Mungkinkah Weighing Sensor Diterapkan Pada Commuter Line?

Sejak diubahnya jadwal perjalanan Commuter Line per 01 April 2017 setidaknya dua efek negatif dirasakan oleh penumpang Commuter Line Jabodetabek. Pertama adalah waktu tunggu yang lebih lama dan yang kedua adalah semakin padatnya penumpang. Akibat waktu tunggu yang lebih lama mengakibatkan lonjakan jumlah penumpang pada jam-jam sibuk, yaitu saat pagi hari dan sore hari. Waktu tunggu yang lebih lama ini juga membuat perjalanan jadi lebih lama karena penumpang harus lebih lama berada di stasiun kereta. Sedikitnya kursi atau tempat duduk di stasiun juga membuat perjalanan membosankan. Pelayanan Commuter Line yang sudah baik sebelumnya jadi memburuk.

Lonjakan jumlah penumpang yang terjadi saat jam-jam sibuk sebetulnya bisa ditangani. Jika demi keselamatan penumpang saat perjalanan pintu kereta tidak boleh terbuka, maka bagaimana jika demi kenyamanan penumpang beban pada setiap gerbong kereta juga tidak boleh berlebih? “Penumpang sebaiknya tidak mengganjal pintu-pintu kereta. Kereta tidak akan diberangkatkan selama ada pintu kereta yang terbuka.” Begitu peringatan masinis di setiap stasiun perhentian. Nah, jika menggunakan weighing sensor atau sensor berat atau over load sensor maka tidak hanya keselamatan tapi juga kenyamanan penumpang di dalam rangkaian kereta menjadi prioritas. Jadi naik satu derajat. Tidak hanya keselamatan, kenyamanan pun jadi pertimbangan para pemangku kepentingan Commuter Line.

Jika sensor berat bisa diterapkan, maka beban penumpang di setiap gerbong bisa diketahui. Jika sensor mendeteksi berat berlebih berarti terjadi kelebihan muatan dalam gerbong yang juga berarti penumpang sudah mulai berdesakan. Seperti pada lift atau elevator. Lift tidak akan beroperasi jika sensor berat pada kabin lift mendeteksi berat berlebih. Jadi nanti juga akan terdengar pesan masinis, “Kereta tidak akan diberangkatkan jika ada gerbong kereta yang kelebihan muatan.” Heuheuheu… πŸ˜€ Selama kondisi over load terdeteksi, pintu-pintu gerbong akan terbuka dan penumpang yang datang paling akhir harap sadar diri untuk meninggalkan gerbong. πŸ˜€

Tentunya sensor di setiap gerbong harus bisa dikendalikan secara terpusat pada sebuah rangkaian. Apakah akan diaktifkan atau tidak diaktifkan, berapa batas toleransi berat beban yang diizinkan, apakah akan diaktifkan pada setiap gerbong atau gerbong tertentu saja. Keren kalau bisa seperti ini! Tentunya jumlah armada Commuter Line juga harus memadai untuk menghindari konsentrasi berlebihan di stasiun kereta karena konsentrasi massa yang berlebihan itu berbahaya. Paham maksud saya kan. πŸ™‚

Sistem pelayanan Commuter Line yang ada saat ini sudah baik dan masih bisa jadi lebih baik lagi. Tentunya juga dengan kesadaran dan ketertiban penumpang sebagai pengguna sistem. Harus bisa disiplin dan tertib demi kebaikan diri mereka sendiri. Yah, ini hanya sekedar sumbang saran.

Tentunya dibalik kesulitan ada kemudahan. Sungguh dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Dan Tuhan tidak akan membebani hamba-Nya melebihi kemampuan dirinya.

Selamat menjalankan ibadah Ramadhan. Semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.

Sumber gambar: Kompas.com

Iklan

Ada Ticket Vending Machine di Stasiun Pondok Cina

image

Seorang petugas membantu para calon penumpang menggunakan Commuter Line Ticket Vending Machine di stasiun Pondok Cina.

Pulang kerja hari Kamis sore kemarin saya mampir ke kampus tercinta Universitas Gunadarma. Sekembalinya dari sana saat memasuki halaman stasiun Pondok Cina ternyata ada pemandangan yang berbeda yang saya jumpai. Kalau sekitar sebulan yang lalu saya masih membeli tiket di loket yang dilayani oleh petugas, tadi sore saya mendapati loket-loket tersebut ditutup. Sebagai gantinya di dekat gate keluar-masuk stasiun saya melihat beberapa vending machine sebagai ganti petugas loket tiket Commuter Line. Selain itu, ada sekitar tiga petugas yang membantu calon penumpang dalam melakukan top-up ticket Commuter Line menggunakan mesin tersebut.

Well, good improvement. Di negara-negara maju pembelian tiket secara swalayan seperti ini mungkin sudah lama diterapkan. Sebagaimana penerapan teknologi yang berdampak pada perubahan atau kemajuan suatu sistem, pasti ada kontra opini yang menyertai. Begitu juga dengan penerapan vending machine ini. Seorang calon penumpang di belakang saya berkomentar, “Tenaga manusia semakin lama semakin berkurang, nih.” Nanti kita bahas, ya. πŸ™‚

Apakah ini cuma trial saja? Tidak sepertinya. Lebih dari sekedar trial, ini pilot project. Saya bisa paham kenapa stasiun Pondok Cina yang dipilih. Calon penumpang di stasiun ini memiliki rentang usia antara 18 s.d 40 tahun. Penumpang pada rentang usia ini adalah individu yang terbuka pada kemajuan teknologi dan senang mempelajari hal-hal yang baru, juga melek dunia TI, memanfaatkan gadget seperti makanan sehari-hari. Terlebih lagi, sebagian besar penumpang di stasiun ini adalah karyawan dan akademisi (dosen dan mahasiswa serta pelajar). Kaum terdidik. Mereka yang tidak hanya paham menggunakan alat/teknologi, tapi juga memiliki attitude yang positif terkait teknologi. Wajar, stasiun ini diapit dua universitas besar.

Cara Menggunakan Ticket Vending Machine

Untuk dikatakan secara sederhana, cara kerja mesin interaktif ini seperti kalau mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri) digabungkan dengan CDM (Cash Deposit Machine) serta access door.

Ada dua slot input, slot THB (Tiket Harian Berjaminan) dan slot untuk memasukan uang yang dibayarkan. Slot uang ini menerima denominasi seratus ribu, limapuluh ribu, duapuluh ribu, sepuluh ribu, lima ribu dan dua ribu rupiah. Untuk pengguna KMT (Kartu Multi Trip) disediakan semacam scanner di dekat layar sentuh, seperti yang biasa digunakan di loket dan gate keluar/masuk.

Karena saya menggunakan THB, maka hal berikut ini yang saya lakukan. Saya memasukan tiket ke slot untuk tiket, setelah itu mesin secara otomatis mendeteksi kartu tersebut. Jika sebelumnya kita tidak memiliki THB, maka klik dulu pada layar sentuh tersebut untuk membeli THB baru. Selanjutnya mesin akan menampilkan pilihan stasiun tujuan pada layar sentuh dalam bentuk rute/jalur rel Commuter Line. Terus terang, calon penumpang yang tidak terbiasa membaca rute kereta sepertinya bisa dibuat bingung saat memilih oleh gambar rutenya karena banyak sekali nama stasiun. πŸ™‚ Klik stasiun tujuan yang ada di layar, setelah itu tarif perjalanannya diketahui secara otomatis.

Langkah selanjutnya adalah kita wajib memasukan uang ke slot uang. Slot tersebut akan menarik uang yang kita sodorkan ke hadapannya. πŸ™‚ Ingat, nilai uangnya harus sama dengan atau lebih besar daripada nilai tarif perjalanan. Jangan tanya pada saya apa yang akan terjadi jika nilai uang yang dimasukan lebih kecil daripada tarif perjalanan, karena saya belum mencoba melakukan hal tersebut. πŸ™‚ THB akan dikeluarkan dari slot tiket yang sama di sebelah slot uang. Jangan lupa diambil THB-nya.

Berhubung mesin ini belum difungsikan secara penuh kemarin, maka slot output di sebelah kiri yang digunakan untuk mengeluarkan uang kembalian belum berfungsi. Lah, uang kembaliannya hilang, dong? Nah, disitulah fungsi petugas yang tadi saya katakan. Selain membantu dan mengedukasi calon penumpang, petugas tersebut juga memberikan uang kembalian yang seharusnya dilakukan oleh mesin ini. Jadi, kita tetap menerima uang kembalian kita. Kedepannya marilah kita berharap ticket vending machine ini bisa berfungsi secara penuh.

Disetiap langkah penggunaan mesin ini ada suara dalam bahasa Indonesia yang memandu kita dalam menggunakannya. Interaktif kan? πŸ™‚ And IT’s everywhere. #ubiquitos #autonomous

Sekarang kita bahas baik/buruknya penggunaan mesin ini.

The Good

  1. Transaksi menjadi lebih cepat, khususnya jika slot uang kembalian juga berfungsi dan masyarakat sudah familiar dengan mesin ini.
  2. Bagi pihak manajemen, investasi vending machine bisa memangkas pengeluaran terkait upah petugas loket. πŸ™‚
  3. Bisa difungsikan duapuluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu, dalam setahun penuh. Tidak perlu cuti atau izin sakit atau keluhan lain, dsb. πŸ™‚ Satu mesin mengalami malfungsi, mesin lain stand by.
  4. Semakin maju teknologi transportasi masal di suatu negara mencerminkan tingkat pendidikan masyarakat yang semakin baik dan budaya yang positif di negara tersebut.

The Bad and The Question

  1. Terkait lapangan pekerjaan, setidaknya satu posisi lagi yang sebelumnya diisi oleh manusia sekarang digantikan oleh mesin. #robot
  2. Jika komputer server yang menangani mesin ini mengalami galat (error), apakah imbasnya hanya pada satu stasiun, beberapa stasiun atau seluruh stasiun?
  3. In the worst case scenario, will the ticket counters are openned again when those machines are not in good working condition at the same time?
  4. Jika slot uang kembalian sudah berfungsi, bisakah kita ‘akali’ mesin tersebut seperti kejahatan yang sebelumnya pernah dilakukan pada mesin ATM? Heuheuheu… πŸ™‚
  5. Terkait privasi penumpang, apakah pihak kereta api menyimpan rekam jejak pengguna KMT? Jika ya, datanya digunakan untuk apa?

Lesson Learned

Membahas komentar seorang penumpang yang sebelumnya saya sampaikan diatas, maka dapatlah saya katakan:

Jika posisi pekerjaan kita sama halnya dengan petugas loket karcis kereta, tanpa keterampilan lain yang kita miliki, atau jika diri kita tidak memiliki value yang bisa membedakan kita dengan yang lainnya, maka bersiaplah menyerahkan pekerjaan kita pada benda-benda seperti vending machine ini. That’s it.

I, robot? We, robots? #StayingHuman

Posted from WordPress for Android

Just Kidding: RI 1 pun Terlelap di Commuter Line

Seorang penumpang commuter line mirip dengan Presiden RI Joko Widodo.

Wah, setelah melihat foto diatas saya berjanji bakal sering-sering menumpang commuter line! Kenapa, bro? Biar bisa bersalaman dengan RI 1, bapak Presiden Joko Widodo! Heuheuheu… πŸ™‚

Tentu saja hal tersebut hanya bercanda. Karena orang dalam foto tersebut memang mirip RI 1. Cumi… cuma mirip heuheuheu πŸ™‚ Tidak mungkin orang sepenting beliau blusuk-blusukan berdesakan bersama penumpang commuter line Jabodetabek lainnya, apalagi saat jam berangkat dan pulang kerja. Pasti jika beliau bepergian akan ada serombongan pengawal kenegaraan, menumpang mobil mewah berplat RI 1 dan dikawal voorijder. Iya toh… Biar secure, dong.

Kembali ke foto diatas. Foto tersebut awalnya diunggah oleh fotografer senior harian Kompas, Arbain Rambey, pada lini masa Twitter @arbainrambey hari Rabu, 14/01/2016 dengan keterangan, “Dari temenku yang sedang naik kereta”. Seperti diberitakan oleh Eramuslim.com di sini.

Tapi ngomong-ngomong, harus saya akui secara terus terang bahwa layanan kereta api atau yang sekarang disebut commuter line sudah jauh lebih baik daripada dulu. Lebih profesional dalam pelayanan. Antrian tiket lebih tertib, antrian gate keluar-masuk pun tertib, sarana yang lengkap dan bersih, informatif dalam penyampaian tujuan kepada penumpang dalam kereta danΒ  yang terpenting saya merasa lebih aman di dalam gerbong dan stasiun. Petugas keamanan pun sigap dan ramah. Cuma masalah penumpang yang over crowded saat jam-jam sibuk yang belum terpecahkan. Masalah yang menuntut kerja sama tidak hanya pihak perkeretaapian, tapi juga peran serta pemerintah dan masyarakat pengguna kereta api.

Two thumbs up untuk perkeretaapian Indonesia karena sudah mau berbenah! Tidak heran RI 1 pun ikut menumpang commuter line. Heuheu… πŸ™‚

Yuk, naik kereta api… Tut… tut… tut… Siapa hendak turut? πŸ™‚

Posted from WordPress for Android

Tarif Progresif Commuter Line

Stasiun Bogor

Kabar gembira untuk kita semua!

Mulai besok, 1 April 2015, akan ada perubahan tarif Commuter Line. Selain perubahan jadwal Commuter Line, tarif yang akan digunakan adalah tarif progresif berdasarkan kilometer. Nah, berikut ini adalah tarif/harga yang mulai berlaku besok berdasarkan informasi yang diperoleh dari akun Twitter resmi Info Commuter Line (@CommuterLine). Klik untuk memperbesar gambarnya.

Tabel Tarif Progresif Commuter Line

Jadi, besok pagi saat sobat warga Jabodetabek membuka mata saat bangun tidur, selain isu harga BBM yang katanya akan “dievaluasi”, tarif Commuter Line juga berubah. All aboard! πŸ™‚

Posted from WordPress for BlackBerry.

Untuk Sementara ‘Lepas’ Helm Dulu

Tiket KRL

Tiket KRL Commuter Line. Tarif dari stasiun Bojonggede – UI cuma dua ribu rupiah, jaminan tiketnya lima ribu rupiah.

Yah, untuk sementara waktu sampai kondisi badan sehat Β akibat terjatuh semalam, RiderAlit ‘lepas’ helm. Untuk sementara berganti moda transportasi. Dari rumah ke lokasi kerja di Margonda, Depok masih bisa ditempuh dengan KRL Commuter Line atau angkot.

Walau akses keluar-masuk stasiun dan prosedur pembelian tiket lebih rumit saat ini, KRL Commuter Line tetap moda transportasi andalan karena lebih cepat jika dibandingkan dengan angkot. Terima kasih untuk Sis Bias yang telah berbaik hati meminjamkan payungnya πŸ˜€ . Berguna sekali saat musim hujan seperti ini.Β Well, semoga badan kembali fit dan Insyaallah bisa bermotor kembali. Aamiin.

Salam hangat dari Depok πŸ™‚ .