The Law of The Lighthouse

Lighthouse

Dalam U.S. Naval Institute Proceedings, majalah dari Naval Institute, Frank Koch mengilustrasikan pentingnya mematuhi Hukum Mercusuar (The Law of The Lighthouse):

Dua kapal perang ditugaskan pada sebuah squadron latihan sudah berhari-hari bermanuver di lautan dalam kondisi cuaca yang buruk. Aku sedang bertugas di kapal perang utama dan melakukan pemantauan di anjungan ketika malam tiba. Jarak pandang saat itu buruk dengan kabut tebal, jadi kapten kapal tetap berada di anjungan mengawasi semua aktivitas.

Tidak lama setelah gelap, pengawas di sayap melaporkan, “Cahaya, di busur kanan.” Kapten kapal berteriak, “Diam atau bergerak menjauh?”

Pengawas menjawab, “Diam, Kapten,” yang berarti kami berada pada arah tabrakan yang berbahaya dengan kapal tersebut.

Kapten kemudian memerintahkan petugas sinyal, “Kirimkan sinyal pada kapal itu: ‘Kita akan bertabrakan, disarankan Anda mengubah arah duapuluh derajat.'”

Kembali datang sinyal, “Sangat disarankan Anda mengubah arah duapuluh derajat.”

Sang kapten memerintahkan, “Kirim: ‘Aku kapten, ubah arah duapuluh derajat!'”

“Aku seorang kelasi kelas dua,” jawabnya. “Anda lebih baik mengubah arah duapuluh derajat.”

Pada saat itu sang kapten sangat marah. Dia berteriak, “Kirim: ‘Aku adalah kapal perang. Ganti arah duapuluh derajat!'”

Kembali datang dari asal cahaya, “Aku mercusuar.”

Akhirnya kami mengubah arah.

— In the Eye of the Storm by Max Lucado, Word Publishing, 1991, p. 153

Iklan

Passion

… ketika kita menjalani hidup sesuai passion, kita akan menikmati apa yang kita kerjakan dan menjalani kehidupan yang penuh gairah. Temukan passion-mu, jangan menyerah. Kita semua bisa berbagi energi yang positif. Dimulai dari sebuah PASSION!

RiderAlit

Follow your own path

Selamat berakhir pekan, salam hangat dari kota hujan.

Antara Nursi dan Hawking

Stephen Hawking

Stephen Hawking

Baiklah, kita mulai dengan Hawking:

“Jika kita menemukan jawaban dari proses pembentukan alam semesta, itu akan menjadi kemenangan akal manusia. Dengan begitu, kita juga akan mengetahui jalan pikiran Tuhan.” – A Brief History Of Time, terbit 1988.

“Einstein salah ketika mengatakan ‘Tuhan tidak bermain dadu’. Dengan mempertimbangkan lubang hitam maka Tuhan bukan hanya main dadu namun kadang juga membuat kita bingung dengan melempar lubang-lubang hitam yang tidak bisa dilihat.” – The Nature Of Space And Time, terbit 1996.

“Tidak perlu meminta Tuhan agar menyalakan kertas pemicu api untuk menjalankan jagat raya.” – The Grand Design, terbit 2010.

“Saya mengibaratkan otak sebagai sebuah komputer yang akan berhenti ketika komponennya rusak. Tidak ada surga atau kehidupan setelah mati bagi komputer-komputer yang rusak. Itu hanya cerita bohong bagi orang yang takut kegelapan,” Stephen Hawking dalam wawancara dengan The Guardian.

Beberapa hari yang lalu dunia terhenyak dengan meninggalnya seorang pemikir hebat bernama Stephen Hawking. Pemikir Inggris yang pernah menjabat sebagai ketua Royal Society ini meninggalkan banyak teori-teori hebat dalam bidang fisika, astronomi dan kosmologi. Teori-teorinya banyak dikutip oleh para ilmuwan dalam buku-buku atau jurnal-jurnal ilmiah.

Sayang beribu sayang, ilmuwan yang terkenal suka melucu ini adalah seorang atheis dan pandangan-pandangannya terkesan kontroversial menentang Tuhan. Hingga akhir hidupnya pun ia masih bertanya-tanya mengapa manusia dan alam semesta bisa muncul. Hingga akhir hayatnya Theory of Everything masih menjadi misteri dan belum terpecahkan.

Agaknya Hawking salah saat menanyakan mengapa manusia dan alam semesta muncul dan mencari-cari jawabannya dalam fisika, astronomi, kosmologi atau ilmu-ilmu duniawi lain dengan menafikan keberadaan dan peran Tuhan. Bagi saya pribadi, hal tersebut seperti mencari solusi dari sepeda motor yang rusak di apotek, bukannya di bengkel. Mungkin akan lebih bijaksana jika Hawking menerima pendapat Alex Filipenko, astrofisikawan dari University of California, Berkeley, “Aku pikir, kita tak bisa menggunakan sains untuk membuktikan keberadaan Tuhan.”

Walaupun pendapat Filipenko tidak sepenuhnya benar, tapi dalam pernyataannya tidak terkesan meniadakan peran Tuhan dalam sains atau penciptaan. Justru sains adalah jalan bagi seorang makhluk untuk mengenal Penciptanya. Inilah yang dalam Islam disebut ma’rifatullah, mengenal Allah melalui akal.

Jelaslah bahwa pemikiran-pemikiran Hawking terpengaruh oleh produk pemikiran materialis. Bagi kaum materialis, jangankan eksistensi Tuhan, manusia sebagai bentuk kehidupan hanya dipandang sebagai jasmani saja tanpa roh. Apalagi Tuhan yang menciptakan manusia. Kaum materialis berpandangan segala sesuatu hanya susunan atom-atom, tanpa ada dalang yang menciptakan atom tersebut atau mengapa atom-atom tersebut harus tersusun menjadi sesuatu.

Menurut pemikiran materialis, atom tersusun menjadi segala sesuatu di dunia ini secara acak dan hanya karena kebetulan (coincidence). Padahal kalau atom-atom yang menyusun otak mereka dipertukarkan dengan atom-atom yang menyusun kursi yang mereka duduki belum tentu kursi tersebut memiliki kesadaran dan menjadi mampu berpikir. Menafikan peran Sang Pencipta dalam penciptaan alam semesta sama seperti orang yang memandang buku-buku di perpustakaan dapat tersusun sendiri tanpa ada orang yang menyusunnya, atau seperti menganggap lukisan kanvas yang indah dapat muncul dengan sendirinya tanpa ada sang pelukis.

Seandainya saya adalah Hawking, saya akan sangat bersyukur pada Tuhan. Bahwa dibalik keterbatasan fisik saya, Tuhan menjadikan saya hebat dalam melakukan satu-satunya hal yang masih bisa saya lakukan. Berpikir. Bukan menafikan apalagi sampai menentang-Nya. Karena menentang Tuhan adalah kesombongan seumur alam semesta yang juga dilakukan oleh makhluk Tuhan yang lain. Iblis.

Bagi manusia yang berharta, iblis akan menggodanya dengan hartanya. Bagi yang miskin, iblis memperdayanya dengan kemiskinannya. Bagi manusia yang bodoh, iblis akan menipunya karena kebodohannya. Dan bagi yang berilmu, iblis akan mengelabuinya dengan ilmunya. Sudah menjadi keterampilan iblis sehingga ia mampu menghias segala yang buruk hingga tampak indah. Oleh karena itu, jika ada ide-ide yang terkesan brilian namun menjauhkan seseorang dari mengingat Penciptanya maka harus diwaspadai apakah hal tersebut merupakan ilham yang dikaruniakan oleh Tuhan ataukah bisikan iblis belaka.

Terkait hal ini seorang penulis Turki, Adnan Oktar (nama pena: Harun Yahya) mengutip ucapan seorang sarjana Islam dalam salah satu karyanya:

“Kelahiran arus tiranik filosofi naturalis dan materialis secara bertahap akan menjadi kuat dan menyebar pada akhir zaman, melalui filosofi materialis yang mencapai derajat pengingkaran akan Tuhan… Cukup jelaslah kiranya betapa bodoh lawakan dari manusia yang lemah, yang dapat dikalahkan oleh seekor lalat dan tidak dapat menciptakan walaupun sebuah sayap lalat, untuk mengklaim posisi ketuhanan.”

Sarjana Islam tersebut adalah Said Nursi.

Bediuzzaman Said Nursi

Bediuzzaman Said Nursi

Keajaiban Zaman (Wonder of the Age), demikian julukan tersebut dinisbatkan pada ulama besar yang hidup pada masa akhir kekhalifahan Turki Utsmani ini. Syaikh Said Nursi menghafal Al Quran dalam waktu dua minggu, menguasai Bahasa Arab dan Parsi selain Bahasa Turki dan Kurdi. Syaikh Said Nursi mendalami ilmu falak (astronomi), kimia, fisika dan matematika hingga bisa menulis tentangnya.

Beliau telah menulis 3000 kitab dalam Bahasa Arab, dan juga mempelajari ilmu filsafat Barat dan peradabannya secara mendalam, dan juga telah menyusun 14 ensiklopedia yang mencakup permasalahan Islam modern. Kumpulan risalah-risalahnya dapat dibaca dalam Kulliyat Rasa il an Nur (Koleksi Risalah An Nur).

Syaikh Said Nursi pelopor pergerakan Islam di Turki modern dan beliau juga yang pertama kali berkonfrontasi dengan negara sekuler Turki setelah runtuhnya Khilafah Turki Ustmani. Secara gencar beliau melakukan perlawanan atas sistem sekuler yang dibangun Mustafa Kemal Ataturk. Selama Perang Dunia I, dengan kesempurnaan fisiknya beliau ikut berperang membela Turki melawan invasi Rusia.

Sukran Vahide, penulis buku Biografi Bediuzzaman Said Nursi, dalam catatan akhirnya, menyebutkan bahwa sang ulama ini adalah seorang sayyid, yakni keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW. Konon, ibunya adalah seorang Husaini dan ayahnya Hasani. Namun, ia tak pernah menyombongkan nasab keluarganya. (Republika, 08 November 2012)

Kemajuan Turki saat ini tidak lepas dari perjuangan yang dirintis Syaikh Said Nursi. Beliau memajukan pendidikan Turki dengan mengajarkan sains religius harus diajarkan pada satu sisi dan sains modern di sisi yang lain. Dengan cara ini orang-orang akan terlindungi dari kehilangan keyakinan akan Tuhan atau agama, dan institusi agama akan terlindungi dari fanatisme.

Apa yang dikerjakan oleh Syaikh Said Nursi sudah terbukti dan tidak hanya sekedar teori. Bukan teori-teori yang hingga akhir hayat pencetus teorinya tidak menemukan jawaban atas apa yang dicarinya. Jelas, karena Syaikh Said Nursi melandaskan pengetahuannya pada keyakinan akan adanya Tuhan. Beliau tidak tersesat dalam “lubang hitam” kebingungan dari teori yang diciptakannya sendiri. Serta tidak menarik orang lain dalam “lubang hitam” yang ia buat.

Jawaban mengapa kita dan alam semesta ini diciptakan serta untuk apa diciptakan sudah diajarkan dalam kitab suci. Bagi saya Al Quran. Tidak perlu mencari-cari atau membuat rumus-rumus atau menggunakan teori-teori ilmu duniawi yang kelak menyesatkan hingga sampai derajat menafikan eksistensi Tuhan. Karena yang terjadi pasti sebaliknya, ilmu pengetahuan akan membenarkan apa yang ada dalam kitab suci. Waktu berpuluh tahun atau bahkan berabad lamanya yang dibutuhkan oleh sains untuk menjawab persoalan alam semesta sudah dijawab oleh Tuhan dalam kitab sucinya sejak dahulu kala. Kewajiban manusia adalah mempelajari ilmu pengetahuan berdasarkan keyakinan tersebut, karena manusia terikat dengan kausalitas, hingga sampai pada titik pemahaman bahwa puncak pengetahuan adalah eksistensi Tuhan.

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Baqarah, 2: 32)

Bahaya Sampah Air Minum Dalam Kemasan di Jalan Raya

Kamis sore 22 Desember 2016, saat melaju dari arah stasiun Tanjung Barat menuju stasiun Lenteng Agung hampir saja nahas menimpa saya. Di tengah kemacetan lalu lintas dalam posisi stop-and-go, tiba-tiba tanpa saya sadari sesuatu mengganjal ban depan sepeda motor saya. Saya coba gas tetapi ban depan melaju seperti terseret (slip), bukannya berputar normal. Masya Allah, hampir saja terjatuh di tengah kemacetan jika kaki saya tidak menyangga beban sepeda motor.

Berhenti, coba melihat apa yang mengganjal ban. Ternyata sebuah botol air minum dalam kemasan yang dibuang sembarangan terlindas ban depan sepeda motor saya. Sebagian botol sudah gepeng terlindas tetapi leher botol yang masih tertutup tetap mengganjal roda dengan aspal. Masih dalam posisi berkendara, saya coba meminggirkan botol tersebut dengan kaki. Tidak urung pengendara roda empat dan roda dua lain di belakang saya yang tidak sabar membunyikan klakson.

Sebuah pelajaran bagi kita semua. Betapa berbahayanya membuang sampah di tengah jalan raya. Apalagi sampah sebesar botol air minum dalam kemasan. Karena dapat menjadi friksi dan membahayakan pengguna jalan raya yang melintas. Oleh karena itu, jika terpaksa membuang sampah, menepilah dan buang sampah pada tempatnya. Atau simpan dahulu di kendaraan Anda.

Semoga bermanfaat.

Pengalaman Menumpang Shuttle XTrans ke Cilegon

Armada shuttle XTrans di pick-up point XTrans Semanggi. Hotel Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto Kav. 18, Setiabudi, Jakarta Selatan

Armada shuttle XTrans di pick-up point XTrans Semanggi.
Hotel Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto Kav. 18, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Jum’at, 03 Juni 2016. Kira-kira pukul enam lebih lima menit, Commuter Line yang saya tumpangi tiba di stasiun Cawang. Dari stasiun saya langsung menuju terowongan yang bersebelahan dengan jalur KA untuk menuju ke jalan raya. Sampai di pinggir jalan saya langsung mencegat si burung biru. “Hotel Kartika Chandra ya, pak.” Sang supir langsung menyalakan argo dan menuju kawasan Semanggi lewat jalan Gatot Subroto yang terkenal macet itu. Saya perhatikan dia sibuk mengutak-atik aplikasi peta di ponsel pintarnya. Tidak mungkin sebuah posisi di pinggir jalan Gatot Subroto yang terkenal itu tidak diketahui oleh supir taksi yang malang-melintang di Jakarta Selatan. Ternyata benar dugaan saya, sang supir mencari jalur alternatif yang tidak macet untuk sampai ke Hotel Kartika Chandra.

Sempat berputar-putar diantara belantara pencakar langit padahal saya sudah resah kalau-kalau tertinggal shuttle yang akan membawa saya menuju Cilegon. Eh, ternyata sang supir malah salah berputar di sebuah tikungan sehingga kami harus balik arah ke tikungan yang sesuai dengan rute yang ditunjukan oleh aplikasi peta yang digunakan sang supir. Yah, resiko mencari jalur alternatif memang seperti ini. Namun akhirnya saya sampai juga di Hotel Kartika Chandra kira-kira pukul tujuh kurang sepuluh menit. Keluar dari taksi saya langsung menuju sayap kiri gedung, menuju pick-up point shuttle XTrans Semanggi.

Sampai di ruang tunggu saya langsung mengkonfirmasi keberangkatan saya. “Nomor teleponnya, pak?” tanya sang resepsionis. Setelah mengkonfirmasi nama dan nomor telepon petugas tersebut langsung memberikan tiket dan saya pun langsung membayarnya. Sehari sebelumya, seorang co-worker sudah melakukan booking shuttle tersebut untuk saya melalui telepon. Saya kembali menuju deretan kursi tunggu sambil menonton siaran Penguin of Madagascar di Fox Movies dari sebuah televisi yang ada di ujung depan deretan kursi tunggu. Karena shuttle menuju Cilegon berangkat setiap dua jam sekali mulai jam 05.30 pagi, berarti saya harus menunggu kira-kira empat puluh menit lagi untuk berangkat.

Akhirnya armada shuttle yang saya tunggu datang tepat jam 07.30. Sang supir memberitahukan penumpang di kursi tunggu bahwa armada shuttle ke Cilegon sudah siap. Armada tersebut bernomor CL01. Para penumpang pun segera menuju armada yang ditunjuk. Ternyata rekan saya kemarin memesankan saya tempat duduk di dalam shuttle di deretan kedua belakang supir, bangku tengah. Kursi nomor tiga. Tapi karena tidak semua bangku di dalam shuttle diisi penumpang maka saya bebas memilih duduk di bangku paling pinggir dekat jendela dan pintu, kursi nomor dua. Sebagai informasi, dalam satu armada shuttle dapat diisi oleh sepuluh penumpang. Satu penumpang paling depan di samping supir dan penumpang lainnya berderet tiga baris di belakang. Posisi duduk saya adalah yang paling saya sukai, karena dekat dengan jendela dan pintu.

Posisi kursi penumpang di dalam armada shuttle XTrans.

Posisi kursi penumpang di dalam armada shuttle XTrans.

Kami segera berangkat menyusuri jalan Gatot Subroto. Mampir sebentar di sebuah SPBU untuk mengisi tangki solar kemudian berputar kembali meninggalkan Semanggi menuju jalan tol Jakarta-Merak. Selama masih berada di Jakarta kemacetan tidak terhindarkan. Maklum, kendaraan roda empat di Jakarta jumlahnya tidak pernah berkurang. Bukannya berkurang, setiap tahun malah semakin bertambah banyak.

Pemandangan lalu lintas di Semanggi dari dalam shuttle XTrans.

Pemandangan lalu lintas di Semanggi dari dalam shuttle XTrans.

Kira-kira jam delapan lebih enam menit armada yang kami tumpangi keluar dari GTO Karang Tengah. Memasuki provinsi Banten ini mulai terlihat truk-truk dan bus besar melintas di jalur Tangerang-Merak. Kondisi lalu lintas ramai lancar. Beberapa saat kemudian seorang penumpang wanita di deretan kursi baris ketiga berkata, “Pak, nanti kalau sampai di rest area berhenti sebentar, ya.” Ternyata pak supirnya baik sekali, karena beberapa menit kemudian kami sampai di rest area dan dia tidak keberatan untuk berhenti. Dan ternyata arti kata ‘sebentar’ itu berbeda-beda bagi setiap orang. Karena penumpang lain harus menunggu sampai air muka sang supir pun mulai terlihat galau. Tapi akhirnya penumpang yang ditunggu datang dan kami bersiap melanjutkan perjalanan. Untuk meninggalkan rest area kami harus menunggu deretan truk-truk yang baru masuk atau akan meninggalkan rest area yang melintas di belakang armada shuttle yang kami tumpangi.

Pemandangan saat memasuki gerbang tol Karang Tengah dari dalam shuttle XTrans.

Pemandangan saat memasuki gerbang tol Karang Tengah dari dalam shuttle XTrans.

Ngomong-ngomong, kondisi di dalam shuttle cukup nyaman. Tidak ada penumpang yang mengeluh ini-itu. Jok-jok kursi pun bersih. Walau kaki ditekuk tidak bisa selonjoran. Mau selonjoran? Naik mobil sendiri! 😀 Atau naik bus! 😀

Pick-up point XTrans di Serang Timur

Pick-up point XTrans di Serang Timur

Jam delapan lebih empat puluh menit armada yang kami tumpangi meninggalkan gerbang tol Cikupa. Lalu kira-kira dua puluh menit kemudian kami meinggalkan tol Serang Timur dan mampir sebentar di pick-up point XTrans Serang. Setelah mampir beberapa menit, kami kembali memasuki jalur tol menuju Cilegon. Pemandangan pepohonan besar dan sawah-sawah menghijau di kanan-kiri sepanjang jalan yang lurus ini mungkin terasa menjemukan bagi supir yang sering melintas di jalur ini. Tapi saya pribadi selalu menikmati pemandangan jalan yang saya lewati. Akhirnya jam sembilan lewat dua puluh lima menit kami keluar dari GTO Cilegon Timur. Beberapa menit kemudian kami pun sampai di pick-up point XTrans Cilegon.

Suasana di dalam ruang pick-up point XTrans Cilegon. Jalan Serdang, Cilegon

Suasana di dalam ruang pick-up point XTrans Cilegon.
Jalan Serdang, Cilegon.

Saya pun menunggu staf kantor menjemput saya di pick-up point XTrans Cilegon.

Perjalanan Jakarta-Cilegon dengan shuttle XTrans kira-kira menghabiskan waktu dua jam, berangkat jam 07.30 dan sampai kurang lebih jam 09.30 dengan kondisi jalan tol ramai-lancar tanpa kendala. Kondisi armada bersih dan nyaman serta supir yang ramah dan tidak ugal-ugalan. Well, two thumbs up! Alternatif yang baik untuk menuju Serang atau Cilegon selain menggunakan bus.

Perpanjang SIM di SIM Keliling Margo City Depok

image

Mobil layanan SIM Keliling di pelataran parkir Margo City, Depok.

Setelah kurang lebih dua minggu SIM C yang saya miliki habis masa berlakunya, akhirnya hari Sabtu kemarin saya bisa tenang kembali mengendarai sepeda motor. Sabtu pagi kemarin saya sempatkan untuk melakukan perpanjangan SIM di layanan SIM Keliling yang biasanya stand by di pelataran parkir Margo City, Jalan Raya Margonda, Depok setiap Sabtu pagi. Saya tekankan Sabtu pagi karena dari pengalaman saya sebelumnya jika kita datang lewat dari jam sebelas pagi, layanan SIM Keliling ini sudah mau tutup.

Saya sampai kira-kira jam 09.40, menyerahkan foto copy KTP, SIM asli dan mengisi formulir permohonan perpanjangan SIM. Isian formulir sih standar saja seperti biodata, nama orang tua, golongan SIM, cacat tubuh jika ada dan tanda tangan. Tidak sampai lima menitlah, saya serahkan kembali isian formulir tersebut dan petugasnya memberikan selembar kertas kosong untuk kita tandatangani. Fungsi kertas tersebut untuk memindai tanda tangan yang nanti akan dicantumkan di SIM yang baru. Tidak lupa petugas tersebut berpesan, “Jangan dilipat, jangan digulung, jangan sampai lecek ya, pak.”

Kira-kira jam 11.15 pengeras suara di mobil SIM Keliling memanggil nama saya dan pemohon SIM lainnya. Di dalam mobil tersebut kami antri satu per satu untuk mengecek kesesuaian data di formulir, melakukan pindai sidik jari, memotret wajah dan mencetak SIM yang baru serta membayar biaya administrasi. Tidak sampai sepuluh menit, SIM yang baru sudah saya dapatkan dan biaya yang harus saya keluarkan adalah sebesar seratus tigapuluh lima ribu rupiah saja.

Praktis memang. Hanya menunggu antriannya saja yang lama, maklum yang mengantri banyak.

Posted from WordPress for Android