Manusia, Mesin dan Monster

Video Killed The Radio Star

Seperti itulah yang melintas dalam benak saya ketika akhir-akhir ini kembali ramai diperbicangkan tentang tindakan premanisme beberapa oknum yang disinyalir supir angkutan kota konvensional terhadap supir roda empat yang diduga seorang pengemudi angkutan berbasis aplikasi. Tanpa ada bukti, oknum-oknum tersebut sudah berani melakukan pengeroyokan. Pun kalau memang benar pengemudi tersebut merupakan pengemudi angkutan online berbasis aplikasi, tindakan barbar seperti itu juga tidak dibenarkan. Kita hidup di negara hukum, kan?

Memang dengan semakin maraknya layanan angkutan online berbasis aplikasi membuat pengemudi angkutan roda dua hingga roda empat konvensional semakin kehilangan ‘lahan’. Jangankan dengan angkutan online yang semakin merajalela, dengan program kredit motor murah saja supir dan tukang ojek konvensional tersebut sudah ketar-ketir. Begitu kata seorang rekan kerja. Kalau dulu dengan sesama pengemudi saja mereka masih saling sikut, apalagi saat ini.

Kalau dulu bagi mereka, pengemudi angkutan konvensional, semua serba mudah. Tinggal stand by di pangkalan atau terminal, menunggu penumpang, mengantar penumpang dengan rute yang sudah ditentukan, terima uang ketika penumpang turun kemudian setor penghasilan. Dari pagi hingga petang, day by day. Peluang berkurangnya penghasilan hanya dari sesama pengemudi. Money comes easily. Maka kondisinya tidak seperti itu lagi saat ini.

Dengan menjamurnya layanan ride sharing berbasis aplikasi, pengguna transportasi umum seperti dimanjakan. Pesan kapan saja, dari mana saja, dengan tujuan kemana saja bisa dilakukan. Mudah. Dengan tarif yang kompetitif, tidak harus menunggu di halte atau pinggir jalan, bisa dari ruang ber-AC tidak perlu berpanas-panasan dibawah terik matahari pinggir jalan yang berdebu, diperlakukan dengan ramah. Sudah tidak ada cerita lagi penumpang menunggu angkot ‘ngetem’ puluhan menit. Tidak ada cerita lagi penumpang diturunkan ditengah perjalanan dengan alasan ‘tidak ada sewa’ karena penumpangnya cuma satu dua orang saja. Tidak ada cerita lagi ‘ditembak’ tukang ojek dengan tarif yang irasional. Blaassss… semua kebobrokan masa lalu hanya tinggal kenangan dengan kemajuan teknologi.

Maka pengemudi konvensional tidak hanya bersaing dengan sesama mereka dan pengemudi angkutan berbasis aplikasi saja. Mereka pun harus bersaing dengan ‘ego’ calon penumpang. Bagaimana caranya menarik calon penumpang agar mau memanfaatkan jasa angkutan konvensional itu yang harus dicarikan solusinya. Sebagai konsumen tentu penumpang berpikiran, “Duit aing kumaha aing wae, atuh!” Konsumen punya banyak pilihan. Tidak mau yang biru masih ada yang hijau. Tidak suka yang hijau masih ada yang orange.

IBM Digital Disruption

According to an internal slide from IBM, the company believes the disruption already happened. Sumber: https://vrworld.com/2015/11/09/ibm-disruption-has-already-happened/

Like all the other tracks from the LP, “Video”‘s theme was promotion of technology while worrying about its effects. This song relates to concerns about mixed attitudes towards 20th-century inventions and machines for the media arts. – Video Killed The Radio Star, Wikipedia

Majunya teknologi memang membuat beberapa profesi dan bidang keahlian menjadi obsolete. Seberapa tenar bintang sandiwara radio dibandingkan dengan artis sinetron atau bintang Hollywood saat ini? Zip! Beruntunglah loper koran atau tukang pos tidak menggerebek kantor berita online dan layanan e-commerce atau penyedia layanan surat elektronik karena teknologi yang mereka terapkan membuat jasa tukang pos dan loper koran menjadi kurang berarti. Alhamdulillah, mereka tidak mengalami post-power syndrome saat masa jaya mereka berakhir.

Kalau sekarang angkutan konvensional dilibas dengan layanan angkutan online berbasis aplikasi, apakah hal yang sama juga akan menimpa para pengemudi angkutan berbasis aplikasi dimasa mendatang? Bisa saja terjadi. Kalau kendaraan-kendaraan otonom semakin terjangkau, teknologinya semakin mantap dan dapat diandalkan, budaya manusia yang semakin bergantung pada teknologi, maka bukan tidak mungkin penyedia transportasi berbasis aplikasi akan memilih mesin-mesin tersebut.

Banyak hal akan berubah, tapi ada satu yang tidak ikut berubah, yaitu perubahan itu sendiri. Seseorang pernah mengatakan, “Fully supported environment, but less challenged, transforms human into machine. Fully challenged environment, but less supported, transforms human into monster. What’s make human truly human?

Dalam Al Quran Allah swt berfirman:

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Hud: Ayat 6)

“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”” (QS. Yunus: Ayat 31)

Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman:

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d: Ayat 11)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.

Solidaritas Sesama Tukang Ojek Solidaritas Sesama Biker

image


Seorang pengendara ride sharing dibantu dua orang rekannya menangani sepeda motornya yang mogok di Jalan Margonda, Depok.

Ceritanya tadi siang saya berniat melakukan perpanjangan SIM di layanan SIM keliling Margo City, Depok. Tapi ternyata saya datang terlambat sehingga pelayanan perpanjangan SIM sudah mau tutup. Akhirnya saya memutuskan berjalan kaki ke masjid Darul Ilmi di Universitas Gunadarma.

Di perjalanan saya lihat seorang pengendara ride sharing atau tukang ojek mengalami masalah. Dibantu dua orang yang juga sesama tukang ojek, dia mencoba memperbaiki Yamaha Bysonnya yang mogok. Seorang rekannya saya lihat mencabut busi dan membersihkannya sementara rekannya yang lain terlihat sibuk dengan telepon pintarnya. Mungkin memanggil bantuan temannya yang lain atau mencari informasi bengkel motor terdekat.

Saya jadi ingat pengalaman saya distut saat motor saya mogok di Jalan Margonda. Disana memang tidak ada bengkel motor. Bantuan sekecil apa pun akan terasa sangat berharga saat mengalami motor mogok. Saya sangat mengapresiasi rasa solidaritas dan perasaan senasib antar sesama pemotor seperti yang saya lihat hari ini.

Posted from WordPress for Android