Antara Nursi dan Hawking

Stephen Hawking

Stephen Hawking

Baiklah, kita mulai dengan Hawking:

“Jika kita menemukan jawaban dari proses pembentukan alam semesta, itu akan menjadi kemenangan akal manusia. Dengan begitu, kita juga akan mengetahui jalan pikiran Tuhan.” – A Brief History Of Time, terbit 1988.

“Einstein salah ketika mengatakan ‘Tuhan tidak bermain dadu’. Dengan mempertimbangkan lubang hitam maka Tuhan bukan hanya main dadu namun kadang juga membuat kita bingung dengan melempar lubang-lubang hitam yang tidak bisa dilihat.” – The Nature Of Space And Time, terbit 1996.

“Tidak perlu meminta Tuhan agar menyalakan kertas pemicu api untuk menjalankan jagat raya.” – The Grand Design, terbit 2010.

“Saya mengibaratkan otak sebagai sebuah komputer yang akan berhenti ketika komponennya rusak. Tidak ada surga atau kehidupan setelah mati bagi komputer-komputer yang rusak. Itu hanya cerita bohong bagi orang yang takut kegelapan,” Stephen Hawking dalam wawancara dengan The Guardian.

Beberapa hari yang lalu dunia terhenyak dengan meninggalnya seorang pemikir hebat bernama Stephen Hawking. Pemikir Inggris yang pernah menjabat sebagai ketua Royal Society ini meninggalkan banyak teori-teori hebat dalam bidang fisika, astronomi dan kosmologi. Teori-teorinya banyak dikutip oleh para ilmuwan dalam buku-buku atau jurnal-jurnal ilmiah.

Sayang beribu sayang, ilmuwan yang terkenal suka melucu ini adalah seorang atheis dan pandangan-pandangannya terkesan kontroversial menentang Tuhan. Hingga akhir hidupnya pun ia masih bertanya-tanya mengapa manusia dan alam semesta bisa muncul. Hingga akhir hayatnya Theory of Everything masih menjadi misteri dan belum terpecahkan.

Agaknya Hawking salah saat menanyakan mengapa manusia dan alam semesta muncul dan mencari-cari jawabannya dalam fisika, astronomi, kosmologi atau ilmu-ilmu duniawi lain dengan menafikan keberadaan dan peran Tuhan. Bagi saya pribadi, hal tersebut seperti mencari solusi dari sepeda motor yang rusak di apotek, bukannya di bengkel. Mungkin akan lebih bijaksana jika Hawking menerima pendapat Alex Filipenko, astrofisikawan dari University of California, Berkeley, “Aku pikir, kita tak bisa menggunakan sains untuk membuktikan keberadaan Tuhan.”

Walaupun pendapat Filipenko tidak sepenuhnya benar, tapi dalam pernyataannya tidak terkesan meniadakan peran Tuhan dalam sains atau penciptaan. Justru sains adalah jalan bagi seorang makhluk untuk mengenal Penciptanya. Inilah yang dalam Islam disebut ma’rifatullah, mengenal Allah melalui akal.

Jelaslah bahwa pemikiran-pemikiran Hawking terpengaruh oleh produk pemikiran materialis. Bagi kaum materialis, jangankan eksistensi Tuhan, manusia sebagai bentuk kehidupan hanya dipandang sebagai jasmani saja tanpa roh. Apalagi Tuhan yang menciptakan manusia. Kaum materialis berpandangan segala sesuatu hanya susunan atom-atom, tanpa ada dalang yang menciptakan atom tersebut atau mengapa atom-atom tersebut harus tersusun menjadi sesuatu.

Menurut pemikiran materialis, atom tersusun menjadi segala sesuatu di dunia ini secara acak dan hanya karena kebetulan (coincidence). Padahal kalau atom-atom yang menyusun otak mereka dipertukarkan dengan atom-atom yang menyusun kursi yang mereka duduki belum tentu kursi tersebut memiliki kesadaran dan menjadi mampu berpikir. Menafikan peran Sang Pencipta dalam penciptaan alam semesta sama seperti orang yang memandang buku-buku di perpustakaan dapat tersusun sendiri tanpa ada orang yang menyusunnya, atau seperti menganggap lukisan kanvas yang indah dapat muncul dengan sendirinya tanpa ada sang pelukis.

Seandainya saya adalah Hawking, saya akan sangat bersyukur pada Tuhan. Bahwa dibalik keterbatasan fisik saya, Tuhan menjadikan saya hebat dalam melakukan satu-satunya hal yang masih bisa saya lakukan. Berpikir. Bukan menafikan apalagi sampai menentang-Nya. Karena menentang Tuhan adalah kesombongan seumur alam semesta yang juga dilakukan oleh makhluk Tuhan yang lain. Iblis.

Bagi manusia yang berharta, iblis akan menggodanya dengan hartanya. Bagi yang miskin, iblis memperdayanya dengan kemiskinannya. Bagi manusia yang bodoh, iblis akan menipunya karena kebodohannya. Dan bagi yang berilmu, iblis akan mengelabuinya dengan ilmunya. Sudah menjadi keterampilan iblis sehingga ia mampu menghias segala yang buruk hingga tampak indah. Oleh karena itu, jika ada ide-ide yang terkesan brilian namun menjauhkan seseorang dari mengingat Penciptanya maka harus diwaspadai apakah hal tersebut merupakan ilham yang dikaruniakan oleh Tuhan ataukah bisikan iblis belaka.

Terkait hal ini seorang penulis Turki, Adnan Oktar (nama pena: Harun Yahya) mengutip ucapan seorang sarjana Islam dalam salah satu karyanya:

“Kelahiran arus tiranik filosofi naturalis dan materialis secara bertahap akan menjadi kuat dan menyebar pada akhir zaman, melalui filosofi materialis yang mencapai derajat pengingkaran akan Tuhan… Cukup jelaslah kiranya betapa bodoh lawakan dari manusia yang lemah, yang dapat dikalahkan oleh seekor lalat dan tidak dapat menciptakan walaupun sebuah sayap lalat, untuk mengklaim posisi ketuhanan.”

Sarjana Islam tersebut adalah Said Nursi.

Bediuzzaman Said Nursi

Bediuzzaman Said Nursi

Keajaiban Zaman (Wonder of the Age), demikian julukan tersebut dinisbatkan pada ulama besar yang hidup pada masa akhir kekhalifahan Turki Utsmani ini. Syaikh Said Nursi menghafal Al Quran dalam waktu dua minggu, menguasai Bahasa Arab dan Parsi selain Bahasa Turki dan Kurdi. Syaikh Said Nursi mendalami ilmu falak (astronomi), kimia, fisika dan matematika hingga bisa menulis tentangnya.

Beliau telah menulis 3000 kitab dalam Bahasa Arab, dan juga mempelajari ilmu filsafat Barat dan peradabannya secara mendalam, dan juga telah menyusun 14 ensiklopedia yang mencakup permasalahan Islam modern. Kumpulan risalah-risalahnya dapat dibaca dalam Kulliyat Rasa il an Nur (Koleksi Risalah An Nur).

Syaikh Said Nursi pelopor pergerakan Islam di Turki modern dan beliau juga yang pertama kali berkonfrontasi dengan negara sekuler Turki setelah runtuhnya Khilafah Turki Ustmani. Secara gencar beliau melakukan perlawanan atas sistem sekuler yang dibangun Mustafa Kemal Ataturk. Selama Perang Dunia I, dengan kesempurnaan fisiknya beliau ikut berperang membela Turki melawan invasi Rusia.

Sukran Vahide, penulis buku Biografi Bediuzzaman Said Nursi, dalam catatan akhirnya, menyebutkan bahwa sang ulama ini adalah seorang sayyid, yakni keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Konon, ibunya adalah seorang Husaini dan ayahnya Hasani. Namun, ia tak pernah menyombongkan nasab keluarganya. (Republika, 08 November 2012)

Kemajuan Turki saat ini tidak lepas dari perjuangan yang dirintis Syaikh Said Nursi. Beliau memajukan pendidikan Turki dengan mengajarkan sains religius harus diajarkan pada satu sisi dan sains modern di sisi yang lain. Dengan cara ini orang-orang akan terlindungi dari kehilangan keyakinan akan Tuhan atau agama, dan institusi agama akan terlindungi dari fanatisme.

Apa yang dikerjakan oleh Syaikh Said Nursi sudah terbukti dan tidak hanya sekedar teori. Bukan teori-teori yang hingga akhir hayat pencetus teorinya tidak menemukan jawaban atas apa yang dicarinya. Jelas, karena Syaikh Said Nursi melandaskan pengetahuannya pada keyakinan akan adanya Tuhan. Beliau tidak tersesat dalam “lubang hitam” kebingungan dari teori yang diciptakannya sendiri. Serta tidak menarik orang lain dalam “lubang hitam” yang ia buat.

Jawaban mengapa kita dan alam semesta ini diciptakan serta untuk apa diciptakan sudah diajarkan dalam kitab suci. Bagi saya Al Quran. Tidak perlu mencari-cari atau membuat rumus-rumus atau menggunakan teori-teori ilmu duniawi yang kelak menyesatkan hingga sampai derajat menafikan eksistensi Tuhan. Karena yang terjadi pasti sebaliknya, ilmu pengetahuan akan membenarkan apa yang ada dalam kitab suci. Waktu berpuluh tahun atau bahkan berabad lamanya yang dibutuhkan oleh sains untuk menjawab persoalan alam semesta sudah dijawab oleh Tuhan dalam kitab sucinya sejak dahulu kala. Kewajiban manusia adalah mempelajari ilmu pengetahuan berdasarkan keyakinan tersebut, karena manusia terikat dengan kausalitas, hingga sampai pada titik pemahaman bahwa puncak pengetahuan adalah eksistensi Tuhan.

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Baqarah, 2: 32)

Iklan

Pengantar

Industrial Landscape

KUPANDANGI CATATANKU DAN AKU TIDAK MENYUKAINYA. Aku sudah menghabiskan tiga hari di U.S. Robots dan seperti menghabiskan tiga hari di rumah menekuni Encyclopedia Tellurica.

Orang-orang bilang Susan Calvin lahir pada tahun 1982, yang menjadikannya berumur tujuhpuluh lima tahun sekarang. Setiap orang sudah mengetahuinya. Cukup sesuai jika dikatakan bahwa U.S. Robots and Mechanical Men, Inc. juga berusia tujuhpuluh lima tahun, karena Lawrence Robertson mendirikan perusahaan yang sekarang menjadi raksasa industri teraneh dalam sejarah manusia pada tahun yang sama dengan kelahiran Dr. Calvin. Setiap orang sudah mengetahuinya juga.

Pada usia duapuluh, Susan Calvin menjadi bagian penting dalam seminar Psycho-Math dimana Dr. Alfred Lanning dari U.S. Robots mendemonstrasikan robot bergerak pertama yang dilengkapi suara. Ukurannya besar, robot kaku dan tidak bisa dikatakan bagus, berbau oli mesin dan ditujukan untuk proyek pertambangan di Mercury. Tapi bisa berbicara dan merasa.

Susan tidak bicara apa-apa pada seminar tersebut; tidak juga ikut ambil bagian dalam sibuknya sesi diskusi setelahnya. Dia gadis yang sangat dingin, polos dan tanpa ekspresi, yang melindungi diri sendiri terhadap dunia yang tidak disukainya dengan ekspresi menyerupai topeng dan hipertropi intelektual. Tapi selagi dia mengamati dan mendengarkan, dia merasakan kegairahan dan kebanggaan dalam antusiasme yang dingin.

Dia meraih gelar sarjananya di Columbia pada 2003 dan memulai kerja pasca-sarjananya di bidang cybernetic.

Semua yang telah dikerjakan pada pertengahan abad keduapuluh dalam penemuan “calculating machines” akhirnya ditumbangkan oleh Robertson dan jalur-jalur otak positroniknya. Bermil-mil relay dan photocell memberikan jalan kepada bola spons plantinumiridium seukuran otak manusia.

Susan Calvin telah mempelajari cara menghitung parameter-parameter yang dibutuhkan untuk memperbaiki variabel-variabel yang mungkin dalam “otak positronik”; untuk menyusun “otak” secara teori dimana setiap respon terhadap rangsangan yang diberikan padanya dapat diprediksi secara akurat.

Pada 2008, dia meraih Ph.D dan bergabung dengan United States Robots sebagai seorang “Robopsychologist”, yang kelak menjadi praktisi hebat pertama dalam sebuah bidang ilmu yang baru. Lawrence Robertson masih presiden dari perusahaan tersebut; sedangkan Alfred Lanning sudah menjadi kepala riset.

Selama limapuluh tahun, dia mengamati arah kemajuan umat manusia berubah dan lompatan jauh kedepannya.

Sekarang dia sudah pensiun — sebanyak yang dia mampu. Setidaknya, dia mengizinkan nama orang lain dipasang di pintu kantornya.

Itulah, pada hakikatnya, apa yang telah kulakukan. Aku memiliki daftar panjang publikasi makalahnya, paten-paten atas namanya; aku telah memiliki rincian kronologis promosi jabatannya. Pendeknya, aku telah memiliki rincian lengkap “riwayat” profesionalnya.

Tapi bukan itu yang kuinginkan.

Aku butuh lebih dari itu untuk artikel utamaku untuk Interplanetary Press. Lebih banyak lagi.

Kukatakan padanya demikian.

“Dr. Calvin,” kataku, dengan sesopan mungkin, “dalam benak publik Anda dan U.S. Robots adalah identik. Dengan pensiunnya Anda akan mengakhiri sebuah era dan…”

“Kau menginginkan sudut pandang ketertarikan manusia?” Dia tidak tersenyum padaku. Aku tidak berpikir dia pernah tersenyum. Tapi matanya tajam, walau tidak marah. Aku merasakan kilas tatapannya menembusku dan tahu bahwa aku secara tidak wajar transparan baginya; sebagaimana setiap orang mungkin merasakannya.

Tapi kukatakan, “Benar.”

“Ketertarikan manusia terhadap robot? Sebuah kontradiksi.”

“Bukan, doktor. Terhadapmu.”

“Baiklah, aku sendiri sudah disebut robot. Tentunya mereka mengatakan padamu aku bukan manusia?”

Memang, tapi tidak penting untuk mengatakannya.

Dia bangkit dari kursinya. Dia tidak tinggi dan dia terlihat lemah. Aku mengikutinya menuju jendela dan kami memandang ke luar.

Kantor dan pabrik-pabrik U.S. Robots adalah sebuah kota kecil; terencana dan tersusun. Terhampar seperti sebuah foto pemandangan dari udara.

“Saat pertama kali aku datang ke sini,” katanya, “Aku punya sebuah ruangan kecil dalam sebuah bangunan tepat dimana gedung pemadam kebakaran sekarang berada.” Dia menunjukan. “Bangunan tersebut dirobohkan sebelum kau lahir. Aku berbagi ruangan bersama tiga orang lainnya. Aku memiliki setengah bagian meja. Kami membuat robot-robot kami semuanya dalam satu bangunan. Output — tiga robot seminggu. Sekarang lihatlah kami.”

“Limapuluh tahun,” aku berbasa-basi, “sebuah waktu yang lama.”

“Tidak jika kau melihat kembali pada mereka,” katanya. “Kau akan keheranan bagaimana mereka lenyap dengan sangat cepat.”

Dia kembali ke mejanya lalu duduk. Bagaimanapun, dia tidak perlu ekspresi di wajahnya agar terlihat sedih.

“Berapa usiamu?” dia bertanya.

“Tigapuluh dua,” kataku.

“Berarti kau tidak ingat sebuah dunia tanpa robot. Ada satu masa ketika manusia menghadapi alam semesta seorang diri dan tanpa teman. Sekarang manusia memiliki makhluk-makhluk ciptaan untuk membantunya; makhluk ciptaan yang lebih kuat dari manusia itu sendiri, lebih bisa dipercaya, lebih berguna, dan mutlak patuh padanya. Umat manusia tidak lagi sendiri. Pernahkah kau memikirkan robot seperti itu?”

“Saya khawatir saya belum pernah. Boleh saya mengutip Anda?”

“Silahkan. Mungkin bagimu, robot adalah robot. Gerigi roda dan logam; kelistrikan dan positron. Pikiran dan besi! Buatan manusia! Jika diperlukan, dihancurkan manusia! Tapi kau belum pernah bekerja dengan mereka, jadi kau tidak mengenalnya. Mereka lebih bersih, berkembang biak lebih baik daripada kita.”

Aku coba menyentuhnya secara sopan dengan kata-kata, “Kami ingin mendengarkan beberapa hal yang bisa Anda ceritakan pada kami; mendapatkan pandangan Anda terhadap robot-robot. Interplanetary Press menjangkau seluruh Tata Surya. Audiens potensialnya tiga milyar, Dr. Calvin. Mereka penasaran apa yang bisa Anda ceritakan pada mereka tentang robot.”

Sebenarnya tidak perlu menyentuhya. Dia tidak mendengarkanku, tapi dia sedang menuju arah percakapan yang tepat.

“Mereka mungkin sudah mengetahuinya sejak permulaan. Kami menjual robot-robot untuk penggunaan di Bumi — bahkan sebelum zamanku. Tentu saja, pada saat itu robot tidak bisa berbicara. Selanjutnya, mereka menjadi lebih manusia dan perlawanan dimulai. Serikat-serikat buruh, tentu saja, secara alami menentang kompetisi robot untuk pekerjaan-pekerjaan manusia, dan berbagai segmen pendapat agama mengutarakan keberatan-keberatan takhayul mereka. Itu semua terasa agak konyol dan tak berguna. Dan seperti itulah adanya.”

Aku merekamnya kata demi kata dalam perekam sakuku, mencoba tidak menunjukan gerakan ruas jari tanganku. Jika kau sedikit berlatih, kau akan sampai pada titik dimana kau bisa merekam secara akurat tanpa mengeluarkan gadget dari sakumu.

“Ambil contoh kasus Robbie,” katanya. “Aku tak pernah mengenal dia. Dia dibongkar pada tahun sebelum aku bergabung dengan perusahaan — tiada harapan ketinggalan zaman. Tapi aku melihat seorang gadis kecil di museum–”

Dia berhenti, tapi aku tidak mengatakan apapun. Kubiarkan matanya berkabut dan pikirannya menerawang masa lalu. Dia memiliki banyak waktu untuk mengingat kembali.

“Aku mendengar tentangnya kemudian, dan ketika orang-orang menyebut kami penghujat dan pencipta iblis, aku selalu memikirkan dia. Robbie adalah sebuah robot non-vokal. Dia tidak bisa berbicara. Dia dibuat dan dijual pada 1996. Saat itu adalah hari-hari sebelum terjadinya spesialisasi ekstrim, jadi dia dijual sebagai pengasuh anak.”

“Sebagai apa?”

“Sebagai pengasuh anak.”

Gowes ke Gunung Pancar

Selasa, 7 November 2017 lalu saya jalan-jalan ke Gunung Pancar. Yah… walaupun tidak sungguh-sungguh jalan juga sih. 😀 Dikarenakan tidak ada kendaraan umum yang melewati rute dan langsung tembus ke Gunung Pancar maka saya memilih gowes sepeda gunung andalan saya ke sana. Dengan pertimbangan kalau naik sepeda motor sepertinya jalan-jalannya jadi kurang seru, karena jaraknya juga cuma selemparan bola bekel heuheu… juga karena Gunung Pancar adalah salah satu rute MTB dan downhill favorit banyak pecinta sepeda. Selain juga karena anjuran salah seorang kawan di FB saat saya posting foto-foto weekend ride saya di Sentul Highlands. “Lanjut ke Gunung Pancar, kang.” Siap, kang bro! Lanjutkan! 😀

Berangat kira-kira jam 8 pagi saya melewati rute gowes favorit saya, yaitu Jalan Tegar Beriman, Stadion Pakansari, Jalur Alternatif Sentul, Babakan Madang hingga ke kawasan Sentul Highlands. Saat tiba di gerbang sirkuit Sentul saya sempatkan untuk mengisi perbekalan air minum di sebuah mini market tidak jauh dari gerbang sirkuit. Walaupun saya juga membawa persediaan air minum dalam botol di tas dan kondisi cuaca saat itu sangat sejuk karena malam sebelumnya hujan lebat mengguyur kawasan Bogor, tetap saja menambah persediaan air minum adalah ide yang sangat baik.

Dari sana saya langsung melanjutkan perjalanan menuju Sentul, melewati gerbang terus menanjak hingga ke Sentul Highlands. Sempat disalip oleh serombongan group riding yang menggowes road bike secepat kilat, saya lanjutkan menanjak santai. Saya mau jalan-jalan, Om. Bukan mau balapan, karena kalau balapan sudah pasti saya kalah. Sampeyan pakai road bike ringan sedangkan saya MTB Hi-Ten, ban lebar, fullsus pula, sudah pasti kalah cepat heuheu… 😀 Sampai di halte bus dekat Mediterania II, saya sempatkan recharge lagi. Eh, ada seorang bapak yang ikut mampir juga. “Dari mana, pak?” tanya saya. Beliau jawab, “Dari pasar Madang, giling daging buat bakso.”  Obrol-obrol, ternyata si bapak ini punya usaha kedai bakso di sekitaran Sentul. Sambil istirahat kami mengobrol santai.

Ternyata beliau pendatang yang sudah lama tinggal di daerah Sentul, sebelum kawasan elite Sentul City ini dibangun. Asalnya dari Wonogiri. Lah, kebetulan. 😀 “Tiap hari naik sepeda ke pasar Madang, pak?” tanya saya. “Ah, nggak. Seminggu dua tiga kali lah. Biasanya naik motor.” begitu katanya. Beliau menunjukan rute-rute yang bisa dilewati menuju Gunung Pancar. Selain lewat Jungleland Sentul ini, bisa lurus dari pasar Madang sebelum berbelok di pertigaan jalan ke Sentul City ini. Atau dari arah Bellanova juga bisa. Ok, itu saya tau dan paham. Tapi tetap saya hargai informasi dari beliau. Akhirnya saya pamit lebih dahulu melanjutkan perjalanan. Sempat berhenti beberapa kali di spot-spot yang menarik untuk memotret.

Dari Mediterania II  terus mengikuti aspal menanjak arah ke Jungleland. Melewati Taman Budaya jalan datar terasa nikmat, penawar rasa lelah saat menanjak. Setelah jalan datar ini ada turunan surga. Masya Allah… jooooosss tenan. 😀

Setelah turunan yang lumayan asoy ini saya berbelok ke kiri melewati Masjid Jami Al Munawaroh. Mampir sebentar. Lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju bundaran Sentul Nirwana.

Dari bundaran Sentul Nirwana saya ambil jalur ke kiri melewati lingkungan perumahan. Arah ke Jungleland.

Keluar dari kawasan Sentul City saya memasuki Desa Karang Tengah. Aspal jalan di sana tidak semulus aspal di Sentul City tentunya, dengan jalan yang tidak lebar, cukup untuk satu mobil dan satu sepeda motor. Pemukiman warga di kiri dan kanan jalan. Ada beberapa penunjuk arah yang memberitahukan pengguna jalan beberapa objek wisata seperti curug di kawasan Sentul ini. Tapi saya tetap lurus menuju Gunung Pancar. Melewati kantor Desa Karang Tengah jalan menanjak semakin tinggi. Beberapa warga setempat terlihat berseliweran, melaju kencang mengendarai skutik, baik turun atau naik.

Terus menanjak sampai terengah-engah, udara tetap sejuk, pemandangan semakin indah. Sawah dan gunung di kejauhan memanjakan mata dan kamera di handphone. Melewati sebuah camping ground saya teruskan perjalanan menanjak kembali. Kemudian kembali beristirahat di sebuah bangunan kosong, recharge, mengurangi beban air minum dalam tas punggung lalu mengkonversinya menjadi energi dengan sisa ekskresi berupa keringat. Walau sejuk, tapi karena banyak tenaga yang digunakan keringat tetap bercucuran. Beberapa mobil dan motor terlihat berlalu lalang di jalanan yang sepi itu.

Jam menunjukan pukul sepuluh lebih beberapa menit. Saya terus lanjutkan menanjak. Agak keheranan juga, karena di sana mungkin pertaniannya masih sangat alami maka di udara yang sejuk ini tercium aroma, mohon maaf, kandang sapi atau kerbau heuheuheu… Menanjak, menanjak, menanjak dan terus menanjak sambil menikmati pemandangan. Akhirnya terlihat beberapa pohon pinus di kejauhan. Alhamdulillah, sudah dekat.

Jalan sudah mulai datar. Beberapa warung milik warga terlihat di sisi kiri saya, hingga masuk ke jalan yang sangat teduh karena sudah memasuki hutan pinus Gunung Pancar. Tidak lama kemudian saya sampai di gerbang Taman Wisata Alam Gunung Pancar. Karena bukan hari libur, jadi objek wisata ini cukup sepi. Ada beberapa camping ground di dalam sini yang bisa digunakan untuk berkemah. Kios, kedai atau warung makan banyak tersedia. Beberapa pemuda-pemudi terlihat asyik nongkrong dengan skutik mereka. Beberapa anak berseragam sekolah terlihat berjalan. Hm, pasti rumah dan sekolahnya jaraknya jauuuuuh heuheuheu… Ini seperti cerita klasik anak-anak sekolah di daerah pelosok. Remote site! Bersyukurlah anda yang tinggal di wilayah perkotaan.

Pemandian air panas adalah salah satu objek yang membuat Gunung Pancar terkenal. Selain kesejukan, hutan pinus serta track MTB dan downhill-nya. Ada dua macam pemandian air panas di sana. Satu yang deluxe dan yang biasa-biasa saja. Tidak hanya wisatawan lokal, wisman pun kadang menikmati pemandian air panas di sini. Tarif pemandian air panas yang deluxe sekitar dua ratus ribu rupiah saja. Silahkan dicoba.

Apa lagi yang membuat Gunung Pancar terkenal? Gardu pandang! Yup, kalau dulu di wilayah hutan dan pegunungan biasanya dibangun pos-pos pemantauan berupa rumah pohon, nah karena zaman now anak-anak mudanya senang berswafoto maka di Gunung Pancar banyak di bangun rumah pohon yang fungsinya mirip seperti pos pemantauan cuma tanpa atap. Fungsinya untuk membuat latar swafoto semakin keren, hits, kekinian dan membuat objek fotonya kece badai heuheuheu… 😀 Rumah-rumah pohon ini populer disebut gardu pandang. Racun fotonya banyak bertebaran di Instagram.

Kalau diikuti terus jalan disana terus menanjak. Akhirnya karena perut saya mulai nge-rock, bukan keroncongan lagi, maka saya memilih beristirahat di sebuah kedai. Jadi deh sebutir kelapa muda dan sepiring mie instan menjadi pelampiasan lapar saya heuheuheu… 😀 Perut lapar, udara sejuk, hutan yang teduh, angin sepoi-sepoi dan semangkuk mie hangat dan kelapa muda segar… Subhanallah.

Sambil beristirahat saya menikmati asrinya pemandangan di sana. Sudah sekitar jam dua belas siang lewat beberapa menit, tapi udaranya masih seperti pukul enam pagi. Subhanallah. Asyik memotret tidak terasa cahaya matahari semakin lama semakin gelap dan teduh. Kabut tipis mulai terlihat di dedaunan. Tidak lama kemudian hujan lebat mengguyur. Saya pun berteduh di sebuah kedai kosong menunggu hujan reda.

Hujan ditunggu tidak kunjung reda. Barulah pukul empat sore lewat beberapa menit hujan mulai reda, menyisakan rintik-rintik gerimis yang masih menetes dari langit, dedaunan dan dahan-dahan. Akhirnya saya bulatkan tekad untuk turun. “Pak…?!” begitu reaksi seorang pemilik kios saat melihat saya menaiki sepeda dan mulai menggowes. Loh, kok heran? Sudah sering lihat orang naik sepeda kan heuheuheu… 😀

Kalau tadi saya menanjak maka sekarang saat pulang saatnya menikmati turunan. Yeaaay… Jalan licin, hujan rintik-rintik, genangan air dimana-mana, aspal yang hancur dan turunan terjal… Mantab! Semakin asyik nih turunannya. Saat seperti itulah keterampilan bersepeda diuji. Phone holder yang saya pasang ternyata cukup kuat menahan iPhone yang saya pasang. Berkali-kali guncangan tidak membuat posisinya bergeser.

Melesat kencang menuruni jalan terjal diatas sepeda. Sensasi yang sama dengan melesat kencang diatas sepeda motor. Saat-saat seperti itulah kita benar-benar menyadari bahwa kita sepenuhnya bergantung pada Allah Yang Maha Kuasa. Seterampil apapun kita, hanya Allah yang berhak menentukan hidup mati kita. Nikmati. Tidak semua orang bisa merasakan sensasi seperti ini.

Pemandangan puncak gunung berselimut kabut lah yang akhirnya bisa merayu saya menghentikan sepeda sejenak.

Asyik menikmati pemandangan dan memotret, tidak terasa genangan air hujan menembus sepatu saya. Ditambah aliran air yang turun cukup deras, jadilah sepatu basah tembus hingga ke kaos kaki. Dingin.

Saat turun dari Desa Karang Tengah saya memutuskan berbelok ke kanan. Melewati Jungleland menuju Sentul Nirwana lalu menanjak ke Sentul Highlands. Kalau tadi saat berangkat turunannya lumayan nah saat pulang menjadi lumanyun hahaha… 😀 Sampai di Sentul Highlands jalan datar sedikit kemudian… TURUNAN SURGA! Yeaaay… melesat kencang tanpa gowes terus sampai ke jalan M. H. Thamrin. Masya Allah. Aspal mulus, turunan tinggi, sensasinya WOW! BIG WOW!

Berputar arah di U-Turn jalan M. H. Thamrin saya harus menunggu beberapa saat karena lalu lintas cukup ramai. Menunggu jalan agak sepi dari motor dan mobil yang melesat kencang, baru kemudian berputar. Hehehe… gila juga tadi itu. Naik sepeda tapi melesat berbarengan dengan motor dan mobil padahal ada rambu rawan kecelakaan. Masya Allah.

Balik di jalan Babakan Madang. Suasana ramai dengan bermacam-macam kendaraan dengan aspal becek dan tanah basah seperti lumpur. Jadilah cipratan-cipratan air mengotori celana, baju dan tas. Fender/spakbor belakang yang saya pasang tidak efektif untuk menahan cipratan air dan tanah dari roda. Aspal yang rusak dan berlumpur serta truk-truk besar ke arah jalan Alternatif Sentul menjadi tantangan saat pulang. Semburat jingga kemerahan di ufuk barat menyambut kepulangan saya saat memasuki Stadion Pakansari.

Berputar setengah lingkaran dari Stadion Pakansari menuju jalan Tegar Beriman kemudian berbelok ke arah Jalan Sukahati. Lurus melewati lampu merah di perempatan jalan Sukahati menuju Bambu Kuning saya sempat menikmati pemandangan matahari terbenam diatas jembatan beton sungai Ciliwung. Tanpa saya sadari sebelum saya sampai sudah ada seorang pesepeda lain yang menepi di pinggir jembatan, juga sedang menikmati pemandangan. Pemandangan disini memang indah. Derasnya arus sungai Ciliwung dengan bebatuan besar di bawah, pepohonan, puncak gunung berhias gumpalan-gumpalan awan sebagai latar belakang, kilasan sinar matahari yang memudar dan mega-mega kemerahan di langit sore ditambah pemandangan waterboom di sebelah kanan. Maha Suci Allah. “Mari, pak.” Saya pamit mendahului pesepeda yang tadi saya jumpai. Dia membalas dengan senyum dan anggukan kepala.

Menjelang maghrib saya sampai di rumah. Dengan kondisi badan, pakaian dan sepeda yang kotor seperti habis bermain lumpur. 😀

Weekend Ride 04 November 2017

Yup, seperti yang saya katakan pada pos kemarin. Hari ini saya coba berikan hasil rekaman kamera handphone yang saya pasang menggunakan phone holder saat bersepeda hari Sabtu kemarin. Hasilnya? Parah, bro!!! Heuheuheu… 😀

Kesimpulannya:

  1. Backlight akibat sinar matahari pagi membuat video hasil rekaman hitam.
  2. Guncangan di stang sepeda membuat hasil rekaman hancur! Maklum, tidak ada fitur OIS di handphone, videonya pun cuma 30 fps dan resolusi kameranya sendiri untuk memotret cuma 5 MP.
  3. Posisi phone holder di stang lama-kelamaan akan mengendur akibat guncangan selama perjalanan, ditambah aspal yang tambal sulam dan speed trap (polisi tidur) mempercepat posisi holder semakin berputar kebawah sehingga kamera handphone mendongak ke atas.
  4. Handphone yang digunakan untuk merekam cuma bisa merekam dengan durasi maksimal 10 menit.
  5. Sesekali harus memperhatikan posisi holder saat digunakan untuk merekam. Mungkin bisa lebih dikencangkan mounting-nya.

Okay, itu kesimpulannya. Kedepannya saya akan coba handphone dengan kualitas yang lebih baik.

Silahkan dinikmati efek camera shaking, backlight dan musiknya. Efeknya real, lho. 😀

Eksperimennya berhasil, kakak. Dengan hasil yang hancur, monggo dimaki-makilah hahaha… 😀

Pasang Phone Holder Sepeda

Hmm… di rumah ada handphone lawas yang sebetulnya masih produktif cuma karena teknologinya mentok di CDMA dan sekarang sudah zamannya 4G LTE jadi saya coba manfaatkan. Lumayan, tuh handphone sebetulnya masih bisa dipakai telepon-teleponan, SMS-an pakai slot GSM-nya yang 2G atau motret-motret, main games dan mendengarkan musik. Jadi, kira-kira bisa digunakan untuk apa ya?

Akhirnya ada ide bagaimana kalau handphone itu dipakai buat teman weekend ride. Iseng-iseng cari di Lazada ada phone holder yang modelnya ternyata bukannya cuma sebagai bracket saja, dengan pengaturan posisi yang benar, handphone-nya bisa dijadikan kamera untuk bikin vlog. Wah, lumayan dong buat alternatif action cam.

Pasang phone holder-nya sendiri gampang banget. Plug and play-lah. Nggak perlu baca manual macam-macam. Toh cuma ada dua mounting, satu untuk stang, satunya lagi buat si phone holdernya sendiri yang bentuknya seperti jepitan rambut cewek.

Okay… nanti saya coba share dengan sobat semua hasil rekaman handphone lawas tersebut yang diposisikan dengan phone holder yang dimaksud. Selamat berakhir pekan. Salam hangat dari kota hujan.

Weekend Ride 28 Oktober 2017

Jalan MH Thamrin, Sentul City, Bogor

Jalan MH Thamrin, Sentul City, Bogor

Yeaah… Setelah bosan dengan track yang itu-itu saja, akhirnya saya mencoba mencari track yang belum pernah saya coba dengan sepeda akhir pekan kemarin. Jadi deh saya jalan-jalan ke kawasasan Sentul Highlands via Stadion Pakansari dan Jalan Alternatif Sentul. Sampai di Sentul City udara sejuk menjadi kompensasi keringat yang mengucur akibat melintas di Babakan Madang yang berdebu dan banyak roda empat serta truk besar.

Menanjak ke kawasan Golf Mediterania II lurus terus kemudian berputar arah menuju Jalan MH Thamrin. Nah, setelah tanjakan yang tingggggggi pastinya ketika berputar kita akan mendapatkan turunan yang tinggggggggggggggi… Heuheuheu. Wow, amazing!!! Pedal sepeda sudah tidak berarti lagi. Udara pagi Gunung Geulis yang sejuk menerpa kulit selama melesat kencang. Mantab!

Zeneos ZN 77 Front & Rear Buat New Blade 110R

Sudah seminggu ini saya riding harian menggunakan Zeneos ZN 77 di bebek besi andalan saya. Depan 70/80 dan belakang 80/90. Sejak menunggang si Sepira Supra X 125D dulu juga saya sudah percaya dengan brand keluaran PT. Gajah Tunggal ini. Kalau untuk Soul GT 125 AKS/SSS kemarin saya memilih Aspira Sportivo Premio, untuk bebek saya memilih brand yang saya sudah buktikan sendiri saja. Enggan pindah ke lain hati 😀 . Makanya saya tetap memilih Zeneos ZN 77 untuk dipasang di bebek tunggangan sehari-hari. Untungnya lagi saat pemasangan di Castrol Bike Point Bambu Kuning, Bojonggede sedang ada promosi ban tubeless dengan cairan tyre-guard. Alhamdulillah.

Kesan? Sama seperti dulu di Supra X 125D. Zeneos ZN 77 ini cukup asyik untuk digunakan berbelok miring-miring melintasi kelokan. Khusus ban depannya saya rasakan lebih empuk saat melindas polisi tidur bila dibandingkan ban tube-type bawaan pabrik yang digunakan New Blade 110R. Melintasi aspal tambal sulam dan tidak rata pun terasa lebih nyaman. Untuk kontur beton yang terkikis hujan dengan kerikil bertebaran pun stabil, tidak goyang.

Okelah, semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.