Pengalaman Pertama Menumpang GrabTaxi

image

Ilustrasi: Grabtaxi. Sumber: http://www.infokomputer.com

Jum’at malam lalu berdua dengan teman sepulang kuliah, kami menumpang taksi. Tanpa memedulikan label yang tertera di body mobilnya saya langsung saja melambaikan tangan untuk menyetop sang supir. Setelah menutup pintu teman saya langsung bilang, “Stasiun Manggarai ya, pak.” Supir taksinya langsung menghidupkan argo dan tancap gas.

Sesampainya di depan stasiun Manggarai kami baru ‘ngeh’. Lah, GrabTaxi ternyata yang kami tumpangi. Yang lebih mengherankan adalah jika biasanya kami harus mengeluarkan ongkos taksi sebesar lima belas ribu rupiah ternyata kemarin malam cuma sebelas ribu rupiah saja. Rutenya memang tidak jauh, dari depan kampus di seberang halte busway Salemba Capitol sampai stasiun Manggarai.

Kondisi mobilnya bagaimana? Body muluslah, seperti armada taksi-taksi lain. Interior nyaman dan bersih, jok pun empuk. Dashboard sang supir juga terlihat rapi dan bersih. Tidak kalah nyaman dengan taksi lain. Seat belt? Jangan tanya, deh. Saking malamnya saya dan teman saya lupa memasang seat belt. 😀

Wah, kalau untuk jarak dekat saja selisih harganya lumayan dengan kenyamanan yang sama, berarti jika jarak tempuhnya lumayan jauh GrabTaxi memiliki nilai lebih jika dibandingkan taksi-taksi lain. Nah, kalau pengusaha jasa transportasi sudah mulai bersaing seperti ini, berarti kita sebagai penumpang yang diuntungkan.

Posted from WordPress for Android

Jangan Sembarangan Menyalakan Lampu Hazard

Ilustrasi: Lampu hazard. Sumber: Detikcom.

Ilustrasi: Lampu hazard. Sumber: Detikcom.

Langit mendung memayungi saya ketika beranjak pulang dari tempat kerja di bilangan Kramat-Salemba, Jakarta Pusat sore tadi. Sampai di wilayah Pasar Minggu langit terlihat semakin gelap. Selepas flyover TB Simatupang tanda-tanda hujan akan turun semakin jelas dengan kilatan petir yang sangat terang diiringi suara-suara geluduk. Saya pun memutuskan menepi untuk memakai jas hujan.

Setelah selesai memakai jas hujan saya melanjutkan perjalanan. Melewati stasiun KA Tanjung Barat hujan pun turun. Macet memperlambat perjalanan saya mulai dari perlintasan KA Tanjung Barat hingga memasuki Lenteng Agung. Hujan pun turun semakin deras dan jarak pandang saya semakin terbatas akibat kurangnya cahaya di jalan dan terpaan air hujan di kaca helm. Akhirnya saya terbebas dari kemacetan selepas melewati pintu stasiun KA Lenteng Agung.

Melewati Lenteng Agung arah ke stasiun KA Universitas Pancasila (UP) jalanan bercabang dua. Saya memilih lewat sebelah kanan yang melewati stasiun KA UP. Di depan saya sebuah MPV warna putih menyalakan lampu hazard. Saya yang ada di belakangnya bingung karena mobil tersebut berjalan tidak di kiri tapi tidak di tengah. Karena di sebelah kanan genangan air cukup tinggi, saya pun memilih berjalan agak ke kiri.

Ketika posisi saya sudah hampir dekat dengan mobil tersebut, tiba-tiba dia memperlambat kelajuannya. Saya yang bingung karena mobil itu menyalakan hazard bukannya sein, memilih menepi ke kiri untuk menghindar. Saat saya sudah menepi tiba-tiba mobil tersebut ikut menepi ke kiri. Saya yang menghindari tabrakan akhirnya minggir lagi agak ke kiri. Celakanya jalan di depan saya berlubang dan tidak terlihat akibat genangan air. Braaak… Ban depan menghantam lubang dan saya pun kaget bukan kepalang. Belum selesai kekagetan saya, kira-kira dua meter di depan saya ada kanstein pembatas jalan. Jika saya tidak memutar stang ke kanan, saya pasti sudah menabrak pembatas jalan yang cukup tinggi tersebut. Lemas badan saya seketika menyadari hal tersebut. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.

Sementara mobil celaka tersebut sudah beberapa meter ada di depan saya. Tepat di depan stasiun KA UP, karena dia memperlambat kelajuannya sehingga saya bisa mendahuluinya. Entah apa maksudnya menyalakan hazard sambil berjalan seperti itu. Saya yang tidak menyetir mobil pun paham kalau lampu hazard dinyalakan saat mobil mengalami masalah di tengah jalan, misalnya mogok. Bukan saat berjalan, karena hal tersebut menimbulkan kebingungan pengguna jalan yang ada di belakangnya. Mungkin supir mobil tersebut lulusan sekolah mengemudi yang berlatih mengemudi hanya seminggu kemudian bisa mendapatkan SIM.

Hal yang membuat badan saya semakin lemas adalah kenyataan tadi pagi saya melihat sebuah sepeda motor matic jatuh di depan stasiun Tanjung Barat dengan penumpangnya, seorang wanita, terseret beberapa meter dengan wajah terpuruk ke aspal tidak sadarkan diri. Sementara pengemudinya, seorang pria menahan seretan motornya dengan badan sebelum ditolong oleh orang-orang yang ada di halte. Innalillahi wa innalillahi rojiun.

Tadi pagi saya melihat kecelakaan, sore harinya saya sendiri yang hampir celaka. Allah melindungi saya sehingga saya dan motor saya bisa selamat sampai di rumah. Saya pun bisa menceritakan pengalaman saya tadi. Semoga menjadi pelajaran.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua. Aamiin.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Harga BBM Bersubsidi Naik Antrian Kendaraan Mengular

Antrian kendaraan di sebuah SPBU di Pondok Rajeg.

Antrian kendaraan di sebuah SPBU di Pondok Rajeg.

Seperti yang diberitakan oleh media-media elektronik dan internet bahwa Presiden Jokowi mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi untuk Premium dari Rp. 6.500,00/liter menjadi Rp. 8.500,00/liter dan solar dari Rp. 5.500,00/liter menjadi Rp. 7.500,00/liter. Efeknya bisa saya rasakan sejak meluncur di jalan Margonda. SPBU Pertamina di jalan Margonda depan Depok Town Square sudah dibanjiri oleh kendaraan-kendaraan roda empat yang antri untuk membeli Premium. Tentu saja hal ini menyebabkan kemacetan mulai dari depan kampus D Universitas Gunadarma hingga ke lampu merah perempatan Juanda.

Antrian kendaraan yang mengular kembali saya dapati saat hendak mengisi BBM di sebuah SPBU di Pondok Rajeg. Angkot dan roda empat milik pribadi ramai-ramai antri mengisi tanki dengan Premium yang kenaikannya mulai berlaku efektif jam 00.00 hari Selasa, 18 November 2014. Seorang bapak yang ikut mengantri Premium di belakang saya pun bercerita bahwa antrian di SPBU Pertamina di Pasar Pucung dekat Grand Depok City juga mengular.

Kemacetan akibat antrian kendaraan di SPBU Pertamina jalan Sukahati arah Cikaret.

Kemacetan akibat antrian kendaraan di SPBU Pertamina jalan Sukahati arah Cikaret.

Saat keluar dari gang Kancil, saya pun melihat banyak roda empat yang mengantri. Jalan Sukahati arah ke Cikaret macet karena antrian kendaraan roda empat yang mengantri BBM di SPBU Pertamina di jalan Sukahati. Beberapa kendaraan roda empat saya lihat memilih berbalik arah, beberapa lainnya sampai melawan arus. Seorang bapak yang membonceng wanita dengan sepeda motornya bertanya pada saya, “Ada apa ya, pak? Kok macet begini?” Saya pun menjawab, “Antri BBM, pak. Besok naik.” Bapak tersebut menimpali, “Oh… Terima kasih, pak.” Dia pun melanjutkan perjalanan ke arah Cikaret dengan menyelip di antara roda empat.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Mungkin Memang Saatnya Harga BBM Naik

Sedot Premium, josss!

Sedot Premium, josss!

Seperti biasa, pulang kerja saya selalu sempatkan mampir ke SPBU untuk mengisi tangki Si Sepira agar selalu penuh. Kira-kira jam 10 malam lewat beberapa menit saya sampai di sebuah SPBU (mohon maaf lokasi dan nomor SPBU saya rahasiakan), suasana sepi sehingga saya bisa langsung meluncur ke arah dispenser Premium yang ditujukan untuk motor dan kendaraan umum lain. Belum sampai di dispenser, saya lihat ada sebuah mobil baru saja berhenti di sana. Saya pun akhirnya ikut mengantri di belakang mobil tersebut.

Selagi saya menunggu, terjadilah percakapan berikut.

Petugas: “Berapa, pak?”
Supir: “Dua ratus ribu, mba.”
Petugas: “Mulai dari nol ya, pak.”

Waduh, bakal lama nih. Sambil iseng-iseng, saya sempatkan mengabadikan momen-momen berharga ini 😀 . Tengok kiri-kanan, saya baca-baca tulisan yang ada disebelah kiri saya, “Tidak melayani pembelian menggunakan jerigen.” Beberapa menit kemudian selesailah pengisian BBM ke tangki mobil tersebut. Si Sopir membayar dan langsung tancap gas. Tibalah giliran Si Sepira diisi bensin. Saya lalu membuka kunci jok dan tutup tangki Si Sepira.

Petugas: “Berapa, pak?”
Saya: “Delapan ribu, mba.”
Petugas: “Mulai dari nol ya, pak.”
Saya: “Iya.”

Saya melirik penunjuk harga dan literan dispenser, beberapa detik kemudian tangki penuh. Alhamdulillah, full sampai hampir mendekati bibir tangki. Saya menutup tangki dan memberikan uang lalu menggeser maju Si Sepira karena di belakang saya sudah ada pemotor lain yang mengantri.

Petugas: “Kembaliannya, pak. Empat puluh dua ribu. Terima kasih.”
Saya: “Sama-sama.”

Saya posisikan kunci ke ON lalu menekan jok agar terkunci. Kemudian menyelah kick starter beberapa kali agar mesin Si Sepira hidup. Setelah mesin hidup, saya menarik gas sebentar lalu saya pindahkan gigi dari netral ke gigi 1 untuk meluncur melanjutkan perjalanan pulang.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Akan Seperti Ini Jadinya Jika LCGC Menjadi Mainstream

Kijang Innova

Sebuah Innova moncoba lewat jalan yang hanya cukup untuk sepeda motor berlawanan arah.

Foto diatas RiderAlit ambil kemarin malam, 22 April 2014, saat melewati Gang Kancil menuju Sukahati, Pemkab Bogor. Dalam perjalanan pulang menuju rumah, saat melewati Sukahati dan memasuki Gang Kancil jalan-jalan yang berlubang sedang diperbaiki oleh warga setempat. Jalan di Gang Kancil ini memang dipelur (disemen) secara swadaya oleh masyarakat setempat. Jadi, jika seharusnya jalan tesebut bisa dilewati dua motor berlawanan arah, kemarin cuma bisa dilewati satu motor bergantian.

Jalan ini merupakan jalan pintas tercepat untuk menuju Pondok Rajeg dari Pemkab Bogor atau Sukahati, atau sebaliknya. Tanpa jalan ini, pengguna harus melewati jalan besar Sukahati menuju jalan KSR Dadi Kusmayadi melewati RSUD Cibinong kemudian berbelok ke kiri di pertigaan jika mau menuju Pondok Rajeg. Cuma sayangnya ujung jalan di Gang Kancil ini mengerucut saat keluar gang menuju Pondok Rajeg. Ada jembatan sempit menghubungkan selokan yang hanya bisa dilewati sepeda motor. Atau kendaraan niaga roda tiga, walaupun pas-pasan.

Tapi kemarin malam ada seorang ibu yang mencoba mengendarai mobil lebarnya melewati jalan ini. Si ibu pun sempat diberitahu pemilik warung disana bahwa ujung jalannya tidak bisa dilewati mobil. Karena sudah banyak pemotor yang mengantri di depan mobilnya, ibu tersebut pun terlihat agak kikuk. Pemotor pun akhirnya permisi lewat halaman warung agar bisa melanjutkan perjalanan, termasuk RiderAlit.

Tidak tahu bagaimana kelanjutannya kisahnya 😀 . Apakah ibu tersebut berhasil memundurkan mobilnya atau tidak, karena kalau mundur agak sulit juga sepertinya. Tidak jauh dari warung tersebut adalah tikungan L, yang cukup menyulitkan bagi kendaraan lebar untuk berbelok sambil mundur.

Itulah sedikit gambaran jika suatu saat kendaraan roda empat murah ramah likungan (LCGC) menjadi sesuatu yang biasa, mainstream. Akan banyak jalan-jalan sempit yang peruntukannya hanya untuk roda dua dan pejalan kaki tapi coba dirampas juga oleh peroda empat yang kurang sadar diri. Padahal ada jalan yang lebar, tapi masih juga jalan yang sempit coba dilewati dengan roda empatnya. Resiko untuk pengendara mobil adalah harus melewati jalan besar walaupun jarak tempuhnya lebih jauh dan kondisi aspalnya tidak bagus. Semua ada tempatnya.

Kalau dipikir-pikir, sepeda motor kan tidak boleh lewat di jalan tol yang lebar. Motor besar sekalipun akan kena tilang kalau coba-coba masuk ke jalan tol. Jalan tol ya buat roda empat, roda dua bukan disana tempatnya. Tapi kenapa kalau roda empat lewat jalan sempit yang cuma muat untuk sepeda motor tidak ditilang?

Please, Jangan Parkir Sembarangan, Bro!

Dua Mobil Diparkir Sembarangan

Dua mobil diparkir sembarangan sehingga menghalangi bus MGI yang akan berputar arah di U-turn dan angkot serta banyak sepeda motor di Jalan Margonda.

Foto diatas adalah kejadian yang RiderAlit alami siang tadi. Ketika baru saja melintas dari lampu merah Jalan Kartini memasuki Jalan Margonda, ada dua mobil yang diparkir di tepi jalan yang notabene masih merupakan badan jalan dan posisi parkirnya tepat di depan sebuah U-turn. Mobil-mobil tersebut menyulitkan sebuah bus MGI yang akan berbalik arah menuju terminal bus Depok Baru.

Kernet bus terpaksa turun dan berusaha mengatur arus lalu lintas yang rata-rata dipadati oleh pemotor dan beberapa angkot. Walaupun akhirnya bus tersebut berhasil berputar di U-turn tersebut setelah sang empunya mobil yang paling belakang (terlihat pada foto diatas) memajukan mobilnya, hal ini menimbulkan kejengkelan para pengguna jalan lainnya.

Kejadiannya cukup lama juga sampai bus MGI tersebut berhasil berputar. Bagaimana tidak lama?! Dari posisi stop-and-go, RiderAlit berhasil membuka kancing jaket, mengambil BB dari saku, melepas softcase-nya, membuka password sembilan digit, menekan tombol kamera dan akhirnya… Jepret! Foto diatas berhasil diambil. RiderAlit sih santai saja dengan kejadian tersebut. Tapi bisa dibayangkan reaksi supir angkot dan pemotor lain yang ikut berpartisipasi menyemarakan suasana dengan lantunan klakson mereka 😀 .

Anyway, mobil-mobil yang diparkir sembarangan merupakan salah satu persoalan di Jalan Margonda. Pemandangan seperti ini akan semakin marak saat akhir pekan. Walau sebenarnya hal ini merupakan salah satu friksi yang mengganggu kelancaran lalu lintas. Tapi yah, sepertinya pemilik mobil-mobil ini seperti tidak punya pilihan lain untuk parkir.

So, bagi sobat yang beroda empat, telitilah saat memilih tempat untuk parkir. Jika memang situasinya force majeure dan terpaksa parkir di pinggir jalan, harus cepat tanggap melihat situasi. Jangan sampai mengganggu dan membuat pengguna jalan lain kesal.

Parkir Mobil

Ini baru parkir mobil yang rapi 🙂 .

Salam hangat dari kota hujan.

Sang Jawara Balap Liar Tersebut Akhirnya Berpulang

Wallpaper Paul Walker dalam film 2 Fast 2 Furious

Wallpaper Paul Walker dalam film 2 Fast 2 Furious.
Sumber: http://www.hdwpapers.com/wallpaper_of_paul_walker_in_2_fast_2_furious-wallpapers.html

Media-media online mainstream saat ini sedang ramai memberitakan kecelakaan yang menimpa bintang film The Fast and The Furious, Paul Walker. Paul tewas saat menumpang Porsche Carrera GT yang dikemudikan temannya di Santa Clarita, California, AS pada hari Sabtu, 30 November 2013. Menurut informasi yang beredar, Porsche yang ditumpangi Paul hilang kendali dan menabrak pohon hingga hancur terbakar.

Paul Walker telah membintangi enam sekuel The Fast and The Furious. Berpasangan dengan Vin Diesel, Paul menunjukan aksi hebatnya mengendarai mobil-mobil sport dalam film-film tersebut. Sejak film pertama The Fast and The Furious, aksi kebut-kebutan dengan mobil sport canggih mungkin telah merasuki alam bawah sadar banyak penonton muda di berbagai belahan dunia. Tak heran kalau kita sering mendengar ada anak dibawah umur mengendarai mobil-mobil sport. Hingga berita yang cetar membahana tentang kecelakaan yang menimpa salah satu anak musisi terkenal di negeri ini. Atau anak sekolah yang dengan arogannya menabrakan mobilnya di sebuah sekolah di Sidoarjo hanya karena ditegur oleh satpam di sekolah tersebut.

Selamat jalan, Paul. Terima kasih karena telah menginspirasi kami untuk kebut-kebutan dan berlaku arogan dengan mobil-mobil kami. Terima kasih atas segala hiburan dan aksi-aksi hebat yang telah anda suguhkan untuk keluarga kami. Terima kasih juga karena telah menyadarkan kami atas konsekuensi kebut-kebutan adalah MATI. Salam hangat dari kota hujan.

Posted from WordPress for BlackBerry.