Selamat Tinggal HSX 125D

IMG_3480

Honda Supra X 125D keluaran 2007

Awal bulan ini saya harus relakan Si Sepira, HSX 125D yang selama ini menjadi andalan saya untuk dimiliki oleh biker lain. Seharusnya 17 Agustus nanti tepat sepuluh tahun kebersamaan saya bersama Si Sepira. Jadi ingat waktu pertama kali Si Sepira pertama kali menjejakan dua rodanya di halaman rumah saat diantar dengan pick-up dari sebuah dealer sepeda motor di Bojonggede tahun 2007 dulu.

Sepuluh tahun waktu yang lama bagi sebuah sepeda motor dan sudah bisa dikatakan sepeda motor tua. Di saat produsen sepeda motor menawarkan produk-produk baru dengan fitur dan teknologi yang semakin advanced, rasanya lucu kalau masih harus mempertahankan mesin lawas. Oleh karena itu, saya memilih melepasnya. Bisa mengurangi kewajiban saya membayar pajak juga setiap tahunnya. Selain itu, juga mengurangi biaya perawatan yang biasanya saya keluarkan setiap bulan.

Selama hampir sepuluh tahun menemani, Si Sepira hanya satu kali mogok beroperasi dan pengalamannya saya tuliskan di sini. Memang bukan satu-satunya tunggangan saya, tapi saya merasa lebih nyaman mengendarainya dibandingkan dengan Blade 110R lawas yang sudah lebih dahulu saya lepas, New Blade 110 atau pun si kuning Minerva R150VX. Walau bobotnya lebih berat daripada Blade 110R atau New Blade 110, tapi soal kenyamanan tetap HSX 125D lebih unggul, apalagi jika digunakan untuk berkendara lebih dari satu jam atau saat terjebak macet. Lincah, torsinya cukup besar dan bertenaga. Jika bebek 110cc keluaran AHM, seperti Revo atau Blade, mengharuskan pengendaranya memuntir gas dalam-dalam saat tarikan awal jika membonceng, tidak halnya dengan HSX 125D. Membonceng penumpang atau solo riding tetap sama, cukup puntir sedikit gas, tarikan awalnya sangat responsif. Tidak galak seperti Blade 110R jika digunakan solo riding tapi loyo saat digunakan membonceng. Begitu juga dengan akselerasi.

Selama hampir sepuluh tahun banyak pengalaman suka dan duka bersama Si Sepira. Track yang dilewati pun bermacam-macam. Dari aspal mulus atau rusak, jalan pedesaan dan track off-road pun dilewati. Pengalaman paling gokil saya rasakan saat lebaran 2015 kemarin. Saat itu saya terpaksa memintas hutan di desa Sukawangi hingga Gunung Batu, Jonggol akibat kemacetan di desa Jogjogan saat akan bersilahturahmi ke rumah paman saya. Detail pengalamannya saya ceritakan di sini. Berbagai macam cuaca pun saya rasakan saat menunggangi Si Sepira. Mulai dari dinginnya udara pagi sebelum mentari bersinar, sejuknya angin pegunungan, terik dan panasnya perkotaan, banjir, hujan dan badai hingga pekatnya kabut (klik). Seriously, I’m not joking.

Pengalaman lainnya yang membuat jantung saya hampir copot bersama Si Sepira adalah hampir terperosok ke kolong tronton. Waktu itu 2013, saya berkendara dari arah Stasiun Universitas Pancasila menuju jalan Akses UI. Karena asyiknya menarik gas, saya menyalip mobil di depan saya tanpa saya sadari ada sebuah truk tronton sedang berbelok ke kiri, mungkin hendak parkir, menuju sebuah konstruksi bangunan. Seandainya saya telat menginjak dan menarik rem mungkin saya tidak bisa menceritakan hal ini. Waktu itu posisi saya kurang dari dua meter dari tronton tersebut. Cerita pengalaman saya lainnya bersama Si Sepira pernah saya tuliskan di sini dan di sini.

Hal lucu pernah saya alami saat awal 2014. Waktu itu saya berada di lampu merah Harmoni hendak menuju Pasar Baru, Juanda. Saat menunggu lampu merah berubah menjadi hijau, dua orang yang sedang berboncengan diatas matic menghampiri saya. Penumpang yang dibonceng menanyakan, “Mas, ini Supra X tahun berapa?” Saya pun menjawabnya. Kembali dia mengajukan pertanyaan, “Supra X irit nggak sih, mas?” Saya jawab, “Lumayan. Kemarin saya bawa jalan muter-muter Bogor, sampai disini sekarang bensinnya masih tiga bar, nih.” Eh, begitu lampu berubah hijau dan saya melanjutkan perjalanan, dua orang tersebut masih mengikuti sambil memperhatikan HSX 125D yang saya tunggangi.

Akhirnya awal bulan ini saya harus lepas sang HSX 125D tersebut dalam keadaan standar. Box dan bracketnya yang pernah saya pasang memang sudah jauh-jauh hari saya lepas. Kalau berminat jemput sendiri di rumah saya. 🙂 Selama penggunaan, beberapa kelemahan dari HSX 125D saya rasakan. Pertama adalah seringnya saya memperbaiki shock breaker depan yang beberapa kali bocor. Kedua adalah body plastiknya yang kendur dan bergetar saat dikendarai. Penyakit yang satu ini sepertinya memang menjangkiti bebek-bebek lawas AHM. Yang ketiga adalah pencahayaan lampu depannya yang kurang terang. Kalau untuk urusan mesin memang tidak pernah rewel. Sampai terakhir saya gunakan mesinnya masih halus tanpa asap keluar dari knalpot. Selama hampir sepuluh tahun memang baru sekali servis turun mesin.

Soul GT 125 AKS SSS

Welcome to the family 🙂

Alasan lain saya melepas HSX 125D tersebut adalah karena sejak akhir Januari kemarin saya sudah mendatangkan sang Soul GT 125 AKS. Tertarik dengan fitur AKS dan SSS serta modelnya yang lebih menarik bila dibandingkan produk sejenis dari AHM. Yeah, saya bukan orang yang fanatik dengan satu merk. Jadi, saat ini New Blade 110 yang menjadi andalan saya. Sedangkan dua yang lain masih menjadi teman jalan-jalan saat akhir pekan.

Yeah… Microsoft pun akan mematikan dukungannya untuk Windows Vista yang usianya akan menginjak sepuluh tahun April nanti. #Obsolete. Jadi, cukup beralasan kalau saya berpisah dengan Si Sepira. Heuheu… 🙂 Tapi bedanya dengan Vista yang obsolete, Si Sepira memang lawas teknologinya tapi tidak usang dan masih bisa diandalkan. Old, but not obsolete.

Hasta la vista, baby.

Iklan

Seberapa Cepat RiderAlit Menunggangi Sepira?

Rute Perjalanan dan Pengukuran

Rute perjalanan yang berhasil dicatat Runtastic. Jarak tempuh kira-kira 17.49 km ditempuh dalam waktu kira-kira 41 menit. Zoom out agar kelihatan posisi start dan finish-nya.

Kira-kira seberapa cepat RiderAlit saat memacu Si Sepira? Sudah lama sebenarnya RiderAlit ingin mengukur secara pasti kecepatan maksimal saat berkendara menggunakan GPS. Maklum, kalau hanya mengandalkan speedometer sebenarnya data yang ditampilkan tidak akurat. Setiap speedometer yang ditanamkan di motor-motor mainstream pasti memiliki penyimpangan, dengan alasan keamanan. Dan sebenarnya speedometer Si Sepira sudah lama out of order 😀 . Maka malam ini, selepas kerja, RiderAlit menyempatkan untuk mengukur kecepatan yang biasa RiderAlit capai bersama Si Sepira.

Alat ukur yang digunakan adalah GPS pada BB Curve 9320 dengan aplikasi Runtastic untuk mencatat posisi, kecepatan, panjang rute, kemiringan tanah (elevasi) dan banyak lagi. Kendaraan yang digunakan adalah Si Sepira, Supra X 125D yang sudah berumur 7 tahun dalam kondisi standar dan menggunakan box Shad SH26 kapasitas 3 kg dimana RiderAlit meletakan netbook kira-kira 1 kg beratnya. Bahan bakar yang digunakan adalah Premium. Tinggi badan kurang lebih 168 cm dan bobot kurang lebih 45 kg (slim kan 😀 heuheu…).

Posisi start di depan Gang Kober, depan jalan masuk ke stasiun UI, Jalan Raya Margonda. Finish di Bambu Kuning, ujung jalan Tegar Beriman, Bojonggede. Kondisi lalu lintas ramai lancar, mungkin karena malam. Berhenti tiga kali di lampu merah Juanda, lampu merah depan Terminal Depok Baru, dan lampu merah ujung Jalan Kartini. Kondisi aspal sepanjang Margonda hingga pertigaan GDC (Grand Depok City) mulus, friksi hanya polisi tidur dan angkot yang menunggu penumpang.

Memasuki GDC kondisi jalan rusak, di beberapa titik rusak parah dengan penerangan jalan yang kurang. Sampai di perempatan Sektor Melati RiderAlit berbelok ke kanan menuju Pondok Rajeg hingga ke Sukahati. Kondisi jalan hancur cur cur cur… Entah kapan mau diperbaiki. Jadi, sejak dari GDC jelas tidak bisa melaju kencang hingga sampai berhenti lagi di lampu merah perempatan Jalan Tegar Beriman depan kantor PDAM. Bisa melaju kencang saat melewati turunan setelah keluar Gang Kancil di Sukahati kemudian melaju kencang saat melintasi tanjakan depan AHASS. Melaju kencang lagi setelah berbelok melintasi lampu merah perempatan Tegar Beriman. Jalanan mengarah ke Bambu Kuning posisi menurun kemudian menanjak kembali, lebar, sepi dan aspal lumayan mulus. Data elevasi terlampir.

Setelah sampai di Bambu Kuning, ujung jalan Tegar Beriman, berhenti sebentar untuk mematikan Runtastic dan melihat data hasil pengukuran. Setelah itu Si Sepira diarahkan ke SPBU 34.16921 Bojonggede untuk mengisi BBM sebelum akhirnya tiba di rumah. Nah, berikut ini adalah data-data yang berhasil diukur dan dicatat oleh Runtastic. Check it out!

Posisi Start

Posisi start dari depan Gang Kober, depan jalan masuk ke Stasiun UI, Jalan Raya Margonda.

Posisi Finish

Posisi finish di Bambu Kuning, ujung Jalan Tegar Beriman, Bojonggede. Terlihat pada peta setelah melewati Jalan Sukahati 1, RiderAlit berbelok ke kanan melintas di Jalan Tegar Beriman menuju Bambu Kuning.

Max Speed

Tercatat kecepatan tertinggi hanya 58 km/jam. Total tanjakan (elevation gain) yang ditempuh adalah 162 meter dan turunan (elevation loss) 182 meter. Tanjakan yang ditemui adalah tanjakan saat melintas di jalan Sukahati 1 setelah keluar Gang Kancil depan AHASS. Cukup tinggi juga. Sedangkan turunannya adalah turunan setelah berbelok di lampu merah perempatan Jalan Tegar Beriman.

Kecepatannya rata-rata hanya sekitar 25,6 km/jam.

Split Table

Pada split table terlihat kecepatan tertinggi adalah 41,7 km/jam terjadi pada kilometer 17 dengan kemiringan tanah 13 meter (menanjak). Posisi saat itu adalah di jalan Tegar Beriman menuju Bambu Kuning, dimana aspal mulus dan jalannya lebar serta sepi. Walau jalan agak menanjak, masih ada momen saat melintas di turunan setelah lampu merah perempatan Jalan Tegar Beriman. Terlihat juga langkah tercepat (pace) adalah 1 menit 26 detik. Itulah waktu tercepat yang RiderAlit butuhkan untuk menempuh 1 kilometer.

Jadi, dari data diatas bisa disimpulkan bahwa RiderAlit bukan biker yang senang grasa-grusu di jalan. Jalan tidak terlalu santai juga tidak terlalu cepat. Joyride :-). Tapi sebetulnya RiderAlit bisa mengurangi waktu tempuh jika kondisi aspalnya baik.

Salam hangat dari kota hujan.

Posted from WordPress for BlackBerry.