Dua Ratus Rupiah Saja dan Saatnya Beralih ke SPBU Asing

spbu-shell-pasar-minggu

SPBU Shell di jalan Pasar Minggu arah Pancoran

“Harga Premium dari Rp 7.300/liter turun jadi Rp 6.950/liter ini harga keekonomian, tapi karena ada pungutan dana ketahanan energi Rp 200/liter untuk premium, maka harga Premium jadi Rp 7.150/liter, atau turun Rp 150/liter,” kata Menteri ESDM Sudirman Said, saat mengumumkan penurunan harga BBM di Istana Negara, beberapa waktu lalu.

Sumber: Harga Pertamax dan Pertalite Turun Mulai 5 Januari

Mulai 05 Januari 2016 pengguna BBM Premium yang diproduksi oleh Pertamina memang diuntungkan dengan adanya penurunan harga. Tapi juga dikenakan pungutan dengan alasan untuk dana ketahanan energi atau pengembangan energi terbarukan. Dua ratus rupiah saja, sih? Tapi…

Jika pengguna Premium rata-rata mengisi BBM kendaraannya dua liter per hari dikalikan dua ratus rupiah lalu dikalikan lagi dengan sekian juta pengguna dikalikan lagi enam hari kerja, kira-kira berapa triliun ya pemasukan untuk ‘dana ketahanan energi’ dalam enam hari kerja? Kalau sebulan jadi berapa? W o w… uang semua, tuh. Yakin digunakan untuk dana ketahanan energi? 🙂

Kalau ditimbang-timbang, memang pungutan ini terdengar seperti Polluter Pays Principle atau Prinsip Pencemar Membayar (PPM). Menurut prinsip ini:

Pencemar harus menanggung biaya yang timbul karena pencemaran sedemikian rupa sehingga limbah yang dibuang sesuai dengan baku mutu yang ditentukan. Ini berarti bahwa PPM memberikan suatu hak untuk membuang limbah ke dalam lingkungan sampai jumlah tertentu bebas dari pungutan. Interpretasi demikian ini merupakan interpretasi dasar dan sempit.

Nah, perlu digarisbawahi “sampai jumlah tertentu bebas dari pungutan”. Kalau ‘jumlah tertentu’ tersebut terkonsentrasi di Jabodetabek (dengan asumsi region terbesar dalam konsumsi BBM kendaraan), kenapa diberlakukan secara keseluruhan? Bukan di daerah dengan jumlah pengguna BBM yang terbesar dan resiko pencemaran lingkungan terbesar saja? Selain itu, pungutan ini terkesan seperti pajak karbon dimana perusahaan dan individu wajib mengurangi bahan bakar fosil yang digunakan dengan cara menerapkan ‘pajak pencemaran’. Jadi, dua ratus rupiah per liter itu pajak pencemaran yang digunakan untuk dana ketahanan energi atau pengembangan energi terbarukan? IMHO, terasa jadi seperti pungutan BPJS. 🙂

Untuk menangani kondisi yang disebabkan oleh perubahan iklim, sebagai contoh, pemerintah dapat menerapkan pajak atas emisi dan bahan bakar yang berasal dari fosil. Kebijakan ini dikenal sebagai pajak karbon (carbon taxes). Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk mengurangi emisi gas yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan dalam proses produksinya, dan juga untuk mengurangi jumlah bahan bakar fosil yang digunakan individu maupun perusahaan-perusahaan. Dengan menerapkan pajak-pajak tersebut, diharapkan perusahaan-perusahaan akan berupaya untuk berinovasi dan membangun manajemen limbahnya dengan baik, sehingga dapat mengurangi pembayaran pajak yang tentunya akan menaikkan ongkos produksi.

Yah, buat saya pribadi daripada ‘dibingungkan’ oleh pungutan ini lebih baik cari yang jelas-jelas saja. Kalau ada SPBU selain Pertamina, saya prefer isi BBM di sana. Toh, SPBU-SPBU itu juga melakukan R&D dalam produksi BBM yang berusaha mengurangi dampak negatifnya bagi lingkungan.

Bagi yang mau membaca lebih jelas tentang PPM bisa meluncur ke Pajak dan Pencemaran Lingkungan.

Iklan

Mungkin Memang Saatnya Harga BBM Naik

Sedot Premium, josss!

Sedot Premium, josss!

Seperti biasa, pulang kerja saya selalu sempatkan mampir ke SPBU untuk mengisi tangki Si Sepira agar selalu penuh. Kira-kira jam 10 malam lewat beberapa menit saya sampai di sebuah SPBU (mohon maaf lokasi dan nomor SPBU saya rahasiakan), suasana sepi sehingga saya bisa langsung meluncur ke arah dispenser Premium yang ditujukan untuk motor dan kendaraan umum lain. Belum sampai di dispenser, saya lihat ada sebuah mobil baru saja berhenti di sana. Saya pun akhirnya ikut mengantri di belakang mobil tersebut.

Selagi saya menunggu, terjadilah percakapan berikut.

Petugas: “Berapa, pak?”
Supir: “Dua ratus ribu, mba.”
Petugas: “Mulai dari nol ya, pak.”

Waduh, bakal lama nih. Sambil iseng-iseng, saya sempatkan mengabadikan momen-momen berharga ini 😀 . Tengok kiri-kanan, saya baca-baca tulisan yang ada disebelah kiri saya, “Tidak melayani pembelian menggunakan jerigen.” Beberapa menit kemudian selesailah pengisian BBM ke tangki mobil tersebut. Si Sopir membayar dan langsung tancap gas. Tibalah giliran Si Sepira diisi bensin. Saya lalu membuka kunci jok dan tutup tangki Si Sepira.

Petugas: “Berapa, pak?”
Saya: “Delapan ribu, mba.”
Petugas: “Mulai dari nol ya, pak.”
Saya: “Iya.”

Saya melirik penunjuk harga dan literan dispenser, beberapa detik kemudian tangki penuh. Alhamdulillah, full sampai hampir mendekati bibir tangki. Saya menutup tangki dan memberikan uang lalu menggeser maju Si Sepira karena di belakang saya sudah ada pemotor lain yang mengantri.

Petugas: “Kembaliannya, pak. Empat puluh dua ribu. Terima kasih.”
Saya: “Sama-sama.”

Saya posisikan kunci ke ON lalu menekan jok agar terkunci. Kemudian menyelah kick starter beberapa kali agar mesin Si Sepira hidup. Setelah mesin hidup, saya menarik gas sebentar lalu saya pindahkan gigi dari netral ke gigi 1 untuk meluncur melanjutkan perjalanan pulang.

Posted from WordPress for BlackBerry.