Infografis: Persiapan Sebelum Mudik Lebaran

Infografis Persiapan Mudik Lebaran

Infografis Persiapan Mudik Lebaran

Berikut ini adalah beberapa persiapan yang sebaiknya dilakukan sebelum melakukan perjalanan mudik lebaran pada tahun 2017.

  1. Pastikan semua pintu rumah dalam keadaan terkunci.
  2. Pastikan semua keran air/PAM dalam keadaan tertutup dan tidak bocor.
  3. Pastikan semua stop kontak tidak terhubung dengan sumber arus listrik.
  4. Pastikan tabung gas tidak bocor dan cabut selang serta regulatornya.
  5. Pastikan semua kendaraan yang ditinggalkan dikunci ganda.
  6. Koordinasi dengan RT/RW di lingkungan Anda.

Yang terakhir: Sebelum pulang ke kampung halaman pastikan halamannya halaman berapa. 😆

Mungkinkah Weighing Sensor Diterapkan Pada Commuter Line?

Sejak diubahnya jadwal perjalanan Commuter Line per 01 April 2017 setidaknya dua efek negatif dirasakan oleh penumpang Commuter Line Jabodetabek. Pertama adalah waktu tunggu yang lebih lama dan yang kedua adalah semakin padatnya penumpang. Akibat waktu tunggu yang lebih lama mengakibatkan lonjakan jumlah penumpang pada jam-jam sibuk, yaitu saat pagi hari dan sore hari. Waktu tunggu yang lebih lama ini juga membuat perjalanan jadi lebih lama karena penumpang harus lebih lama berada di stasiun kereta. Sedikitnya kursi atau tempat duduk di stasiun juga membuat perjalanan membosankan. Pelayanan Commuter Line yang sudah baik sebelumnya jadi memburuk.

Lonjakan jumlah penumpang yang terjadi saat jam-jam sibuk sebetulnya bisa ditangani. Jika demi keselamatan penumpang saat perjalanan pintu kereta tidak boleh terbuka, maka bagaimana jika demi kenyamanan penumpang beban pada setiap gerbong kereta juga tidak boleh berlebih? “Penumpang sebaiknya tidak mengganjal pintu-pintu kereta. Kereta tidak akan diberangkatkan selama ada pintu kereta yang terbuka.” Begitu peringatan masinis di setiap stasiun perhentian. Nah, jika menggunakan weighing sensor atau sensor berat atau over load sensor maka tidak hanya keselamatan tapi juga kenyamanan penumpang di dalam rangkaian kereta menjadi prioritas. Jadi naik satu derajat. Tidak hanya keselamatan, kenyamanan pun jadi pertimbangan para pemangku kepentingan Commuter Line.

Jika sensor berat bisa diterapkan, maka beban penumpang di setiap gerbong bisa diketahui. Jika sensor mendeteksi berat berlebih berarti terjadi kelebihan muatan dalam gerbong yang juga berarti penumpang sudah mulai berdesakan. Seperti pada lift atau elevator. Lift tidak akan beroperasi jika sensor berat pada kabin lift mendeteksi berat berlebih. Jadi nanti juga akan terdengar pesan masinis, “Kereta tidak akan diberangkatkan jika ada gerbong kereta yang kelebihan muatan.” Heuheuheu… 😀 Selama kondisi over load terdeteksi, pintu-pintu gerbong akan terbuka dan penumpang yang datang paling akhir harap sadar diri untuk meninggalkan gerbong. 😀

Tentunya sensor di setiap gerbong harus bisa dikendalikan secara terpusat pada sebuah rangkaian. Apakah akan diaktifkan atau tidak diaktifkan, berapa batas toleransi berat beban yang diizinkan, apakah akan diaktifkan pada setiap gerbong atau gerbong tertentu saja. Keren kalau bisa seperti ini! Tentunya jumlah armada Commuter Line juga harus memadai untuk menghindari konsentrasi berlebihan di stasiun kereta karena konsentrasi massa yang berlebihan itu berbahaya. Paham maksud saya kan. 🙂

Sistem pelayanan Commuter Line yang ada saat ini sudah baik dan masih bisa jadi lebih baik lagi. Tentunya juga dengan kesadaran dan ketertiban penumpang sebagai pengguna sistem. Harus bisa disiplin dan tertib demi kebaikan diri mereka sendiri. Yah, ini hanya sekedar sumbang saran.

Tentunya dibalik kesulitan ada kemudahan. Sungguh dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Dan Tuhan tidak akan membebani hamba-Nya melebihi kemampuan dirinya.

Selamat menjalankan ibadah Ramadhan. Semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.

Sumber gambar: Kompas.com

Upgrade Karet Bundar Soul GT 125 AKS

Aspira Premio Sportivo

Aspira Premio Sportivo 100/80-14 di Soul GT 125 AKS

Akhir pekan kemarin sang Soul GT 125 AKS milik RiderAlit mendapatkan upgrade. Upgrade edisi ini bukan untuk menutup backdoor atau menambahkan patch untuk mencegahnya dieksploitasi oleh malware. 😀 Tetapi upgrade untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan berkendara. Yup, maksud saya adalah upgrade sektor roda dengan ban bertipe tubeless. Karena pada kondisi awalnya dari pabrik, sepeda motor ini masih dibekali dengan ban berjenis tube type, walaupun sudah lumayan lebar.

Ban depan dan belakang saya percayakan pada Aspira Premio Sportivo. Ban belakang berukuran 100/80-14 dan depan 80/80-14. Upgrade dilakukan di Planet Ban jalan raya Bojong Gede. Selain upgrade, untuk meningkatkan keamanan cairan tyre guard pun ditambahkan di kedua roda sang Soul GT 125. Seperti biasa, untuk pembelian ban di Planet Ban selalu mendapatkan bonus berlangganan nitrogen. Maka saya pun mendapatkan bonus gratis berlangganan nitrogen selama dua tahun. Alhamdulillah.

Cast wheel + Tubeless Type Tyre + Tyre Guard + Nitrogen = Juosss gandoz kotoz-kotoz brangaz-brongoz 😀

Peluang dan Tantangan Pekerja di Era Industri 4.0

Industry 4.0

Pembagian Generasi Industri Mulai Generasi Pertama Hingga Keempat

Pada tanggal 1 Mei nanti kita akan memperingati Hari Buruh Internasional atau yang biasanya dikenal dengan Mayday. Jika mendengar frasa ‘ hari buruh’ biasanya yang terbersit dalam benak kita adalah demonstrasi yang dilakukan untuk menuntut hak-hak para buruh. Terlepas dari perusahaan dimana kita bekerja dan bagaimana perusahaan memperlakukan buruh, daripada menghabiskan waktu untuk merancang demonstrasi yang kurang bermanfaat ada baiknya kita sedikit melakukan telaah kedepan (outlook) seperti apa dunia industri pada masa yang akan datang sehingga kita bisa mendapatkan pemahaman (insight). Kira-kira persiapan seperti apa yang harus kita miliki atau apa yang harus kita lakukan untuk menghadapinya.

Pada tahun 2020 nanti dunia industri mulai memasuki tahapan yang disebut era Industri 4.0. Apa itu Industri 4.0? Industri 4.0 adalah tren automasi industri dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur yang mana didalamnya termasuk teknologi cloud computing, cyber-physical system dan Internet of Things (IoT). Istilah “smart factory” akan menjadi hal yang lumrah kita dengar di era Industri 4.0 sebagaimana saat ini kita mendengar istilah smartphone, smartcard dan istilah-istilah lain yang ditambahkan prefiks smart. Istilah “Industrie 4.0” dicetuskan oleh pemerintah Jerman pada tahun 2011 yang lalu.

Sebagian orang membandingkan Industri 4.0 dengan Revolusi Industri Generasi Keempat (Fourth Industrial Revolution). Revolusi Industri Generasi Keempat sendiri merupakan transformasi sistemik yang lebih luas cakupannya daripada Industri 4.0, yang mana didalamnya mencakup dampak terhadap masyarakat, struktur pemerintahan dan peranan manusia itu sendiri dalam struktur ekonomi dan manufaktur. Jadi, bisa disimpulkan Industri 4.0 adalah subset dari Revolusi Industri Generasi Keempat.

World Economic Forum pada Januari 2016 memperkirakan ada sekitar 35% keahlian yang yang dianggap penting saat ini kelak akan berubah. Kecerdasan buatan dan machine learning, robotika, transportasi autonomous, advanced materials, bioteknologi dan genomic akan sangat berperan dalam Revolusi Industri Generasi Keempat. Sejarah telah mencatat revolusi industri diawali dengan diciptakannya mesin uap di Inggris oleh James Watt pada abad ke-18.

Sejak diciptakannya mesin uap perubahan besar-besaran terjadi dalam industri tekstil dan batu bara. Penggunaan tenaga hewan dan manusia digantikan dengan mesin-mesin mekanik bertenaga uap dalam proses manufaktur. Penemuan mesin uap kemudian juga mendorong kemajuan teknologi transportasi dengan diciptakannya kapal uap, kereta api dan dibangunnya rel-rel kereta. Ingat film Wild Wild West atau Titanic, dimana secara jelas digambarkan tenaga uap menjadi sumber energi mesin transportasi. Perubahan yang awalnya terjadi di Inggris perlahan menyebar ke Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang dan akhirnya seluruh dunia. Inilah revolusi industri generasi pertama.

Sergei Karpukhin

Selanjutnya penemuan tenaga listrik menggantikan mesin-mesin uap dalam proses manufaktur telah memungkinkan dilakukannya produksi masal dan digunakannya jalur perakitan (assembly line) menandai revolusi industri generasi kedua. Lahirnya komputer modern pasca Perang Dunia II dengan perkembangan teknologi semikonduktor dan teknologi LSI (Large Scale Integration) dalam pembuatan IC (Integrated Circuit) telah memungkinkan automasi dalam bidang industri. Tidak hanya industri, munculnya komputer modern juga menimbulkan euforia dalam bidang bisnis dan perbankan, kedokteran, pendidikan, eksplorasi luar angkasa, hingga hiburan dan permainan (games). Komputer ‘menjajah’ setiap bidang kehidupan. Automasi yang diotaki oleh teknologi IC, embedded system, mikroelektronika akhirnya melahirkan robot-robot mekanik-elektronik dalam proses manufaktur. Jepang sangat terkenal dengan penggunaan tenaga robot dalam industri otomotif. Inilah revolusi industri generasi ketiga.

Dirangkum dari World Economic Forum (WE), nanti pada tahun 2020 dimana era Revolusi Industri Generasi Keempat dimulai ada sepuluh soft skill yang harus dimiliki untuk menjawab tantangan dunia industri. Soft skill tersebut adalah menyelesaikan permasalahan yang kompleks/sulit (Complex Problem Solving), berpikir kritis (Critical Thinking), kreatifitas (Creativity), manajemen SDM (People Management), koordinasi (Coordinating), kecerdasan emosional (Emotional Intelligence), pengambilan keputusan (Judgment and Decision Making), orientasi pada layanan (Service Orientation), negosiasi (Negotiation) dan kelenturan berpikir (Cognitive Flexibility).

Top 10 Skills for 2020

Jika pada tahun 2015 Quality Control dan Active Listening masih menempati daftar soft skill yang dianggap penting, maka menurut WE dua soft skill tersebut tidak lagi termasuk soft skill yang penting memasuki tahun 2020. Dari sepuluh soft skill tersebut, kreatifitas merupakan top skill yang harus dimiliki pekerja. Mesin memang membantu untuk bekerja dengan lebih cepat, tetapi mesin belum bisa menyamai kreatifitas manusia. Harap digarisbawahi frasa belum bisa.

Survei yang dilakukan WE Forum’s Global Agenda Council dalam Future of Software and Society menunjukan masyarakat menginginkan mesin-mesin dengan kecerdasan buatan sebagai bagian dari dewan direksi perusahaan. Keahlian negosiasi yang merupakan top ten soft skill pada tahun 2015 akan digantikan oleh ‘mesin yang memanfaatkan sejumlah besar data’ mulai tahun 2020. Jadi, jika dulu begawan IT Indonesia Romi S. W. mengatakan Data Mining dalam hubungannya dengan Business Intelligence sebagai “one of the hottest IT skill in 2015”, ucapan beliau ada benarnya.

Semoga dari penjelasan ini bisa tergambar dalam benak kita kira-kira seperti apa peluang yang ada dan tantangan yang akan dihadapi di era Industri 4.0. Semoga bermanfaat.

 Selamat berakhir pekan. Salam hangat dari kota hujan.

Selamat Tinggal HSX 125D

IMG_3480

Honda Supra X 125D keluaran 2007

Awal bulan ini saya harus relakan Si Sepira, HSX 125D yang selama ini menjadi andalan saya untuk dimiliki oleh biker lain. Seharusnya 17 Agustus nanti tepat sepuluh tahun kebersamaan saya bersama Si Sepira. Jadi ingat waktu pertama kali Si Sepira pertama kali menjejakan dua rodanya di halaman rumah saat diantar dengan pick-up dari sebuah dealer sepeda motor di Bojonggede tahun 2007 dulu.

Sepuluh tahun waktu yang lama bagi sebuah sepeda motor dan sudah bisa dikatakan sepeda motor tua. Di saat produsen sepeda motor menawarkan produk-produk baru dengan fitur dan teknologi yang semakin advanced, rasanya lucu kalau masih harus mempertahankan mesin lawas. Oleh karena itu, saya memilih melepasnya. Bisa mengurangi kewajiban saya membayar pajak juga setiap tahunnya. Selain itu, juga mengurangi biaya perawatan yang biasanya saya keluarkan setiap bulan.

Selama hampir sepuluh tahun menemani, Si Sepira hanya satu kali mogok beroperasi dan pengalamannya saya tuliskan di sini. Memang bukan satu-satunya tunggangan saya, tapi saya merasa lebih nyaman mengendarainya dibandingkan dengan Blade 110R lawas yang sudah lebih dahulu saya lepas, New Blade 110 atau pun si kuning Minerva R150VX. Walau bobotnya lebih berat daripada Blade 110R atau New Blade 110, tapi soal kenyamanan tetap HSX 125D lebih unggul, apalagi jika digunakan untuk berkendara lebih dari satu jam atau saat terjebak macet. Lincah, torsinya cukup besar dan bertenaga. Jika bebek 110cc keluaran AHM, seperti Revo atau Blade, mengharuskan pengendaranya memuntir gas dalam-dalam saat tarikan awal jika membonceng, tidak halnya dengan HSX 125D. Membonceng penumpang atau solo riding tetap sama, cukup puntir sedikit gas, tarikan awalnya sangat responsif. Tidak galak seperti Blade 110R jika digunakan solo riding tapi loyo saat digunakan membonceng. Begitu juga dengan akselerasi.

Selama hampir sepuluh tahun banyak pengalaman suka dan duka bersama Si Sepira. Track yang dilewati pun bermacam-macam. Dari aspal mulus atau rusak, jalan pedesaan dan track off-road pun dilewati. Pengalaman paling gokil saya rasakan saat lebaran 2015 kemarin. Saat itu saya terpaksa memintas hutan di desa Sukawangi hingga Gunung Batu, Jonggol akibat kemacetan di desa Jogjogan saat akan bersilahturahmi ke rumah paman saya. Detail pengalamannya saya ceritakan di sini. Berbagai macam cuaca pun saya rasakan saat menunggangi Si Sepira. Mulai dari dinginnya udara pagi sebelum mentari bersinar, sejuknya angin pegunungan, terik dan panasnya perkotaan, banjir, hujan dan badai hingga pekatnya kabut (klik). Seriously, I’m not joking.

Pengalaman lainnya yang membuat jantung saya hampir copot bersama Si Sepira adalah hampir terperosok ke kolong tronton. Waktu itu 2013, saya berkendara dari arah Stasiun Universitas Pancasila menuju jalan Akses UI. Karena asyiknya menarik gas, saya menyalip mobil di depan saya tanpa saya sadari ada sebuah truk tronton sedang berbelok ke kiri, mungkin hendak parkir, menuju sebuah konstruksi bangunan. Seandainya saya telat menginjak dan menarik rem mungkin saya tidak bisa menceritakan hal ini. Waktu itu posisi saya kurang dari dua meter dari tronton tersebut. Cerita pengalaman saya lainnya bersama Si Sepira pernah saya tuliskan di sini dan di sini.

Hal lucu pernah saya alami saat awal 2014. Waktu itu saya berada di lampu merah Harmoni hendak menuju Pasar Baru, Juanda. Saat menunggu lampu merah berubah menjadi hijau, dua orang yang sedang berboncengan diatas matic menghampiri saya. Penumpang yang dibonceng menanyakan, “Mas, ini Supra X tahun berapa?” Saya pun menjawabnya. Kembali dia mengajukan pertanyaan, “Supra X irit nggak sih, mas?” Saya jawab, “Lumayan. Kemarin saya bawa jalan muter-muter Bogor, sampai disini sekarang bensinnya masih tiga bar, nih.” Eh, begitu lampu berubah hijau dan saya melanjutkan perjalanan, dua orang tersebut masih mengikuti sambil memperhatikan HSX 125D yang saya tunggangi.

Akhirnya awal bulan ini saya harus lepas sang HSX 125D tersebut dalam keadaan standar. Box dan bracketnya yang pernah saya pasang memang sudah jauh-jauh hari saya lepas. Kalau berminat jemput sendiri di rumah saya. 🙂 Selama penggunaan, beberapa kelemahan dari HSX 125D saya rasakan. Pertama adalah seringnya saya memperbaiki shock breaker depan yang beberapa kali bocor. Kedua adalah body plastiknya yang kendur dan bergetar saat dikendarai. Penyakit yang satu ini sepertinya memang menjangkiti bebek-bebek lawas AHM. Yang ketiga adalah pencahayaan lampu depannya yang kurang terang. Kalau untuk urusan mesin memang tidak pernah rewel. Sampai terakhir saya gunakan mesinnya masih halus tanpa asap keluar dari knalpot. Selama hampir sepuluh tahun memang baru sekali servis turun mesin.

Soul GT 125 AKS SSS

Welcome to the family 🙂

Alasan lain saya melepas HSX 125D tersebut adalah karena sejak akhir Januari kemarin saya sudah mendatangkan sang Soul GT 125 AKS. Tertarik dengan fitur AKS dan SSS serta modelnya yang lebih menarik bila dibandingkan produk sejenis dari AHM. Yeah, saya bukan orang yang fanatik dengan satu merk. Jadi, saat ini New Blade 110 yang menjadi andalan saya. Sedangkan dua yang lain masih menjadi teman jalan-jalan saat akhir pekan.

Yeah… Microsoft pun akan mematikan dukungannya untuk Windows Vista yang usianya akan menginjak sepuluh tahun April nanti. #Obsolete. Jadi, cukup beralasan kalau saya berpisah dengan Si Sepira. Heuheu… 🙂 Tapi bedanya dengan Vista yang obsolete, Si Sepira memang lawas teknologinya tapi tidak usang dan masih bisa diandalkan. Old, but not obsolete.

Hasta la vista, baby.

Manusia, Mesin dan Monster

Video Killed The Radio Star

Seperti itulah yang melintas dalam benak saya ketika akhir-akhir ini kembali ramai diperbicangkan tentang tindakan premanisme beberapa oknum yang disinyalir supir angkutan kota konvensional terhadap supir roda empat yang diduga seorang pengemudi angkutan berbasis aplikasi. Tanpa ada bukti, oknum-oknum tersebut sudah berani melakukan pengeroyokan. Pun kalau memang benar pengemudi tersebut merupakan pengemudi angkutan online berbasis aplikasi, tindakan barbar seperti itu juga tidak dibenarkan. Kita hidup di negara hukum, kan?

Memang dengan semakin maraknya layanan angkutan online berbasis aplikasi membuat pengemudi angkutan roda dua hingga roda empat konvensional semakin kehilangan ‘lahan’. Jangankan dengan angkutan online yang semakin merajalela, dengan program kredit motor murah saja supir dan tukang ojek konvensional tersebut sudah ketar-ketir. Begitu kata seorang rekan kerja. Kalau dulu dengan sesama pengemudi saja mereka masih saling sikut, apalagi saat ini.

Kalau dulu bagi mereka, pengemudi angkutan konvensional, semua serba mudah. Tinggal stand by di pangkalan atau terminal, menunggu penumpang, mengantar penumpang dengan rute yang sudah ditentukan, terima uang ketika penumpang turun kemudian setor penghasilan. Dari pagi hingga petang, day by day. Peluang berkurangnya penghasilan hanya dari sesama pengemudi. Money comes easily. Maka kondisinya tidak seperti itu lagi saat ini.

Dengan menjamurnya layanan ride sharing berbasis aplikasi, pengguna transportasi umum seperti dimanjakan. Pesan kapan saja, dari mana saja, dengan tujuan kemana saja bisa dilakukan. Mudah. Dengan tarif yang kompetitif, tidak harus menunggu di halte atau pinggir jalan, bisa dari ruang ber-AC tidak perlu berpanas-panasan dibawah terik matahari pinggir jalan yang berdebu, diperlakukan dengan ramah. Sudah tidak ada cerita lagi penumpang menunggu angkot ‘ngetem’ puluhan menit. Tidak ada cerita lagi penumpang diturunkan ditengah perjalanan dengan alasan ‘tidak ada sewa’ karena penumpangnya cuma satu dua orang saja. Tidak ada cerita lagi ‘ditembak’ tukang ojek dengan tarif yang irasional. Blaassss… semua kebobrokan masa lalu hanya tinggal kenangan dengan kemajuan teknologi.

Maka pengemudi konvensional tidak hanya bersaing dengan sesama mereka dan pengemudi angkutan berbasis aplikasi saja. Mereka pun harus bersaing dengan ‘ego’ calon penumpang. Bagaimana caranya menarik calon penumpang agar mau memanfaatkan jasa angkutan konvensional itu yang harus dicarikan solusinya. Sebagai konsumen tentu penumpang berpikiran, “Duit aing kumaha aing wae, atuh!” Konsumen punya banyak pilihan. Tidak mau yang biru masih ada yang hijau. Tidak suka yang hijau masih ada yang orange.

IBM Digital Disruption

According to an internal slide from IBM, the company believes the disruption already happened. Sumber: https://vrworld.com/2015/11/09/ibm-disruption-has-already-happened/

Like all the other tracks from the LP, “Video”‘s theme was promotion of technology while worrying about its effects. This song relates to concerns about mixed attitudes towards 20th-century inventions and machines for the media arts. – Video Killed The Radio Star, Wikipedia

Majunya teknologi memang membuat beberapa profesi dan bidang keahlian menjadi obsolete. Seberapa tenar bintang sandiwara radio dibandingkan dengan artis sinetron atau bintang Hollywood saat ini? Zip! Beruntunglah loper koran atau tukang pos tidak menggerebek kantor berita online dan layanan e-commerce atau penyedia layanan surat elektronik karena teknologi yang mereka terapkan membuat jasa tukang pos dan loper koran menjadi kurang berarti. Alhamdulillah, mereka tidak mengalami post-power syndrome saat masa jaya mereka berakhir.

Kalau sekarang angkutan konvensional dilibas dengan layanan angkutan online berbasis aplikasi, apakah hal yang sama juga akan menimpa para pengemudi angkutan berbasis aplikasi dimasa mendatang? Bisa saja terjadi. Kalau kendaraan-kendaraan otonom semakin terjangkau, teknologinya semakin mantap dan dapat diandalkan, budaya manusia yang semakin bergantung pada teknologi, maka bukan tidak mungkin penyedia transportasi berbasis aplikasi akan memilih mesin-mesin tersebut.

Banyak hal akan berubah, tapi ada satu yang tidak ikut berubah, yaitu perubahan itu sendiri. Seseorang pernah mengatakan, “Fully supported environment, but less challenged, transforms human into machine. Fully challenged environment, but less supported, transforms human into monster. What’s make human truly human?

Dalam Al Quran Allah swt berfirman:

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Hud: Ayat 6)

“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”” (QS. Yunus: Ayat 31)

Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman:

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d: Ayat 11)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.

Jalan-jalan ke Situ Babakan

Situ Babakan

Situ Babakan, Kecamatan Jagakarsa, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan

Bagaimana kira-kira caranya mengisi liburan atau akhir pekan di Jakarta tanpa harus pergi ke mall, nonton film baik di bioskop ataupun on-line, atau main games di komputer/gadget? Jawabannya adalah pergi jalan-jalan ke tempat wisata alam. Loh, memangnya ada wisata alam di Jakarta? Jelas ada! Situ Babakan di Srengseng Sawah, kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan misalnya. Selain wisata alam di Situ Babakan sobat bisa melihat budaya asli Jakarta, budaya Betawi.

Untuk mencapai Situ Babakan cukup mudah. Jika kita berasal dari Bogor atau Depok cukup ikuti jalan raya Margonda hingga menjumpai pertigaan jalan sebelum JPO stasiun Lenteng Agung. Dari pertigaan tersebut kita berbelok ke kiri di jalan Mohammad Kafi II. Cukup ikuti arah yang ada di papan penunjuk jalan di sepanjang jalan tersebut untuk mencapai Situ Babakan.

Situ Babakan

Ada apa saja di Situ Babakan? Selain pemandangan alam danau atau situ, di sini kita bisa jumpai kekhasan budaya Betawi, misalnya bangunan, pakaian adat dan makanan/minuman. Pemandangan indahnya bisa dinikmati sambil menyantap jajanan-jajanan yang dijajakan oleh para pedagang di sekeliling situ atau pedagang kaki lima yang kebetulan mampir di dekat tempat kita duduk di kursi-kursi atau lesehan di tempat yang disediakan.

Jangan takut dompet terkuras karenan jajanan yang dijajakan di sini tidak semahal kalau sobat pergi ke Plaza Indonesia, Kota Casablanca atau PIM. Heuheuheu… 😀 Yup, pedagang disini berdagang untuk mencari nafkah, bukan untuk membangun real estate, mall, atau kawasan perkantoran elite. Jadi, jangan sungkan-sungkan merogoh kocek sobat.

Baiklah, daripada saya berpanjang lebar bercerita seperti apa Situ Babakan apalagi sampai ngobrol ngalor-ngidul tidak karu-karuan, lebih baik sobat lihat foto-foto berikut ini. Jangan salahkan saya kalau sobat jadi penasaran dan ingin berkunjung sendiri ke Situ Babakan ini. 😀

Situ Bababakan

Selamat Datang di Situ Babakan

Situ Babakan

Lahan parkir di Situ Babakan

Situ Babakan

Kerak telor makanan khas Betawi

Situ Babakan

Salah satu kios dagangan di Situ Babakan

Pedagang kaki lima di Situ Babakan.

Pedagang kaki lima di Situ Babakan. “Bang, senyum bang!” 😀

Jalan di Pinggir Situ Babakan

Pemandangan jalan di sepanjang Situ Babakan

Wisata Air Situ Babakan

Ajak anak-anak atau keluarga sobat untuk menikmati pemandangan Situ Babakan dengan perahu-perahu yang disediakan.

Menara Masjid Terlihat Dari Seberang Situ Babakan

Pemandangan menara masjid di kejauhan yang terlihat dari salah satu sudut di seberang Situ Babakan.

Wisatawan Menikmati Hidangan di Tepi Situ Babakan

Menikmati jajanan kuliner di bawah pohon rindang di tepi Situ Babakan bersama teman, keluarga atau handai taulan.

Wisatawan di Situ Babakan

Masih menikmati kuliner di sepanjang tepi Situ Babakan. Tapi kenapa adik yang satu itu sepertinya tertidur ya, heuheuheu… 😀

Pedagang Keliling di Situ Babakan

Pedagang keliling menawarkan dagangannya pada seorang wisatawan.

Jalan di Pinggir Situ Babakan

Seperti inilah jalan di sekeliling Situ Babakan. Cukup lebar untuk dilewati dua mobil dengan kios-kios di sepanjang pinggir jalan dan meja-meja dan kursi berpeneduh di pinggir situ.
Situ Babakan

Jangan lupa dengan bir pletok, minuman khas Betawi.

Semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.