BANNED UNTUK SITUS DAN BLOG REMANG-REMANG

Banned

MAKLUMAT

Mulai detik ini setiap komentar yang menyisipkan link atau identitas pengunjung yang mengarahkan pengunjung lainnya ke SITUS DAN BLOG REMANG-REMANG akan RiderAlit BANNED!

Kategori situs/blog remang-remang:

  1. Berisi pornografi (termasuk yang mendekati kategori soft porn).
  2. Perjudian (online atau offline).
  3. Berisi hasutan SARA.
  4. Situs/blog yang hanya ditujukan untuk SEO.

Daftar kategori bisa bertambah sesuai dengan perkembangan teknologi dan dinamika netizen.

Sekian dan terima kasih.

Iklan

Cycling Vlog: Weekend Ride to Rancamaya

Sabtu 29 Desember 2018 dan Senin 31 Desember 2018 lalu saya gowes ke Rancamaya. Detail perjalanannya nanti saya buat dalam pos terpisah. Hm… yang pasti pemandangan Gunung Salak nan permai selalu menemani selama kita mengayuh pedal. Nah, sekarang kita nikmati perjalanan menuju dan di Rancamayanya dalam video diatas saja, ya.

NFBS Bogor

Far away from Misty Mountains cold. Gunung Salak nan permai.

Salam hangat dari kota hujan, keep practice and stay sharpStay tuned.

Headscarf Sebagai Alternatif Cycling Caps

Headscarf

Headscarf bisa digunakan sebagai alternatif cycling caps.

Salah satu riding gear atau cycling apparel yang wajib digunakan saat bersepeda adalah cycling caps. Tidak hanya menjaga kebersihan rambut dan kulit kepala dari debu atau pasir yang menerobos masuk melalui ventilasi udara yang ada di cycling helmet, cycling caps juga membuat penampilan sobat tambah keren.

View this post on Instagram

Throwback to happier times when we were riding bike through the vineyards of Alsace. While my current injury is putting me of, I know there will be a lot of cycling next year again, anyways. And as I am going through the photos of our Tour d'Alsace, I have to admit that it was pretty amazing over all. Cyclingwise, foodwise, the weather was just perfect and we were welcomed with the fête de la musique in @colmar_tourisme. A great start for some even better cycling days with friends. We'll be back, for sure. #tbthursday . . . . . #ridemorebike #cycling #cyclinglife #bicycle #velo #cyclingphotos #cyclingshots #biking #instafit #fitnessmotivation #cardio #fitspiration #fitnessaddict #aesthetics #getfit #noexcuses #fitnessmodel #france_vacations #france_photolovers #unlimitedfrance #exclusive_france #shotbypixel #throwback #tbt

A post shared by Team RMB Cycling (@ridemorebike) on

Tapi, tidak semua cycling helmet cocok digunakan bersama cycling caps. Beberapa model helm tidak cocok dengan cycling caps. Nah, alternatifnya kita bisa menggunakan headscarf. Fungsinya pun sama seperti cycling caps. Memang jika menggunakan headscarf kita kehilangan fungsi brim yang bisa melindungi dari silau cahaya matahari. Tapi headscarf cocok untuk semua model helm. Apalagi untuk helm yang memiliki detachable brim.

Oleh karena itu, saya selalu memakai headscarf sebelum menggunakan helm. Saya rasa semua orang bisa memakainya. Kalau belum tahu, seperti ini cara pakainya:

Hm, tambah keren, lho. Seperti mba Cristina ini. 🙂

Menikmati Keindahan Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Curug Cigamea

Curug Cigamea merupakan salah satu objek wisata alam favorit di kawasan TNGHS Bogor.

Perjalanan ini saya lakukan pada 17 September 2018 lalu. Semoga masih relevan dan bisa membantu sobat semua. Okay, kita mulai.

Memanfaatkan cuti kantor saya seorang diri melakukan solo riding ke kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Bogor. Berangkat kira-kira pukul delapan pagi saya menunggangi si bebek besi andalan saya. Dari rumah saya menuju jalan raya Kemang melewati perumahan Billabong.

Perjalanan dilanjutkan menuju Lanud Atang Sanjaya, Semplak. Sesampainya di Tugu Helikopter (Chopper Monument) saya berbelok ke kanan. Menuju Ciampea.

Jalan di Semplak menuju Ciampea tergolong sempit namun sepi kendaraan. Disalah satu SPBU terpampang spanduk peringatan dari kepolisian: Daerah Rawan Begal! Serem! Disebelah kiri saya lihat pemandangan sawah yang luas dan pemukiman warga setempat. Sebelah kanan saya lebih banyak pertokoan dan sesekali saya lihat hamparan sawah atau lahan terbengkalai.

Sampai di daerah yang mulai ramai pemukiman saya sempatkan singgah sebentar di sebuah masjid untuk sholat Dhuha. Dari luar masjid ini tampak kecil, tapi setelah saya masuk ternyata cukup besar. Masjid bercat hijau ini terdiri dari dua lantai. Halaman parkirnya tepat di tepi jalan. Bangunan di belakangnya ternyata terhubung langsung dengan pemukiman dengan teras yang rapi dan bersih. Ruangannya juga cukup rapi, bersih dan sejuk walau tanpa pendingin. Nama masjid ini Masjid Sayyidah Sumayyah.

Selesai sholat saya pun kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan di Semplak ini terasa monoton karena cuma lurus saja mengikuti jalan. Hingga sampai dipertigaan besar saya berbelok ke kiri menuju pasar Ciampea. Kemacetan saya temui di pasar ini. Sudah jalannya sempit, beberapa angkot berhenti menunggu penumpang dan beberapa pedagang berjualan dan pembeli hilir mudik dipinggir jalan. Kesan daerah Ciampea ini panas, tidak seperti kawasan lain di Bogor.

Berhasil menembus kemacetan di pasar Ciampea saya melaju melewati terminal angkot Ciampea. Terminal ini agak berbeda dengan terminal-terminal lain di Bogor. Batas terminal ini adalah bukit cadas berwarna coklat kemerahan tinggi menjulang dengan rimbun hijau pepohonan sebagai pemanis bukit yang terkesan tandus ini. Melewati terminal Ciampea saya sampai di pertigaan jalan raya.

Saya berbelok ke kanan, ke arah Leuwiliang. Jalan raya ini mulus dan lebar, nama kawasannya Cikampak. Kontur jalan menanjak, di beberapa titik terpasang rambu peringatan jalan menanjak. Bebek besi saya pacu mengikuti jalan ini hingga tiba di kawasan Cibungbulang. Nah, jangan sampai sobat salah menikung. Ada beberapa pertigaan besar menuju TNGHS dari jalan raya ini. Saya mengambil tikungan setelah Polsek Cibungbulang. Belok ke kiri.

Memasuki desa Cibatok. Cukup mengikuti jalan karena tidak ada tikungan atau jalan lain. Tiba di sebuah SPBU saya memutuskan untuk mengisi BBM si bebek besi. Ternyata ini keputusan tepat, karena setelah SPBU ini tidak ada lagi SPBU resmi Pertamina. Kawasan ini adalah pedesaan yang letaknya di kaki gunung, jadi lebih banyak penjual bensin eceran di pinggir jalan. Dari SPBU saya kembali memacu si bebek besi.

SPBU Pertamina 34-16613

SPBU Pertamina 34-16613

Riding terasa nikmat karena jalannya mulus walau menanjak. Dengan pemandangan sawah di kanan-kiri jalan. Udara pun terasa sejuk. Saya ingat, ketika pulang di jalan ini saya tertahan angkot yang berhenti menunggu anak-anak sekolah pulang. Ketika hendak mendahului angkot, tiba-tiba sebuah Vespa Primavera putih menghadang jalan saya. Ketika saya lihat pengendaranya adalah siswi di sekolah tersebut.

Gadis berjilbab dengan seragam putih abu-abu tersenyum manis meminta izin jalan. Saya pun tersenyum dan memberinya jalan. Hm… senyum manis itu tak terlupakan heuheuheu… Tinggal di desa di kaki gunung tapi mengendarai Vespa modern. Dan bukan sekedar Vespa. Primavera! Warna putih! Memilih Vespa sementara kawan-kawan lainnya menaiki matic-matic murah. Wow, keluarganya pasti motorcycle enthusiast. And rich enough to afford a Primavera for his daughter!

Okay, akhirnya saya sampai di sebuah jalan dengan hamparan sawah yang luas dan panorama gunung di kejauhan. Ini dia:

Saya sudah memasuki kawasan Gunung Picung. Terus mengikuti jalan hingga akhirnya saya sampai di kawasan yang namanya Pamijahan. Ya, ya, ya berarti saya sudah semakin dekat. Nah, sejak tadi kan saya cuma mengikuti jalan saja. Lalu tujuannya kemana? Kawasan TNGHS itu luas! Maka saya tetapkan saja Curug Cigamea sebagai destinasi.

Nah, kalau mau ke Curug Cigamea lewat mana nih kalau cuma mengikuti jalan saja dari tadi? Okay, disebuah pertigaan jalan saya melihat sebuah penunjuk jalan menuju The Michael Resort ke arah kanan. Saya pun berbelok ke kanan. Dan insting saya benar. Alhamdulillah. Jadi, kalau sobat mau ke Curug Cigamea maka The Michael Resort bisa menjadi acuan.

Nah, sekarang saya bisa bercerita lagi. Dari pertigaan dengan penunjuk arah The Michael Resort tadi saya cukup mengikuti jalan. Jalannya menanjak lumayan tinggi, lho. Dibeberapa titik terpasang papan peringatan yang kira-kira berbunyi, “Jalan Menanjak Pastikan Kondisi Kendaraan Sehat”. Sampai disebuah bukit saya berhenti sebentar. Disini ada sebuah warung yang cukup luas dan sebuah gerbang. Saya memotret beberapa pemandangan disini. Pada saat saya akan upload ke Instagram hasil geotag-nya menunjukan Puncak Mustika Manik diurutan paling atas. Ini foto-fotonya.

Jalan Gunung Salak Endah

Jalan Gunung Salak Endah

Sedikit bertanya pada ibu penjaga warung kata beliau Curug Cigamea sudah tidak jauh lagi. Kira-kira 2 kilometer lagi. Nah, saya langsung ngegas menuju Curug Cigamea. Sekarang saya berada di kecamatan Pamijahan, Jalan Gunung Salak Endah (GSE). Aspal mulus, jalan menanjak, udara sejuk, pemandangan indah. Mantab!

Jalan lurus menanjak kemudian saya melewati gerbang masuk Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Saya lihat beberapa orang berseragam PNS sedang berkumpul disekitar gerbang. Saya terus melaju hingga menemui sebuah gerbang bertuliskan Air Terjun Curug Cigamea. Diseberang jalannya adalah pemukiman warga. Okay, sampai deh.

Yup, saya langsung menuju halaman parkir dan membayar karcis parkirnya. Untuk biayanya sendiri dikenakan lima ribu rupiah untuk parkir sepeda motor. Untuk karcis masuk objek wisatanya dikenakan biaya sepuluh ribu rupiah per orang.

Disekitar halaman parkir ada area bermain anak-anak, beberapa toilet, mushola kecil, sebuah kolam, beberapa wisma bernuansa tradisional. Juga ada beberapa kedai, umumnya menjual makan cepat saji, seperti bakso dan mie ayam serta minuman. Eh, ada juga kolam untuk terapi ikan, lho. Kita cemplungin kaki kita lalu ikan-ikannya menggigit dan bisa memberikan manfaat kesehatan katanya. Ikannya ikan apa? Hm, yang pasti bukan hiu atau piranha dong heuheuheu… 😀

Saya mulai menapaki jalan ke ke curug. Nah, disini saya melewati beberapa bangunan. Ada villa, warung atau kios-kios dan beberapa taman. Dari pelataran parkir sampai ke curug lumayan jauh, lho. Tapi pasti enjoy, deh. Karena pemandangan jurang dan tebing yang indah dengan hijau pepohonan dtambah suara gemuruh air terjun. Aliran air terlihat diantara batu-batu besar dibawah. Nah, setelah melalui beberapa kios yang rapat akhirnya saya sampai di air terjun Curug Cigamea.

Sebuah villa di jalan setapak menuju air terjun Curug Cigamea

Sebuah villa di jalan setapak menuju air terjun Curug Cigamea

Nah, jangan kaget! Di Curug Cigamea ada dua air terjun bersebelahan yang unik. Kenapa unik? Karena air terjun tersebut memiliki warna dinding tebing dibaliknya yang berbeda. Air terjun pertama berdinding tebing hitam dan terkesan keras seperti batu cadas. Sedangkan air terjun satunya berdinding tebing kemerahan seperti tanah, tapi dengan aliran air yang tetap jernih. Sayang beribu sayang, karena banyak kios di seputaran tebing maka terlihat beberapa sampah berceceran di aliran sungai dibawahnya. Walau tidak banyak, sih. Nah, harap menjadi perhatian nih untuk pengelola tempat wisata. Para pengunjung pun diharap selalu menjaga kebersihan dan keindahan curug ini. Tapi pemandangan air terjun Curug Cigamea tetap indah. Ini dia…

Air Terjun Curug Cigamea

Air Terjun Curug Cigamea

Tidak terasa hari sudah siang. Saya kembali menuju ke pelataran parkir. Tapi kali ini saya akan lewat jalan yang berbeda. Jalannya akan menanjak lebih tinggi daripada jalan saya datang tadi. Pintu keluarnya berada jauh diatas pintu gerbang dimana saya sampai tadi. Dan disini pemandangan jurang dan tebingnya sungguh aduhai. Dari kejauhan kita bisa melihat aliran air terjun disela-sela hutan belantara. Uniknya lagi, disini banyak monyet-monyet putih, lho. Seekor monyet putih sukses mengagetkan saya saat sedang asyik memotret. Alhamdulillah, saya tidak sampai jatuh ke jurang. Fuiiih… sobat hati-hati ya saat asyik menanjak dan memotret disini.

Dari gapura diujung tanjakan jalan setapak dari Curug Cigamea tadi saya harus menelusuri Jalan Raya Gunung Salak Endah untuk kembali ke halaman parkir. Hm, ini resiko mengeksplorasi tempat-tempat yang indah. Harus punya energi ekstra. Sesampainya di halaman parkir saya langsung menuju mushola untuk sholat Dzuhur.

Ok, deh. Selesai cerita perjalanan saya menikmati Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Saya pun kembali menyusuri kecamatan Pamijahan ini untuk segera pulang. Tidak lupa saya sedikit mengabadikan perjalanan pulang ini dalam beberapa foto.

Sedikit kenang-kenangan dan ringkasan selama perjalanan saya ke Curug Cigamea:

Semoga tulisan ini bermanfaat. Selamat menikmati libur tahun baru 2019. Salam hangat dari kota hujan.

Bike Trip ke Danau Arjuna Samba

Danau Arjuna Samba

Berpose di Pelataran Parkir Danau Arjuna Samba

Sabtu, 08 Desember 2018 lalu saya dan kawan-kawan di Cikarang bersepeda ke sebuah lokasi wisata yang letaknya masih di kawasan Bekasi tetapi tidak jauh dari Stasiun Cikarang, Danau Arjuna Samba nama tempatnya. Dari informasi yang saya dapatkan, danau ini merupakan danau buatan yang awalnya adalah area persawahan. Luasnya kurang lebih 8ha.

Berangkat dari rumah kira-kira jam 5 pagi. Saya membawa seli (sepeda lipat) saya ke dalam gerbong Commuter Line dari stasiun Bojonggede. Kira-kira satu jam kemudian saya sampai di stasiun transit Manggarai. Langsung saya menggotong seli ke peron 4 dimana KRL tujuan Bekasi-Cikarang melintas. Beberapa menit kemudian kereta tujuan akhir Cikarang tiba, saya pun mengangkat sepeda ke dalam gerbong. Dari Bojonggede seli saya tempatkan dipojok tempat duduk dekat pintu keluar masuk. Supaya terpantau, mudah diangkat keluar dan tidak mengganggu penumpang.

Dari stasiun Bojonggede sampai Manggarai saya berdiri, tidak dapat tempat duduk. Dari Manggarai sekarang saya berdiri lagi menuju Cikarang. Kereta tertahan lama di stasiun Klender Baru, Bekasi dan Tambun. Maklum, jalur yang digunakan bergantian dengan kereta jarak jauh. Hingga sampai di stasiun akhir Cikarang kurang lebih jam 7.30. Di grup WA kawan-kawan sudah posting foto-foto sejak jam 6.30. Waduh, kasihan nih kalau kelamaan menunggu saya.

Keluar dari stasiun Cikarang saya langsung gowes ke arah Kota Pilar. Pesan seorang kawan kita berkumpul di dekat SMAN 1 Cikarang Utara. Sambil tanya pada orang-orang yang saya temui akhirnya saya lewat di tugu Kota Pilar. Masih lurus lagi kemudian berbelok ke kiri menuju kawasan yang disebut Pilar ke arah Sukatani. Singkat cerita akhirnya saya sampai di SMAN 1 Cikarang Utara. Tapi kok nggak ada penampakan rombongan sepeda ya?

Akhirnya saya telepon seorang kawan. Ternyata meeting pointnya dekat sebuah masjid, masih lurus lagi dari SMAN 1 Cikarang Utara. Ok, saya pun gowes lurus mengikuti jalan. Akhirnya kami bertemu juga di pinggir jalan. Horee… senang bisa bertemu kawan-kawan. Tanpa banyak basa-basi kami memutuskan untuk langsung gowes. Mohon maaf kawan, gara-gara saya jadi lama menunggu.

Saya pun mengikuti road captain, karena saya tidak mengenal daerah disini. Road captain menggunakan aplikasi GPS untuk menunjukan jalan yang kami tuju. Harus diakui, Cikarang memang kawasan industri. Jadi, daerah disini terasa lebih terik dan panas. Sungainya pun keruh dan banyak sampah bertebaran di pinggir jalan. Tapi sesekali saya menjumpai areal persawahan dan pepohonan yang bisa membuat perjalanan terasa lebih teduh.

Akhirnya saya sampai disebuah gerbang dengan tulisan Danau Arjuna Samba. Sebelum masuk ternyata ada loket dan ada petugasnya yang menjaga. Kalau tiket masuk motor lima ribu rupiah. Karena kami menggunakan sepeda maka harga tiket masuknya disamakan dengan pejalan kaki menjadi dua ribu rupiah satu orang. Rombongan kami berlima maka kami dikenakan biaya sebesar sepuluh ribu rupiah.

Dari gerbang ke danau jalan masuknya lumayan rapi dan mulus. Sampai di pelataran parkir kami memarkirkan sepeda dan berfoto-foto dahulu. Kemudian kami menyusuri pinggir danau untuk menuju tugu buatan Danau Arjuna Samba. Kami pun asyik berfoto-foto. Tidak terasa waktu sudah hampir siang. Kami mampir ke restoran dan memesan beberapa hidangan. Restoran disini terasa sangat tradisional. Anyaman bambu digunakan sebagai dinding dan bambu-bambu bulat yang dipelitur dan diikat sabut sebagai tiang penyangga atap. Meja makannya pun terbuat dari balai-balai bambu. Hm, Sunda banget ya, sob.

Selesai menyantap hidangan kami menuju mushola untuk sholat Dzuhur. Ternyata track di pinggir danau ini juga digunakan sebagai sarana rekreasi becak-becakan untuk anak-anak. Saat makan tadi kami perhatikan banyak anak-anak SD berlari-lari. Di danau pun kami perhatikan satu-dua perahu bebek dikayuh melintasi dan berputar-putar di danau.

Akhirnya kami kembali menggowes sepeda kami untuk pulang ke rumah masing-masing. Kami gowes berbarengan sampai di satu titik kami berpencar. Saya mengikuti petunjuk dari kawan-kawan saya untuk menuju ke stasiun Cikarang.

Yup, inilah salah satu destinasi gowes sepeda yang cukup asri ditengah kawasan industri yang dikenal panas. Bagaikan oase ditengah padang pasir. Cukup menarik untuk disinggahi. Rasa terima kasih sebesar-besarnya saya ucapkan kepada semua kawan-kawan di Cikarang. Kapan-kapan kita gowes bareng lagi di Cikarang.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Selamat berlibur dan berakhir pekan. Tetap berolahraga, keep practice and stay sharp. Salam hangat dari kota hujan.

Gowes Menikmati Tanjakan Bukit Hambalang

Gowes di Bukit Hambalang

Salah Satu Spot Foto Favorit Cyclist di Dekat Villa Bukit Hambalang

Selain Sentul Highlands, Gunung Pancar, Sentul KM 0 (Zero), Gunung Geulis, Bukit Pelangi (Rainbow Hills) ada satu bukit lagi di kawasan seputar Sentul yang merupakan rute favorit cyclist dari Kota Bogor dan bahkan dari luar Kota Bogor. Bukit Hambalang.

Kontur atau elevasi Bukit Hambalang yang lumayan menantang dengan kondisi jalan yang lumayan mulus dengan pemandangan pegunungan disekelilingnya menjadikan Bukit Hambalang sangat disukai para cyclist. Jika menggunakan roadbike kita bisa menikmati aspalnya yang mulus. Jika menggunakan MTB juga tersedia rute off-road yang juga jadi favorit para petualang.

Sebetulnya bukan hanya gowes sepeda kegiatan olahraga yang disukai di Hambalang. Ada juga motocross bagi pecinta motor-motor garuk tanah. Jika dirasa kurang menantang di Hambalang juga suka diadakan balap mobil-mobil semacam Jeep off-road 4WD.

Kantor Desa Hambalang

V for Peace. Berpose di depan kantor Desa Hambalang.

Ada dua pilihan rute untuk gowes ke Bukit Hambalang, dengan acuan pertigaan gerbang Sentul International Circuit (Sirkuit Sentul). Rute pertama adalah berbelok ke kanan ke arah Citaringgul, Babakan Madang. Rute kedua adalah berbelok ke kiri ke arah komplek Permata Sentul Raya atau Citeureup. Dari dua pilihan ini, rute yang saya sukai adalah rute kedua menuju rute pertama. Bukan rute pertama menuju rute kedua.

Maksudnya adalah saya menuju Hambalang melewati Permata Sentul hingga sampai di Bukit Hambalang. Sesampainya di Hambalang saya tidak berbalik arah, melainkan mengikuti jalan ke Citaringgul, Babakan Madang. Rute ini saya pilih dengan beberapa alasan.

Alasan pertama adalah jalan aspal yang melewati Permata Sentul lebih lebar, lebih mulus, minim kendaraan. Sehingga saya bisa puas mengayuh roadbike saya. Alasan kedua adalah pemandangan di komplek perkantoran Hambalang yang asri. Setibanya di Hambalang kita bisa melihat jalur aspal mulus nan tinggi dan lebar yang berkelok-kelok hingga ke bukit. Seperti yang bisa kita lihat dalam video-video Cycling Motivation di YouTube. Alasan ketiga adalah dari Bukit Hambalang ke Citaringgul setelah komplek skandal Wisma Atlet Hambalang jalannya berupa pecahan beton hotmix yang berbahaya bagi wheelset roadbike yang saya gunakan.

Ada beberapa komplek perkantoran sebelum sampai di kantor Desa Hambalang. Diantaranya adalah BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), Universitas Pertahanan Indonesia, IPSC Tentara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Wuih, keren deh tank-tank putih dengan logo UN terparkir disana. Ada juga Villa Bukit Hambalang dan Hambalang Outbound.

Spot foto favorit para cyclist seperti yang sobat lihat pada foto pertama terletak tepat di tikungan patah dan menanjak dekat Villa Bukit Hambalang. Disebelah kanannya adalah deretan pepohonan dan disebelah kirinya adalah sebuah saung yang kini tidak terpakai dengan latar sawah dan perbukitan. Ada satu gardu pandang disini dengan dekorasi hati (Love) yang dulunya mungkin favorit muda-mudi untuk berfoto-foto. Namun, sekarang kondisinya agak terbengkalai karena kawasan ini sepertinya akan dibangun kompleks perkantoran, industri atau yang lain. Entahlah. Seperti apa? Bisa sobat lihat seperti posting video Instagram saya dibawah ini.

Spot foto favorit lainnya adalah halaman kantor Desa Hambalang. Banyak cyclist yang berpose disini. Nah, tidak jauh dari kantor Desa Hambalang ada satu warung yang dijadikan pos tempat para cyclist bercengkrama. Disana disediakan beberapa batang bambu untuk memarkirkan sepeda-sepeda sobat. Jalan menuju kesana walau menanjak tapi bukan main indahnya. Subhanallah. Kita akan menjumpai agrowisata dan pemandangan perkebunan teh. Rute ini sejak dari jalan Permata Sentul Raya terus menanjak sampai di Bukit Hambalang. Siapkan air minum yang banyak!

Nah, diatas Bukit Hambalang kita bisa menikmati pemandangan kawasan Sentul dari ketinggian seperti melihat aerial photography. Jika sobat melihat gundukan tanah dikejauhan maka salah satunya adalah Gunung Pancar. Seperti yang bisa sobat lihat pada video diatas. Ini juga spot favorit saya untuk berfoto.

Seperti saya sebutkan sebelumnya, kondisi jalan disini adalah pecahan beton hotmix. Jadi, hati-hati saat melaju kencang disini, khususnya jika sobat menggunakan roadbike seperti saya. Sesampainya disini jalannya menurun saja dan datar hingga sampai di Citaringgul, Babakan Madang. Ikuti jalurnya maka sobat akan lewat belakang Hotel Harris.

Setelah melewati pertigaan Hotel Haris, saya berbelok ke kiri menuju pinggir jalan tol Jagorawi. Tidak mengikuti jalur aspal berdebu di Babakan Madang menuju gerbang Sirkuit Sentul. Melewati jalur pinggir tol sobat akan melihat pemandangan jalan tol di kiri dan apartemen-apartemen baru di pinggiran Babakan Madang disebelah kanan, lalu sobat akan sampai di rest area Sentul.  Angkat sepeda sobat! Karena jalan menuju rest area hanya berupa jalan setapak.

Satu lagi spot foto unik adalah jembatan penyeberangan diatas tol Jagorawi. Seperti yang bisa sobat lihat pada dua video diatas. Setelah melewati jembatan ini saya kembali menelusuri jalan aspal yang hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua. Yang unik dari jalan aspal yang mulus ini adalah sawah singkong yang lebat disisi kiri jalan. Udara lumayan teduh. Dari sebelah kanan terdengar deru kendaraan yang melintas di jalan tol. Ujung jalan ini adalah jalan Alternatif Sentul sebelum perempatan kolong tol Jagorawi.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Selamat menikmati hari libur. Jangan lupa berolahraga, keep practice and stay sharp. Salam hangat dari kota hujan.

YGC Gowes di Bogor

YGC Gowes di Bogor

Kawan-kawan YGC di Gereja Katedral Santa Perawan Maria, Jalan Kapten Muslihat No. 22, Bogor

Sabtu, 15 Desember 2018 kawan-kawan YGC (Yakobus Gowes Club) dari Kelapa Gading, Jakarta Utara bersama RiderAlit gowes city ride keliling Kota Bogor. Meeting point di Bogor Botani Square kurang lebih jam 7 pagi kemudian kami singgah di Gereja Katedral Santa Perawan Maria di jalan Kapten Muslihat No. 22.

Rute gowes kami lanjutkan menuju Jl. Ir. H. Juanda, Lapangan Sempur, jalan Jalak Harupat kemudian menuju Warung Jambu dengan menuruni jalan raya Pajajaran. Di perempatan traffic light Warung Jambu kami melewati jalan Pandu Raya (jalan Achmad Adnawijaya) menuju Kampung Warna-Warni Katulampa.

Setelah berisitirahat sebentar dan berfoto-foto di Bendungan Katulampa kami melanjutkan gowes menuju jalan raya Tajur. Menikmati meluncur turun sepanjang jalan raya Tajur menuju bundaran Ekalokasari kami kemudian melakukan regrouping di depan toko roti legendaris dan salah satu Bogor Heritage, yaitu toko roti Tan Ek Tjoan.

Dari Tan Ek Tjoan kami gowes melewati Lawang Gintung menuju Batu Tulis dan melewati jalan Pahlawan. Di persimpangan jalan Pahlawan kami berbelok ke kanan menuju Surya Kencana. Tapi karena hari sudah siang kami menyempatkan untuk menikmati kuliner dan carbo loading di Warung Doyong. Setelah berisitirahat di Warung Doyong kami lanjutkan gowes dan menuju Sukasari.

Kondisi macet di tanjakan Surya Kencana kami lalui untuk kemudian menuju Sukasari. Dari Sukasari kami berbelok menuju ke jalan raya Pajajaran melewati Masjid Raya Bogor. Setelah sampai di Tugu Kujang kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto. Setelah itu kami kembali berkumpul. Acara ditutup dengan regrouping dan berdoa di breaking point Bogor Botani Square. Kawan-kawan YGC kembali ke Jakarta.

Terima kasih kepada mba Jeni, om Frans, om, Herman, bro Nico, bro Marcell, sis Maria, om Untung, dan kawan-kawan lain yang tidak bisa saya sebutkan. Terima kasih banyak juga kepada mba Sherly, semoga next time bisa ikut gowes bareng di Bogor. Juga kepada om Paulus yang sudah repot-repot mengejar-ngejar kami di balik setir kemudinya hingga ke Katulampa.

God bless you all, guys. It’s a nice city ride you. Good luck.

Berikut merupakan video suntingan bro Marcell saat kegiatan berlangsung.

Gowes ke Situ Gede

Gowes Sepeda ke Wisata Air Situ Gede

Gowes sepeda di Kota Bogor memang menyenangkan, baik ditengah Kota Bogor (city ride) ataupun di pedesaannya. Nah, kalau sobat ingin menikmati keindahan dan kesejukan alam di Kota Bogor tapi letaknya tidak terlalu jauh dari pusat kota, maka Situ Gede bisa menjadi destinasi gowes sobat. Ada beberapa hal menarik disini, misalnya: kesejukan hutan penelitian IPB (CIFOR/Center for International Forestry Research) dengan pohonnya yang besar dan tinggi-tinggi, melihat dan memberi makan langsung rusa-rusa di penangkaran, menikmati panorama Situ Gede itu sendiri dan bertemu dan saling sapa dengan sesama pesepeda. Setiap akhir pekan banyak warga Bogor yang mendatangi Situ Gede untuk sekedar piknik dipinggir danau bersama sanak keluarga atau untuk berolahraga.

Bagaimana Cara ke Situ Gede?

Rute pertama yang paling mudah adalah lewat pusat Kota Bogor. Detailnya pernah saya tuliskan dalam pengalaman solo riding dengan sepeda motor disini. Dari Istana Bogor di jalan Ir. H. Juanda berbelok ke jalan Kapten Muslihat melewati Stasiun Bogor, terus melewati Jembatan Merah sampai ke jalan Veteran.

SMAN 9 Kota Bogor
Gedung SMAN 9 Kota Bogor yang berada di jalan Mantarena dulunya adalah gedung siswa-siswi kelas III (tiga) SMAN 2 Bogor.

Nah, karena saya alumni SMAN 2 Kota Bogor, sebelum melewati jalan Veteran saya biasanya mampir dahulu ke jalan Mantarena. Letaknya ada disebelah kiri jalan setelah pertokoan Jembatan Merah. Disini dulu ada SMAN 2 Kota Bogor sebelum pindah ke perumahan Budi Agung. Sekarang lokasinya digunakan oleh SMAN 9 Kota Bogor. Disore hari, lokasi pinggir jalan raya ini ramai oleh pedagang kaki lima yang menjajakan kuliner atau menjual buah-buahan.

Melanjutkan perjalanan dari jalan Veteran kita harus menuruni jalan Panaragan kemudian menanjak cukup tinggi sampai di perempatan jalan menuju Gunung Batu. Setelah menanjak di Panaragan maka di Gunung Batu kita sedikit santai karena kontur jalannya menurun. Yup, seperti inilah gowes di Bogor. Kontur jalannya tidak landai, banyak tanjakan dan turunan. Jadi, sobat harus pintar mengatur ritme kayuhan sepeda dan menyimpan energi serta menyediakan cukup air minum.

Nah, setelah menelusuri jalan Gunung Batu kita sampai di terminal Laladon, kemudian kita harus berbelok ke kanan menuju terminal Bubulak. Lurus terus mengikuti jalan Bubulak ada penunjuk jalan CIFOR yang menunjuk ke arah kiri. Kita berbelok ke kiri dan lurus mengikuti jalan maka akan sampai di hutan penelitian IPB (CIFOR). Kontur jalan dari jalan raya Bubulak sampai di jalan raya CIFOR cukup landai dan cenderung menurun.

Rute Lain ke Situ Gede

Rute lain yang biasa saya lewati saat gowes menuju Situ Gede dari rumah adalah melalui jalan raya Kemang kemudian berbelok ke kanan menuju Semplak di perempatan jalan dimana Bogor Center School (BORCES) berada. Sebelum memasuki jalan raya Kemang, dari jalan raya Tonjong saya biasanya melewati sebuah kawasan perumahan elite, Billabong. Yup, kawasan ini dulu terkenal dengan rumah-rumah megahnya.

Dulu ketika saya masih SMP, suasana di perumahan ini terasa sekali seperti berada di pegunungan. Pohon-pohon pinus di kanan kiri jalan yang lebar, aroma pinus dan udaranya sejuk. Panorama Gunung Salak menjadi latar belakang di kejauhan. Kadang saat pagi hari kita masih bisa melihat kabut, apalagi ketika musim hujan. Namun, kondisinya sudah berubah sekarang. Sekarang sudah banyak ruko-ruko dan rumah-rumah skala kecil disekeliling kawasan ini. Kabut-kabut di pucuk pohon pinus pun sudah tidak terlihat lagi.

Gerbang Kawasan Perumahan Elite Billabong, Jalan Raya Kemang, Bogor

Melanjutkan perjalanan gowes di jalan raya Semplak kita akan melewati Landasan Udara (Lanud) Atang Sanjaya dan sebuah masjid besar, Masjid At Taqwa.

Pangkalan TNI AU Atang Sanjaya, Semplak, Bogor

Setelah melewati pangkalan TNI AU kita akan melewati Tugu Helikopter (Chopper Monument) Atang Sanjaya. Gowes lurus terus sampai tiba di jalan DR Semeru. Disini kita akan menjumpai RSUD Kota Bogor dan RS Marzuki Mahdi di sisi kiri dan Hotel Braja Mustika di sisi kanan.

Tepat di perempatan jalan DR Semeru kita berbelok ke kanan menuju Gunung Batu lewat jalan Ledeng Sindangsari. Kontur jalan disini menurun lumayan tinggi, tapi nanti menjelang pertigaan jalan Gunung Batu kita harus menanjak. Jadi, atur ritme kayuhan dan tenaga saat gowes melewati jalan ini. Sesampainya di pertigaan jalan Gunung Batu kita berbelok menuju terminal Laladon dan Bubulak kemudian menuju jalan raya CIFOR. Sama seperti di rute pertama.

Sesampainya di hutan penelitian IPB (CIFOR) kita bisa menikmati kesejukan udara dan indahnya pepohonan yang tinggi menjulang diatas kita.

Cukup gowes lurus mengikuti jalan utama maka kita akan menjumpai gerbang CIFOR yang dijaga ketat. Jalan utama hutan penelitian IPB ini lebih cocok untuk MTB, karena jalannya hancur dan jika hujan meninggalkan kubangan air hingga semata kaki, bahkan jika musim hujan genangan airnya bisa sampai sebetis. Lumayan untuk sobat yang senang off-road ringan.

Sebelum singgah di Situ Gede kita akan menjumpai kantor pusat penangkaran rusa dan beberapa kandang rusa. Disini banyak orang tua yang mengajak anak-anak mereka untuk melihat langsung atau memberi makan rusa-rusa tersebut.

Jika sobat ingin beristirahat atau sholat sebelum tiba di Situ Gede maka ada sebuah mushola yang bisa kita singgahi. Pakai celana jersey pendek? Tenang, di mushola ini sudah disediakan beberapa sarung yang boleh kita pinjam untuk sholat. Jangan lupa dirapikan dan dikembalikan lagi ya sarungnya. 😀

Nah, tidak jauh dari mushola tersebut kita bisa menelusuri jalan kemudian melewati pemukiman warga setempat untuk masuk ke kawasan Situ Gede. Sobat tidak perlu memarkirkan sepeda seperti halnya motor-motor milik wisatawan lain. Disini kita bisa gowes sepeda kita sampai ke tepi terjauh Situ Gede. Tapi pada saat masuk kita harus siap mengangkat sepeda karena jalan masuknya dipalang kira-kira setinggi lutut orang dewasa, untuk mencegah sepeda motor masuk.

Okay, kita sudah sampai di Situ Gede. Silahkan bercengkrama sesuka sobat, tapi tetap hati-hati, ya. Jangan sampai tercebur ke danau heuheuheu… 😀

Nah, saat kembali dari Situ Gede sobat bisa melewati rute pertama, yaitu jalan Gunung Batu menuju jalan Veteran. Disini tantangan terbesarnya adalah tanjakan yang cukup tinggi di jalan Veteran menuju Plaza Jembatan Merah. Plus, kemacetan angkot di jalan Merdeka yang sempit dan satu arah. Kalau sobat memilih kembali menuju jalan DR Semeru maka ada tanjakan yang cukup tinggi dari jalan Ledeng Sindangsari menuju Hotel Braja Mustika di jalan DR Semeru.

Saran saya, jika breaking point-nya adalah pusat Kota Bogor, seperti Istana Bogor, Kebun Raya, Botani Square, Hotel Salak, Taman Kencana atau Lapangan Sempur maka lebih baik melewati jalan Veteran. Lebih dekat memutar dari jalan Veteran ke jalan Ir. H. Juanda via Pusat Grosir Bogor (PGB) di jalan Merdeka kemudian menuju jalan Kapten Muslihat. Karena kalau lewat DR Semeru harus menempuh jarak yang lebih jauh dan berputar menuju pusat Kota Bogor.

Demikian tulisan saya tentang gowes ke Situ Gede. Semoga bermanfaat bagi sobat semua. Dengan ini pula tunai janji saya beberapa bulan yang lalu tentang pengalaman gowes sepeda ke Situ Gede. Wow, telatnya lama banget ya heuheuheu… 😀

Salam hangat dari kota hujan. Tetaplah berolahraga, keep practice and stay sharp.