Mungkinkah Weighing Sensor Diterapkan Pada Commuter Line?

Sejak diubahnya jadwal perjalanan Commuter Line per 01 April 2017 setidaknya dua efek negatif dirasakan oleh penumpang Commuter Line Jabodetabek. Pertama adalah waktu tunggu yang lebih lama dan yang kedua adalah semakin padatnya penumpang. Akibat waktu tunggu yang lebih lama mengakibatkan lonjakan jumlah penumpang pada jam-jam sibuk, yaitu saat pagi hari dan sore hari. Waktu tunggu yang lebih lama ini juga membuat perjalanan jadi lebih lama karena penumpang harus lebih lama berada di stasiun kereta. Sedikitnya kursi atau tempat duduk di stasiun juga membuat perjalanan membosankan. Pelayanan Commuter Line yang sudah baik sebelumnya jadi memburuk.

Lonjakan jumlah penumpang yang terjadi saat jam-jam sibuk sebetulnya bisa ditangani. Jika demi keselamatan penumpang saat perjalanan pintu kereta tidak boleh terbuka, maka bagaimana jika demi kenyamanan penumpang beban pada setiap gerbong kereta juga tidak boleh berlebih? “Penumpang sebaiknya tidak mengganjal pintu-pintu kereta. Kereta tidak akan diberangkatkan selama ada pintu kereta yang terbuka.” Begitu peringatan masinis di setiap stasiun perhentian. Nah, jika menggunakan weighing sensor atau sensor berat atau over load sensor maka tidak hanya keselamatan tapi juga kenyamanan penumpang di dalam rangkaian kereta menjadi prioritas. Jadi naik satu derajat. Tidak hanya keselamatan, kenyamanan pun jadi pertimbangan para pemangku kepentingan Commuter Line.

Jika sensor berat bisa diterapkan, maka beban penumpang di setiap gerbong bisa diketahui. Jika sensor mendeteksi berat berlebih berarti terjadi kelebihan muatan dalam gerbong yang juga berarti penumpang sudah mulai berdesakan. Seperti pada lift atau elevator. Lift tidak akan beroperasi jika sensor berat pada kabin lift mendeteksi berat berlebih. Jadi nanti juga akan terdengar pesan masinis, “Kereta tidak akan diberangkatkan jika ada gerbong kereta yang kelebihan muatan.” Heuheuheu… 😀 Selama kondisi over load terdeteksi, pintu-pintu gerbong akan terbuka dan penumpang yang datang paling akhir harap sadar diri untuk meninggalkan gerbong. 😀

Tentunya sensor di setiap gerbong harus bisa dikendalikan secara terpusat pada sebuah rangkaian. Apakah akan diaktifkan atau tidak diaktifkan, berapa batas toleransi berat beban yang diizinkan, apakah akan diaktifkan pada setiap gerbong atau gerbong tertentu saja. Keren kalau bisa seperti ini! Tentunya jumlah armada Commuter Line juga harus memadai untuk menghindari konsentrasi berlebihan di stasiun kereta karena konsentrasi massa yang berlebihan itu berbahaya. Paham maksud saya kan. 🙂

Sistem pelayanan Commuter Line yang ada saat ini sudah baik dan masih bisa jadi lebih baik lagi. Tentunya juga dengan kesadaran dan ketertiban penumpang sebagai pengguna sistem. Harus bisa disiplin dan tertib demi kebaikan diri mereka sendiri. Yah, ini hanya sekedar sumbang saran.

Tentunya dibalik kesulitan ada kemudahan. Sungguh dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Dan Tuhan tidak akan membebani hamba-Nya melebihi kemampuan dirinya.

Selamat menjalankan ibadah Ramadhan. Semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.

Sumber gambar: Kompas.com

Manusia, Mesin dan Monster

Video Killed The Radio Star

Seperti itulah yang melintas dalam benak saya ketika akhir-akhir ini kembali ramai diperbicangkan tentang tindakan premanisme beberapa oknum yang disinyalir supir angkutan kota konvensional terhadap supir roda empat yang diduga seorang pengemudi angkutan berbasis aplikasi. Tanpa ada bukti, oknum-oknum tersebut sudah berani melakukan pengeroyokan. Pun kalau memang benar pengemudi tersebut merupakan pengemudi angkutan online berbasis aplikasi, tindakan barbar seperti itu juga tidak dibenarkan. Kita hidup di negara hukum, kan?

Memang dengan semakin maraknya layanan angkutan online berbasis aplikasi membuat pengemudi angkutan roda dua hingga roda empat konvensional semakin kehilangan ‘lahan’. Jangankan dengan angkutan online yang semakin merajalela, dengan program kredit motor murah saja supir dan tukang ojek konvensional tersebut sudah ketar-ketir. Begitu kata seorang rekan kerja. Kalau dulu dengan sesama pengemudi saja mereka masih saling sikut, apalagi saat ini.

Kalau dulu bagi mereka, pengemudi angkutan konvensional, semua serba mudah. Tinggal stand by di pangkalan atau terminal, menunggu penumpang, mengantar penumpang dengan rute yang sudah ditentukan, terima uang ketika penumpang turun kemudian setor penghasilan. Dari pagi hingga petang, day by day. Peluang berkurangnya penghasilan hanya dari sesama pengemudi. Money comes easily. Maka kondisinya tidak seperti itu lagi saat ini.

Dengan menjamurnya layanan ride sharing berbasis aplikasi, pengguna transportasi umum seperti dimanjakan. Pesan kapan saja, dari mana saja, dengan tujuan kemana saja bisa dilakukan. Mudah. Dengan tarif yang kompetitif, tidak harus menunggu di halte atau pinggir jalan, bisa dari ruang ber-AC tidak perlu berpanas-panasan dibawah terik matahari pinggir jalan yang berdebu, diperlakukan dengan ramah. Sudah tidak ada cerita lagi penumpang menunggu angkot ‘ngetem’ puluhan menit. Tidak ada cerita lagi penumpang diturunkan ditengah perjalanan dengan alasan ‘tidak ada sewa’ karena penumpangnya cuma satu dua orang saja. Tidak ada cerita lagi ‘ditembak’ tukang ojek dengan tarif yang irasional. Blaassss… semua kebobrokan masa lalu hanya tinggal kenangan dengan kemajuan teknologi.

Maka pengemudi konvensional tidak hanya bersaing dengan sesama mereka dan pengemudi angkutan berbasis aplikasi saja. Mereka pun harus bersaing dengan ‘ego’ calon penumpang. Bagaimana caranya menarik calon penumpang agar mau memanfaatkan jasa angkutan konvensional itu yang harus dicarikan solusinya. Sebagai konsumen tentu penumpang berpikiran, “Duit aing kumaha aing wae, atuh!” Konsumen punya banyak pilihan. Tidak mau yang biru masih ada yang hijau. Tidak suka yang hijau masih ada yang orange.

IBM Digital Disruption

According to an internal slide from IBM, the company believes the disruption already happened. Sumber: https://vrworld.com/2015/11/09/ibm-disruption-has-already-happened/

Like all the other tracks from the LP, “Video”‘s theme was promotion of technology while worrying about its effects. This song relates to concerns about mixed attitudes towards 20th-century inventions and machines for the media arts. – Video Killed The Radio Star, Wikipedia

Majunya teknologi memang membuat beberapa profesi dan bidang keahlian menjadi obsolete. Seberapa tenar bintang sandiwara radio dibandingkan dengan artis sinetron atau bintang Hollywood saat ini? Zip! Beruntunglah loper koran atau tukang pos tidak menggerebek kantor berita online dan layanan e-commerce atau penyedia layanan surat elektronik karena teknologi yang mereka terapkan membuat jasa tukang pos dan loper koran menjadi kurang berarti. Alhamdulillah, mereka tidak mengalami post-power syndrome saat masa jaya mereka berakhir.

Kalau sekarang angkutan konvensional dilibas dengan layanan angkutan online berbasis aplikasi, apakah hal yang sama juga akan menimpa para pengemudi angkutan berbasis aplikasi dimasa mendatang? Bisa saja terjadi. Kalau kendaraan-kendaraan otonom semakin terjangkau, teknologinya semakin mantap dan dapat diandalkan, budaya manusia yang semakin bergantung pada teknologi, maka bukan tidak mungkin penyedia transportasi berbasis aplikasi akan memilih mesin-mesin tersebut.

Banyak hal akan berubah, tapi ada satu yang tidak ikut berubah, yaitu perubahan itu sendiri. Seseorang pernah mengatakan, “Fully supported environment, but less challenged, transforms human into machine. Fully challenged environment, but less supported, transforms human into monster. What’s make human truly human?

Dalam Al Quran Allah swt berfirman:

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Hud: Ayat 6)

“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”” (QS. Yunus: Ayat 31)

Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman:

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d: Ayat 11)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.

Pengalaman Menumpang Shuttle XTrans ke Cilegon

Armada shuttle XTrans di pick-up point XTrans Semanggi. Hotel Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto Kav. 18, Setiabudi, Jakarta Selatan

Armada shuttle XTrans di pick-up point XTrans Semanggi.
Hotel Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto Kav. 18, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Jum’at, 03 Juni 2016. Kira-kira pukul enam lebih lima menit, Commuter Line yang saya tumpangi tiba di stasiun Cawang. Dari stasiun saya langsung menuju terowongan yang bersebelahan dengan jalur KA untuk menuju ke jalan raya. Sampai di pinggir jalan saya langsung mencegat si burung biru. “Hotel Kartika Chandra ya, pak.” Sang supir langsung menyalakan argo dan menuju kawasan Semanggi lewat jalan Gatot Subroto yang terkenal macet itu. Saya perhatikan dia sibuk mengutak-atik aplikasi peta di ponsel pintarnya. Tidak mungkin sebuah posisi di pinggir jalan Gatot Subroto yang terkenal itu tidak diketahui oleh supir taksi yang malang-melintang di Jakarta Selatan. Ternyata benar dugaan saya, sang supir mencari jalur alternatif yang tidak macet untuk sampai ke Hotel Kartika Chandra.

Sempat berputar-putar diantara belantara pencakar langit padahal saya sudah resah kalau-kalau tertinggal shuttle yang akan membawa saya menuju Cilegon. Eh, ternyata sang supir malah salah berputar di sebuah tikungan sehingga kami harus balik arah ke tikungan yang sesuai dengan rute yang ditunjukan oleh aplikasi peta yang digunakan sang supir. Yah, resiko mencari jalur alternatif memang seperti ini. Namun akhirnya saya sampai juga di Hotel Kartika Chandra kira-kira pukul tujuh kurang sepuluh menit. Keluar dari taksi saya langsung menuju sayap kiri gedung, menuju pick-up point shuttle XTrans Semanggi.

Sampai di ruang tunggu saya langsung mengkonfirmasi keberangkatan saya. “Nomor teleponnya, pak?” tanya sang resepsionis. Setelah mengkonfirmasi nama dan nomor telepon petugas tersebut langsung memberikan tiket dan saya pun langsung membayarnya. Sehari sebelumya, seorang co-worker sudah melakukan booking shuttle tersebut untuk saya melalui telepon. Saya kembali menuju deretan kursi tunggu sambil menonton siaran Penguin of Madagascar di Fox Movies dari sebuah televisi yang ada di ujung depan deretan kursi tunggu. Karena shuttle menuju Cilegon berangkat setiap dua jam sekali mulai jam 05.30 pagi, berarti saya harus menunggu kira-kira empat puluh menit lagi untuk berangkat.

Akhirnya armada shuttle yang saya tunggu datang tepat jam 07.30. Sang supir memberitahukan penumpang di kursi tunggu bahwa armada shuttle ke Cilegon sudah siap. Armada tersebut bernomor CL01. Para penumpang pun segera menuju armada yang ditunjuk. Ternyata rekan saya kemarin memesankan saya tempat duduk di dalam shuttle di deretan kedua belakang supir, bangku tengah. Kursi nomor tiga. Tapi karena tidak semua bangku di dalam shuttle diisi penumpang maka saya bebas memilih duduk di bangku paling pinggir dekat jendela dan pintu, kursi nomor dua. Sebagai informasi, dalam satu armada shuttle dapat diisi oleh sepuluh penumpang. Satu penumpang paling depan di samping supir dan penumpang lainnya berderet tiga baris di belakang. Posisi duduk saya adalah yang paling saya sukai, karena dekat dengan jendela dan pintu.

Posisi kursi penumpang di dalam armada shuttle XTrans.

Posisi kursi penumpang di dalam armada shuttle XTrans.

Kami segera berangkat menyusuri jalan Gatot Subroto. Mampir sebentar di sebuah SPBU untuk mengisi tangki solar kemudian berputar kembali meninggalkan Semanggi menuju jalan tol Jakarta-Merak. Selama masih berada di Jakarta kemacetan tidak terhindarkan. Maklum, kendaraan roda empat di Jakarta jumlahnya tidak pernah berkurang. Bukannya berkurang, setiap tahun malah semakin bertambah banyak.

Pemandangan lalu lintas di Semanggi dari dalam shuttle XTrans.

Pemandangan lalu lintas di Semanggi dari dalam shuttle XTrans.

Kira-kira jam delapan lebih enam menit armada yang kami tumpangi keluar dari GTO Karang Tengah. Memasuki provinsi Banten ini mulai terlihat truk-truk dan bus besar melintas di jalur Tangerang-Merak. Kondisi lalu lintas ramai lancar. Beberapa saat kemudian seorang penumpang wanita di deretan kursi baris ketiga berkata, “Pak, nanti kalau sampai di rest area berhenti sebentar, ya.” Ternyata pak supirnya baik sekali, karena beberapa menit kemudian kami sampai di rest area dan dia tidak keberatan untuk berhenti. Dan ternyata arti kata ‘sebentar’ itu berbeda-beda bagi setiap orang. Karena penumpang lain harus menunggu sampai air muka sang supir pun mulai terlihat galau. Tapi akhirnya penumpang yang ditunggu datang dan kami bersiap melanjutkan perjalanan. Untuk meninggalkan rest area kami harus menunggu deretan truk-truk yang baru masuk atau akan meninggalkan rest area yang melintas di belakang armada shuttle yang kami tumpangi.

Pemandangan saat memasuki gerbang tol Karang Tengah dari dalam shuttle XTrans.

Pemandangan saat memasuki gerbang tol Karang Tengah dari dalam shuttle XTrans.

Ngomong-ngomong, kondisi di dalam shuttle cukup nyaman. Tidak ada penumpang yang mengeluh ini-itu. Jok-jok kursi pun bersih. Walau kaki ditekuk tidak bisa selonjoran. Mau selonjoran? Naik mobil sendiri! 😀 Atau naik bus! 😀

Pick-up point XTrans di Serang Timur

Pick-up point XTrans di Serang Timur

Jam delapan lebih empat puluh menit armada yang kami tumpangi meninggalkan gerbang tol Cikupa. Lalu kira-kira dua puluh menit kemudian kami meinggalkan tol Serang Timur dan mampir sebentar di pick-up point XTrans Serang. Setelah mampir beberapa menit, kami kembali memasuki jalur tol menuju Cilegon. Pemandangan pepohonan besar dan sawah-sawah menghijau di kanan-kiri sepanjang jalan yang lurus ini mungkin terasa menjemukan bagi supir yang sering melintas di jalur ini. Tapi saya pribadi selalu menikmati pemandangan jalan yang saya lewati. Akhirnya jam sembilan lewat dua puluh lima menit kami keluar dari GTO Cilegon Timur. Beberapa menit kemudian kami pun sampai di pick-up point XTrans Cilegon.

Suasana di dalam ruang pick-up point XTrans Cilegon. Jalan Serdang, Cilegon

Suasana di dalam ruang pick-up point XTrans Cilegon.
Jalan Serdang, Cilegon.

Saya pun menunggu staf kantor menjemput saya di pick-up point XTrans Cilegon.

Perjalanan Jakarta-Cilegon dengan shuttle XTrans kira-kira menghabiskan waktu dua jam, berangkat jam 07.30 dan sampai kurang lebih jam 09.30 dengan kondisi jalan tol ramai-lancar tanpa kendala. Kondisi armada bersih dan nyaman serta supir yang ramah dan tidak ugal-ugalan. Well, two thumbs up! Alternatif yang baik untuk menuju Serang atau Cilegon selain menggunakan bus.

Yuk, Naik Angkutan Umum

It’s smarter to travel in groups kata video animasi diatas.

Beraktivitas di kota besar seperti Jakarta pasti akan selalu nenemui masalah transportasi, seperti macet atau kecelakaan. Oleh karena itu, sekarang saya lebih memilih angkutan umum. Naik Commuter Line, metromini, bus, mikrolet, taksi atau bajaj.

Selain lebih menghemat tenaga dan biaya, saya bisa terhindar dari stres akibat terjebak macet. Resiko kecelakaan di jalan pun bisa diminimalisir. Insya Allah aman. Bandingkan jika harus bersepeda motor. Sudah harus berangkat lebih pagi, masih harus terjebak macet pula, kalau hujan kedinginan dan resiko sakit mengintai. Minimal sebulan sekali pasti flu jika nekat menerobos hujan dengan sepeda motor. Perawatan sepeda motor pun harus lebih diperhatikan saat musim hujan. Mulai dari penerangan, shock breaker, rem dan rantai.

Jadi, lebih masuk akal menggunakan transportasi masal saat fasilitas tersebut melimpah. It’s smarter to travel in groups.

Pengalaman Pertama Menumpang GrabTaxi

image

Ilustrasi: Grabtaxi. Sumber: http://www.infokomputer.com

Jum’at malam lalu berdua dengan teman sepulang kuliah, kami menumpang taksi. Tanpa memedulikan label yang tertera di body mobilnya saya langsung saja melambaikan tangan untuk menyetop sang supir. Setelah menutup pintu teman saya langsung bilang, “Stasiun Manggarai ya, pak.” Supir taksinya langsung menghidupkan argo dan tancap gas.

Sesampainya di depan stasiun Manggarai kami baru ‘ngeh’. Lah, GrabTaxi ternyata yang kami tumpangi. Yang lebih mengherankan adalah jika biasanya kami harus mengeluarkan ongkos taksi sebesar lima belas ribu rupiah ternyata kemarin malam cuma sebelas ribu rupiah saja. Rutenya memang tidak jauh, dari depan kampus di seberang halte busway Salemba Capitol sampai stasiun Manggarai.

Kondisi mobilnya bagaimana? Body muluslah, seperti armada taksi-taksi lain. Interior nyaman dan bersih, jok pun empuk. Dashboard sang supir juga terlihat rapi dan bersih. Tidak kalah nyaman dengan taksi lain. Seat belt? Jangan tanya, deh. Saking malamnya saya dan teman saya lupa memasang seat belt. 😀

Wah, kalau untuk jarak dekat saja selisih harganya lumayan dengan kenyamanan yang sama, berarti jika jarak tempuhnya lumayan jauh GrabTaxi memiliki nilai lebih jika dibandingkan taksi-taksi lain. Nah, kalau pengusaha jasa transportasi sudah mulai bersaing seperti ini, berarti kita sebagai penumpang yang diuntungkan.

Posted from WordPress for Android

Ada Ticket Vending Machine di Stasiun Pondok Cina

image

Seorang petugas membantu para calon penumpang menggunakan Commuter Line Ticket Vending Machine di stasiun Pondok Cina.

Pulang kerja hari Kamis sore kemarin saya mampir ke kampus tercinta Universitas Gunadarma. Sekembalinya dari sana saat memasuki halaman stasiun Pondok Cina ternyata ada pemandangan yang berbeda yang saya jumpai. Kalau sekitar sebulan yang lalu saya masih membeli tiket di loket yang dilayani oleh petugas, tadi sore saya mendapati loket-loket tersebut ditutup. Sebagai gantinya di dekat gate keluar-masuk stasiun saya melihat beberapa vending machine sebagai ganti petugas loket tiket Commuter Line. Selain itu, ada sekitar tiga petugas yang membantu calon penumpang dalam melakukan top-up ticket Commuter Line menggunakan mesin tersebut.

Well, good improvement. Di negara-negara maju pembelian tiket secara swalayan seperti ini mungkin sudah lama diterapkan. Sebagaimana penerapan teknologi yang berdampak pada perubahan atau kemajuan suatu sistem, pasti ada kontra opini yang menyertai. Begitu juga dengan penerapan vending machine ini. Seorang calon penumpang di belakang saya berkomentar, “Tenaga manusia semakin lama semakin berkurang, nih.” Nanti kita bahas, ya. 🙂

Apakah ini cuma trial saja? Tidak sepertinya. Lebih dari sekedar trial, ini pilot project. Saya bisa paham kenapa stasiun Pondok Cina yang dipilih. Calon penumpang di stasiun ini memiliki rentang usia antara 18 s.d 40 tahun. Penumpang pada rentang usia ini adalah individu yang terbuka pada kemajuan teknologi dan senang mempelajari hal-hal yang baru, juga melek dunia TI, memanfaatkan gadget seperti makanan sehari-hari. Terlebih lagi, sebagian besar penumpang di stasiun ini adalah karyawan dan akademisi (dosen dan mahasiswa serta pelajar). Kaum terdidik. Mereka yang tidak hanya paham menggunakan alat/teknologi, tapi juga memiliki attitude yang positif terkait teknologi. Wajar, stasiun ini diapit dua universitas besar.

Cara Menggunakan Ticket Vending Machine

Untuk dikatakan secara sederhana, cara kerja mesin interaktif ini seperti kalau mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri) digabungkan dengan CDM (Cash Deposit Machine) serta access door.

Ada dua slot input, slot THB (Tiket Harian Berjaminan) dan slot untuk memasukan uang yang dibayarkan. Slot uang ini menerima denominasi seratus ribu, limapuluh ribu, duapuluh ribu, sepuluh ribu, lima ribu dan dua ribu rupiah. Untuk pengguna KMT (Kartu Multi Trip) disediakan semacam scanner di dekat layar sentuh, seperti yang biasa digunakan di loket dan gate keluar/masuk.

Karena saya menggunakan THB, maka hal berikut ini yang saya lakukan. Saya memasukan tiket ke slot untuk tiket, setelah itu mesin secara otomatis mendeteksi kartu tersebut. Jika sebelumnya kita tidak memiliki THB, maka klik dulu pada layar sentuh tersebut untuk membeli THB baru. Selanjutnya mesin akan menampilkan pilihan stasiun tujuan pada layar sentuh dalam bentuk rute/jalur rel Commuter Line. Terus terang, calon penumpang yang tidak terbiasa membaca rute kereta sepertinya bisa dibuat bingung saat memilih oleh gambar rutenya karena banyak sekali nama stasiun. 🙂 Klik stasiun tujuan yang ada di layar, setelah itu tarif perjalanannya diketahui secara otomatis.

Langkah selanjutnya adalah kita wajib memasukan uang ke slot uang. Slot tersebut akan menarik uang yang kita sodorkan ke hadapannya. 🙂 Ingat, nilai uangnya harus sama dengan atau lebih besar daripada nilai tarif perjalanan. Jangan tanya pada saya apa yang akan terjadi jika nilai uang yang dimasukan lebih kecil daripada tarif perjalanan, karena saya belum mencoba melakukan hal tersebut. 🙂 THB akan dikeluarkan dari slot tiket yang sama di sebelah slot uang. Jangan lupa diambil THB-nya.

Berhubung mesin ini belum difungsikan secara penuh kemarin, maka slot output di sebelah kiri yang digunakan untuk mengeluarkan uang kembalian belum berfungsi. Lah, uang kembaliannya hilang, dong? Nah, disitulah fungsi petugas yang tadi saya katakan. Selain membantu dan mengedukasi calon penumpang, petugas tersebut juga memberikan uang kembalian yang seharusnya dilakukan oleh mesin ini. Jadi, kita tetap menerima uang kembalian kita. Kedepannya marilah kita berharap ticket vending machine ini bisa berfungsi secara penuh.

Disetiap langkah penggunaan mesin ini ada suara dalam bahasa Indonesia yang memandu kita dalam menggunakannya. Interaktif kan? 🙂 And IT’s everywhere. #ubiquitos #autonomous

Sekarang kita bahas baik/buruknya penggunaan mesin ini.

The Good

  1. Transaksi menjadi lebih cepat, khususnya jika slot uang kembalian juga berfungsi dan masyarakat sudah familiar dengan mesin ini.
  2. Bagi pihak manajemen, investasi vending machine bisa memangkas pengeluaran terkait upah petugas loket. 🙂
  3. Bisa difungsikan duapuluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu, dalam setahun penuh. Tidak perlu cuti atau izin sakit atau keluhan lain, dsb. 🙂 Satu mesin mengalami malfungsi, mesin lain stand by.
  4. Semakin maju teknologi transportasi masal di suatu negara mencerminkan tingkat pendidikan masyarakat yang semakin baik dan budaya yang positif di negara tersebut.

The Bad and The Question

  1. Terkait lapangan pekerjaan, setidaknya satu posisi lagi yang sebelumnya diisi oleh manusia sekarang digantikan oleh mesin. #robot
  2. Jika komputer server yang menangani mesin ini mengalami galat (error), apakah imbasnya hanya pada satu stasiun, beberapa stasiun atau seluruh stasiun?
  3. In the worst case scenario, will the ticket counters are openned again when those machines are not in good working condition at the same time?
  4. Jika slot uang kembalian sudah berfungsi, bisakah kita ‘akali’ mesin tersebut seperti kejahatan yang sebelumnya pernah dilakukan pada mesin ATM? Heuheuheu… 🙂
  5. Terkait privasi penumpang, apakah pihak kereta api menyimpan rekam jejak pengguna KMT? Jika ya, datanya digunakan untuk apa?

Lesson Learned

Membahas komentar seorang penumpang yang sebelumnya saya sampaikan diatas, maka dapatlah saya katakan:

Jika posisi pekerjaan kita sama halnya dengan petugas loket karcis kereta, tanpa keterampilan lain yang kita miliki, atau jika diri kita tidak memiliki value yang bisa membedakan kita dengan yang lainnya, maka bersiaplah menyerahkan pekerjaan kita pada benda-benda seperti vending machine ini. That’s it.

I, robot? We, robots? #StayingHuman

Posted from WordPress for Android

Just Kidding: RI 1 pun Terlelap di Commuter Line

Seorang penumpang commuter line mirip dengan Presiden RI Joko Widodo.

Wah, setelah melihat foto diatas saya berjanji bakal sering-sering menumpang commuter line! Kenapa, bro? Biar bisa bersalaman dengan RI 1, bapak Presiden Joko Widodo! Heuheuheu… 🙂

Tentu saja hal tersebut hanya bercanda. Karena orang dalam foto tersebut memang mirip RI 1. Cumi… cuma mirip heuheuheu 🙂 Tidak mungkin orang sepenting beliau blusuk-blusukan berdesakan bersama penumpang commuter line Jabodetabek lainnya, apalagi saat jam berangkat dan pulang kerja. Pasti jika beliau bepergian akan ada serombongan pengawal kenegaraan, menumpang mobil mewah berplat RI 1 dan dikawal voorijder. Iya toh… Biar secure, dong.

Kembali ke foto diatas. Foto tersebut awalnya diunggah oleh fotografer senior harian Kompas, Arbain Rambey, pada lini masa Twitter @arbainrambey hari Rabu, 14/01/2016 dengan keterangan, “Dari temenku yang sedang naik kereta”. Seperti diberitakan oleh Eramuslim.com di sini.

Tapi ngomong-ngomong, harus saya akui secara terus terang bahwa layanan kereta api atau yang sekarang disebut commuter line sudah jauh lebih baik daripada dulu. Lebih profesional dalam pelayanan. Antrian tiket lebih tertib, antrian gate keluar-masuk pun tertib, sarana yang lengkap dan bersih, informatif dalam penyampaian tujuan kepada penumpang dalam kereta dan  yang terpenting saya merasa lebih aman di dalam gerbong dan stasiun. Petugas keamanan pun sigap dan ramah. Cuma masalah penumpang yang over crowded saat jam-jam sibuk yang belum terpecahkan. Masalah yang menuntut kerja sama tidak hanya pihak perkeretaapian, tapi juga peran serta pemerintah dan masyarakat pengguna kereta api.

Two thumbs up untuk perkeretaapian Indonesia karena sudah mau berbenah! Tidak heran RI 1 pun ikut menumpang commuter line. Heuheu… 🙂

Yuk, naik kereta api… Tut… tut… tut… Siapa hendak turut? 🙂

Posted from WordPress for Android