas adalah kendaraan sehari-hari almarhum mbah kakung (panggilan RiderAlit untuk kakek). Setelah pensiun, kakek membuka kios warung di samping rumah, dan ternyata dagangannya sangat laris. Kakek biasanya menggunakan Vespa untuk membeli barang dagangan untuk stok warung. Jika barang dagangan yang dibeli banyak, seperti beras, telur atau mie instan biasanya kakek mendatangkan barang-barang tersebut dengan pick-up. Vespa selalu menghiasi teras rumah kakek saat RiderAlit berkunjung. Sesekali RiderAlit dibonceng Om Toni jalan-jalan dengan Vespa ini.

Ada satu kenangan yang membuat RiderAlit tersenyum sendiri jika mengingatnya. Saat itu libur sekolah (kalau tidak salah kelas 4 SD), RiderAlit bertiga ibunda dan adik menginap di rumah kakek. Pada suatu pagi, RiderAlit yang bosan karena tidak ada mainan dan televisi yang dimatikan, duduk-duduk diatas jok Vespa tersebut. Bosan duduk, RiderAlit pergi ke dapur untuk mengobrol dengan ibunda. Ternyata ibunda pun sedang asyik memasak. Ya sudah, RiderAlit kembali ke teras depan. Saat berjalan, RiderAlit melihat ada segelas kopi tergeletak di meja makan. Tidak jauh dari meja makan ada kotak obat-obatan yang biasa di pakai mbah kakung. RiderAlit melihat ada sebotol minyak kayu putih, dan langsung saja ide jahil bermain di kepala heuheu… 😀 . Yup, RiderAlit mencampurkan larutan minyak kayu putih tersebut dengan seduhan kopi, sambil tersenyum-senyum saat menuangnya, membayangkan reaksi orang yang bakal meminum kopinya hihihi… 😀 .

Kembali ke teras depan, RiderAlit duduk-duduk diatas Vespa. Ternyata derik suara jok Vespa membuat RiderAlit kembali penasaran. Akhirnya RiderAlit mencopot baut atau mur-mur yang ada dibawah jok, sampai joknya kendur. RiderAlit kembali ke dapur, menunggui ibunda selesai memasak. Beberapa lama kemudian, RiderAlit mendengar panggilan mbah kakung dari teras. Yup, ternyata mbah kakung tahu perbuatan siapa yang membuka baut-baut jok Vespanya. Akhirnya RiderAlit dengan takut memasang-masang kembali baut tersebut sambil disertai tatapan mbah kakung yang sesekali tersenyum. Belum selesai memasang, sebuah teriakan lain memanggil RiderAlit, “Yudha!!! Kopi Om kamu tambahin minyak kayu putih ya?!” Si Om ternyata tahu kalau RiderAlit pelakunya (kalau dipikir-pikir, saat itu memang tidak ada lagi anak kecil bandel selain RiderAlit 🙂 ).

Akhirnya RiderAlit mendapatkan semprotan dari mbah kakung, Si Om Toni (sampai sekarang RiderAlit tidak paham kenapa panggilan adik ibunda ini “Toni”) dan ibunda sendiri. Kejadian ini membekas sampai sekarang, yang bikin mesam-mesem sendiri kalau mengingatnya. Sayang Vespa ini sudah dijual sekitar tahun 2009 lalu. Saat itu mbah kakung sudah sakit-sakitan, dan pernah terjatuh saat mengendarainya untuk berbelanja. Saat ditanya oleh ibunda, “Ton, Vespa bapak kemana?” Si Om bercerita, saat mbah kakung pulang berbelanja, ternyata diikuti oleh dua orang pemuda bermotor. Usut punya usut, ternyata pemuda tersebut tertarik membeli Vespa jadul milik mbah kakung. Sampai rela repot-repot menguntit sampai ke rumah. Akhirnya atas pertimbangan Si Om dan almarhumah mbah putri, dikarenakan kesehatan mbah kakung yang sudah memburuk, dijuallah Vespa itu kepada dua orang tersebut. Si Om sendiri yang membantu berbelanja dengan sepeda motornya sampai saat mbah kakung wafat.

TPU Menteng Pulo

TPU Menteng Pulo, Tebet, Jakarta Selatan. Disinilah jenazah almarhum mbah kakung, mbah putri dan beberapa keluarga RiderAlit dimakamkan.

Mbah kakung dan mbah putri, serta Vespa yang menemani perjalanan hidup keduanya sudah tiada. Yang tersisa saat ini adalah kenangan tentang mereka. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah keduanya. Merenungi kenyataan ini RiderAlit jadi teringat sebuah nasihat,  “Cintailah apa yang kamu cintai. Namun ingat, suatu saat kamu akan meninggalkannya.”