Zeneos ZN 77 Front & Rear Buat New Blade 110R

Sudah seminggu ini saya riding harian menggunakan Zeneos ZN 77 di bebek besi andalan saya. Depan 70/80 dan belakang 80/90. Sejak menunggang si Sepira Supra X 125D dulu juga saya sudah percaya dengan brand keluaran PT. Gajah Tunggal ini. Kalau untuk Soul GT 125 AKS/SSS kemarin saya memilih Aspira Sportivo Premio, untuk bebek saya memilih brand yang saya sudah buktikan sendiri saja. Enggan pindah ke lain hati ๐Ÿ˜€ . Makanya saya tetap memilih Zeneos ZN 77 untuk dipasang di bebek tunggangan sehari-hari. Untungnya lagi saat pemasangan di Castrol Bike Point Bambu Kuning, Bojonggede sedang ada promosi ban tubeless dengan cairan tyre-guard.ย Alhamdulillah.

Kesan? Sama seperti dulu di Supra X 125D. Zeneos ZN 77 ini cukup asyik untuk digunakan berbelok miring-miring melintasi kelokan. Khusus ban depannya saya rasakan lebih empuk saat melindas polisi tidur bila dibandingkan ban tube-type bawaan pabrik yang digunakan New Blade 110R. Melintasi aspal tambal sulam dan tidak rata pun terasa lebih nyaman. Untuk kontur beton yang terkikis hujan dengan kerikil bertebaran pun stabil, tidak goyang.

Okelah, semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.

Iklan

Upgrade Karet Bundar Soul GT 125 AKS

Aspira Premio Sportivo

Aspira Premio Sportivo 100/80-14 di Soul GT 125 AKS

Akhir pekan kemarin sang Soul GT 125 AKS milik RiderAlit mendapatkan upgrade. Upgrade edisi ini bukan untuk menutup backdoor atau menambahkan patchย untuk mencegahnya dieksploitasi oleh malware. ๐Ÿ˜€ Tetapi upgrade untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan berkendara. Yup, maksud saya adalah upgrade sektor roda dengan ban bertipe tubeless. Karena pada kondisi awalnya dari pabrik, sepeda motor ini masih dibekali dengan ban berjenis tube type, walaupun sudah lumayan lebar.

Ban depan dan belakang saya percayakan pada Aspira Premio Sportivo. Ban belakang berukuran 100/80-14 dan depan 80/80-14. Upgrade dilakukan di Planet Ban jalan raya Bojong Gede. Selain upgrade, untuk meningkatkan keamanan cairan tyre guard pun ditambahkan di kedua roda sang Soul GT 125. Seperti biasa, untuk pembelian ban di Planet Ban selalu mendapatkan bonus berlangganan nitrogen. Maka saya pun mendapatkan bonus gratis berlangganan nitrogen selama dua tahun. Alhamdulillah.

Cast wheel + Tubeless Type Tyre + Tyre Guard + Nitrogen = Juosss gandoz kotoz-kotoz brangaz-brongoz ๐Ÿ˜€

Selamat Tinggal HSX 125D

IMG_3480

Honda Supra X 125D keluaran 2007

Awal bulan ini saya harus relakan Si Sepira, HSX 125D yang selama ini menjadi andalan saya untuk dimiliki oleh biker lain. Seharusnya 17 Agustus nanti tepat sepuluh tahun kebersamaan saya bersama Si Sepira. Jadi ingat waktu pertama kali Si Sepira pertama kali menjejakan dua rodanya di halaman rumah saat diantar dengan pick-up dari sebuah dealer sepeda motor di Bojonggede tahun 2007 dulu.

Sepuluh tahun waktu yang lama bagi sebuah sepeda motor dan sudah bisa dikatakan sepeda motor tua. Di saat produsen sepeda motor menawarkan produk-produk baru dengan fitur dan teknologi yang semakin advanced, rasanya lucu kalau masih harus mempertahankan mesin lawas. Oleh karena itu, saya memilih melepasnya. Bisa mengurangi kewajiban saya membayar pajak juga setiap tahunnya. Selain itu, juga mengurangi biaya perawatan yang biasanya saya keluarkan setiap bulan.

Selama hampir sepuluh tahun menemani, Si Sepira hanya satu kali mogok beroperasi dan pengalamannya saya tuliskan di sini. Memang bukan satu-satunya tunggangan saya, tapi saya merasa lebih nyaman mengendarainya dibandingkan dengan Blade 110R lawas yang sudah lebih dahulu saya lepas, New Blade 110 atau pun si kuning Minerva R150VX. Walau bobotnya lebih berat daripada Blade 110R atau New Blade 110, tapi soal kenyamanan tetap HSX 125D lebih unggul, apalagi jika digunakan untuk berkendara lebih dari satu jam atau saat terjebak macet. Lincah, torsinya cukup besar dan bertenaga. Jika bebek 110cc keluaran AHM, seperti Revo atau Blade, mengharuskan pengendaranya memuntir gas dalam-dalam saat tarikan awal jika membonceng, tidak halnya dengan HSX 125D. Membonceng penumpang atau solo riding tetap sama, cukup puntir sedikit gas, tarikan awalnya sangat responsif. Tidak galak seperti Blade 110R jika digunakan solo riding tapi loyo saat digunakan membonceng. Begitu juga dengan akselerasi.

Selama hampir sepuluh tahun banyak pengalaman suka dan duka bersama Si Sepira. Track yang dilewati pun bermacam-macam. Dari aspal mulus atau rusak, jalan pedesaan dan track off-road pun dilewati. Pengalaman paling gokil saya rasakan saat lebaran 2015 kemarin. Saat itu saya terpaksa memintas hutan di desa Sukawangi hingga Gunung Batu, Jonggol akibat kemacetan di desa Jogjogan saat akan bersilahturahmi ke rumah paman saya. Detail pengalamannya saya ceritakan di sini. Berbagai macam cuaca pun saya rasakan saat menunggangi Si Sepira. Mulai dari dinginnya udara pagi sebelum mentari bersinar, sejuknya angin pegunungan, terik dan panasnya perkotaan, banjir, hujan dan badai hingga pekatnya kabut (klik). Seriously, I’m not joking.

Pengalaman lainnya yang membuat jantung saya hampir copot bersama Si Sepira adalah hampir terperosok ke kolong tronton. Waktu itu 2013, saya berkendara dari arah Stasiun Universitas Pancasila menuju jalan Akses UI. Karena asyiknya menarik gas, saya menyalip mobil di depan saya tanpa saya sadari ada sebuah truk tronton sedang berbelok ke kiri, mungkin hendak parkir, menuju sebuah konstruksi bangunan. Seandainya saya telat menginjak dan menarik rem mungkin saya tidak bisa menceritakan hal ini. Waktu itu posisi saya kurang dari dua meter dari tronton tersebut. Cerita pengalaman saya lainnya bersama Si Sepira pernah saya tuliskan di sini dan di sini.

Hal lucu pernah saya alami saat awal 2014. Waktu itu saya berada di lampu merah Harmoni hendak menuju Pasar Baru, Juanda. Saat menunggu lampu merah berubah menjadi hijau, dua orang yang sedang berboncengan diatas matic menghampiri saya. Penumpang yang dibonceng menanyakan, “Mas, ini Supra X tahun berapa?” Saya pun menjawabnya. Kembali dia mengajukan pertanyaan, “Supra X irit nggak sih, mas?” Saya jawab, “Lumayan. Kemarin saya bawa jalan muter-muter Bogor, sampai disini sekarang bensinnya masih tiga bar, nih.” Eh, begitu lampu berubah hijau dan saya melanjutkan perjalanan, dua orang tersebut masih mengikuti sambil memperhatikan HSX 125D yang saya tunggangi.

Akhirnya awal bulan ini saya harus lepas sang HSX 125D tersebut dalam keadaan standar. Box dan bracketnya yang pernah saya pasang memang sudah jauh-jauh hari saya lepas. Kalau berminat jemput sendiri di rumah saya. ๐Ÿ™‚ Selama penggunaan, beberapa kelemahan dari HSX 125D saya rasakan. Pertama adalah seringnya saya memperbaiki shock breaker depan yang beberapa kali bocor. Kedua adalah body plastiknya yang kendur dan bergetar saat dikendarai. Penyakit yang satu ini sepertinya memang menjangkiti bebek-bebek lawas AHM. Yang ketiga adalah pencahayaan lampu depannya yang kurang terang. Kalau untuk urusan mesin memang tidak pernah rewel. Sampai terakhir saya gunakan mesinnya masih halus tanpa asap keluar dari knalpot. Selama hampir sepuluh tahun memang baru sekali servis turun mesin.

Soul GT 125 AKS SSS

Welcome to the family ๐Ÿ™‚

Alasan lain saya melepas HSX 125D tersebut adalah karena sejak akhir Januari kemarin saya sudah mendatangkan sang Soul GT 125 AKS. Tertarik dengan fitur AKS dan SSS serta modelnya yang lebih menarik bila dibandingkan produk sejenis dari AHM. Yeah, saya bukan orang yang fanatik dengan satu merk. Jadi, saat ini New Blade 110 yang menjadi andalan saya. Sedangkan dua yang lain masih menjadi teman jalan-jalan saat akhir pekan.

Yeah… Microsoft pun akan mematikan dukungannya untuk Windows Vista yang usianya akan menginjak sepuluh tahun April nanti. #Obsolete. Jadi, cukup beralasan kalau saya berpisah dengan Si Sepira. Heuheu… ๐Ÿ™‚ Tapi bedanya dengan Vista yang obsolete, Si Sepira memang lawas teknologinya tapi tidak usang dan masih bisa diandalkan. Old, but not obsolete.

Hasta la vista, baby.

Bahaya Sampah Air Minum Dalam Kemasan di Jalan Raya

Kamis sore 22 Desember 2016, saat melaju dari arah stasiun Tanjung Barat menuju stasiun Lenteng Agung hampir saja nahas menimpa saya. Di tengah kemacetan lalu lintas dalam posisi stop-and-go, tiba-tiba tanpa saya sadari sesuatu mengganjal ban depan sepeda motor saya. Saya coba gas tetapi ban depan melaju seperti terseret (slip), bukannya berputar normal. Masya Allah, hampir saja terjatuh di tengah kemacetan jika kaki saya tidak menyangga beban sepeda motor.

Berhenti,ย coba melihat apa yang mengganjal ban. Ternyata sebuah botol air minum dalam kemasan yang dibuang sembarangan terlindas ban depan sepeda motor saya. Sebagian botol sudah gepeng terlindas tetapi leher botol yang masih tertutup tetap mengganjal roda dengan aspal. Masih dalam posisi berkendara, saya coba meminggirkan botol tersebut dengan kaki. Tidak urung pengendara roda empat dan roda dua lain di belakang saya yang tidak sabar membunyikan klakson.

Sebuah pelajaran bagi kita semua. Betapa berbahayanya membuang sampah di tengah jalan raya. Apalagi sampah sebesar botol air minum dalam kemasan. Karena dapat menjadi friksi dan membahayakan pengguna jalan raya yang melintas. Oleh karena itu, jika terpaksa membuang sampah, menepilah dan buang sampah pada tempatnya. Atau simpan dahulu di kendaraan Anda.

Semoga bermanfaat.

Perpanjang SIM di SIM Keliling Margo City Depok

image

Mobil layanan SIM Keliling di pelataran parkir Margo City, Depok.

Setelah kurang lebih dua minggu SIM C yang saya miliki habis masa berlakunya, akhirnya hari Sabtu kemarin saya bisa tenang kembali mengendarai sepeda motor. Sabtu pagi kemarin saya sempatkan untuk melakukan perpanjangan SIM di layanan SIM Keliling yang biasanya stand by di pelataran parkir Margo City, Jalan Raya Margonda, Depok setiap Sabtu pagi. Saya tekankan Sabtu pagi karena dari pengalaman saya sebelumnya jika kita datang lewat dari jam sebelas pagi, layanan SIM Keliling ini sudah mau tutup.

Saya sampai kira-kira jam 09.40, menyerahkan foto copy KTP, SIM asli dan mengisi formulir permohonan perpanjangan SIM. Isian formulir sih standar saja seperti biodata, nama orang tua, golongan SIM, cacat tubuh jika ada dan tanda tangan. Tidak sampai lima menitlah, saya serahkan kembali isian formulir tersebut dan petugasnya memberikan selembar kertas kosong untuk kita tandatangani. Fungsi kertas tersebut untuk memindai tanda tangan yang nanti akan dicantumkan di SIM yang baru. Tidak lupa petugas tersebut berpesan, “Jangan dilipat, jangan digulung, jangan sampai lecek ya, pak.”

Kira-kira jam 11.15 pengeras suara di mobil SIM Keliling memanggil nama saya dan pemohon SIM lainnya. Di dalam mobil tersebut kami antri satu per satu untuk mengecek kesesuaian data di formulir, melakukan pindai sidik jari, memotret wajah dan mencetak SIM yang baru serta membayar biaya administrasi. Tidak sampai sepuluh menit, SIM yang baru sudah saya dapatkan dan biaya yang harus saya keluarkan adalah sebesar seratus tigapuluh lima ribu rupiah saja.

Praktis memang. Hanya menunggu antriannya saja yang lama, maklum yang mengantri banyak.

Posted from WordPress for Android

Solidaritas Sesama Tukang Ojek Solidaritas Sesama Biker

image


Seorang pengendara ride sharing dibantu dua orang rekannya menangani sepeda motornya yang mogok di Jalan Margonda, Depok.

Ceritanya tadi siang saya berniat melakukan perpanjangan SIM di layanan SIM keliling Margo City, Depok. Tapi ternyata saya datang terlambat sehingga pelayanan perpanjangan SIM sudah mau tutup. Akhirnya saya memutuskan berjalan kaki ke masjid Darul Ilmi di Universitas Gunadarma.

Di perjalanan saya lihat seorang pengendara ride sharing atau tukang ojek mengalami masalah. Dibantu dua orang yang juga sesama tukang ojek, dia mencoba memperbaiki Yamaha Bysonnya yang mogok. Seorang rekannya saya lihat mencabut busi dan membersihkannya sementara rekannya yang lain terlihat sibuk dengan telepon pintarnya. Mungkin memanggil bantuan temannya yang lain atau mencari informasi bengkel motor terdekat.

Saya jadi ingat pengalaman saya distut saat motor saya mogok di Jalan Margonda. Disana memang tidak ada bengkel motor. Bantuan sekecil apa pun akan terasa sangat berharga saat mengalami motor mogok. Saya sangat mengapresiasi rasa solidaritas dan perasaan senasib antar sesama pemotor seperti yang saya lihat hari ini.

Posted from WordPress for Android

Eh, Ada Tukang Ojek Pakai Honda Sonic

image

Seorang Tukang Ojek Dengan Honda Sonic

Fenomena tukang ojek menggunakan sepeda motor kelas premium sepertinya menjadi hal yang wajar saat ini. Setelah sebelumnya Yamaha N-Max tertangkap kamera digunakan oleh seorang pengendara ride sharing, nah hari Jum’at sore kemarin saya melihat sebuah Honda Sonic digunakan oleh seorang tukang ojek di bilangan Tebet.

Kalau dihitung-hitung secara kasar, apakah menggunakan sepeda motor kelas premium nilainya sesuai antara harga dengan pendapatan yang diperoleh oleh pemakainya? Belum lagi jika ditambahkan dengan konsumsi BBM, biaya perawatan, resiko kerusakan dan biaya perbaikannya? Sepeda motor premium sudah tentu menggunakan BBM yang kadar oktannya tinggi, minimal sekelas Pertamax. Harga sparepartnya pun sudah tentu lebih mahal. Oli yang digunakan pun biasanya oli premium juga.

Yah, menurut saya pribadi tidak worthy menggunakan sepeda motor premium untuk sekedar menggeluti profesi ride sharing. Tapi entahlah, mungkin si empunya motor punya profesi lain selain ‘profesional rider’. Profesional dalam arti orang yang dibayar untuk mengendarai sepeda motor alias tukang ojek. ๐Ÿ˜€

Kalau dari user experience penumpangnya bagaimana? Wah, jangan tanya saya. Saya tidak pernah menumpang ojek karena saya punya motor sendiri. Apalagi ojek yang pakai sepeda motor premium. Mungkin diantara sobat ada yang pernah menumpang ojek motor premium, silahkan berbagi pengalamannya.

Salam hangat dari kota hujan.

Posted from WordPress for Android