GDPR dan Kedaulatan Digital Suatu Negara

Hal ini merupakan tesis dari buku ini bahwa masyarakat hanya dapat dimengerti melalui studi tentang pesan dan fasilitas komunikasi yang menyertainya; dan bahwa dalam perkembangan di masa depan tentang pesan dan fasilitas komunikasi ini, pesan antara manusia dan mesin, antara mesin dan manusia, dan antara mesin dan mesin, telah ditakdirkan untuk memainkan peran yang semakin meningkat. — Norbert Wiener, The Human Use of Human Beings: Cybernetics and Society (1950)

Mulai tanggal 25 Mei 2018 nanti negara-negara Uni Eropa menerapkan peraturan baru dalam European Union General Data Protection Regulation (EU GDPR) untuk melindungi seluruh warga Uni Eropa dari pelanggaran privasi dan data. Dampaknya adalah organisasi atau perusahaan yang merekam data dimana warga Uni Eropa adalah subjeknya wajib mengikuti perubahan regulasi ini. Dimanapun organisasi/perusahaan tersebut berasal dan beroperasi dan dimanapun warga Uni Eropa tersebut berada.

Tidak pelak lagi, pemain-pemain Over The Top (OTT) yang dalam kegiatan operasionalnya melakukan perekaman data wajib mengubah kebijakan privasi penggunanya agar sesuai dengan GDPR. Contohnya Facebook, Google, Slack dan Amazon. Beberapa poin penting pada perubahan GDPR kali ini adalah wilayah yurisdiksi, penalti/sanksi dan persyaratan persetujuan.

Jika pada regulasi sebelumnya wilayah yurisdiksi GDPR berlaku tidak jelas, maka pada perubahan ini cakupan wilayahnya diperluas dan diperjelas. GDPR berlaku pada semua organisasi profit atau non-profit, berada di Uni Eropa atau diluar Uni Eropa, dikendalikan dan diproses di Uni Eropa atau diluar Uni Eropa selama subjeknya adalah warga Uni Eropa.

Google Analytics Data Retention and GDPR

Perubahan kebijakan privasi Google Analytics akibat ditegakkannya aturan baru pada European Union General Data Protection Regulation (EU GDPR) atau yang dikenal sebagai GDPR saja.

Sanksi atau penalti bagi organisasi yang melanggar GDPR adalah 4% dari omzet tahunan atau maksimal 20 juta Euro (tergantung mana yang lebih besar). Tidak memiliki persetujuan pelanggan yang memadai untuk memproses data atau melanggar konsep inti rancangan privasi termasuk dalam pelanggaran yang dikenakan sanksi tersebut. Sanksi berjenjang juga berlaku, misalnya organisasi yang tidak melaporkan otoritas pengawas dan subjek data atas terjadinya pelanggaran atau tidak melakukan penilaian dampak pelanggaran privasi akan dikenakan denda 2% dari omzet tahunan. Hal ini berlaku bagi pengontrol dan pemroses. Jadi, jika perusahaan/organisasi anda menawarkan barang atau jasa pada warga Uni Eropa dan anda menggunakan layanan komputasi awan (cloud computing) pihak ketiga maka GDPR juga berlaku pada organisasi anda dan pihak ketiga yang menyediakan layanan komputasi awan tersebut.

Persyaratan persetujuan pun diperkuat. Jika sebelumnya kita harus membaca persyaratan persetujuan yang panjang tidak terbaca hingga harus menggulung layar (scrolling) berkali-kali untuk sampai di akhir isinya untuk menggunakan suatu produk barang atau jasa/layanan, maka kali ini tidak diperbolehkan lagi. Permintaan persetujuan untuk pemrosesan data harus diberikan dalam bentuk yang dapat dimengerti dan mudah diakses. Persetujuan harus jelas dan dapat dibedakan dari hal-hal lain dan disediakan dalam bentuk yang mudah dipahami, menggunakan bahasa yang jelas dan sederhana.

Pengguna berhak mendapatkan pemberitahuan/notifikasi jika terjadi pelanggaran privasi yang berakibat membahayakan hak dan kebebasan individual. Selambat-lambatnya 72 jam sejak pelanggaran pertama terdeteksi. Pengguna juga berhak mendapatkan konfirmasi saat data pribadinya akan diproses, dimana, kapan dan untuk tujuan apa. Pihak yang mengontrol data wajib menyediakan salinan data pribadi tersebut dalam bentuk elektronik secara gratis. Pengguna juga memiliki hak agar data pribadinya dihapus dan menghentikan pemrosesan data yang dilakukan pihak ketiga.

Inisiatif yang dilakukan oleh negara-negara Uni Eropa ini sangat bermanfaat dalam melindungi warganya dari kejahatan digital dan penyalahgunaan data pribadi serta pelanggaran privasi. Langkah seperti ini juga bisa diadaptasi oleh pemerintah Indonesia. Selain meminta pertanggungjawaban dari pemain OTT, seperti Facebook yang terjadi belum lama ini, atas keamanan data pengguna asal Indonesia, badan legislatif juga harus menyusun seperangkat peraturan yang mengikat untuk melindungi warga Indonesia dimana saja berada.

Jika Uni Eropa bisa bertindak tegas sehingga organisasi OTT harus repot-repot menyesuaikan kebijakan privasi mereka, seharusnya Indonesia juga bisa. Mengingat pengguna layanan OTT dari Indonesia terbilang banyak. Tidak hanya OTT yang terlihat jelas di depan mata, penyedia layanan Software as A Service atau Infrastructure as A Service mulai dari tingkat UKM hingga skala enterprise pun harus mengikuti aturan tersebut. Wacananya bukan lagi pembangunan data center wajib berada di Indonesia. Mengacu GDPR, dimanapun data tersebut disimpan, selama subjeknya adalah warga Indonesia maka perusahaan atau organisasi wajib mematuhi aturan yang diberlakukan. Walaupun jika data center berada di Indonesia tetap memberikan keuntungan.

Cambridge Analytica The Mind-Bender

Kesadaran akan pentingnya perlindungan terhadap data pribadi yang disimpan suatu organisasi semakin mencuat dihadapan publik tatkala firma konsultasi yang berbasis di Inggris, Cambridge Analytica (CA), menyalahgunakan data pengguna Facebook untuk mempengaruhi  hasil pemilu Amerika Serikat pada 2016 lalu. CA menggunakan teknik yang menargetkan pemilih di AS untuk menyampaikan iklan-iklan politik di dalam Facebook berdasarkan data profil psikologis pengguna Facebook yang mereka miliki.

Mungkin di dalam Facebook kita pernah disuguhkan aplikasi-aplikasi atau quiz semacam tes kepribadian, siapakah kita dalam film Harry Potter, tipe mahasiswa semacam apakah kita dan quiz-quiz sejenisnya. CA menggunakan quiz-quiz tersebut untuk mengumpulkan data profil psikologis pengguna Facebook di AS, menerapkan teknik-teknik analisis data kemudian menggunakan hasilnya (psychographic) untuk mempengaruhi keputusan pengguna Facebook dengan iklan-iklan politik.

CA menambang informasi jutaan pengguna Facebook tersebut bertahun-tahun. Tentu saja praktek CA ini sah secara hukum, terlebih sebelum dijalankan aplikasi atau quiz tersebut akan meminta persetujuan pengguna untuk mengakses data pribadi, termasuk data teman yang terhubung. Menjadi permasalahan ketika CA membocorkan data ini dan menyalahgunakannya dengan menargetkan pemilih di AS untuk mempengaruhi hasil pemilu yang memihak salah satu kandidat.

Cambridge Analytica London Office

Kantor Cambridge Analytica di London, yang telah membantu setidaknya satu karyawan di Palantir Technologies, sebuah perusahaan yang didirikan oleh pendukung Trump, Peter Thiel. Sumber: https://www.nytimes.com/2018/04/04/us/politics/cambridge-analytica-scandal-fallout.html

Untuk memahami mengapa CA bisa sejauh itu mempengaruhi hasil pemilihan umum harus kita lihat juga induk organisasi CA. CA merupakan bagian dari SCL (Strategic Communications Laboratory) Group, sebuah firma yang mengkhususkan pada data, analisis dan strategi untuk pemerintah dan organisasi militer di seluruh dunia. Setidaknya demikian mereka memperkenalkan diri mereka di website resminya, sclgroup.cc. Tidak hanya pemilu AS 2016, CA juga terlibat dalam pemilu Kenya tahun 2017 dan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

Pada Maret 2017 dilaporkan bahwa eksekutif tinggi SCL Group melakukan pertemuan dengan pejabat resmi Pentagon, Hriar Cabayan, yang mengepalai riset dan analisis kebudayaan DoD. Cabayan dikenal dalam perannya dalam meluncurkan Human Terrain System, sebuah upaya kontra-pemberontakan Angkatan Darat AS yang melibatkan ahli antropologi dan ilmuwan sosial lain dengan brigade tempur di Irak dan Afghanistan. Patut diperhatikan apakah proyek-proyek terakhir CA/SCL Group di Kenya, India, Mexico dan Brazil adalah usaha mereka untuk memperluas pasar global ataukah menjadikan negara-negara ini sebagai laboratorium untuk menguji metode baru penyebaran propaganda dan polarisasi politik.

Mungkin akan ada yang membenarkan tudingan bahwa Facebook sebetulnya adalah spionase publik yang digunakan organisasi tertentu setelah mengetahui fakta ini. Dari sudut pandang ini kita juga bisa memahami mengapa pemerintah Rusia sangat tegas melakukan pemblokiran terhadap aplikasi Telegram karena pendiri aplikasi tersebut menolak menyerahkan kunci enkripsi yang memungkinkan badan keamanan Rusia melacak terorisme di jejaring sosial tersebut. Tudingan NSA pada Huawei karena melakukan penyadapan data melalui perangkat elektronik juga bisa dilihat sebagai usaha perlindungan digital terhadap warga AS terlepas dari sentimen politik AS terhadap RRC.

Jaringan komputer pada awalnya memang diciptakan oleh pihak militer untuk kepentingan militer. Sebuah negara yang kuat tidak lagi hanya mengandalkan alut sista dan tenaga manusia untuk melakukan serangan secara fisik. Data warga negara yang terkumpul secara masif juga merupakan objek surveillance dan pada akhirnya dapat digunakan sebagai psychological warfare. Merupakan hal yang sangat penting untuk melindungi data yang ditransmisikan dan disimpan dalam jaringan komputer tersebut. Untuk menjaga kedaulatan suatu negara, diperlukan landasan hukum dan penegakan hukum yang tegas terhadap organisasi/perusahaan yang menggunakan data digital warga negaranya.

Pada perang di masa yang akan datang, jika hal tersebut benar-benar terjadi, tidak hanya nuklir atau senjata pemusnah masal yang menjadi senjata. Hal-hal seperti teori komunikasi massa, public relation, psikologi, penganalisaan data akan memiliki peran yang signifikan. Hal yang sebenarnya sudah ada sejak perang di masa lalu, namun menjadi lebih terarah dan akurat dengan teknologi yang semakin maju. Semoga bermanfaat.

Iklan

Passion

… ketika kita menjalani hidup sesuai passion, kita akan menikmati apa yang kita kerjakan dan menjalani kehidupan yang penuh gairah. Temukan passion-mu, jangan menyerah. Kita semua bisa berbagi energi yang positif. Dimulai dari sebuah PASSION!

RiderAlit

Follow your own path

Selamat berakhir pekan, salam hangat dari kota hujan.

Gowes ke Gunung Pancar

Selasa, 7 November 2017 lalu saya jalan-jalan ke Gunung Pancar. Yah… walaupun tidak sungguh-sungguh jalan juga sih. 😀 Dikarenakan tidak ada kendaraan umum yang melewati rute dan langsung tembus ke Gunung Pancar maka saya memilih gowes sepeda gunung andalan saya ke sana. Dengan pertimbangan kalau naik sepeda motor sepertinya jalan-jalannya jadi kurang seru, karena jaraknya juga cuma selemparan bola bekel heuheu… juga karena Gunung Pancar adalah salah satu rute MTB dan downhill favorit banyak pecinta sepeda. Selain juga karena anjuran salah seorang kawan di FB saat saya posting foto-foto weekend ride saya di Sentul Highlands. “Lanjut ke Gunung Pancar, kang.” Siap, kang bro! Lanjutkan! 😀

Berangat kira-kira jam 8 pagi saya melewati rute gowes favorit saya, yaitu Jalan Tegar Beriman, Stadion Pakansari, Jalur Alternatif Sentul, Babakan Madang hingga ke kawasan Sentul Highlands. Saat tiba di gerbang sirkuit Sentul saya sempatkan untuk mengisi perbekalan air minum di sebuah mini market tidak jauh dari gerbang sirkuit. Walaupun saya juga membawa persediaan air minum dalam botol di tas dan kondisi cuaca saat itu sangat sejuk karena malam sebelumnya hujan lebat mengguyur kawasan Bogor, tetap saja menambah persediaan air minum adalah ide yang sangat baik.

Dari sana saya langsung melanjutkan perjalanan menuju Sentul, melewati gerbang terus menanjak hingga ke Sentul Highlands. Sempat disalip oleh serombongan group riding yang menggowes road bike secepat kilat, saya lanjutkan menanjak santai. Saya mau jalan-jalan, Om. Bukan mau balapan, karena kalau balapan sudah pasti saya kalah. Sampeyan pakai road bike ringan sedangkan saya MTB Hi-Ten, ban lebar, fullsus pula, sudah pasti kalah cepat heuheu… 😀 Sampai di halte bus dekat Mediterania II, saya sempatkan recharge lagi. Eh, ada seorang bapak yang ikut mampir juga. “Dari mana, pak?” tanya saya. Beliau jawab, “Dari pasar Madang, giling daging buat bakso.”  Obrol-obrol, ternyata si bapak ini punya usaha kedai bakso di sekitaran Sentul. Sambil istirahat kami mengobrol santai.

Ternyata beliau pendatang yang sudah lama tinggal di daerah Sentul, sebelum kawasan elite Sentul City ini dibangun. Asalnya dari Wonogiri. Lah, kebetulan. 😀 “Tiap hari naik sepeda ke pasar Madang, pak?” tanya saya. “Ah, nggak. Seminggu dua tiga kali lah. Biasanya naik motor.” begitu katanya. Beliau menunjukan rute-rute yang bisa dilewati menuju Gunung Pancar. Selain lewat Jungleland Sentul ini, bisa lurus dari pasar Madang sebelum berbelok di pertigaan jalan ke Sentul City ini. Atau dari arah Bellanova juga bisa. Ok, itu saya tau dan paham. Tapi tetap saya hargai informasi dari beliau. Akhirnya saya pamit lebih dahulu melanjutkan perjalanan. Sempat berhenti beberapa kali di spot-spot yang menarik untuk memotret.

Dari Mediterania II  terus mengikuti aspal menanjak arah ke Jungleland. Melewati Taman Budaya jalan datar terasa nikmat, penawar rasa lelah saat menanjak. Setelah jalan datar ini ada turunan surga. Masya Allah… jooooosss tenan. 😀

Setelah turunan yang lumayan asoy ini saya berbelok ke kiri melewati Masjid Jami Al Munawaroh. Mampir sebentar. Lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju bundaran Sentul Nirwana.

Dari bundaran Sentul Nirwana saya ambil jalur ke kiri melewati lingkungan perumahan. Arah ke Jungleland.

Keluar dari kawasan Sentul City saya memasuki Desa Karang Tengah. Aspal jalan di sana tidak semulus aspal di Sentul City tentunya, dengan jalan yang tidak lebar, cukup untuk satu mobil dan satu sepeda motor. Pemukiman warga di kiri dan kanan jalan. Ada beberapa penunjuk arah yang memberitahukan pengguna jalan beberapa objek wisata seperti curug di kawasan Sentul ini. Tapi saya tetap lurus menuju Gunung Pancar. Melewati kantor Desa Karang Tengah jalan menanjak semakin tinggi. Beberapa warga setempat terlihat berseliweran, melaju kencang mengendarai skutik, baik turun atau naik.

Terus menanjak sampai terengah-engah, udara tetap sejuk, pemandangan semakin indah. Sawah dan gunung di kejauhan memanjakan mata dan kamera di handphone. Melewati sebuah camping ground saya teruskan perjalanan menanjak kembali. Kemudian kembali beristirahat di sebuah bangunan kosong, recharge, mengurangi beban air minum dalam tas punggung lalu mengkonversinya menjadi energi dengan sisa ekskresi berupa keringat. Walau sejuk, tapi karena banyak tenaga yang digunakan keringat tetap bercucuran. Beberapa mobil dan motor terlihat berlalu lalang di jalanan yang sepi itu.

Jam menunjukan pukul sepuluh lebih beberapa menit. Saya terus lanjutkan menanjak. Agak keheranan juga, karena di sana mungkin pertaniannya masih sangat alami maka di udara yang sejuk ini tercium aroma, mohon maaf, kandang sapi atau kerbau heuheuheu… Menanjak, menanjak, menanjak dan terus menanjak sambil menikmati pemandangan. Akhirnya terlihat beberapa pohon pinus di kejauhan. Alhamdulillah, sudah dekat.

Jalan sudah mulai datar. Beberapa warung milik warga terlihat di sisi kiri saya, hingga masuk ke jalan yang sangat teduh karena sudah memasuki hutan pinus Gunung Pancar. Tidak lama kemudian saya sampai di gerbang Taman Wisata Alam Gunung Pancar. Karena bukan hari libur, jadi objek wisata ini cukup sepi. Ada beberapa camping ground di dalam sini yang bisa digunakan untuk berkemah. Kios, kedai atau warung makan banyak tersedia. Beberapa pemuda-pemudi terlihat asyik nongkrong dengan skutik mereka. Beberapa anak berseragam sekolah terlihat berjalan. Hm, pasti rumah dan sekolahnya jaraknya jauuuuuh heuheuheu… Ini seperti cerita klasik anak-anak sekolah di daerah pelosok. Remote site! Bersyukurlah anda yang tinggal di wilayah perkotaan.

Pemandian air panas adalah salah satu objek yang membuat Gunung Pancar terkenal. Selain kesejukan, hutan pinus serta track MTB dan downhill-nya. Ada dua macam pemandian air panas di sana. Satu yang deluxe dan yang biasa-biasa saja. Tidak hanya wisatawan lokal, wisman pun kadang menikmati pemandian air panas di sini. Tarif pemandian air panas yang deluxe sekitar dua ratus ribu rupiah saja. Silahkan dicoba.

Apa lagi yang membuat Gunung Pancar terkenal? Gardu pandang! Yup, kalau dulu di wilayah hutan dan pegunungan biasanya dibangun pos-pos pemantauan berupa rumah pohon, nah karena zaman now anak-anak mudanya senang berswafoto maka di Gunung Pancar banyak di bangun rumah pohon yang fungsinya mirip seperti pos pemantauan cuma tanpa atap. Fungsinya untuk membuat latar swafoto semakin keren, hits, kekinian dan membuat objek fotonya kece badai heuheuheu… 😀 Rumah-rumah pohon ini populer disebut gardu pandang. Racun fotonya banyak bertebaran di Instagram.

Kalau diikuti terus jalan disana terus menanjak. Akhirnya karena perut saya mulai nge-rock, bukan keroncongan lagi, maka saya memilih beristirahat di sebuah kedai. Jadi deh sebutir kelapa muda dan sepiring mie instan menjadi pelampiasan lapar saya heuheuheu… 😀 Perut lapar, udara sejuk, hutan yang teduh, angin sepoi-sepoi dan semangkuk mie hangat dan kelapa muda segar… Subhanallah.

Sambil beristirahat saya menikmati asrinya pemandangan di sana. Sudah sekitar jam dua belas siang lewat beberapa menit, tapi udaranya masih seperti pukul enam pagi. Subhanallah. Asyik memotret tidak terasa cahaya matahari semakin lama semakin gelap dan teduh. Kabut tipis mulai terlihat di dedaunan. Tidak lama kemudian hujan lebat mengguyur. Saya pun berteduh di sebuah kedai kosong menunggu hujan reda.

Hujan ditunggu tidak kunjung reda. Barulah pukul empat sore lewat beberapa menit hujan mulai reda, menyisakan rintik-rintik gerimis yang masih menetes dari langit, dedaunan dan dahan-dahan. Akhirnya saya bulatkan tekad untuk turun. “Pak…?!” begitu reaksi seorang pemilik kios saat melihat saya menaiki sepeda dan mulai menggowes. Loh, kok heran? Sudah sering lihat orang naik sepeda kan heuheuheu… 😀

Kalau tadi saya menanjak maka sekarang saat pulang saatnya menikmati turunan. Yeaaay… Jalan licin, hujan rintik-rintik, genangan air dimana-mana, aspal yang hancur dan turunan terjal… Mantab! Semakin asyik nih turunannya. Saat seperti itulah keterampilan bersepeda diuji. Phone holder yang saya pasang ternyata cukup kuat menahan iPhone yang saya pasang. Berkali-kali guncangan tidak membuat posisinya bergeser.

Melesat kencang menuruni jalan terjal diatas sepeda. Sensasi yang sama dengan melesat kencang diatas sepeda motor. Saat-saat seperti itulah kita benar-benar menyadari bahwa kita sepenuhnya bergantung pada Allah Yang Maha Kuasa. Seterampil apapun kita, hanya Allah yang berhak menentukan hidup mati kita. Nikmati. Tidak semua orang bisa merasakan sensasi seperti ini.

Pemandangan puncak gunung berselimut kabut lah yang akhirnya bisa merayu saya menghentikan sepeda sejenak.

Asyik menikmati pemandangan dan memotret, tidak terasa genangan air hujan menembus sepatu saya. Ditambah aliran air yang turun cukup deras, jadilah sepatu basah tembus hingga ke kaos kaki. Dingin.

Saat turun dari Desa Karang Tengah saya memutuskan berbelok ke kanan. Melewati Jungleland menuju Sentul Nirwana lalu menanjak ke Sentul Highlands. Kalau tadi saat berangkat turunannya lumayan nah saat pulang menjadi lumanyun hahaha… 😀 Sampai di Sentul Highlands jalan datar sedikit kemudian… TURUNAN SURGA! Yeaaay… melesat kencang tanpa gowes terus sampai ke jalan M. H. Thamrin. Masya Allah. Aspal mulus, turunan tinggi, sensasinya WOW! BIG WOW!

Berputar arah di U-Turn jalan M. H. Thamrin saya harus menunggu beberapa saat karena lalu lintas cukup ramai. Menunggu jalan agak sepi dari motor dan mobil yang melesat kencang, baru kemudian berputar. Hehehe… gila juga tadi itu. Naik sepeda tapi melesat berbarengan dengan motor dan mobil padahal ada rambu rawan kecelakaan. Masya Allah.

Balik di jalan Babakan Madang. Suasana ramai dengan bermacam-macam kendaraan dengan aspal becek dan tanah basah seperti lumpur. Jadilah cipratan-cipratan air mengotori celana, baju dan tas. Fender/spakbor belakang yang saya pasang tidak efektif untuk menahan cipratan air dan tanah dari roda. Aspal yang rusak dan berlumpur serta truk-truk besar ke arah jalan Alternatif Sentul menjadi tantangan saat pulang. Semburat jingga kemerahan di ufuk barat menyambut kepulangan saya saat memasuki Stadion Pakansari.

Berputar setengah lingkaran dari Stadion Pakansari menuju jalan Tegar Beriman kemudian berbelok ke arah Jalan Sukahati. Lurus melewati lampu merah di perempatan jalan Sukahati menuju Bambu Kuning saya sempat menikmati pemandangan matahari terbenam diatas jembatan beton sungai Ciliwung. Tanpa saya sadari sebelum saya sampai sudah ada seorang pesepeda lain yang menepi di pinggir jembatan, juga sedang menikmati pemandangan. Pemandangan disini memang indah. Derasnya arus sungai Ciliwung dengan bebatuan besar di bawah, pepohonan, puncak gunung berhias gumpalan-gumpalan awan sebagai latar belakang, kilasan sinar matahari yang memudar dan mega-mega kemerahan di langit sore ditambah pemandangan waterboom di sebelah kanan. Maha Suci Allah. “Mari, pak.” Saya pamit mendahului pesepeda yang tadi saya jumpai. Dia membalas dengan senyum dan anggukan kepala.

Menjelang maghrib saya sampai di rumah. Dengan kondisi badan, pakaian dan sepeda yang kotor seperti habis bermain lumpur. 😀

Infografis: Persiapan Sebelum Mudik Lebaran

Infografis Persiapan Mudik Lebaran

Infografis Persiapan Mudik Lebaran

Berikut ini adalah beberapa persiapan yang sebaiknya dilakukan sebelum melakukan perjalanan mudik lebaran pada tahun 2017.

  1. Pastikan semua pintu rumah dalam keadaan terkunci.
  2. Pastikan semua keran air/PAM dalam keadaan tertutup dan tidak bocor.
  3. Pastikan semua stop kontak tidak terhubung dengan sumber arus listrik.
  4. Pastikan tabung gas tidak bocor dan cabut selang serta regulatornya.
  5. Pastikan semua kendaraan yang ditinggalkan dikunci ganda.
  6. Koordinasi dengan RT/RW di lingkungan Anda.

Yang terakhir: Sebelum pulang ke kampung halaman pastikan halamannya halaman berapa. 😆

Mungkinkah Weighing Sensor Diterapkan Pada Commuter Line?

Sejak diubahnya jadwal perjalanan Commuter Line per 01 April 2017 setidaknya dua efek negatif dirasakan oleh penumpang Commuter Line Jabodetabek. Pertama adalah waktu tunggu yang lebih lama dan yang kedua adalah semakin padatnya penumpang. Akibat waktu tunggu yang lebih lama mengakibatkan lonjakan jumlah penumpang pada jam-jam sibuk, yaitu saat pagi hari dan sore hari. Waktu tunggu yang lebih lama ini juga membuat perjalanan jadi lebih lama karena penumpang harus lebih lama berada di stasiun kereta. Sedikitnya kursi atau tempat duduk di stasiun juga membuat perjalanan membosankan. Pelayanan Commuter Line yang sudah baik sebelumnya jadi memburuk.

Lonjakan jumlah penumpang yang terjadi saat jam-jam sibuk sebetulnya bisa ditangani. Jika demi keselamatan penumpang saat perjalanan pintu kereta tidak boleh terbuka, maka bagaimana jika demi kenyamanan penumpang beban pada setiap gerbong kereta juga tidak boleh berlebih? “Penumpang sebaiknya tidak mengganjal pintu-pintu kereta. Kereta tidak akan diberangkatkan selama ada pintu kereta yang terbuka.” Begitu peringatan masinis di setiap stasiun perhentian. Nah, jika menggunakan weighing sensor atau sensor berat atau over load sensor maka tidak hanya keselamatan tapi juga kenyamanan penumpang di dalam rangkaian kereta menjadi prioritas. Jadi naik satu derajat. Tidak hanya keselamatan, kenyamanan pun jadi pertimbangan para pemangku kepentingan Commuter Line.

Jika sensor berat bisa diterapkan, maka beban penumpang di setiap gerbong bisa diketahui. Jika sensor mendeteksi berat berlebih berarti terjadi kelebihan muatan dalam gerbong yang juga berarti penumpang sudah mulai berdesakan. Seperti pada lift atau elevator. Lift tidak akan beroperasi jika sensor berat pada kabin lift mendeteksi berat berlebih. Jadi nanti juga akan terdengar pesan masinis, “Kereta tidak akan diberangkatkan jika ada gerbong kereta yang kelebihan muatan.” Heuheuheu… 😀 Selama kondisi over load terdeteksi, pintu-pintu gerbong akan terbuka dan penumpang yang datang paling akhir harap sadar diri untuk meninggalkan gerbong. 😀

Tentunya sensor di setiap gerbong harus bisa dikendalikan secara terpusat pada sebuah rangkaian. Apakah akan diaktifkan atau tidak diaktifkan, berapa batas toleransi berat beban yang diizinkan, apakah akan diaktifkan pada setiap gerbong atau gerbong tertentu saja. Keren kalau bisa seperti ini! Tentunya jumlah armada Commuter Line juga harus memadai untuk menghindari konsentrasi berlebihan di stasiun kereta karena konsentrasi massa yang berlebihan itu berbahaya. Paham maksud saya kan. 🙂

Sistem pelayanan Commuter Line yang ada saat ini sudah baik dan masih bisa jadi lebih baik lagi. Tentunya juga dengan kesadaran dan ketertiban penumpang sebagai pengguna sistem. Harus bisa disiplin dan tertib demi kebaikan diri mereka sendiri. Yah, ini hanya sekedar sumbang saran.

Tentunya dibalik kesulitan ada kemudahan. Sungguh dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Dan Tuhan tidak akan membebani hamba-Nya melebihi kemampuan dirinya.

Selamat menjalankan ibadah Ramadhan. Semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.

Sumber gambar: Kompas.com

Peluang dan Tantangan Pekerja di Era Industri 4.0

Industry 4.0

Pembagian Generasi Industri Mulai Generasi Pertama Hingga Keempat

Pada tanggal 1 Mei nanti kita akan memperingati Hari Buruh Internasional atau yang biasanya dikenal dengan Mayday. Jika mendengar frasa ‘ hari buruh’ biasanya yang terbersit dalam benak kita adalah demonstrasi yang dilakukan untuk menuntut hak-hak para buruh. Terlepas dari perusahaan dimana kita bekerja dan bagaimana perusahaan memperlakukan buruh, daripada menghabiskan waktu untuk merancang demonstrasi yang kurang bermanfaat ada baiknya kita sedikit melakukan telaah kedepan (outlook) seperti apa dunia industri pada masa yang akan datang sehingga kita bisa mendapatkan pemahaman (insight). Kira-kira persiapan seperti apa yang harus kita miliki atau apa yang harus kita lakukan untuk menghadapinya.

Pada tahun 2020 nanti dunia industri mulai memasuki tahapan yang disebut era Industri 4.0. Apa itu Industri 4.0? Industri 4.0 adalah tren automasi industri dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur yang mana didalamnya termasuk teknologi cloud computing, cyber-physical system dan Internet of Things (IoT). Istilah “smart factory” akan menjadi hal yang lumrah kita dengar di era Industri 4.0 sebagaimana saat ini kita mendengar istilah smartphone, smartcard dan istilah-istilah lain yang ditambahkan prefiks smart. Istilah “Industrie 4.0” dicetuskan oleh pemerintah Jerman pada tahun 2011 yang lalu.

Sebagian orang membandingkan Industri 4.0 dengan Revolusi Industri Generasi Keempat (Fourth Industrial Revolution). Revolusi Industri Generasi Keempat sendiri merupakan transformasi sistemik yang lebih luas cakupannya daripada Industri 4.0, yang mana didalamnya mencakup dampak terhadap masyarakat, struktur pemerintahan dan peranan manusia itu sendiri dalam struktur ekonomi dan manufaktur. Jadi, bisa disimpulkan Industri 4.0 adalah subset dari Revolusi Industri Generasi Keempat.

World Economic Forum pada Januari 2016 memperkirakan ada sekitar 35% keahlian yang yang dianggap penting saat ini kelak akan berubah. Kecerdasan buatan dan machine learning, robotika, transportasi autonomous, advanced materials, bioteknologi dan genomic akan sangat berperan dalam Revolusi Industri Generasi Keempat. Sejarah telah mencatat revolusi industri diawali dengan diciptakannya mesin uap di Inggris oleh James Watt pada abad ke-18.

Sejak diciptakannya mesin uap perubahan besar-besaran terjadi dalam industri tekstil dan batu bara. Penggunaan tenaga hewan dan manusia digantikan dengan mesin-mesin mekanik bertenaga uap dalam proses manufaktur. Penemuan mesin uap kemudian juga mendorong kemajuan teknologi transportasi dengan diciptakannya kapal uap, kereta api dan dibangunnya rel-rel kereta. Ingat film Wild Wild West atau Titanic, dimana secara jelas digambarkan tenaga uap menjadi sumber energi mesin transportasi. Perubahan yang awalnya terjadi di Inggris perlahan menyebar ke Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang dan akhirnya seluruh dunia. Inilah revolusi industri generasi pertama.

Sergei Karpukhin

Selanjutnya penemuan tenaga listrik menggantikan mesin-mesin uap dalam proses manufaktur telah memungkinkan dilakukannya produksi masal dan digunakannya jalur perakitan (assembly line) menandai revolusi industri generasi kedua. Lahirnya komputer modern pasca Perang Dunia II dengan perkembangan teknologi semikonduktor dan teknologi LSI (Large Scale Integration) dalam pembuatan IC (Integrated Circuit) telah memungkinkan automasi dalam bidang industri. Tidak hanya industri, munculnya komputer modern juga menimbulkan euforia dalam bidang bisnis dan perbankan, kedokteran, pendidikan, eksplorasi luar angkasa, hingga hiburan dan permainan (games). Komputer ‘menjajah’ setiap bidang kehidupan. Automasi yang diotaki oleh teknologi IC, embedded system, mikroelektronika akhirnya melahirkan robot-robot mekanik-elektronik dalam proses manufaktur. Jepang sangat terkenal dengan penggunaan tenaga robot dalam industri otomotif. Inilah revolusi industri generasi ketiga.

Dirangkum dari World Economic Forum (WE), nanti pada tahun 2020 dimana era Revolusi Industri Generasi Keempat dimulai ada sepuluh soft skill yang harus dimiliki untuk menjawab tantangan dunia industri. Soft skill tersebut adalah menyelesaikan permasalahan yang kompleks/sulit (Complex Problem Solving), berpikir kritis (Critical Thinking), kreatifitas (Creativity), manajemen SDM (People Management), koordinasi (Coordinating), kecerdasan emosional (Emotional Intelligence), pengambilan keputusan (Judgment and Decision Making), orientasi pada layanan (Service Orientation), negosiasi (Negotiation) dan kelenturan berpikir (Cognitive Flexibility).

Top 10 Skills for 2020

Jika pada tahun 2015 Quality Control dan Active Listening masih menempati daftar soft skill yang dianggap penting, maka menurut WE dua soft skill tersebut tidak lagi termasuk soft skill yang penting memasuki tahun 2020. Dari sepuluh soft skill tersebut, kreatifitas merupakan top skill yang harus dimiliki pekerja. Mesin memang membantu untuk bekerja dengan lebih cepat, tetapi mesin belum bisa menyamai kreatifitas manusia. Harap digarisbawahi frasa belum bisa.

Survei yang dilakukan WE Forum’s Global Agenda Council dalam Future of Software and Society menunjukan masyarakat menginginkan mesin-mesin dengan kecerdasan buatan sebagai bagian dari dewan direksi perusahaan. Keahlian negosiasi yang merupakan top ten soft skill pada tahun 2015 akan digantikan oleh ‘mesin yang memanfaatkan sejumlah besar data’ mulai tahun 2020. Jadi, jika dulu begawan IT Indonesia Romi S. W. mengatakan Data Mining dalam hubungannya dengan Business Intelligence sebagai “one of the hottest IT skill in 2015”, ucapan beliau ada benarnya.

Semoga dari penjelasan ini bisa tergambar dalam benak kita kira-kira seperti apa peluang yang ada dan tantangan yang akan dihadapi di era Industri 4.0. Semoga bermanfaat.

 Selamat berakhir pekan. Salam hangat dari kota hujan.

Manusia, Mesin dan Monster

Video Killed The Radio Star

Seperti itulah yang melintas dalam benak saya ketika akhir-akhir ini kembali ramai diperbicangkan tentang tindakan premanisme beberapa oknum yang disinyalir supir angkutan kota konvensional terhadap supir roda empat yang diduga seorang pengemudi angkutan berbasis aplikasi. Tanpa ada bukti, oknum-oknum tersebut sudah berani melakukan pengeroyokan. Pun kalau memang benar pengemudi tersebut merupakan pengemudi angkutan online berbasis aplikasi, tindakan barbar seperti itu juga tidak dibenarkan. Kita hidup di negara hukum, kan?

Memang dengan semakin maraknya layanan angkutan online berbasis aplikasi membuat pengemudi angkutan roda dua hingga roda empat konvensional semakin kehilangan ‘lahan’. Jangankan dengan angkutan online yang semakin merajalela, dengan program kredit motor murah saja supir dan tukang ojek konvensional tersebut sudah ketar-ketir. Begitu kata seorang rekan kerja. Kalau dulu dengan sesama pengemudi saja mereka masih saling sikut, apalagi saat ini.

Kalau dulu bagi mereka, pengemudi angkutan konvensional, semua serba mudah. Tinggal stand by di pangkalan atau terminal, menunggu penumpang, mengantar penumpang dengan rute yang sudah ditentukan, terima uang ketika penumpang turun kemudian setor penghasilan. Dari pagi hingga petang, day by day. Peluang berkurangnya penghasilan hanya dari sesama pengemudi. Money comes easily. Maka kondisinya tidak seperti itu lagi saat ini.

Dengan menjamurnya layanan ride sharing berbasis aplikasi, pengguna transportasi umum seperti dimanjakan. Pesan kapan saja, dari mana saja, dengan tujuan kemana saja bisa dilakukan. Mudah. Dengan tarif yang kompetitif, tidak harus menunggu di halte atau pinggir jalan, bisa dari ruang ber-AC tidak perlu berpanas-panasan dibawah terik matahari pinggir jalan yang berdebu, diperlakukan dengan ramah. Sudah tidak ada cerita lagi penumpang menunggu angkot ‘ngetem’ puluhan menit. Tidak ada cerita lagi penumpang diturunkan ditengah perjalanan dengan alasan ‘tidak ada sewa’ karena penumpangnya cuma satu dua orang saja. Tidak ada cerita lagi ‘ditembak’ tukang ojek dengan tarif yang irasional. Blaassss… semua kebobrokan masa lalu hanya tinggal kenangan dengan kemajuan teknologi.

Maka pengemudi konvensional tidak hanya bersaing dengan sesama mereka dan pengemudi angkutan berbasis aplikasi saja. Mereka pun harus bersaing dengan ‘ego’ calon penumpang. Bagaimana caranya menarik calon penumpang agar mau memanfaatkan jasa angkutan konvensional itu yang harus dicarikan solusinya. Sebagai konsumen tentu penumpang berpikiran, “Duit aing kumaha aing wae, atuh!” Konsumen punya banyak pilihan. Tidak mau yang biru masih ada yang hijau. Tidak suka yang hijau masih ada yang orange.

IBM Digital Disruption

According to an internal slide from IBM, the company believes the disruption already happened. Sumber: https://vrworld.com/2015/11/09/ibm-disruption-has-already-happened/

Like all the other tracks from the LP, “Video”‘s theme was promotion of technology while worrying about its effects. This song relates to concerns about mixed attitudes towards 20th-century inventions and machines for the media arts. – Video Killed The Radio Star, Wikipedia

Majunya teknologi memang membuat beberapa profesi dan bidang keahlian menjadi obsolete. Seberapa tenar bintang sandiwara radio dibandingkan dengan artis sinetron atau bintang Hollywood saat ini? Zip! Beruntunglah loper koran atau tukang pos tidak menggerebek kantor berita online dan layanan e-commerce atau penyedia layanan surat elektronik karena teknologi yang mereka terapkan membuat jasa tukang pos dan loper koran menjadi kurang berarti. Alhamdulillah, mereka tidak mengalami post-power syndrome saat masa jaya mereka berakhir.

Kalau sekarang angkutan konvensional dilibas dengan layanan angkutan online berbasis aplikasi, apakah hal yang sama juga akan menimpa para pengemudi angkutan berbasis aplikasi dimasa mendatang? Bisa saja terjadi. Kalau kendaraan-kendaraan otonom semakin terjangkau, teknologinya semakin mantap dan dapat diandalkan, budaya manusia yang semakin bergantung pada teknologi, maka bukan tidak mungkin penyedia transportasi berbasis aplikasi akan memilih mesin-mesin tersebut.

Banyak hal akan berubah, tapi ada satu yang tidak ikut berubah, yaitu perubahan itu sendiri. Seseorang pernah mengatakan, “Fully supported environment, but less challenged, transforms human into machine. Fully challenged environment, but less supported, transforms human into monster. What’s make human truly human?

Dalam Al Quran Allah swt berfirman:

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Hud: Ayat 6)

“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”” (QS. Yunus: Ayat 31)

Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman:

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d: Ayat 11)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.