Weekend Ride 04 November 2017

Yup, seperti yang saya katakan pada pos kemarin. Hari ini saya coba berikan hasil rekaman kamera handphone yang saya pasang menggunakan phone holder saat bersepeda hari Sabtu kemarin. Hasilnya? Parah, bro!!! Heuheuheu… πŸ˜€

Kesimpulannya:

  1. Backlight akibat sinar matahari pagi membuat video hasil rekaman hitam.
  2. Guncangan di stang sepeda membuat hasil rekaman hancur! Maklum, tidak ada fitur OIS di handphone, videonya pun cuma 30 fps dan resolusi kameranya sendiri untuk memotret cuma 5 MP.
  3. Posisi phone holder di stang lama-kelamaan akan mengendur akibat guncangan selama perjalanan, ditambah aspal yang tambal sulam dan speed trap (polisi tidur) mempercepat posisi holder semakin berputar kebawah sehingga kamera handphone mendongak ke atas.
  4. Handphone yang digunakan untuk merekam cuma bisa merekam dengan durasi maksimal 10 menit.
  5. Sesekali harus memperhatikan posisi holder saat digunakan untuk merekam. Mungkin bisa lebih dikencangkan mounting-nya.

Okay, itu kesimpulannya. Kedepannya saya akan coba handphone dengan kualitas yang lebih baik.

Silahkan dinikmati efek camera shaking, backlight dan musiknya. Efeknya real, lho. πŸ˜€

Eksperimennya berhasil, kakak. Dengan hasil yang hancur, monggo dimaki-makilah hahaha… πŸ˜€

Iklan

Pasang Phone Holder Sepeda

Hmm… di rumah ada handphone lawas yang sebetulnya masih produktif cuma karena teknologinya mentok di CDMA dan sekarang sudah zamannya 4G LTE jadi saya coba manfaatkan. Lumayan, tuh handphone sebetulnya masih bisa dipakai telepon-teleponan, SMS-an pakai slot GSM-nya yang 2G atau motret-motret, main games dan mendengarkan musik. Jadi, kira-kira bisa digunakan untuk apa ya?

Akhirnya ada ide bagaimana kalau handphone itu dipakai buat teman weekend ride. Iseng-iseng cari di Lazada ada phone holder yang modelnya ternyata bukannya cuma sebagai bracket saja, dengan pengaturan posisi yang benar, handphone-nya bisa dijadikan kamera untuk bikin vlog. Wah, lumayan dong buat alternatif action cam.

Pasang phone holder-nya sendiri gampang banget. Plug and play-lah. Nggak perlu baca manual macam-macam. Toh cuma ada dua mounting, satu untuk stang, satunya lagi buat si phone holdernya sendiri yang bentuknya seperti jepitan rambut cewek.

Okay… nanti saya coba share dengan sobat semua hasil rekaman handphone lawas tersebut yang diposisikan dengan phone holder yang dimaksud. Selamat berakhir pekan. Salam hangat dari kota hujan.

Weekend Ride 28 Oktober 2017

Jalan MH Thamrin, Sentul City, Bogor

Jalan MH Thamrin, Sentul City, Bogor

Yeaah… Setelah bosan dengan track yang itu-itu saja, akhirnya saya mencoba mencari track yang belum pernah saya coba dengan sepeda akhir pekan kemarin. Jadi deh saya jalan-jalan ke kawasasan Sentul Highlands via Stadion Pakansari dan Jalan Alternatif Sentul. Sampai di Sentul City udara sejuk menjadi kompensasi keringat yang mengucur akibat melintas di Babakan Madang yang berdebu dan banyak roda empat serta truk besar.

Menanjak ke kawasan Golf Mediterania II lurus terus kemudian berputar arah menuju Jalan MH Thamrin. Nah, setelah tanjakan yang tingggggggi pastinya ketika berputar kita akan mendapatkan turunan yang tinggggggggggggggi… Heuheuheu. Wow, amazing!!! Pedal sepeda sudah tidak berarti lagi. Udara pagi Gunung Geulis yang sejuk menerpa kulit selama melesat kencang. Mantab!

Zeneos ZN 77 Front & Rear Buat New Blade 110R

Sudah seminggu ini saya riding harian menggunakan Zeneos ZN 77 di bebek besi andalan saya. Depan 70/80 dan belakang 80/90. Sejak menunggang si Sepira Supra X 125D dulu juga saya sudah percaya dengan brand keluaran PT. Gajah Tunggal ini. Kalau untuk Soul GT 125 AKS/SSS kemarin saya memilih Aspira Sportivo Premio, untuk bebek saya memilih brand yang saya sudah buktikan sendiri saja. Enggan pindah ke lain hati πŸ˜€ . Makanya saya tetap memilih Zeneos ZN 77 untuk dipasang di bebek tunggangan sehari-hari. Untungnya lagi saat pemasangan di Castrol Bike Point Bambu Kuning, Bojonggede sedang ada promosi ban tubeless dengan cairan tyre-guard.Β Alhamdulillah.

Kesan? Sama seperti dulu di Supra X 125D. Zeneos ZN 77 ini cukup asyik untuk digunakan berbelok miring-miring melintasi kelokan. Khusus ban depannya saya rasakan lebih empuk saat melindas polisi tidur bila dibandingkan ban tube-type bawaan pabrik yang digunakan New Blade 110R. Melintasi aspal tambal sulam dan tidak rata pun terasa lebih nyaman. Untuk kontur beton yang terkikis hujan dengan kerikil bertebaran pun stabil, tidak goyang.

Okelah, semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.

Solo Riding ke Karang Hawu Pelabuhan Ratu (Lagi)

Panorama Pantai Karang Hawu

Panorama Pantai Karang Hawu, Cisolok, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat

Kuseberangi sungai kecil ke hutan
melintasi gunung ke desa.

Aku melangkah kini seperti kulakukan kemarin
ku teruskan langkah – perjalanan baru.

Sepanjang perjalanan itu
Mindelrae bermekaran, murai berterbangan
gadis-gadis lalu-lalang dan angin mengembang.

Perjalananku senantiasa baru,
hari ini dan esok.

Kuseberangi sungai kecil ke hutan
dan melintasi gunung menuju desa.

(Yoon Dongju, 1917-1945)

Demikianlah untaian puisi berjudul Perjalanan Baru karangan Yoon Dongju, penyair Korea kelahiran Haehwan, Mancuria 30 Desember 1917. Yoon terkenal karena narasi puisinya yang seakan dibawakan oleh seorang anak kecil. Tiga kumpulan tulisan tangan Yoon dan sembilan belas puisinya dipublikasikan pada tahun 1948 dengan judul The Heavens and The Wind and The Stars and Poetry (Haneulgwa Baramgwa Byeolgwa Si). Yoon masuk dalam jajaran penyair pejuang Korea di masa akhir pendudukan Jepang. Sedikit-banyak Perjalanan Baru karangan Yoon menggambarkan perjalanan solo riding yang saya lakukan kemarin Kamis, 21 September 2017 yang bertepatan dengan hari raya 1 Muharram 1439 Hijriah.

Tidak banyak yang bisa diceritakan untuk persiapan perjalanan, karena memang perjalanan hari ini memang perjalanan untuk bersantai. Cuma sebuah tas selempang kecil berisi power bank, dompet dan dua unit ponsel super cerdas tentunya. πŸ˜€ Tidak lupa jas hujan two pieces dan sepasang sandal jepit di bagasi bawah jok sang bebek besi. Kira-kira pukul enam sang bebek besi warming-up dan pukul enam lebih sepuluh menit saya berpamitan kepada ortu. Bismillahirahmanirrahim, perjalanan pun dimulai.

Tujuan saya adalah pantai di kawasan Pelabuhan Ratu, Cisolok, Sukabumi. Rute yang akan saya tempuh adalah Batu Tulis, Cigombong, Cicurug, Cibadak, Warung Kiara hingga Citepus dan Cisolok, Pelabuhan Ratu. Dari rumah saya mengarah ke Pemda Cibinong lalu menelusuri jalan Karadenan. Dikarenakan fuel meter hampir menyentuh garis empty, saya sempatkan mengisi BBM hingga penuh di sebuah SPBU. Melanjutkan perjalanan hingga di Kedunghalang Talang jalanan agak tersendat karena jalur sebelah kiri yang mengarah ke jalan KS Tubun sedang dalam pengecoran. Ruas-ruas behel mencuat di sebelah kanan, jalan jadi satu arah bergantian. Sampai di jalan KS Tubun saya mengarah ke Warung Jambu.

Lalu lintas yang menuju jalan Pajajaran sudah mulai ramai pagi hari itu. Hingga di depan SPBU sebuah sport enduro besutan Kawasaki menyalip saya, KLX 250 sepertinya. Benar-benar bergaya adventure, lengkap dengan perkakas di kanan kiri dan ban untuk garuk tanah. Di jok belakangnya saja sepertinya mengangkut carrier, matras dan tenda. Kontras sekali dengan penampilan saya, yang walaupun mengenakan riding gear lengkap tapi cukup membawa sebuah tas selempang kecil. Boots yang biasanya saya pakai saat berkendara saya ganti dengan sneakers. Yah, tujuan perjalanan saya tidak jauh, akan lebih nyaman bergaul dengan warga disana nanti jika saya terlihat seperti warga setempat. Baik plat nopol Bogor atau Sukabumi masih sama-sama F. Jadi, kalau saya bergaya dengan riding gear yang wuah akan terlihat sangat berbeda dengan warga setempat. Oleh karena itu, saya memilih kustom santai.

Sampai di lampu merah Plaza Jambu Dua saya berbelok ke kanan menuju jalan Ahmad Yani. Loh, kalau mau ke Batu Tulis bukannya lebih enak lewat Pajajaran karena sekarang sudah sistem satu arah? Ya, sih. Cuma saya bosan lewat sana, tidak lama sebelumnya untuk suatu keperluan di Cianjur saya sudah melewati jalan tersebut. Saya cuma ingin melepas kangen menikmati De Grote Postweg jalan Ahmad Yani dengan rimbun pohon beringin besar di kanan-kirinya, Taman Air Mancur, melintas di depan museum PETA jalan Jenderal Sudirman hingga sampai depan Istana Bogor berbelok ke kiri melintasi jalan dengan pemandangan lapangan Sempur di kiri dan Kebun Raya Bogor di kanan. Sampai di pertigaan saya berbelok ke kiri menuju jalan Salak arah Taman Kencana. Ketika berbelok dari belakang terdengar suara khas drem drem drem drem… Wah, pasti HD ini. Ketika saya cek spion ternyata benar, sebuah HD Sportster berwarna merah mendahului saya. Apik sekali. Firasat mengatakan saya akan melihat motor-motor besar di jalur menuju Sukabumi. Di perempatan jalan Pajajaran saya berbelok ke kanan menuju Tugu Kujang. Dari Tugu Kujang saya mengarah ke kanan menuju Kebun Raya dan Bogor Trade Mall (BTM). Kalau dulu dari depan Istana menuju BTM bisa praktis cukup menelusuri jalan Ir. Juanda sekarang tidak bisa lagi. Tapi ya tidak apa-apa, lumayan kan cuci mata melihat keindahan kota Bogor yang bernuansa kolonial.

Dari BTM saya menuruni jalan hingga berbelok ke kiri kemudian menanjak lagi menuju Bondongan. Terus melaju lurus ke arah Lawang Gintung melewati satu lagi situs bersejarah, Istana Batu Tulis. Inilah uniknya Kota Bogor. Melintas di kota ini seperti masuk ke dalam film dokumenter atau buku sejarah perdjoengan Indonesia. πŸ™‚ Di pertigaan Lawang Gintung saya memilih jalan berbelok menurun di sebelah kanan menuju satu lagi bangunan tua, stasiun Batu Tulis. Jika Anda melihat kereta jurusan Bogor-Sukabumi sedang melintas, akan sangat menarik sekali memotretnya karena jalur keretanya berada lebih tinggi diatas bangunan lain disekitarnya dengan latar pemandangan runcing atap bangunan Bukit Gumati Cafe yang ikonik berada lebih tinggi lagi daripada rel kereta dan stasiun Batu Tulis tersebut. Sudah beberapa kali saya menikmati keindahan tersebut. Sampai di pertigaan Rancamaya-Sukabumi, saya berbelok ke kanan melintasi jembatan menuju Cipinang Gading, Pamoyanan lalu lurus ke arah Cihideung.

Tanjakan Pamoyanan yang lumayan tinggi cukuplah sebagai pemanasan. Perjalanan dilanjutkan dengan mengikuti jalan lurus. Sesekali jalan berkelok lalu menurun kemudian menanjak cukup tinggi khas perbukitan. Menjelang River Valley indahnya perbukitan di sebelah kanan seakan menggoda pengendara untuk melupakan kendaraan di depannya. Padahal akibatnya bisa berbahaya, karena jalurnya menanjak semakin tinggi dan jika kehilangan fokus maka bisa kehilangan pengendalian kendaraan dan berakibat kecelakaan. Udara yang sejuk dan cenderung dingin menembus jaket yang tebal menambah kenikmatan berkendara di jalur perbukitan dengan aspal yang relatif mulus ini. Sampai di River Valley jurang yang cukup dalam di sebelah kiri mengingatkan saya agar tetap fokus berkendara. Hingga sampai di SPBU 33.167.02 saya memilih untuk mampir sebentar.

Kemudian saya kembali melanjutkan perjalanan melewati Dapoer Warso atau yang lebih dikenal dengan Durian Warso di wilayah Cijeruk ini. Sepanjang perjalanan beberapa baliho kampanye calon bupati kabupaten Bogor terpasang mentereng. Di beberapa ruas jalan aspal rusak sehingga banyak lubang dan berpasir atau kerikil dan di beberapa titik banyak aspal terkikis yang membuat pengendara harus berhati-hati dan memelankan kendaraan.

Memasuki wilayah Cigombong jalan menikung tajam dengan tanjakan dan turunan yang semakin terjal. Lumayan, pemanasan sebelum memasuki wilayah Pelabuhan Ratu. Di salah satu petak sawah sebelah kiri saya lihat seorang petani membajak sawahnya dengan bantuan dua ekor kerbau. Wow! Pemandangan khas buku bahasa Indonesia zaman SD. πŸ˜€ Akhirnya saya bersama beberapa pengendara lain melintasi sebuah rel kereta api dan tidak lama kemudian melewati stasiun Cigombong. Dari sana tidak beberapa jauh saya sudah tiba di jalan raya Sukabumi. Berhenti sejenak mengamati lalu lintas di kiri dan kanan kemudian saya memuntir gas dan mengarahkan sang bebek besi ke arah kanan menuju ke Sukabumi. Lalu lintas terlihat lenggang atau sepi, hanya beberapa bus dan truk-truk besar yang dapat saya overtake dengan hati-hati. Lalu lintas belum ramai oleh mobil-mobil pribadi atau sepeda motor lain. Sesekali saya melihat pengendara atau pembonceng sepeda motor menggendong ransel di punggung mereka.

Jalur yang lurus dan lebar serta relatif masih sepi kendaraan membuat perjalanan semakin menyenangkan. Sesekali mendahului truk dan saya pun beberapa kali disalip city car yang melaju kencang saat memasuki wilayah Cicurug. Defensive riding tetap saya pegang, tidak terpancing oleh mobil tersebut. Keramaian saya temui saat melintasi pasar di sepanjang jalan yang melintasi kantor kecamatan Cicurug. Beberapa supir angkutan umum menunggu penumpang dan orang-orang berlalu-lalang dan menyeberang jalan. Ditengah keramaian tersebut saya mendengar dari pengeras suara, “Motor tetap di kiri! Motor tetap di kiri!” Wah, rupanya seorang polisi menunggang Yamaha FJR 1300 bertindak sebagai voorijder mengawal rombongan motor besar HD. Dan rupanya HD Sportster merah yang saya jumpai di jalan Salak Bogor tadi adalah anggota rombongan motor besar ini. Yeah, menyenangkan melihat rombongan kurang lebih enam HD ini. Orang-orang jadi mengarahkan pandangan pada mereka, karena selain motor besarnya, atribut-atribut berlogo HD pada rompi dan jaket merekapun menarik perhatian. Seorang polisi juga ikut mengatur lalu lintas di depan kantor kecamatan Cicurug.

Lepas pasar Cicurug jalanan kembali sepi dan lancar. Memasuki Parung Kuda saya perhatikan jarum fuel meter menunjukan setengah menuju empty. Saya putuskan untuk mengisi kembali BBM hingga penuh di SPBU 34.433.11 Cipanggulaan. Kembali melanjutkan perjalanan melewati Museum Palagan Perjuangan 1945 di jalan raya desa Bojongkokosan. Truk-truk besar menemani perjalanan saya di depan dan belakang. Bus-bus pariwisata, MGI dan bus trayek Pelabuhan Ratu-Bogor berseliweran. Kemacetan kembali saya jumpai saat lewat di depan terminal Cibadak. Daerah ini terkenal macet karena merupakan terminal yang bersambung dengan pasar yang panjang hingga ke perempatan pos polisi Simpang Pelabuhan Ratu. Lepas dari kemacetan saya lanjutkan menyusuri jalan Surya Kencana dan akhirnya berbelok ke kanan di Simpang Pelabuhan Ratu. Melewati Simpang Pelabuhan Ratu jalan relatif sepi dari kendaraan. Alhamdulillah.

Pemandangan hijau pegunungan memanjakan mata di kejauhan saat akan memasuki Warung Kiara. Di salah satu tempat saya jumpai keramaian saat akan memasuki wilayah Warung Kiara. Ternyata penyebabnya adalah warga dan siswa-siswi sekolah yang merayakan hari raya 1 Muharram dengan pawai dan marching band serta delman yang sudah dihias warna-warni. Sehingga ruas sebelah kiri yang saya gunakan juga digunakan oleh kendaraan dari arah berlawanan. Waduh, rata-rata mobil dan kendaraan besar lagi!Β Ditambah warga setempat yang berkendara tanpa helm memenuhi jalan.

Setelah melewati keramaian pawai, saya kembali menelusuri jalur yang meliuk-liuk di salah satu punggung Gunung Salak ini. Di sebelah kiri pemandangan hijau perbukitan seolah menyampaikan pesan selamat bertualang. Sementara warung rokok atau warung kopi di seberang jalan seperti memanggil untuk mampir sejenak. Saya memelankan sang bebek besi untuk menikmati pemandangan ini dan akhirnya beberapa kali berhenti untuk memotret. Tidak lupa berhati-hati karena dari depan atau belakang sepeda motor atau kendaraan lain selalu melaju kencang di jalur yang agak menanjak ini.

Jalan lurus dengan banyak pepohonan rindang di kiri dan bendera merah putih saya jumpai saat melintas di depan kantor Kodim. Saya sempatkan lagi untuk mengambil beberapa foto. Setelah asyik memotret, kendaraan-kendaraan besar yang tadi terjebak kemacetan saat pawai ternyata sudah datang menyusul saya. Saya putuskan agar mereka lewat lebih dahulu untuk menjaga jarak aman berkendara. Dari arah berlawanan angkot-angkot putih dan bus MGI melaju berpapasan dengan saya. Tidak beberapa jauh setelah Kodim jalan lurus dengan kebun dan pohon-pohon besar di kanan-kiri kembali berhasil mengajak saya untuk menghentikan sang bebek besi sejenak.

Kembali menyusuri jalan yang semakin berkelok seperti ulir dengan tetap menjaga jarak aman dengan kendaraan besar. Sebuah HD diiringi dua ER6N menyalip saya dan mobil depan saya di sebuah tanjakan menikung dengan kecepatan tinggi. Beberapa muda-mudi terlihat berkendara menuju rute yang sama dengan saya, lalu lintas sudah mulai ramai dengan sepeda motor. Matahari semakin bersinar terang dan udara sudah terasa panas saat memasuki kawasan Pelabuhan Ratu. Perbukitan di kejauhan terlihat semakin jelas, pepohonan besar di kanan-kiri jalan sudah mulai berkurang, digantikan bangunan-bangunan permanen pemukiman warga setempat, toko-toko atau warung dan mushola/masjid. Marka jalan sepertinya baru dicat, terlihat masih tebal dan kinclong. Akhirnya disebuah warung pinggir jalan saya putuskan lagi untuk berhenti. Lihat jam di ponsel sudah menunjukan pukul 10:06. Kembali mengambil beberapa foto kemudian melanjutkan perjalanan. Di sebuah pertigaan jalan saya lanjutkan lurus, karena kalau berbelok ke kiri sampainya ke Ujung Genteng, bukan Pelabuhan Ratu. πŸ˜€

Sampai di sebuah lampu merah perempatan jalan saya berbelok ke kiri menuju pasar ikan Pelabuhan Ratu. Belok kiri langsung, begitu pesan di rambu lalu lintas. Jalannya terlihat lebar, bersih dan indah. Di kanan-kiri jalan adalah perkantoran dengan trotoar yang cukup lebar. Memasuki pasar ikan bau anyir (amis) menyergap penciuman saya. Tapi hei, kemana perahu-perahu nelayan yang biasanya menjadi pemandangan menarik di kanan-kiri jalan kawasan ini? Ternyata lokasi pasar ikan dipindahkan untuk sementara waktu. Demikian bunyi pesan disebuah spanduk lebar yang dibentangkan di pinggir jalan. Padahal perahu-perahu tersebut akan menjadi objek foto yang menarik sekali. Tidak seperti dua tahun lalu saat saya ke sini. Tapi ya sudahlah.

Melewati pasar ikan jalan sedikit menanjak dengan rimbun pepohonan kembali menyambut kedatangan saya. Tidak lama kemudian saya tengok ke sebelah kiri terlihatlah keelokan pemandangan Pantai Laut Selatan. Akhirnya, sampailah saya di Pelabuhan Ratu. Perjalanan masih saya lanjutkan kembali karena bukan pantai disini tempat tujuan saya. Setelah rimbun pepohonan, eloknya persawahan dengan padi yang masih hijau menghiasi jalan. Sawah di kanan, laut di kiri, Subhanallah. Grand Inna Samudra Beach dengan latar deru ombak yang bergulung-gulung sangat menggoda ketika menyusuri suatu tanjakan di sebelah kiri. Next time, baby. Heuheuheu… πŸ˜€

Aspal yang lumayan mulus dilewati oleh berbagai kendaraan. Umumnya sepeda motor, angkot dan mobil Colt/mini bus khas Pelabuhan Ratu dengan muatan yang bisa dikatakan overload hingga ke atap mobil. πŸ˜€ Sesekali berpapasan dengan pick-up yang mengangkut hasil pertanian. Di beberapa titik kawasan pantai, sawah-sawah menghijau menghiasi bibir pantai dengan beberapa petani yang sedang menggarap sawah. Jauh di sebelah kanan saya perbukitan hijau melengkapi latar pemandangan sawah. Saya pun menghentikan sang bebek besi di sebuah pelataran yang sepertinya memang disediakan untuk menikmati eloknya pemandangan sawah disana.

Kurang lebih 3 KM lagi saya mencapai pantai Karang Hawu. Demikian bunyi sebuah petunjuk jalan ketika saya melewati kawasan Citepus. Fuel meter belum menyentuh tanda setengah, masih aman. Toh, BBM eceran dalam botol banyak dijual di pinggir jalan. SPBU pun masih saya jumpai. Ketika sampai di hamparan luas jalan raya di pinggir Karang Hawu, saya jumpai pelataran parkirnya masih sepi. Hanya terlihat tiga-empat mobil dan satu-dua sepeda motor. Beberapa wisatawan terlihat sedang asyik menikmati pemandangan dan hembusan angin di pantai ini.

Saya memelankan laju sang bebek besi sambil mencari kawasan yang enak untuk parkir di bibir pantai. Melewati Karang Hawu ternyata tidak ada tempat yang diharapkan. Akhirnya saya putuskan untuk kembali ke Karang Hawu dan memarkirkan sang bebek besi di sana. Alhamdulillah, sampai juga. Biasanya pelataran parkir ini ramai dengan kendaraan dan wisatawan, siang atau malam. Tapi saya beruntung karena sampai disini pada hari libur yang tepat ketika banyak wisatawan belum tiba. Sudah kuduga hahaha… πŸ˜€ Seandainya saya pergi keesokan hari, pada hari Jum’at atau Sabtu, pasti suasananya ramai sekali disini. Jam menunjukan sekitar pukul sepuluh lebih tiga puluh menit.

Saya parkiran sang bebek besi, melepas helm dan sapu tangan slayer yang saya gunakan sebagai masker. Duduk sebentar, bersyukur karena bisa sampai di tujuan dan mengagumi keindahan pantai. Deru ombak dikejauhan terdengar menyapa telinga saya yang sejak perjalanan hanya mendengarkan deru mesin kendaraan dan suara polygonal muffler sang bebek besi yang khas. Bulir-bulir putih ombak dan percikan air yang menghantam karang serta laut biru kehijauan dibawah terik mentari Cisolok menjadi pengobat lelah berkendara. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah dan membelai rambut. Maha Suci Allah.

Sebutir kelapa muda pun menjadi pelepas dahaga setelah kurang lebih empat jam berkendara. Masya Allah, sungguh segar. Beberapa ekor burung melesat beterbangan dari satu dahan pohon ke dahan pohon lain yang tinggi diatas jalan raya pantai Karang Hawu. Dari tempat saya duduk terlihat banyak wisatawan tengah mencumbui pasir dan ombak di kejauhan. Ada yang berkejar-kejaran, berswafoto dipinggir pantai atau diatas batu karang besar. Ada juga yang sedang menikmati hidangan jajanan bersama saya di dekat pelataran parkir.

Beberapa juru foto keliling terlihat berjalan-jalan menawarkan jasa pemotretan. Kasihan, saat ini kamera pada ponsel sedikit-banyak mengubah cara orang-orang berlibur dan mengabadikan momen liburan. Teknologi memang mengubah banyak hal. Padahal jasa pemotretan tidak seberapa. Seorang juru foto keliling pun sempat menawarkan jasanya.

Sambil masih menikmati segarnya air dan manisnya buah kelapa muda, sebuah rombongan roda empat tiba di dekat saya. Seorang ibu dan beberapa orang anaknya mungkin, memesan sepiring rujak tumbuk yang dipikul oleh seorang pedagang. Ya, seperti inilah suasananya. Banyak wisatawan datang untuk menikmati keindahan pantai atau demi kenikmatan berkendara atau tujuan lain. Tidak harus bermegah-megahan, walau sebenarnya mereka atau saya bisa saja bermegah-megahan kalau mau. Justru sebaliknya, mereka dan saya ingin menikmati kemewahan yang diberikan oleh Allah SWT melalui alam ciptaannya yang tidak kami miliki. Menyadari bahwa sebetulnya kita seperti buih atau pasir di pantai ini, akan mudah tersaput atau terhempas jika Allah menghendaki.

Seorang Penjual Rujak di Pantai Karang Hawu

Ingatlah bapak penjual rujak ini jika suatu saat kamu menginginkan sepeda motor dengan mesin yang lebih besar dan tenaga yang lebih kencang. Bapak ini mungkin sedang kepanasan atau kehujanan saat menjajakan rujaknya di pinggir pantai Karang Hawu.

Selesai melayani pembeli bapak penjual rujak tersebut membuka bungkusan plastik kresek. Ternyata bekal makan siangnya. Sambil tersenyum bapak tersebut menawari saya makan dengan setengah memaksa. “Silahkan, pak. Mangga. Ini saya juga lagi makan.” Ramah. Inilah tipikal warga Jawa Barat. Obrolan pun berlanjut, “Dari mana, den?” Saya jawab, “Bogor, pak.” Sambil menyendok daging buah kelapa, saya mengobrol santai dengan bapak ini. Selesai makan saya membayar tukang kelapa dan permisi sebentar kepada bapak penjual rujak tersebut. “Punten, pak. Mau turun.” Dia membalas, “Mangga, den.”

Saya membuka bagasi motor dan mengeluarkan sandal jepit, memasukan sneakers ke dalam plastik, melepas sarung tangan dan jaket lalu mengunci kembali bagasi. Ada tangga untuk turun ke pantai beberapa meter dari tempat kami duduk tadi. Saya pun mulai menjejaki pasir-pasir pantai dan memotret keindahan panorama pantai Karang Hawu ini. Sesekali bercanda dengan ombak yang membasahi kaki saya. Batu karang disini membedakan pantai ini dengan bibir pantai lain yang sebelumnya sudah dilewati. Disebut Karang Hawu karena batu karangnya menjorok ke laut dan berlubang di beberapa tempat, sehingga menyerupai hawu (tungku).

Saat asyik memotret terdengar suara adzan Dzuhur berkumandang. Oke, saya kembali ke atas. Agak repot juga kalau mau segera sholat karena letak mushola lumayan jauh dari tempat parkir. Plus, ujung celana saya masih basah tersiram ombak. Saya putuskan untuk menunggu adzan berkumandang sambil beristirahat dahulu. Setelah istirahat saya masih sempat mengambil beberapa foto lagi. Pantai seakan surga untuk para pecinta fotografi. Memanjakan mata dan kamera. πŸ™‚

Kira-kira pukul satu lebih beberapa menit saya putuskan untuk kembali. Pulang, capcus. Pamit kepada bapak penjual rujak yang tadi menemani makan. Bapak yang tampaknya miskin tetapi hatinya kaya. Lalu saya menuju ke tempat sang bebek besi diparkirkan. Kenakan kembali sepatu, jaket dan sarung tangan. Sebelum pulang tidak lupa memberi tips pada salah satu penjaja jajanan disana yang menjaga sang bebek besi. Mengobrol sebentar, si tukang parkir coba-coba menebar racun. Mencoba menawarkan batu, dari yang sebesar kelapa sampai sebesar kerikil dan menawarkan bertemu emak atau nyai anu. Teuinglah… mau mak lampir kek, nyai dasimah kek, saya mah menolak percaya yang begituan. πŸ˜€Β Hadeuh… aya-aya wae si akang. πŸ˜€

Harap diingat, menurut nasihat orang tua dan orang-orang yang sering bepergian ke sini, banyak wisatawan datang ke pantai ini dengan niat yang tidak lurus dan bisa mengotori akidah. Pelabuhan Ratu selain terkenal dengan panorama laut dan pantainya yang indah, juga terkenal sebagai daerah tempat orang mencari pesugihan. Jangan sampai Anda tertipu oleh muslihat orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dari diri Anda dengan iming-iming jabatan/pangkat, harta atau yang lainnya. Tidak hanya uang, kalau Anda dikelabui bisa-bisa Anda harus pulang berjalan kaki sampai rumah. Hati-hati. Kita mohon perlindungan kepada Allah dari perbuatan syirik dan kejahatan jin dan manusia.

Sampai di SPBU 31.433.01, SPBU terdekat dengan pantai Karang Hawu, saya memutuskan mampir sebentar untuk bersih-bersih, berwudhu dan sholat Dzuhur. Tempatnya luas, bersih dan indah. Begitu juga fasilitas toiletnya. Mushola dibagi dua, kanan mushola wanita, kiri mushola pria. Selesai sholat, saya kembali mengisi tangki BBM sampai penuh, karena jarum fuel meter sudah menunjukan setengah sebelum kosong (empty).

Perjalanan pulang terasa lebih ramai dari pada perjalanan saat datang pagi tadi. Jumlah sepeda motor terasa sedikit sekali dibandingkan dengan roda empat. Beberapa truk mengangkut batu-batu kali besar di jalan yang menanjak ini. Supir-supir truk ini berjalan lambat, tapi mobil-mobil pribadi lah yang memaksa untuk melaju kencang di jalur ini. Sebuah truk pengangkut batu berjalan tersendat saat mendaki tanjakan, menyisakan kepulan asap hitam dan debu jalan. Hal ini membuat saya merasa bersyukur sudah mau repot-repot mengenakan slayer untuk masker dan jaket tebal.

Jika pada perjalan berangkat tadi bisa sedikit santai karena cukup aman dimana tebing tepat disebelah kiri dan jurang jauh di kanan, maka sekarang sebaliknya. Perjalanan pulang keluar dari Citepus harus ekstra konsentrasi karena jurang menganga tepat disebelah kiri. Ditambah pengendara mobil-mobil pribadi yang cenderung melesat kencang. Jangan sampai lengah atau gagal fokus berkendara. Akibatnya bisa celaka. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Singkat cerita saya sampai kembali di jalan Surya Kencana dan melaju ke arah terminal Cibadak. Jika pada pagi hari tadi angkot-angkot ungu belum terlihat banyak, sekarang mereka sudah menampakan dominasinya. Beberapa Colt atau Elf trayek Bogor-Sukabumi yang biasanya ‘mangkal’ di sekitar jalan Pajajaran Baranang Siang pun mulai terlihat mengarah ke Bogor. Perjalanan pulang di jalan raya Sukabumi sore hari itu sangat ramai dan di beberapa titik terjadi kemacetan. Penyebabnya adalah truk-truk besar yang keluar atau masuk pabrik disekitar situ. Sampai melewati terminal Cibadak saya melihat rombongan dua Yamaha XMax 250 dan sebuah R25 beriringan. Menyelip diantara kendaraan lain. Salah satu XMax eye-catching sekali karena berwarna kuning. Pengendaranya terlihat mengenakan headphone di helm sebagai radio komunikasi antar pengendara. Motor-motor besar seperti ini menjadi hiburan dikala kemacetan. Senang melihat biker-biker tulen seperti mereka.

Sampai di Parung Kuda saya memutuskan untuk singgah di masjid Nurul Anda. Lagi-lagi ishoma. πŸ˜€ Semenjak melintas di Warung Kiara tadi sudah terdengar adzan Ashar. Tapi karena saya keasyikan memuntir gas akhirnya bablas ketika melewati sebuah masjid besar. Akhirnya saya pilih masjid Nurul Anda, pas karena letaknya disebelah kiri dan kondisi lalu lintas tidak terlalu ramai dan plang nama masjidnya terlihat di kejauhan ditambah tulisan retoris: Sudahkah Anda Sholat? Heuheuheu… πŸ˜€

Selesai ishoma saya lanjutkan kembali perjalanan. Hingga menjelang kawasan LIDO iring-iringan XMax dan R25 yang tadi saya lihat di dekat terminal Cibadak terlihat menepi, mungkin masih menunggu rekan mereka yang tertinggal. Akhirnya saya berbelok ke kiri kembali menuju stasiun Cigombong untuk menuju Batu Tulis, Bogor. Jalan Cijeruk menuju Batu Tulis saat itu ramai oleh kendaraan roda dua dan roda empat, tidak seperti saat berangkat pagi tadi.

Sampai di Batu Tulis ternyata terjadi kemacetan hingga di perempatan lampu merah Pulo Empang. Wajarlah, Bogor memang selalu macet saat akhir pekan. Mobil-mobil plat B pun terlihat mengisi ruas-ruas jalan. Akhirnya saya berhasil menerobos kemacetan tersebut lalu berbelok ke kanan, menanjak ke arah BTM kemudian berbelok ke kiri ke arah jalan Ir. Juanda lalu ke jalan Jenderal Sudirman untuk selanjutnya kembali Β ke rumah melewati Cilebut. Ternyata dari dulu sampai sekarang Cilebut belum berubah, masih banyak jurang menganga dan tanah longsor, jalan jadi sempit. Hahaha… πŸ˜€

Alhamdulillah, sampai di rumah ba’da Maghrib. Selamat sampai di tujuan. Perjalanan pulang pergi sekitar 232 km. Perjalanan yang hanya selemparan bola basket ini cukup berkesan dan memberikan sensasi berkendara yang selama ini saya rindukan. Semoga tulisan panjang lebar ini bermanfaat. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Selamat berakhir pekan, salam hangat dari kota hujan.

Taksi Online vs Taksi Konvensional Premium = iPhone vs Android

Ketika berputar di sebuah U-Turn jalan raya Pasar Minggu ke arah pertigaan Volvo tadi pagi saya sempat tersendat karena sebuah taksi konvensional premium keluar dari pelataran parkir menuju jalan raya yang kalau pagi hari penuh sesak dengan berbagai kendaraan. Hampir seluruh badan jalan digunakan oleh mobil taksi tersebut, menyisakan sedikit jalan yang cuma cukup untuk pengendara roda dua. Mengingat kejadian tadi pagi saya jadi terinspirasi menuliskan artikel ini.

Saat ini ramai didengungkan diantara pengguna gawai (gadget) bahwa harga sebuah telepon pintar terbaru keluaran Apple dibanderol dengan harga yang mendekati skutik premium 125 cc. Menarik untuk membandingkan produk Apple tersebut dengan jajaran ponsel pintar dengan OS Android.

Apple memproduksi sendiri seluruh komponen software OS. Android dikembangkan secara gotong royong oleh konsorsium. Bahkan, cikal bakal Android, Linux, dikembangkan secara gotong royong oleh komunitas. Hardware yang digunakan oleh Apple untuk ponsel pintarnya memiliki spesifikasi tinggi. Tidak semua hardware yang digunakan oleh ponsel Android menggunakan spesifikasi tinggi, walau ada juga yang kelas premium, tapi banyaknya hardware dengan kemampuan rata-rata dan kelas entry level.

Hal ini mirip dengan taksi premium dengan taksi online. Taksi konvensional premium kendaraannya dimiliki oleh perusahaan. Taksi online kendaraannya berasal dari ‘gotong royong’ mitra pengemudi. Taksi konvensional premium menggunakan kendaraan mewah dan memiliki fitur-fitur yang tidak ada pada taksi konvensional biasa. Taksi online menggunakan kendaraan kelas entry level, walau bisa saja kalau ada mitra pengemudi yang mau menggunakan kendaraan premium miliknya sebagai taksi.

Jadi, wajar jika Apple menjual ponselnya lebih mahal dari pada rata-rata ponsel Android. Mereka harus mengeluarkan sendiri biaya RnD, paten, produksi dan biaya-biaya lain. Sementara produsen ponsel Android bisa mengambil keuntungan gotong royong hasil penelitian konsorsium, walau ada produsen yang mengembangkan teknologi spesifik untuk produk mereka. Tetap saja biaya produksi ponsel Android bisa jadi lebih Β rendah dari pada ponsel keluaran Apple. Begitu juga taksi konvensional premium. Perusahaan harus mengeluarkan biaya pajak dan perawatan yang lebih besar. Sementara biaya pajak dan perawatan taksi online ditanggung mitra pengemudi. Taksi online bisa mengembangkan model layanan yang tidak ada pada taksi konvensional. Begitu juga teknologi yang ada pada ponsel Android terkadang lebih dahulu muncul daripada ponsel pintar buatan Apple.

Selamat menikmati makan siang. Salam hangat dari ibu kota. πŸ™‚

Infografis: Persiapan Sebelum Mudik Lebaran

Infografis Persiapan Mudik Lebaran

Infografis Persiapan Mudik Lebaran

Berikut ini adalah beberapa persiapan yang sebaiknya dilakukan sebelum melakukan perjalanan mudik lebaran pada tahun 2017.

  1. Pastikan semua pintu rumah dalam keadaan terkunci.
  2. Pastikan semua keran air/PAM dalam keadaan tertutup dan tidak bocor.
  3. Pastikan semua stop kontak tidak terhubung dengan sumber arus listrik.
  4. Pastikan tabung gas tidak bocor dan cabut selang serta regulatornya.
  5. Pastikan semua kendaraan yang ditinggalkan dikunci ganda.
  6. Koordinasi dengan RT/RW di lingkungan Anda.

Yang terakhir: Sebelum pulang ke kampung halaman pastikan halamannya halaman berapa. πŸ˜†