BANNED UNTUK SITUS DAN BLOG REMANG-REMANG

Banned

MAKLUMAT

Mulai detik ini setiap komentar yang menyisipkan link atau identitas pengunjung yang mengarahkan pengunjung lainnya ke SITUS DAN BLOG REMANG-REMANG akan RiderAlit BANNED!

Kategori situs/blog remang-remang:

  1. Berisi pornografi (termasuk yang mendekati kategori soft porn).
  2. Perjudian (online atau offline).
  3. Berisi hasutan SARA.
  4. Situs/blog yang hanya ditujukan untuk SEO.

Daftar kategori bisa bertambah sesuai dengan perkembangan teknologi dan dinamika netizen.

Sekian dan terima kasih.

Iklan

Gowes ke Bendungan Katulampa

Taqobbalallahu minna wa minkum.Β Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian.

Sebelumnya saya selaku punggawa blog RiderAlit mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri bagi sobat yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin jika ada pos, tulisan atau komentar yang kurang berkenan. πŸ™‚

Oke, sesuai janji saya pada tulisan sebelumnya maka kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya saat gowes ke Bendungan Katulampa. Nah, biar tidak berpanjang kalam, maka tulisannya saya ringkas menjadi sebuah vlog saja, ya. Jadi sobat tinggal nikmati saja tayangan video diatas.

Pengalaman kali ini saya dokumentasikan pada tanggal 21 April 2018 lalu. Saat anak-anak sekolah sedang sibuk merayakan hari Kartini. Rute gowesnya adalah Bojonggede – Babakan Madang – Sentul – Cikeas – Sukaraja – Katulampa – Pasir Angin – Gadog – Tajur. Kemudian kembali lagi ke Bojonggede melalui jalan raya Cilebut.

Banyak hal yang tidak bisa diceritakan melalui video sebetulnya. Seperti harumnya rimbun hutan saat melewati Sukaraja menuju Katulampa (karena disana banyak tumbuh bunga dan ada pemakaman tepat di sisi jalan), sejuk udara di Sukaraja dan Katulampa, siswa-siswi yang sedang melakukan pawai marching band dengan pemimpin mayoret yang gemuk imut-imut di SD Babakan Madang (sorry, yang merasa gemuk jangan baperΒ heuhuehue…), indahnya sungai Ciliwung dan Kawani (Kampung Warna-Warni) Katulampa, karena tidak sempat terekam.

Singkat cerita, ada dua jalur dari Katulampa. Jalur ke kiri menuju Ciawi (Pasir Angin) atau jalur ke kanan yang langsung tembus di jalan raya Tajur. Nah, pada gowes kali ini saya mengambil rute ke kiri, Ciawi. Rute ini rute yang asyik, banyak pesepeda saya temui disana. Dengan tanjakan yang tidak terlalu tinggi, tidak seperti ketika kita melewati Bukit Pelangi. Ujung dari jalur ini adalah pertigaan tepat di depan SMP Negeri 1 Megamendung dekat dengan simpang Pasir Angin.

Oke deh, buat sobat yang punya rencana gowes saat akhir pekan, jalur ini sangat recommended. Salam olahraga.

The Law of The Lighthouse

Lighthouse

Dalam U.S. Naval Institute Proceedings, majalah dari Naval Institute, Frank Koch mengilustrasikan pentingnya mematuhi Hukum Mercusuar (The Law of The Lighthouse):

Dua kapal perang ditugaskan pada sebuah squadron latihan sudah berhari-hari bermanuver di lautan dalam kondisi cuaca yang buruk. Aku sedang bertugas di kapal perang utama dan melakukan pemantauan di anjungan ketika malam tiba. Jarak pandang saat itu buruk dengan kabut tebal, jadi kapten kapal tetap berada di anjungan mengawasi semua aktivitas.

Tidak lama setelah gelap, pengawas di sayap melaporkan, “Cahaya, di busur kanan.” Kapten kapal berteriak, “Diam atau bergerak menjauh?”

Pengawas menjawab, “Diam, Kapten,” yang berarti kami berada pada arah tabrakan yang berbahaya dengan kapal tersebut.

Kapten kemudian memerintahkan petugas sinyal, “Kirimkan sinyal pada kapal itu: ‘Kita akan bertabrakan, disarankan Anda mengubah arah duapuluh derajat.'”

Kembali datang sinyal, “Sangat disarankan Anda mengubah arah duapuluh derajat.”

Sang kapten memerintahkan, “Kirim: ‘Aku kapten, ubah arah duapuluh derajat!'”

“Aku seorang kelasi kelas dua,” jawabnya. “Anda lebih baik mengubah arah duapuluh derajat.”

Pada saat itu sang kapten sangat marah. Dia berteriak, “Kirim: ‘Aku adalah kapal perang. Ganti arah duapuluh derajat!'”

Kembali datang dari asal cahaya, “Aku mercusuar.”

Akhirnya kami mengubah arah.

— In the Eye of the Storm by Max Lucado, Word Publishing, 1991, p. 153

Gowes ke Curug Nangka Lewat Ciomas

Semakin menanjak jalannya, semakin dekat dan semakin jelas pemandangan air terjun Curug Nangka.

Semakin menanjak jalannya, semakin dekat dan semakin jelas pemandangan air terjun Curug Nangka.

Sabtu pagi yang dingin,Β 27 Januari 2018, setelah hujan di malam sebelumnya saya memutuskan gowes MTB andalan saya ke Curug Nangka. Jika sebelumnya saya menggowes MTB ke Curug Nangka melalui Pancasan lurus hingga ke Kota Batu, maka kali ini saya akan melewati rute yang sama seperti yang saya lakukan pada akhir 2014 lalu. Yup, saya akan lewat Ciomas.

Tanpa persiapan berarti saya melaju melewati jalan Pemda Karadenan. Jam saat itu menunjukan hampir tiga puluh menit lewat dari pukul enam pagi saat berangkat dari rumah. Sampai di perempatan BORR saya lurus kemudian terhalang lampu merah di perempatan Plaza Jambu Dua (Warung Jambu). Setelah lampu berubah hijau saat berbelok ke Jalan Ahmad Yani kemudian lurus menuju jalan Jenderal Sudirman. Tepat di pertigaan lampu merah sebelum Rumah Sakit Salak saya kembali berbelok ke kanan menuju Jalan Pengadilan kemudian melewati Pasar Anyar dan samping Taman Ade Irma Suryani (Taman Topi).

Singgah sebentar di KCU BCA Taman Topi kemudian saya memutari jalan Kapten Muslihat menuju jalan Paledang. Suasana lalu lintas lumayan sepi hari itu, apalagi di jalan Paledang. Tidak terlihat keramaian angkot menunggu penumpang. Sepi dan lancar. Hanya satu dua angkot dan sepeda motor lewat. Kembali di pertigaan jalan Ir. H. Juanda, saya menuntun sepeda saya melewati trotoar menuju BTM. Sistem Satu Arah, jadi daripada melawan arus lebih baik menepi di trotoar. Hingga tiba di BTM saya kembali gowes menuju kawasan Pulo Empang.

Dari Pulo Empang saya teruskan jalan yang sedikit menanjak menuju pertigaan Pancasan-Ciomas. Sesampainya disana saya tidak lurus, melainkan berbelok ke kanan menuju Ciomas. Jika sobat kurang menyukai tanjakan tanpa ampun di Kota Batu, saya sarankan lewat rute ini. Menyusuri jalan di Ciomas sangat menyenangkan. Jalannya landai dengan banyak pepohonan dan trotoar lebar dan sedikit angkot. Rute ini lebih elok daripada Kota Batu yang membosankan.

Sampailah saya di Pertigaan Kreteg setelah menyusuri jalan raya Ciomas. Saya pun berbelok ke kiri. Beberapa rumah makan dan pangkalan ojek motor menandai Pertigaan Kreteg. Beberapa meter setelah melewati pertigaan terlihat beberapa orang aktivis masjid meminta donasi kepada pengguna jalan yang lewat. Pemandangan Gunung Salak di depan mata menjadi penyemangat perjalanan.

Gowes terus mengikuti jalan. Jangan takut tersesat, beberapa penunjuk jalan menunjukan arah ke Curug Nangka ada di pinggir jalan. Jalan setelah ini adalah kawasan pemukiman padat penduduk. Jalannya tidak selebar jalan utama jalan raya Ciomas. Rumah-rumah, warung dan toko milik penduduk setempat di kanan-kiri jalan.

Hingga tibalah saya di desa Sukamakmur. Jalan raya disini sudah sepi angkot. Di kanan-kiri jalan banyak sawah-sawah dan pepohonan serta bangunan milik warga setempat. Jangan harap ada SPBU, ATM atau mini market. Pola kehidupan disini masih tradisional. Hanya warung-warung milik warga setempat yang dapat dijadikan persinggahan. Satu-dua ABG kadang menggeber skutik mereka mendahului saya. Mangga duluan aja, kang. Seandainya saya naik motor juga bisa ngebut kaya akang. πŸ™‚

Udara sejuk dengan hijau pemandangan sawah-sawah di kejauhan menjadi pembeda rute ini dengan rute Kota Batu. Beberapa anak sekolah berjalan berbarengan dengan saya. Ah ya, tadi saya melewati sebuah SD. Berarti anak-anak kecil ini hendak pulang sepertinya. Beberapa anak lainnya terlihat dari kaca sebuah angkot yang lewat mendahului saya.

Saya memutuskan untuk beristirahat di sebuah warung di pinggir jalan. Ternyata pemilik warung tidak ada. Saya bertanya pada bapak pemilik bengkel di seberang jalan yang kemudian berteriak memanggil anak si pemilik warung. Si pemilik bengkel menyapa saya dengan bahasa Sunda. Aduh, nggak ngerti nih hahaha…. Paham saya tidak memahami maksudnya dia pun menggunakan bahasa sehari-hari.

“Ke Curug Nangka ‘A?” beliau bertanya.

“Iya pak,” saya menjawab.

“Biasanya rame di sini,” beliau mejelaskan.

Saya bertanya, “Gowes sepeda?”

“Iya,” jawabnya lagi.

“Oh, mungkin karena lagi musim hujan aja ya jadi sepi.” Saya menimpali setelah menenggak air dari botol minuman saya.

“Biasanya mah kalo libur atau minggu banyak yang lewat sini,” tambah beliau.

“Oh…”

Saya pun pamit melanjutkan perjalanan. Mulai banyak tanjakan saya rasakan. Sebelum pertigaan jalan saya dapatkan lagi penunuk jalan mengarahkan saya ke Curug Nangka. Arah lainnya menunjukkan arah ke Nambo. Dikejauhan nampak pemandangan petak-petak bangunan di kota Bogor. Jalan terasa berkelok-kelok. Hups… rasa-rasanya dulu akhir 2014 saya lewat sini naik motor tidak terasa sejauh ini deh. Beda banget rasanya gowes sepeda hahaha… πŸ™‚

Rumah-rumah pemukiman penduduk sudah semakin jarang, jarak antara rumah satu dengan rumah berikutnya pun sudah agak jauh. Bangunan-bangunan disini semuanya adalah bangunan permanen dari tembok bata. Sudah tidak ada lagi bangunan kayu selain warung tradisional di pinggir jalan atau bangunan penjual bensin eceran. Beberapa lahan kosong dan terkesan terbengkalai saya temui di perjalanan.

Dari lawan arah terlihat dua orang pesepeda. Dari wajah terlihat masih usia SMA sepertinya. “Mari,om!” sapa mereka. Saya pun membalas, “Mari…” Banyak anak kecil juga terlihat bermain-main di pinggir jalan. Beberapa dari mereka menyapa saya dan melambaikan tangan, “Da-da… Da-da…” Saya tersenyum senang melihat mereka dan membalas, “Daa-daaa…” Masya Allah. Penduduk disini ramah-ramah. Itulah yang saya sukai dengan pola hidup tradisional.

Di penunjuk jalan terlihat arah kiri menuju Curug Nangka. Ah, saya ingat disini setiap belokan ke kiri atau lurus pun pada akhirnya akan menuju Curug Nangka. Saya pun berbelok. Terlihat sebuah madrasah besar berdiri tepat di pinggir jalan. Mungkin setingkat SD atau SMP. Saya lupa namanya, tidak memperhatikan. Puncak Gunung Salak terlihat di kejauhan, menjulang melebihi bangunan-bangunan di kanan jalan. Beberapa anak kecil yang sedang bermain kembali menyapa saya, “Da-da… Da-daaa…” Saya pun kembali membalas sapaan mereka. Subhanallah. Mungkin mereka diajarkan orang tua mereka untuk menyapa setiap pengunjung atau pesepeda karena banyak pesepeda yang sering lewat di desa ini.

Saya terus menelusuri jalan yang semakin menanjak ini. Semakin lama tanjakan terasa semakin tinggi. Menanjak dan terus menanjak. Akhirnya di jalan yang sepi ini terbentanglah pemandangan eksotik nan mengagumkan. Maha Suci Allah… bangunan-bangunan tradisional khas Sunda berlatar belakang Gunung Salak dengan gumpalan awan yang menaunginya, berteras hijaunya hamparan pepohonan dan sawah menjadi pembatas jalur aspal berkelok yang saya lewati. Saya terkejut. Akhir 2014 saya lewat sini sepertinya jalurnya masih off-road deh, masih banyak alang-alang seolah lahan terbengkalai. Sekarang saya lewat sini seolah saya menginjakan kaki di Shire dalam Lord of The Ring atau The Hobbit. Masya Allah.

Saya lanjutkan gowes sambil mengagumi keindahan yang terbentang di hadapan saya. Tidak lama kemudian terlihat sebuah komplek bangunan seperti perumahan dengan pagar besi membatasi jalan dengan lahan. Oh… bukan. Ini bukan komplek perumahan. Rupanya ini Nurul Fikri Boarding School (NFBS) Bogor. Rumah-rumah tradisional yang tadi terlihat di kejauhan juga merupakan bagian dari komplek NFBS Bogor.

Saya teruskan perjalanan mengikuti aspal jalan di NFBS ini. Saya ingat, seperti akhir 2014 dulu, jalan manapun disini harusnya berujung di jalan raya Ciapus.

Jalannya masih menanjak, saya lalui dengan sabar. Namanya juga kaki gunung. Tidak salah saya lewat rute ini. Pemandangannya sungguh mengagumkan. Akhirnya sampailah saya di ujung aspal. Ada warung tradisional di kiri saya. Beberapa pesepeda terlihat menuju warung di sebelah kanan. Oh… tempat itu Saung Pakis namanya. Harap dicatat ya, lain kali kalau kembali dari Curug Nangka dan sudah bosan menuruni aspal jalan raya di Cimanglid dan Kota Batu, bisa berbelok di Saung Pakis dan lewat NFBS Bogor. Pemandangannya wow!

Rombongan pesepeda tadi menggunakan dua sepeda lipat dan satu MTB. Pengendaranya sudah tua juga. Mantab, raga boleh tua tapi semangat tetap muda. Sambil berisitirahat saya perhatikan mereka mendahului saya mengarah ke Curug Nangka. Benarkan. Jalan tadi selalu berujung di jalan raya Ciapus. Saya lanjutkan perjalanan.

Melewati Pura Parahyangan Agung Jagatkarta terus sedikit turunan kemudian menanjak kembali sampai akhirnya bertemu dengan The Highland Park Resort Hotel Bogor (Mongolian Camp). Dari sini saya lanjutkan hingga sampai gerbang Curug Nangka. Ah, sampai juga. Cukuplah sampai gerbang ini saja. Sudah tiga kali saya ke Curug Nangka. Berikut foto-foto Curug Nangka yang pernah saya potret.

Sampai jumpa dalam catatan gowes saya berikutnya ke Katulampa dan Situ Gede. Selamat berakhir pekan. Jangan lupa berolahraga.

Salam hangat dari kota hujan.

Gowes Seru di Bukit Pelangi

Sabtu pagi, 17 Maret 2018 bertepatan dengan libur nasional hari raya Nyepi, saya bersiap-siap untuk melakukan biketrip menuju salah satu rute gowes yang terkenal di Bogor, Bukit Pelangi. Jam menunjukan hampir pukul tujuh. Dalam sling bag sudah saya siapkan tiga botol air minum, tissue, iPhone, perlengkapan pribadi dan kartu identitas. Headset yang tercolok ke sambungan jack Blackberry di saku celana juga sudah siap menemani perjalanan gowes saya.

Bismillahirahmanirrahim. Lantunan canda penyiar radio dan musik-musik pop kekinian dari Megaswara FM terdengar seraya saya melaju membelah sejuk pagi dari Bojonggede menuju Stadion Pakansari. Riding gearΒ bersepeda lengkap dengan helm, berputar mengelilingi Stadion Pakansari sekali sebagai pemanasan, setelah itu saya melesat menuju jalan Alternatif Sentul. Suasana pagi yang masih sepi terlihat di jalan ini, tidak banyak kendaraan yang lewat, hanya satu-dua truk yang diparkir di pinggir jalan dan beberapa pemotor memacu kecepatan.

Melewati gerbang sirkuit Sentul terlihat beberapa pengendara roadbike berkumpul, beberapa menyapa saya yang saya balas dengan senyuman. Tua-muda, dari bapak-bapak berumur hingga anak usia SMA sepertinya. Hm, sepertinya akan ramai dengan pesepeda nih rute Sentul. Terus melaju melintasi Babakan Madang beberapa pesepeda roadbike mendahului saya. Dari arah berlawanan juga terlihat rombongan group riding, beberapa mengendarai MTB seperti saya, tapi lebih banyak mengendarai roadbike.

Memasuki kawasan Sentul City saya berbelok kanan menuju terowongan ke arah desa Gumati. Jalan mulus dan sepi dengan pepohonan rindang, gemericik aliran sungai serta udara yang sejuk. Maha Suci Allah. Seorang pesepeda terlihat melaju kencang di depan saya. Hm… sepeda dan riding gear-nya fancy sekali yah. πŸ™‚

Jalan menanjak lumayan tinggi. Akhirnya saya tiba di depan komplek ruko Pine Forest. Istirahat sebentar, recharge, sambil memperhatikan lalu lintas. Suasana sudah cukup ramai. Beberapa mobil dan bus terlihat berlalu lalang, rombongan pemotor besar juga terlihat memarkirkan sepeda motor mereka di sebuah warung di depan Pine Forest. Dan benar saja dugaan saya! Beberapa rombongan group riding MTB terlihat melintas di depan mata saya. Wah, pasti seru nih! Beberapa diantaranya berhasil tertangkap kamera handphone. Cekrek, cekrek, cekrek. πŸ™‚

Selesai beristirahat saya kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa anggota rombongan MTB tersebut masih berada di depan saya. Gowes santai sambil menikmati pemandangan. Rombongan sepeda motor terlihat ngebut, memacu kecepatan. Hm, mungkin karena libur nasional jadi banyak orang jalan-jalan. Akhirnya saya sampai di lapangan parkir dengan bangunan tradisional khas Sunda. Tempat ini adalah restoran tradisional, Waroeng Sentul namanya. Terlihat atapnya berbentuk segitiga yang sepertinya terbuat dari kirai (alang-alang atau rumbai) dan tiang-tiangnya terbuat dari bambu. Wow, pemandangannya instagramable, nih. πŸ˜€

Sambil gowes saya temukan satu lagi bangunan seperti ini. Karena saya berhenti untuk mengambil foto, rombongan yang tadi ada di depan saya sudah tidak terlihat lagi. Tidak lama kemudian saya sampai di pertigaan jalan. Kanan menuju Telaga Cikeas, kiri Bukit Pelangi. Saya pun berbelok ke kiri. Jalan menanjak tinggi. Pemandangan pepohonan dan sawah di kejauhan mengundang decak kagum. Masya Allah. Beberapa pesepeda roadbike melesat kencang dari lawan arah. Oh, enaknya melesat turun, apalagi pakai roadbike hahaha… πŸ˜€

Saya teruskan perjalanan menanjak, sambil beberapa kali istirahat. Saya hapal benar jalur di Bukit Pelangi ini. Jika pada catatan saya sebelumnya menuju Curug Nangka lewat Pancasan jalannya cuma menanjak saja tanpa turunan berarti, maka kontur jalan di rute menuju Bukit Pelangi ini adalah naik-turun. Nah, sekarang saya sedang kebagian tidak enaknya hiks… hiks… hiks… πŸ™‚

Menyusuri jalan yang ramai dengan pesepeda, baik yang searah maupun berlawanan arah menambah semangat saya menggowes MTB. Saling menyapa dengan bel, senyum ataupun lambaian tangan. Cuma sayangnya saya tidak memasang bel di MTB saya, jadi saya balas dengan senyum saja. Bukannya sombong heuheuheu… tapi sepeda saya nggak ada belnya. Suasana disini benar-benar pedesaan. Namun tidak seperti perjalanan saya menuju Bukit Pelangi empat tahun lalu, sekarang disini sudah banyak pemukiman. Dan karena masih benar-benar desa, saya masih berpapasan dengan dua orang menunggang kuda poni. Hm…. jarang sekali melihat pemandangan orang berkuda kalau bukan di lokasi wisata. Benar-benar kesempatan yang berharga, sayang saya sedang melaju kencang jadi tidak bisa mengabadikan.

Dari kejauhan saya lihat seorang pesepeda melesat turun. Helm batok hitam yang sama dengan model helm saya. Tapi, hei! Dia tidak seperti pesepeda lain. Ketika dekat ternyata dia mengendarai sepeda lipat dengan ban 20 inci. Oops, Polygon Urbano rupanya. Dia menyapa saya dan pesepeda lain di belakang saya. “Mari, Om…” Saya balas dengan acungan jempol. Sepeda lipat sepertinya semakin populer dimasyarakat. Saya pun menyimpan satu unit sepeda lipat 16 inci United Stylo yang saya gunakan untuk gowes ringan, Bojonggede – Depok misalnya. Memang asyik naik sepeda lipat itu.

Beberapa pesepeda terlihat mendorong sepedanya. Beberapa beristirahat di halaman bangunan yang ada di sebelah kiri jalan. Beberapa rombongan masih kuat mengayuh pedal walau terengah-engah. Maklum jalan ini menanjak tinggi. Saya ingat, setelah jalan menanjak tinggi ini saya akan menemui gerbang Bukit Pelangi. Sampai di sebuah warung akhirnya saya beristirahat. Beberapa MTB terlihat diparkir. Satu unit terlihat digeletakan begitu saja, melintang dipinggir jalan. Seorang pesepeda menyapa saya. “Sini, om. Ngopi dulu, om. Ngeteh,” begitu ajaknya. SayaΒ  pun mengiyakan. Kami pun mengobrol.

“Dari mana, om?”

Saya jawab, “Bojonggede, mas.”

“Rumahnya di Bojonggede? Kalau dari stasiun Bojonggede jauh?” Kembali dia bertanya.

Sambil ngos-ngosan saya jawab, “Lumayan, sepuluh menit kalau jalan kaki.” Wow! Stasiun Bojonggede terkenal euy. πŸ˜€

“Ini full gowes dari rumah?” Dia bertanya sambil memperhatikan sepeda saya dari ujung ke ujung dengan air muka bingung.

“Iya!”

“Jam berapa tadi dari rumah?” Dia bertanya.

“Tujuh,” saya kembali menjawab.

“Oh… sekarang jam berapa?” Kembali dia bertanya.

Saya melirik angka digital Casio di lengan kiri saya, “Delapan empat puluh.”

“Berarti nggak sampai dua jam ya kesini…” Begitu dia menyimpulkan. Obrolan pun berlanjut. Sambil mengobrol saya memperhatikan suasana jalan. Sesekali pengendara roadbike melesat kencang dan beberapa pesepeda yang naik berusaha mengayuh atau mendorong sepedanya. Banyak diantara mereka seusia saya dan lebih banyak lagi yang paruh baya. Mantab, raga boleh tua tapi semangat tetap muda.

Karena sudah cukup saya beristirahat, saya pun mohon pamit melanjutkan perjalanan. Rombongan tadi masih asyik ngobrol di warung dengan papan nama Panandjakan itu. Ah, iya. Disebut panandjakan mungkin karena letaknya memang tepat di tanjakan tinggi. Nama yang umum sekali.

Terus menanjak kemudian saya memutuskan untuk menyeberang ke kanan untuk beristirahat di sebuah masjid. Gila! Dengan sepeda motor saja harus memuntir gas dalam-dalam kalau lewat sini. Apalagi gowes sepeda. Tidak menyerah, saya kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa MTB terlihat diparkir disebuah rumah makan tidak jauh dari pertigaan gerbang Bukit Pelangi.

Fuiiih…. ngos-ngosan hahaha. Tapi hijau rerumputan nan elok, warna bunga-bunga di pepohonan dan cerahnya langit serta gumpalan-gumpalan awan seolah memberikan semangat untuk terus mengayuh sepeda. Gowes, gowes, gowes. Saya pun sampai di gerbang Bukit Pelangi. Alhamdulillah.

Ramai sepeda motor juga ikut melintas. Sesekali satu-dua mobil terlihat keluar dari gerbang Bukit Pelangi menuju desa Cijayanti yang tadi saya lewati. Saya pun ingat. Disini pasti pengendara sepeda motor memuntir gasnya dalam-dalam agar tidak kehilangan momentum dan bisa melaju kencang karena tanjakannya tinggi sekali! Astagfirullahaladzim. Seolah tanjakan yang tadi masih kurang tinggi.

Okelah, saya tetap melanjutkan perjalanan. Untungnya pemandangannya indah dengan rimbun dahan pepohonan di kanan-kiri jalan yang membentuk terowongan alami membuat suasana teduh. Seorang petugas keamanan berseragam terlihat mengendarai sepeda motornya, melaju mendahului saya. Menanjak, menanjak, menanjak. Seolah tak ada habisnya tanjakan ini. Dikejauhan saya lihat seorang pesepeda terlihat mengobrol dengan warga setempat yang sedang mengurus tanaman. Saya pun menyapa, “Punten, kang.” Mereka membalas sambil tersenyum, “Mangga…”

Penunjuk jalan menuju Club House Rainbow Hills terlihat dikejauhan. Ah, dari sini masih jauh lagi dan masih harus menanjak. Saya berisitirahat dan menghabiskan air di botol pertama. Lanjutkan lagi perjalanan menanjak hingga tiba diputaran Club House. Beberapa orang terlihat sedang mencabuti rumput. Mungkin mereka warga setempat yang diupah untuk mengurus tanaman disini. Beberapa pesepeda kembali terlihat melaju dari depan saya ke arah yang berlawanan. Saya memutuskan untuk beristirahat kembali sambil menenggak air dari botol kedua.

Akhirnya setelah putaran tersebut jalan menurun. Tidak saya sia-siakan untuk menikmati turunan yang tinggi ini. Meluncur tidak lupa rem. Diakhir turunan terlihat jalan mendatar dan beberapa warung dipinggir jalan dan beberapa pedagang keliling menjajakan dagangan di pikulannya.

Jalan semakin lebar dengan pemandangan hamparan rumput hijau dan pepohonan di kejauhan. Subhanallah. Saya berhenti untuk mengagumi keindahan di halaman sebuah bangunan. Terlihat dibalik pagarnya ada danau kecil dan seorang satpam dengan seragam safari formal terlihat berjaga.

“Wah, gowes pak?” Bapak tersebut berbasa-basi.

“Iya, nih. Mumpung libur heuheuheu…”

Kemudian beliau melanjutkan, “Iya ya, olahraga.”

“Masih jaga, pak?” saya balik bertanya.

“Iya, masih ada yang main golf,” beliau menerangkan.

“Oh, iya ya. Libur gini malah rame ya.”

Selesai bertukar sapa dengan bapak tersebut saya melanjutkan perjalanan. Keluar dari kawasan Bukit Pelangi saya ingat saya akan menemui jalan pedesaan yang berkelok-kelok. Saya terus melaju dan melihat jalan pedesaan ini ternyata ramai dengan pesepeda. Dan pemandangan yang paling menghibur mata adalah melihat tulisan-tulisan yang tertera pada frame sepeda yang dinaiki para pesepeda tersebut.

Canyon, Giant, Cervelo, Colnago, Scott, S-Work, Cannondale, Specialized! What a bike!

Satu unit fullbike dari brand tersebut bisa lebih mahal daripada sebuah Kawasaki Ninja 250 Fi! Riding gear yang dikenakan ridernya pun keren-keren. Kalau bukan karena gengsi, rider sepeda-sepeda tersebut pastilah atlet atauΒ bicycle enthusiast. Terima kasih telah menyuguhkan pemandangan indah ini pada saya heuheuheu… Saya tidak salah memilih waktu gowes. Beberapa merk lokal bergengsi pun terlihat melesat, seperti Polygon Stratos dan Thrill.

Jalanan berkelok-kelok dan menanjak. Sesekali udara sejuk menjadi berbau kampas rem terbakar. Banyak mobil dan sepeda motor melaju kencang ke arah Megamendung. Dibeberapa ruas jalan, tanjakannya sangat curam. Beberapa rombongan touring sepeda motor terlihat beriring-iringan. Hingga sampai di halaman sebuah villa saya memutuskan beristirahat menghabiskan sisa air minum dalam botol kedua. Seperti kata iklan, life is never flat. Begitu pula kontur jalan di Sentul sampai Bukit Pelangi ini.

Hingga disebuah pertigaan jalan, dari jauh terlihat ada seorang lelaki mengendarai motor bebek membocengi istri dan anaknya, sepertinya. Tanpa helm. Sang istri terlihat jelas (mohon maaf) over weight. Nah, mungkin karena bobot lelaki yang mengendarai motor tersebut tidak seimbang dengan beban penumpangnya, ditambah jalan yang menanjak curam, maka motor yang mereka tumpangi jatuh dengan posisi seperti orang gagal wheelie. Stang dan roda depan terangkat keatas kemudian terbalik. Punggung sang istri terlihat jelas menghantam batu-batu di pinggir jalan sambil menahan bobot anak yang digendongnya. Sementara lelaki tersebut terlihat kesakitan sambil memegangi bibirnya. Stang motornya mungkin secara tidak disadari mengenai bibirnya. Anaknya terdengar menangis.

Karena shock, lelaki tersebut kesulitan mendirikan dan menghidupkan sepeda motornya. Akhirnya seorang penjaga warung terdekat membantu mereka mendirikan kemudian menghidupkan sepeda motornya. Innalillahi. Banyak warga setempat dan pesepeda di kejauhan menyaksikan kejadian tersebut. Untunglah setelah saya lihat tidak ada yang terluka. Si bapak sendiri terlihat masih menahan sakit di bibirnya.

Saya bersama pesepeda lain kembali melanjutkan perjalanan. Satu pelajaran untuk kami hari ini. Sambil menanjak saya perhatikan keindahan jalan disini. Disebelah kanan jalan adalah jurang yang dibawahnya adalah padang golf. Pemandangannya sangat menawan. Beberapa saung gazebo didirikan dipinggir jalan dimana pengunjung bisa bersantai menikmati kopi hangat dan mie rebus sambil menikmati keindahan pemandangan padang golf tersebut. Daerah ini namanya Bukit Geulis. Seperti namanya, pemandangannya sungguh geulis pisan.

Setelah tanjakan sadis, jalan kemudian melandai lalu saya temui turunan. Sampailah saya di desa Pasir Angin. Semangat! Semangat! Kalau sudah sampai di desa Pasir Angin berarti tidak lama lagi saya akan menjumpai pertigaan Simpang Pasir Angin dan jalan raya Puncak Megamendung. Yesss!

Benar saja. Akhirnya saya lihat disebelah kiri saya SMP Negeri 1 Megamendung. Ah, tidak jauh lagi. Lanjut gowes! Sampailah saya di pangkalan ojek pertigaan Simpang Pasir Angin. Istirahat sebentar bersama para tukang ojek, saya sedikit bertanya, “Satu arah ya, kang?” Salah seorang tukang ojek mengiyakan. Saya pun menunggu lalu lintas sepi. Ternyata ada beberapa sepeda motor yang ingin menuju ke arah Ciawi menyeberang. Memanfaatkan kesempatan, saya pun ikut menyeberang bersama mereka.

Alhamdulillah, akhirnya target perjalanan saya berhasil saya capai. Dari sana saya terus gowes ke arah terminal Ciawi. Dari pertigaan Simpang Pasir Angin tadi ke Gadog perjalanan masih menanjak. Lalu lintas terlihat ramai ke arah Puncak. Menjelang masjid Harakatul Jannah jalan macet hingga saya dan beberapa pemotor harus melewati trotoar. Tapi akhirnya saya berhasil keluar dari kemacetan. Kemudian mampir sebentar di masjid Harakatul Jannah.

Awal tahun 2015 dari dalam bus pariwisata saya lihat masjid ini masih dalam konstruksi. Beberapa kali perjalanan melewati Puncak saya belum pernah singgah disini. Akhirnya kini saya singgah sebentar dan masjidnya sudah berdiri kokoh.

Melanjutkan perjalanan menuju Tajur saya berpapasan dengan rombongan tiga orang pesepeda yang menuju arah Puncak. Mereka menyapa saya yang saya balas dengan anggukan kepala. Udara sudah semakin panas hingga saya sampai di terminal Ciawi. Melewati terminal Ciawi ke arah Tajur jalan yang menuju Bogor terlihat lenggang. Berbeda dengan sebelah kanannya yang ramai. Disini perjalanan cukup menyenangkan karena menurun, sehingga tidak perlu repot-repot mengayuh pedal.

Sampai dipusat perbelanjaan Tajur yang terkenal sebagai pusat tas lalu lintas masih ramai. Sampai di sebuah halte saya berhenti sebentar untuk mengabadikan momen perjalanan.

Akhirnya saya sampai di Plaza Ekalokasari. Di putaran Elos, begitu kata orang Bogor, saya berbelok ke kanan menuju jalan Pajajaran. Sebenarnya saya bisa lurus, tapi nanti saya harus melewati Batu Tulis dan Jalan Pahlawan kemudian menanjak di BTM. Nope! Saya tidak mau lewat situ karena biasanya macet. Sampai di depan Masjid Raya Kota Bogor saya teruskan mengayuh. Akhirnya karena sudah mendekati jam makan siang saya beristirahat di depan MAN 2 Bogor.

Tidak terasa, keringat yang mengalir di lengan saya berubah menjadi kristal-kristal garam. Puas rasanya target perjalanan bisa diselesaikan. Saya pun melanjutkan perjalanan pulang. Dari jalan Pajajaran saya menempuh jalan Otista hingga di persimpangan BTM berbelok ke kanan menuju Istana Bogor ke jalan Jenderal Sudirman, lalu ke jalan Pemuda. Dari sana melewati Kebon Pedes saya menuju Cilebut hingga sampai di Bojonggede.

Sampai jumpa di catatan saya berikutnya tentang gowes ke Curug Nangka lewat Ciomas dan gowes ke bendungan Katulampa lewat Cikeas hingga Megamendung.

Salam hangat dari kota hujan.

GDPR dan Kedaulatan Digital Suatu Negara

Hal ini merupakan tesis dari buku ini bahwa masyarakat hanya dapat dimengerti melalui studi tentang pesan dan fasilitas komunikasi yang menyertainya; dan bahwa dalam perkembangan di masa depan tentang pesan dan fasilitas komunikasi ini, pesan antara manusia dan mesin, antara mesin dan manusia, dan antara mesin dan mesin, telah ditakdirkan untuk memainkan peran yang semakin meningkat. — Norbert Wiener, The Human Use of Human Beings: Cybernetics and Society (1950)

Mulai tanggal 25 Mei 2018 nanti negara-negara Uni Eropa menerapkan peraturan baru dalam European Union General Data Protection Regulation (EU GDPR) untuk melindungi seluruh warga Uni Eropa dari pelanggaran privasi dan data. Dampaknya adalah organisasi atau perusahaan yang merekam data dimana warga Uni Eropa adalah subjeknya wajib mengikuti perubahan regulasi ini. Dimanapun organisasi/perusahaan tersebut berasal dan beroperasi dan dimanapun warga Uni Eropa tersebut berada.

Tidak pelak lagi, pemain-pemain Over The TopΒ (OTT) yang dalam kegiatan operasionalnya melakukan perekaman data wajib mengubah kebijakan privasi penggunanya agar sesuai denganΒ GDPR. Contohnya Facebook, Google, Slack dan Amazon. Beberapa poin penting pada perubahan GDPR kali ini adalah wilayah yurisdiksi, penalti/sanksi dan persyaratan persetujuan.

Jika pada regulasi sebelumnya wilayah yurisdiksi GDPR berlaku tidak jelas, maka pada perubahan ini cakupan wilayahnya diperluas dan diperjelas. GDPR berlaku pada semua organisasi profit atau non-profit, berada di Uni Eropa atau diluar Uni Eropa, dikendalikan dan diproses di Uni Eropa atau diluar Uni Eropa selama subjeknya adalah warga Uni Eropa.

Google Analytics Data Retention and GDPR

Perubahan kebijakan privasi Google Analytics akibat ditegakkannya aturan baru pada European Union General Data Protection Regulation (EU GDPR) atau yang dikenal sebagai GDPR saja.

Sanksi atau penalti bagi organisasi yang melanggar GDPR adalah 4% dari omzet tahunan atau maksimal 20 juta Euro (tergantung mana yang lebih besar). Tidak memiliki persetujuan pelanggan yang memadai untuk memproses data atau melanggar konsep inti rancangan privasi termasuk dalam pelanggaran yang dikenakan sanksi tersebut. Sanksi berjenjang juga berlaku, misalnya organisasi yang tidak melaporkan otoritas pengawas dan subjek data atas terjadinya pelanggaran atau tidak melakukan penilaian dampak pelanggaran privasi akan dikenakan denda 2% dari omzet tahunan. Hal ini berlaku bagi pengontrol dan pemroses. Jadi, jika perusahaan/organisasi anda menawarkan barang atau jasa pada warga Uni Eropa dan anda menggunakan layanan komputasi awan (cloud computing) pihak ketiga maka GDPR juga berlaku pada organisasi anda dan pihak ketiga yang menyediakan layanan komputasi awan tersebut.

Persyaratan persetujuan pun diperkuat. Jika sebelumnya kita harus membaca persyaratan persetujuan yang panjang tidak terbaca hingga harus menggulung layar (scrolling) berkali-kali untuk sampai di akhir isinya untuk menggunakan suatu produk barang atau jasa/layanan, maka kali ini tidak diperbolehkan lagi. Permintaan persetujuan untuk pemrosesan data harus diberikan dalam bentuk yang dapat dimengerti dan mudah diakses.Β Persetujuan harus jelas dan dapat dibedakan dari hal-hal lain dan disediakan dalam bentuk yang mudah dipahami, menggunakan bahasa yang jelas dan sederhana.

Pengguna berhak mendapatkan pemberitahuan/notifikasi jika terjadi pelanggaran privasi yang berakibat membahayakan hak dan kebebasan individual. Selambat-lambatnya 72 jam sejak pelanggaran pertama terdeteksi. Pengguna juga berhak mendapatkan konfirmasi saat data pribadinya akan diproses, dimana, kapan dan untuk tujuan apa. Pihak yang mengontrol data wajib menyediakan salinan data pribadi tersebut dalam bentuk elektronik secara gratis. Pengguna juga memiliki hak agar data pribadinya dihapus dan menghentikan pemrosesan data yang dilakukan pihak ketiga.

Inisiatif yang dilakukan oleh negara-negara Uni Eropa ini sangat bermanfaat dalam melindungi warganya dari kejahatan digital dan penyalahgunaan data pribadi serta pelanggaran privasi. Langkah seperti ini juga bisa diadaptasi oleh pemerintah Indonesia. Selain meminta pertanggungjawaban dari pemain OTT, seperti Facebook yang terjadi belum lama ini, atas keamanan data pengguna asal Indonesia, badan legislatif juga harus menyusun seperangkat peraturan yang mengikat untuk melindungi warga Indonesia dimana saja berada.

Jika Uni Eropa bisa bertindak tegas sehingga organisasi OTT harus repot-repot menyesuaikan kebijakan privasi mereka, seharusnya Indonesia juga bisa. Mengingat pengguna layanan OTT dari Indonesia terbilang banyak. Tidak hanya OTT yang terlihat jelas di depan mata, penyedia layanan Software as A Service atau Infrastructure as A Service mulai dari tingkat UKM hingga skala enterprise pun harus mengikuti aturan tersebut. Wacananya bukan lagi pembangunan data center wajib berada di Indonesia. Mengacu GDPR, dimanapun data tersebut disimpan, selama subjeknya adalah warga Indonesia maka perusahaan atau organisasi wajib mematuhi aturan yang diberlakukan. Walaupun jika data center berada di Indonesia tetap memberikan keuntungan.

Cambridge Analytica The Mind-Bender

Kesadaran akan pentingnya perlindungan terhadap data pribadi yang disimpan suatu organisasi semakin mencuat dihadapan publik tatkala firma konsultasi yang berbasis di Inggris, Cambridge Analytica (CA), menyalahgunakan data pengguna Facebook untuk mempengaruhiΒ  hasil pemilu Amerika Serikat pada 2016 lalu. CA menggunakan teknik yang menargetkan pemilih di AS untuk menyampaikan iklan-iklan politikΒ di dalam Facebook berdasarkan data profil psikologis pengguna Facebook yang mereka miliki.

Mungkin di dalam Facebook kita pernah disuguhkan aplikasi-aplikasi atau quiz semacam tes kepribadian, siapakah kita dalam film Harry Potter, tipe mahasiswa semacam apakah kita dan quiz-quiz sejenisnya. CA menggunakan quiz-quiz tersebut untuk mengumpulkan data profil psikologis pengguna Facebook di AS, menerapkan teknik-teknik analisis data kemudian menggunakan hasilnya (psychographic) untuk mempengaruhi keputusan pengguna Facebook dengan iklan-iklan politik.

CA menambang informasi jutaan pengguna Facebook tersebut bertahun-tahun. Tentu saja praktek CA ini sah secara hukum, terlebih sebelum dijalankan aplikasi atau quiz tersebut akan meminta persetujuan pengguna untuk mengakses data pribadi, termasuk data teman yang terhubung. Menjadi permasalahan ketika CA membocorkan data ini dan menyalahgunakannya dengan menargetkan pemilih di AS untuk mempengaruhi hasil pemilu yang memihak salah satu kandidat.

Cambridge Analytica London Office

Kantor Cambridge Analytica di London, yang telah membantu setidaknya satu karyawan di Palantir Technologies, sebuah perusahaan yang didirikan oleh pendukung Trump, Peter Thiel. Sumber: https://www.nytimes.com/2018/04/04/us/politics/cambridge-analytica-scandal-fallout.html

Untuk memahami mengapa CA bisa sejauh itu mempengaruhi hasil pemilihan umum harus kita lihat juga induk organisasi CA. CA merupakan bagian dari SCL (Strategic Communications Laboratory) Group, sebuah firma yang mengkhususkan pada data, analisis dan strategi untuk pemerintah dan organisasi militer di seluruh dunia. Setidaknya demikian mereka memperkenalkan diri mereka di website resminya, sclgroup.cc. Tidak hanya pemilu AS 2016, CA juga terlibat dalam pemilu Kenya tahun 2017 dan keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit).

Pada Maret 2017 dilaporkan bahwa eksekutif tinggi SCL Group melakukan pertemuan dengan pejabat resmi Pentagon, Hriar Cabayan, yang mengepalai riset dan analisis kebudayaan DoD. Cabayan dikenal dalam perannya dalam meluncurkan Human Terrain System, sebuah upaya kontra-pemberontakan Angkatan Darat AS yang melibatkan ahli antropologi dan ilmuwan sosial lain dengan brigade tempur di Irak dan Afghanistan. Patut diperhatikan apakah proyek-proyek terakhir CA/SCL Group di Kenya, India, Mexico dan Brazil adalah usaha mereka untuk memperluas pasar global ataukah menjadikan negara-negara ini sebagai laboratorium untuk menguji metode baru penyebaran propaganda dan polarisasi politik.

Mungkin akan ada yang membenarkan tudingan bahwa Facebook sebetulnya adalah spionase publik yang digunakan organisasi tertentu setelah mengetahui fakta ini. Dari sudut pandang ini kita juga bisa memahami mengapa pemerintah Rusia sangat tegas melakukan pemblokiran terhadap aplikasi Telegram karena pendiri aplikasi tersebut menolak menyerahkan kunci enkripsi yang memungkinkan badan keamanan Rusia melacak terorisme di jejaring sosial tersebut. Tudingan NSA pada Huawei karena melakukan penyadapan data melalui perangkat elektronik juga bisa dilihat sebagai usaha perlindungan digital terhadap warga AS terlepas dari sentimen politik AS terhadap RRC.

Jaringan komputer pada awalnya memang diciptakan oleh pihak militer untuk kepentingan militer. Sebuah negara yang kuat tidak lagi hanya mengandalkan alut sista dan tenaga manusia untuk melakukan serangan secara fisik. Data warga negara yang terkumpul secara masif juga merupakan objek surveillance dan pada akhirnya dapat digunakan sebagai psychological warfare. Merupakan hal yang sangat penting untuk melindungi data yang ditransmisikan dan disimpan dalam jaringan komputer tersebut. Untuk menjaga kedaulatan suatu negara, diperlukan landasan hukum dan penegakan hukum yang tegas terhadap organisasi/perusahaan yang menggunakan data digital warga negaranya.

Pada perang di masa yang akan datang, jika hal tersebut benar-benar terjadi, tidak hanya nuklir atau senjata pemusnah masal yang menjadi senjata. Hal-hal seperti teori komunikasi massa, public relation, psikologi, penganalisaan data akan memiliki peran yang signifikan. Hal yang sebenarnya sudah ada sejak perang di masa lalu, namun menjadi lebih terarah dan akurat dengan teknologi yang semakin maju. Semoga bermanfaat.

Gowes ke Curug Nangka Lewat Kota Batu

Curug Kaung

Beberapa wisatawan menyaksikan dari kejauhan keindahan Curug Kaung.

Memanfaatkan cuti dan libur akhir tahun lalu saya bersepeda ke wisata alam Curug Nangka yang berlokasi di desa Sukajadi, kecamatan Tamansari, Ciapus, Bogor. Pukul enam lebih beberapa menit pada pagi 27 Desember 2017, saya bersiap-siap mengayuh sepeda dari rumah. Tak ada persiapan khusus, hanya riding gear lengkap dan sebotol air minum dalam tas dan doa dalam hati tentunya. πŸ™‚

Menelusuri jalan raya Bojonggede, Cilebut hingga Kebon Pedes yang masih cukup sepi saya nikmati hembusan udara pagi yang masih terasa dingin diatas sepeda. Sesampainya di perlintasan kereta api jalan Kebon Pedes ke arah jalan Pemuda, saya memilih berbelok ke kanan lewat Pondok Rumput. Kawasan ini masih sepi, selain beberapa angkot dan sepeda motor yang lewat tidak ada aktivitas yang terlihat di ruko atau toko-toko di pinggir jalan. Tiba di ujung jalan Perwira saya mengarahkan sepeda ke kanan menuju jalan Merdeka.

Dari Merdeka saya menuju Pasar Mawar kemudian berbelok menuju Stasiun Bogor. Karena sistem satu arah sudah diterapkan, saya tidak bisa langsung menuju jalan Paledang dari Stasiun Bogor. Saya menelusuri jalan Kapten Muslihat hingga bertemu U-turn di jalan Ir. Juanda kemudian berputar kembali menuju jalan Paledang. Namun, belum sempat menyeberangi rel KA, ternyata lalu lintas terhenti karena ada rangkaian lokomotif yang melintas di jalur Bogor-Sukabumi. Saya pun menunggu hingga lokomotif tersebut lewat.

Menelusuri Paledang yang lenggang dari lalu lintas terasa sangat menyenangkan. Di jalan yang agak menanjak ketika saya hendak berbelok keΒ  arah Bogor Trade Mall (BTM) saya melambatkan laju sepeda. Jalan Ir. Juanda ini cuma satu arah, jadi kalau saya mau menuju ke Bogor Trade Mall harus melawan arah. Karena saya tidak mau melanggar aturan dengan melawan arus, maka saya menuntun sepeda saya melewati trotoar di depan perkantoran hingga sampai di BTM. Dari sana saya kembali mengayuh sepeda saya menuju Pulo Empang.

Jalur dari Pulo Empang sedikit menanjak menuju Pancasan. Suasana lalu lintas semakin ramai dan udara mulai panas. Sesampainya di sebuah apotik saya memilih beristirahat dan recharge. Hm… apotik ini letaknya strategis, tepat dipertigaan jalan. Kalau lurus saya menuju Curug Nangka melewati Pancasan dan Kota Batu. Kalau berbelok ke kanan saya tetap bisa ke Curug Nangka melewati Ciomas, seperti tiga tahun lalu. Akhirnya saya memilih lurus menuju Kota Batu.

Jalur ini adalah tanjakan tanpa ampun. Kita tidak akan menemui jalan datar. Beberapa kali saya memutuskan untuk beristirahat. Beberapa kali pula saya berpapasan dengan pesepeda lain. Kring… kring… begitu mereka membunyikan bel sepedanya menyapa saya. Saya pun membalasnya dengan seulas senyuman.

Menanjak, menanjak dan menanjak. Puncak Gunung Salak di kejauhan seolah menjadi penyemangat untuk terus melanjutkan perjalanan. Jangan menyerah. Ingatlah kalau berangkatnya harus bersusah-payah menanjak, nanti saat pulang rasanya seperti meluncur. Seperti beberapa pesepeda yang tadi menyapa. Beberapa penunjuk jalan seolah mengingatkan, “Kamu belum sampai! Ayo teruskan!”

Berbelok di pertigaan Perkemahan Sukamantri mengingatkan saya dengan pengalaman saat sekolah dulu. Kangen sekali saya rasanya, sudah lama sekali tidak menikmati gelapnya kabut dan dinginnya malam-malam di perkemahan Sukamantri, temaram obor dan lampu badai, kemah-kemah dan kedai-kedai berdinding bambu disana. Sejenak kenangan menghantui saya saat masih harus menanjak. Akhirnya saya beristirahat kembali di sisi jalan dimana pemandangan Gunung Salak tepat berada di kelokan jalan.

Seorang pesepeda dari arah berlawanan terlihat meluncur turun dengan asyiknya saat saya beristirahat. “Pagi…,” begitu beliau menyapa saya. Saya balas dengan acungan jempol. πŸ™‚ Curug Nangka merupakan rute gowes favorit, tidak hanya wisatawan lokal, wisatawan asing pun banyak yang mencicipi tantangan jalan menanjak dan indahnya pemandangan disana. Seperti bapak keturunan Tionghoa yang menyapa saya tadi.Β Kalau sobat pernah berkunjung ke Curug Nangka, mungkin sobat pernah mendengar para pesepeda tersebut bercakap-cakap dalam bahasa asal negaranya diantara rombongan group riding mereka.

Sampailah saya di kecamatan Tamansari, Ciapus. Akhirnya karena persediaan air minum saya sudah habis, saya memutuskan untuk mengisi perbekalan di sebuah mini market di pinggir jalan. Kira-kira lima ratus meter dari sini ada jalan masuk menuju Pura Parahyangan Agung Jagatkarta.

Ampun! Benar-benar tanjakan yang menantang, membuat pesepeda termehek-mehek. πŸ™‚ Setelah melewati jalan masuk ke Pura tadi sebenarnya ada turunan. Tapi tidak seberapa. Setelah itu aspal rusak dan jalan kembali menanjak. Tanjakannya semakin curam dan berkelok-kelok. Tidak ada trotoar, jangan harap. Inikan kaki gunung, siapa juga yang mau jalan-jalan di trotoar heuheuheu… πŸ™‚ Hanya alang-alang atau lahan kosong di kanan-kiri jalan.

Menanjak, menanjak, menanjak… terus menanjak. Hingga sampailah disana. Inilah yang saya tunggu-tunggu sedari tadi. Pertigaan The Highland Park Resort Hotel Bogor! Ah, saya anggap ini garis finish, walau saya masih harus melanjutkan kembali perjalanan kurang lebih satu kilometer menuju gerbang Curug Nangka. Betapa senangnya hati saya. Alhamdulillah, sampai juga akhirnya. πŸ™‚

Dari sana perjalanan masih harus menanjak lagi. Tapi saya lewati dengan sangat senang. Kabut putih dan pemandangan vila di tepi jalan menjadi pengobat lelah. Suasana sepi, tidak terlihat banyak kendaraan wisatawan. Hanya satu-dua sepeda motor dan mobil yang hilir mudik memasuki atau keluar dari gerbang karcis Curug Nangka.

Alhamdulillah, puas rasanya sudah sampai disini. Pemandangan disana bagaimana? Ah, baca saja catatan saya tiga tahun lalu tentang Curug Nangka disini, disini dan disini. Tulisan ini rasanya sudah terlalu panjang. Saya mau menikmati meluncur turun dulu dari Curug Nangka. πŸ˜€

Sampai jumpa di catatan saya berikutnya tentang gowes ke Curug Nangka lewat Ciomas. Tapi mungkin sebelumnya saya akan berbagi keindahan Bukit Pelangi dari atas sepeda.

Selamat berakhir pekan, jangan lupa berolahraga. Salam hangat dari kota hujan. πŸ™‚