Gowes ke Gunung Pancar

Selasa, 7 November 2017 lalu saya jalan-jalan ke Gunung Pancar. Yah… walaupun tidak sungguh-sungguh jalan juga sih. πŸ˜€ Dikarenakan tidak ada kendaraan umum yang melewati rute dan langsung tembus ke Gunung Pancar maka saya memilih gowes sepeda gunung andalan saya ke sana. Dengan pertimbangan kalau naik sepeda motor sepertinya jalan-jalannya jadi kurang seru, karena jaraknya juga cuma selemparan bola bekel heuheu… juga karena Gunung Pancar adalah salah satu rute MTB dan downhill favorit banyak pecinta sepeda. Selain juga karena anjuran salah seorang kawan di FB saat saya posting foto-foto weekend ride saya di Sentul Highlands. “Lanjut ke Gunung Pancar, kang.” Siap, kang bro! Lanjutkan! πŸ˜€

Berangat kira-kira jam 8 pagi saya melewati rute gowes favorit saya, yaitu Jalan Tegar Beriman, Stadion Pakansari, Jalur Alternatif Sentul, Babakan Madang hingga ke kawasan Sentul Highlands. Saat tiba di gerbang sirkuit Sentul saya sempatkan untuk mengisi perbekalan air minum di sebuah mini market tidak jauh dari gerbang sirkuit. Walaupun saya juga membawa persediaan air minum dalam botol di tas dan kondisi cuaca saat itu sangat sejuk karena malam sebelumnya hujan lebat mengguyur kawasan Bogor, tetap saja menambah persediaan air minum adalah ide yang sangat baik.

Dari sana saya langsung melanjutkan perjalanan menuju Sentul, melewati gerbang terus menanjak hingga ke Sentul Highlands. Sempat disalip oleh serombongan group riding yang menggowes road bike secepat kilat, saya lanjutkan menanjak santai. Saya mau jalan-jalan, Om. Bukan mau balapan, karena kalau balapan sudah pasti saya kalah. Sampeyan pakai road bike ringan sedangkan saya MTB Hi-Ten, ban lebar, fullsus pula, sudah pasti kalah cepat heuheu… πŸ˜€ Sampai di halte bus dekat Mediterania II, saya sempatkan recharge lagi. Eh, ada seorang bapak yang ikut mampir juga. “Dari mana, pak?” tanya saya. Beliau jawab, “Dari pasar Madang, giling daging buat bakso.”Β  Obrol-obrol, ternyata si bapak ini punya usaha kedai bakso di sekitaran Sentul. Sambil istirahat kami mengobrol santai.

Ternyata beliau pendatang yang sudah lama tinggal di daerah Sentul, sebelum kawasan elite Sentul City ini dibangun. Asalnya dari Wonogiri. Lah, kebetulan. πŸ˜€ “Tiap hari naik sepeda ke pasar Madang, pak?” tanya saya. “Ah, nggak. Seminggu dua tiga kali lah. Biasanya naik motor.” begitu katanya. Beliau menunjukan rute-rute yang bisa dilewati menuju Gunung Pancar. Selain lewat Jungleland Sentul ini, bisa lurus dari pasar Madang sebelum berbelok di pertigaan jalan ke Sentul City ini. Atau dari arah Bellanova juga bisa. Ok, itu saya tau dan paham. Tapi tetap saya hargai informasi dari beliau. Akhirnya saya pamit lebih dahulu melanjutkan perjalanan. Sempat berhenti beberapa kali di spot-spot yang menarik untuk memotret.

Dari Mediterania II Β terus mengikuti aspal menanjak arah ke Jungleland. Melewati Taman Budaya jalan datar terasa nikmat, penawar rasa lelah saat menanjak. Setelah jalan datar ini ada turunan surga. Masya Allah… jooooosss tenan. πŸ˜€

Setelah turunan yang lumayan asoy ini saya berbelok ke kiri melewati Masjid Jami Al Munawaroh. Mampir sebentar. Lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju bundaran Sentul Nirwana.

Dari bundaran Sentul Nirwana saya ambil jalur ke kiri melewati lingkungan perumahan. Arah ke Jungleland.

Keluar dari kawasan Sentul City saya memasuki Desa Karang Tengah. Aspal jalan di sana tidak semulus aspal di Sentul City tentunya, dengan jalan yang tidak lebar, cukup untuk satu mobil dan satu sepeda motor. Pemukiman warga di kiri dan kanan jalan. Ada beberapa penunjuk arah yang memberitahukan pengguna jalan beberapa objek wisata seperti curug di kawasan Sentul ini. Tapi saya tetap lurus menuju Gunung Pancar. Melewati kantor Desa Karang Tengah jalan menanjak semakin tinggi. Beberapa warga setempat terlihat berseliweran, melaju kencang mengendarai skutik, baik turun atau naik.

Terus menanjak sampai terengah-engah, udara tetap sejuk, pemandangan semakin indah. Sawah dan gunung di kejauhan memanjakan mata dan kamera di handphone. Melewati sebuah camping ground saya teruskan perjalanan menanjak kembali. Kemudian kembali beristirahat di sebuah bangunan kosong, recharge, mengurangi beban air minum dalam tas punggung lalu mengkonversinya menjadi energi dengan sisa ekskresi berupa keringat. Walau sejuk, tapi karena banyak tenaga yang digunakan keringat tetap bercucuran. Beberapa mobil dan motor terlihat berlalu lalang di jalanan yang sepi itu.

Jam menunjukan pukul sepuluh lebih beberapa menit. Saya terus lanjutkan menanjak. Agak keheranan juga, karena di sana mungkin pertaniannya masih sangat alami maka di udara yang sejuk ini tercium aroma, mohon maaf, kandang sapi atau kerbau heuheuheu… Menanjak, menanjak, menanjak dan terus menanjak sambil menikmati pemandangan. Akhirnya terlihat beberapa pohon pinus di kejauhan. Alhamdulillah, sudah dekat.

Jalan sudah mulai datar. Beberapa warung milik warga terlihat di sisi kiri saya, hingga masuk ke jalan yang sangat teduh karena sudah memasuki hutan pinus Gunung Pancar. Tidak lama kemudian saya sampai di gerbang Taman Wisata Alam Gunung Pancar. Karena bukan hari libur, jadi objek wisata ini cukup sepi. Ada beberapa camping ground di dalam sini yang bisa digunakan untuk berkemah. Kios, kedai atau warung makan banyak tersedia. Beberapa pemuda-pemudi terlihat asyik nongkrong dengan skutik mereka. Beberapa anak berseragam sekolah terlihat berjalan. Hm, pasti rumah dan sekolahnya jaraknya jauuuuuh heuheuheu… Ini seperti cerita klasik anak-anak sekolah di daerah pelosok. Remote site! Bersyukurlah anda yang tinggal di wilayah perkotaan.

Pemandian air panas adalah salah satu objek yang membuat Gunung Pancar terkenal. Selain kesejukan, hutan pinus serta track MTB dan downhill-nya. Ada dua macam pemandian air panas di sana. Satu yang deluxe dan yang biasa-biasa saja. Tidak hanya wisatawan lokal, wisman pun kadang menikmati pemandian air panas di sini. Tarif pemandian air panas yang deluxe sekitar dua ratus ribu rupiah saja. Silahkan dicoba.

Apa lagi yang membuat Gunung Pancar terkenal? Gardu pandang! Yup, kalau dulu di wilayah hutan dan pegunungan biasanya dibangun pos-pos pemantauan berupa rumah pohon, nah karena zaman now anak-anak mudanya senang berswafoto maka di Gunung Pancar banyak di bangun rumah pohon yang fungsinya mirip seperti pos pemantauan cuma tanpa atap. Fungsinya untuk membuat latar swafoto semakin keren, hits, kekinian dan membuat objek fotonya kece badai heuheuheu… πŸ˜€ Rumah-rumah pohon ini populer disebut gardu pandang. Racun fotonya banyak bertebaran di Instagram.

Kalau diikuti terus jalan disana terus menanjak. Akhirnya karena perut saya mulai nge-rock, bukan keroncongan lagi, maka saya memilih beristirahat di sebuah kedai. Jadi deh sebutir kelapa muda dan sepiring mie instan menjadi pelampiasan lapar saya heuheuheu… πŸ˜€ Perut lapar, udara sejuk, hutan yang teduh, angin sepoi-sepoi dan semangkuk mie hangat dan kelapa muda segar… Subhanallah.

Sambil beristirahat saya menikmati asrinya pemandangan di sana. Sudah sekitar jam dua belas siang lewat beberapa menit, tapi udaranya masih seperti pukul enam pagi. Subhanallah. Asyik memotret tidak terasa cahaya matahari semakin lama semakin gelap dan teduh. Kabut tipis mulai terlihat di dedaunan. Tidak lama kemudian hujan lebat mengguyur. Saya pun berteduh di sebuah kedai kosong menunggu hujan reda.

Hujan ditunggu tidak kunjung reda. Barulah pukul empat sore lewat beberapa menit hujan mulai reda, menyisakan rintik-rintik gerimis yang masih menetes dari langit, dedaunan dan dahan-dahan. Akhirnya saya bulatkan tekad untuk turun. “Pak…?!” begitu reaksi seorang pemilik kios saat melihat saya menaiki sepeda dan mulai menggowes. Loh, kok heran? Sudah sering lihat orang naik sepeda kan heuheuheu… πŸ˜€

Kalau tadi saya menanjak maka sekarang saat pulang saatnya menikmati turunan. Yeaaay… Jalan licin, hujan rintik-rintik, genangan air dimana-mana, aspal yang hancur dan turunan terjal… Mantab! Semakin asyik nih turunannya. Saat seperti itulah keterampilan bersepeda diuji. Phone holder yang saya pasang ternyata cukup kuat menahan iPhone yang saya pasang. Berkali-kali guncangan tidak membuat posisinya bergeser.

Melesat kencang menuruni jalan terjal diatas sepeda. Sensasi yang sama dengan melesat kencang diatas sepeda motor. Saat-saat seperti itulah kita benar-benar menyadari bahwa kita sepenuhnya bergantung pada Allah Yang Maha Kuasa. Seterampil apapun kita, hanya Allah yang berhak menentukan hidup mati kita. Nikmati. Tidak semua orang bisa merasakan sensasi seperti ini.

Pemandangan puncak gunung berselimut kabut lah yang akhirnya bisa merayu saya menghentikan sepeda sejenak.

Asyik menikmati pemandangan dan memotret, tidak terasa genangan air hujan menembus sepatu saya. Ditambah aliran air yang turun cukup deras, jadilah sepatu basah tembus hingga ke kaos kaki. Dingin.

Saat turun dari Desa Karang Tengah saya memutuskan berbelok ke kanan. Melewati Jungleland menuju Sentul Nirwana lalu menanjak ke Sentul Highlands. Kalau tadi saat berangkat turunannya lumayan nah saat pulang menjadi lumanyun hahaha… πŸ˜€ Sampai di Sentul Highlands jalan datar sedikit kemudian… TURUNAN SURGA! Yeaaay… melesat kencang tanpa gowes terus sampai ke jalan M. H. Thamrin. Masya Allah. Aspal mulus, turunan tinggi, sensasinya WOW! BIG WOW!

Berputar arah di U-Turn jalan M. H. Thamrin saya harus menunggu beberapa saat karena lalu lintas cukup ramai. Menunggu jalan agak sepi dari motor dan mobil yang melesat kencang, baru kemudian berputar. Hehehe… gila juga tadi itu. Naik sepeda tapi melesat berbarengan dengan motor dan mobil padahal ada rambu rawan kecelakaan. Masya Allah.

Balik di jalan Babakan Madang. Suasana ramai dengan bermacam-macam kendaraan dengan aspal becek dan tanah basah seperti lumpur. Jadilah cipratan-cipratan air mengotori celana, baju dan tas. Fender/spakbor belakang yang saya pasang tidak efektif untuk menahan cipratan air dan tanah dari roda. Aspal yang rusak dan berlumpur serta truk-truk besar ke arah jalan Alternatif Sentul menjadi tantangan saat pulang. Semburat jingga kemerahan di ufuk barat menyambut kepulangan saya saat memasuki Stadion Pakansari.

Berputar setengah lingkaran dari Stadion Pakansari menuju jalan Tegar Beriman kemudian berbelok ke arah Jalan Sukahati. Lurus melewati lampu merah di perempatan jalan Sukahati menuju Bambu Kuning saya sempat menikmati pemandangan matahari terbenam diatas jembatan beton sungai Ciliwung. Tanpa saya sadari sebelum saya sampai sudah ada seorang pesepeda lain yang menepi di pinggir jembatan, juga sedang menikmati pemandangan. Pemandangan disini memang indah. Derasnya arus sungai Ciliwung dengan bebatuan besar di bawah, pepohonan, puncak gunung berhias gumpalan-gumpalan awan sebagai latar belakang, kilasan sinar matahari yang memudar dan mega-mega kemerahan di langit sore ditambah pemandangan waterboom di sebelah kanan. Maha Suci Allah. “Mari, pak.” Saya pamit mendahului pesepeda yang tadi saya jumpai. Dia membalas dengan senyum dan anggukan kepala.

Menjelang maghrib saya sampai di rumah. Dengan kondisi badan, pakaian dan sepeda yang kotor seperti habis bermain lumpur. πŸ˜€

Iklan

Weekend Ride 04 November 2017

Yup, seperti yang saya katakan pada pos kemarin. Hari ini saya coba berikan hasil rekaman kamera handphone yang saya pasang menggunakan phone holder saat bersepeda hari Sabtu kemarin. Hasilnya? Parah, bro!!! Heuheuheu… πŸ˜€

Kesimpulannya:

  1. Backlight akibat sinar matahari pagi membuat video hasil rekaman hitam.
  2. Guncangan di stang sepeda membuat hasil rekaman hancur! Maklum, tidak ada fitur OIS di handphone, videonya pun cuma 30 fps dan resolusi kameranya sendiri untuk memotret cuma 5 MP.
  3. Posisi phone holder di stang lama-kelamaan akan mengendur akibat guncangan selama perjalanan, ditambah aspal yang tambal sulam dan speed trap (polisi tidur) mempercepat posisi holder semakin berputar kebawah sehingga kamera handphone mendongak ke atas.
  4. Handphone yang digunakan untuk merekam cuma bisa merekam dengan durasi maksimal 10 menit.
  5. Sesekali harus memperhatikan posisi holder saat digunakan untuk merekam. Mungkin bisa lebih dikencangkan mounting-nya.

Okay, itu kesimpulannya. Kedepannya saya akan coba handphone dengan kualitas yang lebih baik.

Silahkan dinikmati efek camera shaking, backlight dan musiknya. Efeknya real, lho. πŸ˜€

Eksperimennya berhasil, kakak. Dengan hasil yang hancur, monggo dimaki-makilah hahaha… πŸ˜€

Pasang Phone Holder Sepeda

Hmm… di rumah ada handphone lawas yang sebetulnya masih produktif cuma karena teknologinya mentok di CDMA dan sekarang sudah zamannya 4G LTE jadi saya coba manfaatkan. Lumayan, tuh handphone sebetulnya masih bisa dipakai telepon-teleponan, SMS-an pakai slot GSM-nya yang 2G atau motret-motret, main games dan mendengarkan musik. Jadi, kira-kira bisa digunakan untuk apa ya?

Akhirnya ada ide bagaimana kalau handphone itu dipakai buat teman weekend ride. Iseng-iseng cari di Lazada ada phone holder yang modelnya ternyata bukannya cuma sebagai bracket saja, dengan pengaturan posisi yang benar, handphone-nya bisa dijadikan kamera untuk bikin vlog. Wah, lumayan dong buat alternatif action cam.

Pasang phone holder-nya sendiri gampang banget. Plug and play-lah. Nggak perlu baca manual macam-macam. Toh cuma ada dua mounting, satu untuk stang, satunya lagi buat si phone holdernya sendiri yang bentuknya seperti jepitan rambut cewek.

Okay… nanti saya coba share dengan sobat semua hasil rekaman handphone lawas tersebut yang diposisikan dengan phone holder yang dimaksud. Selamat berakhir pekan. Salam hangat dari kota hujan.

Weekend Ride 28 Oktober 2017

Jalan MH Thamrin, Sentul City, Bogor

Jalan MH Thamrin, Sentul City, Bogor

Yeaah… Setelah bosan dengan track yang itu-itu saja, akhirnya saya mencoba mencari track yang belum pernah saya coba dengan sepeda akhir pekan kemarin. Jadi deh saya jalan-jalan ke kawasasan Sentul Highlands via Stadion Pakansari dan Jalan Alternatif Sentul. Sampai di Sentul City udara sejuk menjadi kompensasi keringat yang mengucur akibat melintas di Babakan Madang yang berdebu dan banyak roda empat serta truk besar.

Menanjak ke kawasan Golf Mediterania II lurus terus kemudian berputar arah menuju Jalan MH Thamrin. Nah, setelah tanjakan yang tingggggggi pastinya ketika berputar kita akan mendapatkan turunan yang tinggggggggggggggi… Heuheuheu. Wow, amazing!!! Pedal sepeda sudah tidak berarti lagi. Udara pagi Gunung Geulis yang sejuk menerpa kulit selama melesat kencang. Mantab!

Zeneos ZN 77 Front & Rear Buat New Blade 110R

Sudah seminggu ini saya riding harian menggunakan Zeneos ZN 77 di bebek besi andalan saya. Depan 70/80 dan belakang 80/90. Sejak menunggang si Sepira Supra X 125D dulu juga saya sudah percaya dengan brand keluaran PT. Gajah Tunggal ini. Kalau untuk Soul GT 125 AKS/SSS kemarin saya memilih Aspira Sportivo Premio, untuk bebek saya memilih brand yang saya sudah buktikan sendiri saja. Enggan pindah ke lain hati πŸ˜€ . Makanya saya tetap memilih Zeneos ZN 77 untuk dipasang di bebek tunggangan sehari-hari. Untungnya lagi saat pemasangan di Castrol Bike Point Bambu Kuning, Bojonggede sedang ada promosi ban tubeless dengan cairan tyre-guard.Β Alhamdulillah.

Kesan? Sama seperti dulu di Supra X 125D. Zeneos ZN 77 ini cukup asyik untuk digunakan berbelok miring-miring melintasi kelokan. Khusus ban depannya saya rasakan lebih empuk saat melindas polisi tidur bila dibandingkan ban tube-type bawaan pabrik yang digunakan New Blade 110R. Melintasi aspal tambal sulam dan tidak rata pun terasa lebih nyaman. Untuk kontur beton yang terkikis hujan dengan kerikil bertebaran pun stabil, tidak goyang.

Okelah, semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.

Upgrade Karet Bundar Soul GT 125 AKS

Aspira Premio Sportivo

Aspira Premio Sportivo 100/80-14 di Soul GT 125 AKS

Akhir pekan kemarin sang Soul GT 125 AKS milik RiderAlit mendapatkan upgrade. Upgrade edisi ini bukan untuk menutup backdoor atau menambahkan patchΒ untuk mencegahnya dieksploitasi oleh malware. πŸ˜€ Tetapi upgrade untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan berkendara. Yup, maksud saya adalah upgrade sektor roda dengan ban bertipe tubeless. Karena pada kondisi awalnya dari pabrik, sepeda motor ini masih dibekali dengan ban berjenis tube type, walaupun sudah lumayan lebar.

Ban depan dan belakang saya percayakan pada Aspira Premio Sportivo. Ban belakang berukuran 100/80-14 dan depan 80/80-14. Upgrade dilakukan di Planet Ban jalan raya Bojong Gede. Selain upgrade, untuk meningkatkan keamanan cairan tyre guard pun ditambahkan di kedua roda sang Soul GT 125. Seperti biasa, untuk pembelian ban di Planet Ban selalu mendapatkan bonus berlangganan nitrogen. Maka saya pun mendapatkan bonus gratis berlangganan nitrogen selama dua tahun. Alhamdulillah.

Cast wheel + Tubeless Type Tyre + Tyre Guard + Nitrogen = Juosss gandoz kotoz-kotoz brangaz-brongoz πŸ˜€

Selamat Tinggal HSX 125D

IMG_3480

Honda Supra X 125D keluaran 2007

Awal bulan ini saya harus relakan Si Sepira, HSX 125D yang selama ini menjadi andalan saya untuk dimiliki oleh biker lain. Seharusnya 17 Agustus nanti tepat sepuluh tahun kebersamaan saya bersama Si Sepira. Jadi ingat waktu pertama kali Si Sepira pertama kali menjejakan dua rodanya di halaman rumah saat diantar dengan pick-up dari sebuah dealer sepeda motor di Bojonggede tahun 2007 dulu.

Sepuluh tahun waktu yang lama bagi sebuah sepeda motor dan sudah bisa dikatakan sepeda motor tua. Di saat produsen sepeda motor menawarkan produk-produk baru dengan fitur dan teknologi yang semakin advanced, rasanya lucu kalau masih harus mempertahankan mesin lawas. Oleh karena itu, saya memilih melepasnya. Bisa mengurangi kewajiban saya membayar pajak juga setiap tahunnya. Selain itu, juga mengurangi biaya perawatan yang biasanya saya keluarkan setiap bulan.

Selama hampir sepuluh tahun menemani, Si Sepira hanya satu kali mogok beroperasi dan pengalamannya saya tuliskan di sini. Memang bukan satu-satunya tunggangan saya, tapi saya merasa lebih nyaman mengendarainya dibandingkan dengan Blade 110R lawas yang sudah lebih dahulu saya lepas, New Blade 110 atau pun si kuning Minerva R150VX. Walau bobotnya lebih berat daripada Blade 110R atau New Blade 110, tapi soal kenyamanan tetap HSX 125D lebih unggul, apalagi jika digunakan untuk berkendara lebih dari satu jam atau saat terjebak macet. Lincah, torsinya cukup besar dan bertenaga. Jika bebek 110cc keluaran AHM, seperti Revo atau Blade, mengharuskan pengendaranya memuntir gas dalam-dalam saat tarikan awal jika membonceng, tidak halnya dengan HSX 125D. Membonceng penumpang atau solo riding tetap sama, cukup puntir sedikit gas, tarikan awalnya sangat responsif. Tidak galak seperti Blade 110R jika digunakan solo riding tapi loyo saat digunakan membonceng. Begitu juga dengan akselerasi.

Selama hampir sepuluh tahun banyak pengalaman suka dan duka bersama Si Sepira. Track yang dilewati pun bermacam-macam. Dari aspal mulus atau rusak, jalan pedesaan dan track off-road pun dilewati. Pengalaman paling gokil saya rasakan saat lebaran 2015 kemarin. Saat itu saya terpaksa memintas hutan di desa Sukawangi hingga Gunung Batu, Jonggol akibat kemacetan di desa Jogjogan saat akan bersilahturahmi ke rumah paman saya. Detail pengalamannya saya ceritakan di sini. Berbagai macam cuaca pun saya rasakan saat menunggangi Si Sepira. Mulai dari dinginnya udara pagi sebelum mentari bersinar, sejuknya angin pegunungan, terik dan panasnya perkotaan, banjir, hujan dan badai hingga pekatnya kabut (klik). Seriously, I’m not joking.

Pengalaman lainnya yang membuat jantung saya hampir copot bersama Si Sepira adalah hampir terperosok ke kolong tronton. Waktu itu 2013, saya berkendara dari arah Stasiun Universitas Pancasila menuju jalan Akses UI. Karena asyiknya menarik gas, saya menyalip mobil di depan saya tanpa saya sadari ada sebuah truk tronton sedang berbelok ke kiri, mungkin hendak parkir, menuju sebuah konstruksi bangunan. Seandainya saya telat menginjak dan menarik rem mungkin saya tidak bisa menceritakan hal ini. Waktu itu posisi saya kurang dari dua meter dari tronton tersebut. Cerita pengalaman saya lainnya bersama Si Sepira pernah saya tuliskan di sini dan di sini.

Hal lucu pernah saya alami saat awal 2014. Waktu itu saya berada di lampu merah Harmoni hendak menuju Pasar Baru, Juanda. Saat menunggu lampu merah berubah menjadi hijau, dua orang yang sedang berboncengan diatas matic menghampiri saya. Penumpang yang dibonceng menanyakan, “Mas, ini Supra X tahun berapa?” Saya pun menjawabnya. Kembali dia mengajukan pertanyaan, “Supra X irit nggak sih, mas?” Saya jawab, “Lumayan. Kemarin saya bawa jalan muter-muter Bogor, sampai disini sekarang bensinnya masih tiga bar, nih.” Eh, begitu lampu berubah hijau dan saya melanjutkan perjalanan, dua orang tersebut masih mengikuti sambil memperhatikan HSX 125D yang saya tunggangi.

Akhirnya awal bulan ini saya harus lepas sang HSX 125D tersebut dalam keadaan standar. Box dan bracketnya yang pernah saya pasang memang sudah jauh-jauh hari saya lepas. Kalau berminat jemput sendiri di rumah saya. πŸ™‚ Selama penggunaan, beberapa kelemahan dari HSX 125D saya rasakan. Pertama adalah seringnya saya memperbaiki shock breaker depan yang beberapa kali bocor. Kedua adalah body plastiknya yang kendur dan bergetar saat dikendarai. Penyakit yang satu ini sepertinya memang menjangkiti bebek-bebek lawas AHM. Yang ketiga adalah pencahayaan lampu depannya yang kurang terang. Kalau untuk urusan mesin memang tidak pernah rewel. Sampai terakhir saya gunakan mesinnya masih halus tanpa asap keluar dari knalpot. Selama hampir sepuluh tahun memang baru sekali servis turun mesin.

Soul GT 125 AKS SSS

Welcome to the family πŸ™‚

Alasan lain saya melepas HSX 125D tersebut adalah karena sejak akhir Januari kemarin saya sudah mendatangkan sang Soul GT 125 AKS. Tertarik dengan fitur AKS dan SSS serta modelnya yang lebih menarik bila dibandingkan produk sejenis dari AHM. Yeah, saya bukan orang yang fanatik dengan satu merk. Jadi, saat ini New Blade 110 yang menjadi andalan saya. Sedangkan dua yang lain masih menjadi teman jalan-jalan saat akhir pekan.

Yeah… Microsoft pun akan mematikan dukungannya untuk Windows Vista yang usianya akan menginjak sepuluh tahun April nanti. #Obsolete. Jadi, cukup beralasan kalau saya berpisah dengan Si Sepira. Heuheu… πŸ™‚ Tapi bedanya dengan Vista yang obsolete, Si Sepira memang lawas teknologinya tapi tidak usang dan masih bisa diandalkan. Old, but not obsolete.

Hasta la vista, baby.