BANNED UNTUK SITUS DAN BLOG REMANG-REMANG

Banned

MAKLUMAT

Mulai detik ini setiap komentar yang menyisipkan link atau identitas pengunjung yang mengarahkan pengunjung lainnya ke SITUS DAN BLOG REMANG-REMANG akan RiderAlit BANNED!

Kategori situs/blog remang-remang:

  1. Berisi pornografi (termasuk yang mendekati kategori soft porn).
  2. Perjudian (online atau offline).
  3. Berisi hasutan SARA.
  4. Situs/blog yang hanya ditujukan untuk SEO.

Daftar kategori bisa bertambah sesuai dengan perkembangan teknologi dan dinamika netizen.

Sekian dan terima kasih.

Mengoptimalkan Penyimpanan Portable Audio Player

Format Factory 3.7.5

Portable Audio Player

Beberapa minggu lalu waktu sedang merapikan beberapa tumpukan barang jadul di gudang saya temukan sebuah USB portable audio player diantara floppy disk 3.5 inch. Wah, jadi inget zaman kuliah dulu. Seingat saya benda ini saya beli tahun 2006 dulu. Hm, kira-kira masih bisa digunakan nggak ya?

Cek dan ricek kondisi body-nya masih bagus, kutub baterainya masih utuh tanpa karat karena memang terbuat dari kuningan. Langsung coba colok ke port USB di komputer dan tadaaaa…! Layarnya masih bisa menampakan tulisan Welcome! Langsung tekan tombol Windows+E di keyboard dan ada satu drive tambahan muncul. Horeee… berarti masih bisa. Lumayan, masih bisa digunakan untuk menemani jalan santai. :-) Tinggal belikan baterai rechargeable 1.2 volt ukuran AAA dan colok headphone 3.5 mm.

Berhubung storage-nya cuma sebesar 2GB, kalau dilihat dengan Windows Explorer sih nggak sampai segitu😀, saya jadi berpikir bagaimana ya supaya bisa lebih banyak menyimpan file audio MP3 tanpa harus mengorbankan kualitas audionya. Teringat dulu zaman handphone lawas seperti Nokia 6600 yang masih menggunakan MMC suka mengkompresi audio hingga ukuran filenya kurang dari 1 MB.

Kualitas audio, khususnya audio terkompresi seperti MP3, sangat ditentukan oleh bitrate-nya. Angka bitrate biasanya ditunjukan dengan satuan KB/s (Kilo Byte per Second). Biasanya ada dua jenis MP3, yaitu MP3 dengan variable bitrate dan constant bitrate. File audio dengan variable bitrate jika dimainkan dengan MP3 player akan  menunjukan angka bitrate yang berubah-ubah, misalnya dari 128 KB/s lompat ke 256 KB/s lalu lompat lagi ke 192 KB/s dan seterusnya. Sedangkan audio dengan constant bitrate akan menampilkan angka bitrate yang tetap dari awal hingga akhir, misalnya 64 KB/s, 128 KB/s atau 192 KB/s saja. Tidak pernah berubah selama file-nya dimainkan.

Kualitas audio dengan bitrate 128 KB/s sudah setara dengan suara CD audio yang sangat jernih di telinga. Jika sebuah lagu berdurasi 3 sampai 4 menit disimpan dengan format MP3 128 KB/s biasanya memerlukan ruang penyimpanan  sebesar 4 s.d 5 MB. Bisa nggak ukurannya diperkecil dari 4MB tetapi kualitasnya tidak menurun? Maksudnya tetap terdengar jernih di telinga. Jawabannya bisa! Berdasarkan pengalaman saya kualitas 64 KB/s yang setara dengan suara radio FM paling jernih tetap terdengar nyaman di telinga. Suara bass dan treble-nya tetap mengalun jernih di telinga. Apalagi jika menggunakan headphone atau pengeras suara (speaker) plus amplifier yang berkualitas. Ukuran filenya pun cuma 1 s.d 2 MB.

Terus cara mengubah bitrate-nya bagaimana? Gunakan program konversi multimedia semacam Format Factory untuk melakukannya. Kenapa Format Factory, bukan yang lain? Yah, karena saya sudah cukup akrab dengan perangkat yang satu ini.🙂 Selain karena lisensinya yang free, Format Factory mendukung semua format multimedia yang populer saat ini.

Yuk, langsung saja kita bahas cara mengkonversi audionya! Silahkan gunakan Google untuk mencari dan men-download Format Factory. Kalau sudah di-download jangan lupa diinstal, ya.😀 Saya sendiri masih menggunakan Format Factory 3.7.5.

Format Factory 3.7.5

Format Factory 3.7.5

Format Factory 3.7.5

Klik menu Audio, lalu klik tombol/icon MP3.

Format Factory 3.7.5

Klik tombol Add File untuk menambahkan file audio satu per satu atau klik tombol Add Folder untuk menambahkan semua file audio/video yang ada dalam folder.

Format Factory 3.7.5

File yang akan dikonversi akan ditampilkan. Langkah selanjutnya adalah menentukan kualitas output yang diinginkan. Klik tombol Output Setting.

Format Factory 3.7.5

Pilih profile Medium Quality, selain itu untuk mengecilkan ukuran berkas MP3 atau beberapa format audio lain bisa dilakukan dengan menentukan besar bitrate. Dalam hal ini saya memilih 64 KB/s. Setting yang lain saya biarkan pada posisi default. Setelah selesai klik tombol Ok.

Format Factory 3.7.5

Kembali ke jendela sebelumnya, klik tombol Set Range di bawah tombol Output Setting. Kita bisa memotong durasi file audio/video dari detik berapa sampai detik berapa dengan mengklik tombol Start Time dan End Time. Kotak preview dan slider bisa membantu kita melakukan hal tersebut. Jika sudah selesai klik tombol Ok.

Format Factory 3.7.5

Klik tombol Ok sekali lagi dan kita akan kembali ke jendela utama. Nama berkas multimedia yang akan dikonversi akan ditampilkan pada daftar di sebelah kanan. Klik tombol Start untuk memulai proses konversi.

Format Factory 3.7.5

Saat proses konversi dilakukan akan muncul progress bar yang menampilkan persentase. Jika proses konversi telah selesai statusnya berubah menjadi Completed dan jika prosesnya gagal maka yang muncul Error disertai kode kesalahannya. Kita akan bahas penyebab kesalahannya nanti. Output file-nya disimpan dalam direktori D:\FFOutput.

Loh, kok bisa ada yang error saat proses konversi? Kenapa ya?

Biasanya beberapa program konversi audio, tidak hanya Format Factory, mengalami kesulitan saat mengkonversi audio MP3 variable bitrate menjadi audio MP3 constant bitrate. Terus bagaimana, dong? Cari program lain untuk konversi?😦 Tenang. Format Factory masih bisa digunakan untuk mengatasi masalah ini.

Caranya adalah ubah terlebih dahulu file MP3 variable bitrate tersebut ke format audio tanpa kompresi, yaitu WAV. Jika MP3 variable bitrate dengan bitrate tertinggi 128 KB/s berdurasi 3 sampai 4 menit file-nya berukuran 4 s.d 5 MB maka setelah dikonversi menjadi WAV ukurannya bisa 10 kali lipatnya. Biasanya berkisar 40 s.d 50 MB.Nah, setelah diubah menjadi WAV, kita konversi kembali menjadi MP3 64 KB/s.

Cara mengerjakannya sama seperti langkah-langkah diatas, cuma pilih formatnya WAV. Setelah output hasil konversinya  didapatkan maka file WAV tersebut bisa dikonversi kembali menjadi MP3 seperti langkah-langkah sebelumnya.

Ok, semoga tips sederhana ini bermanfaat. Tetaplah bersyukur kepada Sang Pencipta atas karunia pendengaran yang sempurna ini. Subhanallah.

Selamat berakhir pekan dan salam hangat dari kota hujan. Bonus song: No Money by Galantis.🙂

Gathering di Camp Bravo Cidahu

Camp Bravo

Camp Bravo, Cidahu, Sukabumi

Entah kenapa rasanya malas sekali menuliskan pengalaman saya yang satu ini. Tapi daripada arsipnya cuma tersimpan rapi dalam harddisk dan semoga dengan menuliskannya saya jadi cepat lupa, jadi saya tuliskan saja. Ok, here it is.

Jum’at sore menjelang malam, 13 Mei 2016, hujan menyambut saya dan teman-teman di tanah Cidahu, Sukabumi. Kami merupakan rombongan terakhir yang tiba disana dalam acara gathering kantor. Gelapnya suasana, dinginnya udara dan tanah yang becek tidak mengurangi keceriaan teman-teman saya dalam acara tersebut. Karena setibanya saya disana beberapa orang sedang asyik bercanda di warung pinggir jalan sambil menyeruput kopi dan mie rebus yang mereka pesan sambil berteduh menunggu hujan reda. Beberapa orang saling kontak dengan teman-teman yang sudah lebih dulu berjalan menuju perkemahan menggunakan walkie-talkie.

Awal perjalanan dari bilangan Tebet di Jakarta Selatan sekitar pukul tiga sore kurang beberapa menit. Mobil yang saya tumpangi merupakan rombongan terakhir yang berangkat setelah sebelumnya rombongan empat mobil lain berjalan lebih dahulu. Melaju melewati tol Cawang hingga keluar gerbang tol Ciawi perjalanan lancar tanpa kendala. Bahkan saya yang duduk di samping pak kusir yang mengendarai kuda rekan saya yang menyupir mobil sempat memperhatikan beberapa kali jarum speedometer melewati 120 km/jam. Ah, sudah ngebut, di dalam mobil mereka masih sempat cekakakan ketawa-ketiwi. Seandainya saat itu nahas menimpa, mampuslah kami semua! Kelakuan!

Singkat cerita, setelah menikmati (sumpah nikmat banget!) kemacetan jalur Ciawi-Sukabumi akhirnya kami sampai juga di pelataran parkir samping masjid di Cidahu. Mobil-mobil harus diparkir di sana karena untuk mencapai camping ground harus melewati jalan setapak. Rombongan kami jadi paling akhir tidak saja karena macet, tapi juga karena sempat sekali salah menikung di Cicurug akibat mengikuti rute yang ditunjukan oleh aplikasi GPS di ponsel seorang teman. Hm, makan tuh GPS! Ujung-ujungnya, “Misi, mas. Kalau ke Cidahu lewat mana ya?” Pada seorang, mungkin, tukang ojek yang ada di warung pinggir jalan Cicurug. Jadi deh, putar balik lagi. Tapi ya akhirnya sampai juga, toh.

Setelah hujan reda, seorang pemandu mengantarkan kami menuju lokasi perkemahan. Sampai di perkemahan kami disambut teman-teman yang sudah lebih dulu tiba disana. Duduk-duduk di bawah jajaran gubuk yang ada di teras atas yang sudah disediakan sebagai tempat untuk menyajikan makanan. Omong-omong, pengelola Camp Bravo sudah menyediakan listrik di area perkemahan. Jadi, kami tidak perlu takut gadget yang kami bawa kehabisan listrik. Selain itu, makanan dan minuman juga disediakan oleh pengelola.

Acara malam itu adalah acara keakraban. Duduk-duduk diatas rerumputan basah yang sudah digelari alas semacam tikar/karpet sambil mengisinya dengan obrolan, ada yang sibuk main remi, ada yang sudah asyik tiduran dalam kemah. Suara arus sungai di bawah lokasi kami berkemah, deras air terjun dikejauhan dan suara-suara katak meramaikan suasana malam itu. Dikejauhan temaram lampu-lampu listrik yang remang-remang menerangi gubuk dan jalan di pinggir lapangan tempat kami berkumpul.

Kemudian pengelola terlihat sibuk menyiapkan tumpukan kayu-kayu kering. Berkemah rasanya memang tidak lengkap jika tidak ada api unggun. Tidak lama kemudian kobaran api unggun pun tambah menyemarakan suasana malam itu. Tidak hanya api unggun ternyata, pengelola pun sudah menyiapkan seekor kambing untuk dihidangkan menjadi kambing guling.

Camp Bravo

Kambing guling, enak. Kata yang suka daging.

Malam pun semakin larut. Saya lebih memilih istirahat di dalam tenda bersama seorang rekan saya. Beberapa orang saya dengar masih asyik mengobrol saat saya terbangun dini hari. Saya pun melanjutkan tidur hingga subuh. Selesai sholat Shubuh saya kembali duduk-duduk berdua seorang teman di bawah gubuk sambil menikmati hidangan sisa semalam sambil mengobrol dan menyeruput kopi panas.

Ketika kemilau putih matahari sudah mulai menampakan sinarnya dan semburat jingga sudah menghilang dari ufuk timur, saya mulai berjalan-jalan mengelilingi lokasi perkemahan ini. Melacak sudut-sudut yang tidak bisa saya jangkau di malam hari berbekal kamera handphone. Ternyata sungai di bawah lokasi perkemahan cukup lebar dan banyak batu-batu besar serta berair jernih. Lapangan lokasi kami berkemah ada di bawah tebingan tanah, untuk menuju pintu keluar harus mendaki anak tangga yang tidak curam tapi cukup tinggi. Tepat diatas lapangan tersebut ada sebuah bangunan semi permanen dan sebuah generator listrik.

Camp Bravo

Sungai di bawah lokasi kemah.

Camp Bravo

Barisan tenda di lokasi perkemahan.

Camp Bravo

Lokasi perkemahan dilihat dari atas tangga.

Camp Bravo

Jalan setapak untuk mencapai tangga menuju lokasi perkemahan. Bangunan yang terlihat sepertinya bangunan untuk menempatkan generator pembangkit listrik.

Camp Bravo

Bangunan generator pembangkit listrik.

Camp Bravo

Jembatan penghubung dua sisi sungai di lokasi perkemahan.

Camp Bravo

Dapur, pancuran untuk berwudhu, dan sarana MCK di dekat lokasi perkemahan.

Selesai memotret beberapa spot di sekitar lokasi perkemahan, saya memutuskan untuk mandi. Lumayan bersih juga sarana MCK yang disediakan oleh pengelola. Air yang digunakan sepertinya langsung dari sumber mata air pegunungan, jadi dinginnya terasa sampai ke tulang. Setelah mandi ternyata saya tertinggal acara senam pagi. Walhasil saya tidak bisa ikut senam pagi tersebut.

Camp Bravo

Senam pagi biar segar.

Setelah senam pagi, acara berikutnya adalah sarapan, sesi pribadi, beberapa lomba dan renungan. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan outbound. Outbound yang dilakukan adalah mencari petunjuk di lokasi-lokasi yang sudah ditentukan oleh panitia. Kami dibagi menjadi dua tim besar, setiap tim dibekali kompas yang akan digunakan oleh anggota tim yang ditunjuk sebagai navigator. Fungsi kompas tersebut adalah untuk menentukan arah jalan yang harus ditempuh. Besarnya sudut yang harus diukur dengan kompas itulah petunjuk yang disembunyikan oleh pengelola dan harus kami temukan jika kami ingin memenangkan perlombaan ini.

Camp Bravo

Memintas lebatnya tumbuh-tumbuhan di dalam hutan mencari petunjuk.

Camp Bravo

Pohonnya tinggi-tinggi, daun dan dahannya lebat, udaranya lembab. Sesekali terlihat kera melompat di dahan-dahan.

Camp Bravo

Stick together as a team. Ikuti satu arahan, tidak perlu sok pintar dengan berpencar-pencar mencari petunjuk. Itulah tim yang menang.

Melintasi hutan, mendaki gunung (aih lebainya), melintasi tebing-tebing curam, jalan berbatu licin akhirnya tim saya memenangkan perlombaan. Akhir pencarian adalah kami harus menemukan bendera yang disembunyikan. Setelah bendera ditemukan kami beristirahat sebentar, kemudian dilanjutkan acara terakhir, yaitu seru-seruan bareng di air terjun/curug. Akhir lokasi dari outbound ini memang dirancang berada di dekat sebuah air terjun.

Mohon maaf, foto-foto keseruannya tidak dapat saya tampilkan untuk menjaga privasi masing-masing pribadi dalam foto.

Camp Bravo

Air terjun/curug. Namanya apa? Entahlah.

Menjelang akhir acara, kami semua foto bareng untuk kenang-kenangan. Ada fotografer resmi untuk melakukan hal tersebut.

Camp Bravo

Selepas Dzuhur kami kembali ke pelataran parkir untuk pulang. Kembali menelusuri jalan sempit Cidahu menuju Cicurug sebelum akhirnya kami menuju Pamoyanan, Batu Tulis lewat Cijeruk.

Inilah salah satu pengalaman jalan-jalan yang kurang berkesan bagi saya. Semoga bermanfaat.

Pengalaman Menumpang Shuttle XTrans ke Cilegon

Armada shuttle XTrans di pick-up point XTrans Semanggi. Hotel Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto Kav. 18, Setiabudi, Jakarta Selatan

Armada shuttle XTrans di pick-up point XTrans Semanggi.
Hotel Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto Kav. 18, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Jum’at, 03 Juni 2016. Kira-kira pukul enam lebih lima menit, Commuter Line yang saya tumpangi tiba di stasiun Cawang. Dari stasiun saya langsung menuju terowongan yang bersebelahan dengan jalur KA untuk menuju ke jalan raya. Sampai di pinggir jalan saya langsung mencegat si burung biru. “Hotel Kartika Chandra ya, pak.” Sang supir langsung menyalakan argo dan menuju kawasan Semanggi lewat jalan Gatot Subroto yang terkenal macet itu. Saya perhatikan dia sibuk mengutak-atik aplikasi peta di ponsel pintarnya. Tidak mungkin sebuah posisi di pinggir jalan Gatot Subroto yang terkenal itu tidak diketahui oleh supir taksi yang malang-melintang di Jakarta Selatan. Ternyata benar dugaan saya, sang supir mencari jalur alternatif yang tidak macet untuk sampai ke Hotel Kartika Chandra.

Sempat berputar-putar diantara belantara pencakar langit padahal saya sudah resah kalau-kalau tertinggal shuttle yang akan membawa saya menuju Cilegon. Eh, ternyata sang supir malah salah berputar di sebuah tikungan sehingga kami harus balik arah ke tikungan yang sesuai dengan rute yang ditunjukan oleh aplikasi peta yang digunakan sang supir. Yah, resiko mencari jalur alternatif memang seperti ini. Namun akhirnya saya sampai juga di Hotel Kartika Chandra kira-kira pukul tujuh kurang sepuluh menit. Keluar dari taksi saya langsung menuju sayap kiri gedung, menuju pick-up point shuttle XTrans Semanggi.

Sampai di ruang tunggu saya langsung mengkonfirmasi keberangkatan saya. “Nomor teleponnya, pak?” tanya sang resepsionis. Setelah mengkonfirmasi nama dan nomor telepon petugas tersebut langsung memberikan tiket dan saya pun langsung membayarnya. Sehari sebelumya, seorang co-worker sudah melakukan booking shuttle tersebut untuk saya melalui telepon. Saya kembali menuju deretan kursi tunggu sambil menonton siaran Penguin of Madagascar di Fox Movies dari sebuah televisi yang ada di ujung depan deretan kursi tunggu. Karena shuttle menuju Cilegon berangkat setiap dua jam sekali mulai jam 05.30 pagi, berarti saya harus menunggu kira-kira empat puluh menit lagi untuk berangkat.

Akhirnya armada shuttle yang saya tunggu datang tepat jam 07.30. Sang supir memberitahukan penumpang di kursi tunggu bahwa armada shuttle ke Cilegon sudah siap. Armada tersebut bernomor CL01. Para penumpang pun segera menuju armada yang ditunjuk. Ternyata rekan saya kemarin memesankan saya tempat duduk di dalam shuttle di deretan kedua belakang supir, bangku tengah. Kursi nomor tiga. Tapi karena tidak semua bangku di dalam shuttle diisi penumpang maka saya bebas memilih duduk di bangku paling pinggir dekat jendela dan pintu, kursi nomor dua. Sebagai informasi, dalam satu armada shuttle dapat diisi oleh sepuluh penumpang. Satu penumpang paling depan di samping supir dan penumpang lainnya berderet tiga baris di belakang. Posisi duduk saya adalah yang paling saya sukai, karena dekat dengan jendela dan pintu.

Posisi kursi penumpang di dalam armada shuttle XTrans.

Posisi kursi penumpang di dalam armada shuttle XTrans.

Kami segera berangkat menyusuri jalan Gatot Subroto. Mampir sebentar di sebuah SPBU untuk mengisi tangki solar kemudian berputar kembali meninggalkan Semanggi menuju jalan tol Jakarta-Merak. Selama masih berada di Jakarta kemacetan tidak terhindarkan. Maklum, kendaraan roda empat di Jakarta jumlahnya tidak pernah berkurang. Bukannya berkurang, setiap tahun malah semakin bertambah banyak.

Pemandangan lalu lintas di Semanggi dari dalam shuttle XTrans.

Pemandangan lalu lintas di Semanggi dari dalam shuttle XTrans.

Kira-kira jam delapan lebih enam menit armada yang kami tumpangi keluar dari GTO Karang Tengah. Memasuki provinsi Banten ini mulai terlihat truk-truk dan bus besar melintas di jalur Tangerang-Merak. Kondisi lalu lintas ramai lancar. Beberapa saat kemudian seorang penumpang wanita di deretan kursi baris ketiga berkata, “Pak, nanti kalau sampai di rest area berhenti sebentar, ya.” Ternyata pak supirnya baik sekali, karena beberapa menit kemudian kami sampai di rest area dan dia tidak keberatan untuk berhenti. Dan ternyata arti kata ‘sebentar’ itu berbeda-beda bagi setiap orang. Karena penumpang lain harus menunggu sampai air muka sang supir pun mulai terlihat galau. Tapi akhirnya penumpang yang ditunggu datang dan kami bersiap melanjutkan perjalanan. Untuk meninggalkan rest area kami harus menunggu deretan truk-truk yang baru masuk atau akan meninggalkan rest area yang melintas di belakang armada shuttle yang kami tumpangi.

Pemandangan saat memasuki gerbang tol Karang Tengah dari dalam shuttle XTrans.

Pemandangan saat memasuki gerbang tol Karang Tengah dari dalam shuttle XTrans.

Ngomong-ngomong, kondisi di dalam shuttle cukup nyaman. Tidak ada penumpang yang mengeluh ini-itu. Jok-jok kursi pun bersih. Walau kaki ditekuk tidak bisa selonjoran. Mau selonjoran? Naik mobil sendiri!😀 Atau naik bus!😀

Pick-up point XTrans di Serang Timur

Pick-up point XTrans di Serang Timur

Jam delapan lebih empat puluh menit armada yang kami tumpangi meninggalkan gerbang tol Cikupa. Lalu kira-kira dua puluh menit kemudian kami meinggalkan tol Serang Timur dan mampir sebentar di pick-up point XTrans Serang. Setelah mampir beberapa menit, kami kembali memasuki jalur tol menuju Cilegon. Pemandangan pepohonan besar dan sawah-sawah menghijau di kanan-kiri sepanjang jalan yang lurus ini mungkin terasa menjemukan bagi supir yang sering melintas di jalur ini. Tapi saya pribadi selalu menikmati pemandangan jalan yang saya lewati. Akhirnya jam sembilan lewat dua puluh lima menit kami keluar dari GTO Cilegon Timur. Beberapa menit kemudian kami pun sampai di pick-up point XTrans Cilegon.

Suasana di dalam ruang pick-up point XTrans Cilegon. Jalan Serdang, Cilegon

Suasana di dalam ruang pick-up point XTrans Cilegon.
Jalan Serdang, Cilegon.

Saya pun menunggu staf kantor menjemput saya di pick-up point XTrans Cilegon.

Perjalanan Jakarta-Cilegon dengan shuttle XTrans kira-kira menghabiskan waktu dua jam, berangkat jam 07.30 dan sampai kurang lebih jam 09.30 dengan kondisi jalan tol ramai-lancar tanpa kendala. Kondisi armada bersih dan nyaman serta supir yang ramah dan tidak ugal-ugalan. Well, two thumbs up! Alternatif yang baik untuk menuju Serang atau Cilegon selain menggunakan bus.

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1437H

image

Alhamdulillah kita kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan yang dinanti-nanti. Semoga di bulan yang suci ini kita bisa meningkatkan amal ibadah agar kelak dapat kembali menjadi insan-insan yang fitri pada hari Idul Fitri. Insya Allah.

Selaku punggawa blog ini saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1437H.

NB:
Aplikasi Toolwiz Photos di Android keren, lho😀

Gelar Seni Budaya di Situs Megalitikum Gunung Padang

Sesuai janji di tulisan saya sebelumnya, dalam post kali ini saya tampilkan beberapa foto pagelaran seni budaya yang saya potret hari Kamis, 06 Mei 2016 kemarin. Pagelaran seni budaya Sunda di situs Gunung Padang ini dibawakan oleh civitas MAN 1 Cianjur. Dua tempat yang digunakan adalah halaman masuk ke situs dan teras paling atas Gunung Padang.

Di teras paling atas terlihat beberapa alat musik tradisional gamelan seperti gong, degung dan gendang. Beberapa pengeras suara (salon speaker) juga terlihat di teras yang dijadikan sebagai arena teater. Pengunjung menonton di sekeliling arena teater atau di saung yang ada di pinggir arena. Ada yang sibuk merekam pagelaran seni tersebut dengan ponsel pintar, ada yang asyik menonton sambil tertawa dan berkomentar dan ada juga yang repot berfoto diri dengan latar adegan seni budaya tersebut. Pengunjung lain dari dataran yang agak tinggi di atas arena mengatur kamera di tripod mereka untuk mengabadikan pagelaran seni budaya tersebut.

Macam-macam kostum yang digunakan oleh pelaku pementasan seni budaya ini. Ada yang menggunakan pakaian adat Sunda, pakaian modern, kostum ayam jago, dan selendang tari yang digunakan para penari. Pria rata-rata menggunakan kostum adat pria Sunda, yaitu celana panjang dan kemeja hitam, kaos dalaman berwarna putih serta ikat kepala bercorak batik. Siswi lain yang mungkin berperan sebagai petugas di belakang layar rata-rata mengenakan blus putih dan jilbab hitam. Para penonton yang mungkin juga berasal dari sekolah yang sama mengenakan kain batik, kebaya hijau dan jilbab putih. Banyak juga anak kecil yang ikut menyaksikan. Di sisi gamelan terlihat pria-pria berbusana Sunda dan ada yang bergamis serta bersorban. Mewakili norma yang erat pada masyarakat Sunda yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam dan budaya warisan leluhur.

Menyesal karena sepertinya saya datang agak terlambat sehingga tertinggal beberapa pementasan seni di awal acara. Dua pertunjukan yang sempat saya nikmati adalah pementasan tari dan teater. Padahal sepertinya juga ada pementasan pencak silat. Terlihat dari beberapa pria dan anak-anak yang berpakaian hitam-hitam dengan atribut perguruan pencak silat.

Menarik juga melihat ekspresi wajah orang-orang di sana. Guratan wajah, gesture dan ekspresi orang-orang yang dibalut pakaian adat sangat menarik untuk dijadikan objek foto. Saya pun berusaha mengabadikan mereka dalam foto-foto saya.

Senang rasanya bisa menikmati kekayaan budaya. Hal-hal yang indah seperti ini cuma ada pada masyarakat yang beragama dan berbudaya. Yuk, kita jaga nilai-nilai luhur agama dan warisan adi luhung nenek moyang agar masyarakat Indonesia tetap menjadi bangsa yang berbudaya luhur.

Salam hangat dari kota hujan.

Berlibur ke Situs Megalitikum Gunung Padang

Tiiin… Tiiin… Suara klakson sepeda motor terdengar saat saya melintasi Jalan KS Tubun dari Kedunghalang melintasi perempatan lampu merah Bogor Outer Ring Road ke arah Jalan Pajajaran. Tanpa mempedulikan saya terus menarik gas menuju SPBU yang letaknya ada di sebelah kiri sebelum perempatan lampu merah Plaza Jambu Dua. Tiba-tiba terdengar lagi suara klakson dan suara orang di belakang saya, “Mau sendirian ke Gunung Padang, mas Peb?”

Wah, saya baru ingat kalau saya memang janji bertemu di SPBU untuk sama-sama bersepeda motor ke situs Gunung Padang di Cianjur. Tapi tanpa disangka ternyata rekan saya ini malah mencegat saya di lampu merah Jalan KS Tubun. Sontak saya menjawab, “Kita ke SPBU dulu, De.”

Kemarin, 06 Mei 2016 memanfaatkan momen liburan saya sempatkan berwisata bersama Kang Ade. Berhubung rekan saya ini memang warga Cianjur dan sudah beberapa kali ke Gunung Padang untuk memotret. Selesai mengisi bensin di SPBU kami langsung tancap gas menyusuri Jalan Pajajaran menuju Ciawi. Sepanjang jalan terlihat banyak rombongan sepeda motor yang mungkin juga ingin menghabiskan liburan di kawasan Puncak. Melewati Ekalokasari menuju Tajur terjadi kemacetan di beberapa ruas jalan. Setelah melewati pasar Ciawi kami sempatkan berhenti sebentar di sebuah kedai lontong sayur tidak jauh dari kantor  Polsek Ciawi untuk sarapan.

Melanjutkan perjalanan, kawasan Puncak pagi hari itu diberlakukan jalur satu arah naik saja. Di beberapa ruas jalan kami harus bersabar karena macet, atau berjalan di pinggir trotoar karena padatnya jalan oleh roda empat. Sejuknya udara dan indahnya pemandangan menjadi penawar kepenatan berkendara bagi saya. Di beberapa ruas jalan yang menurun tapi tidak macet juga memberikan kenikmatan berkendara bagi saya.

Kemacetan tidak lagi saya temui setelah melewati Rindu Alam memasuki wilayah Ciloto. Jalannya pun sepi dan menurun. Walau banyak tikungan, saya tidak segan-segan menarik gas agak dalam dan baru mengurangi kecepatan ketika terlihat akan memasuki tikungan. Kemacetan baru kami jumpai lagi setelah melewati Istana Cipanas melewati pasar Cipanas, setelah itu kami terus tancap gas menuju kota Cianjur.

Setibanya di perempatan tugu kota Cianjur kami berbelok ke kanan melewati jalan KH. Abdullah bin Nuh. Bus dan truk menemani kami sepanjang jalan ini. Di jalan ini kami lurus saja sebelum berbelok ke kiri di pertigaan jalan Cianjur-Gunung Pandang. Jalan ini sepi dan sempit, cuma cukup untuk dilewati sebuah roda empat satu arah. Di beberapa titik jalannya hancur menyisakan kerikil dan pasir sehingga kami harus berhati-hati jika ingin tancap gas. Saya cukup heran dengan rekan saya, di jalan yang sempit, banyak tikungan dan hancur aspalnya, berani sekali dia memacu kencang-kencang matiknya. Saya sendiri beberapa kali harus menurunkan kaki, menghindari agar tidak tergelincir karena pasir dan kerikil di aspal yang rusak. Di wilayah ini kami melewati perlintasan rel kereta api yang menuju ke stasiun KA Lampegan.

Semakin ke atas medannya semakin terjal dan rusak aspalnya. Malah di dua titik kami temui jalan yang masih berupa tumpukan batu belum diaspal. Semakin ke atas saya semakin khawatir jika kehabisan bensin walau waktu melewati jalan KH. Abdullah bin Nuh tadi kami sempat mengisi tangki BBM kendaraan kami. Di sebuah tikungan, rekan saya itu berhenti untuk menunggu saya yang berjalan sangat santai. Saya pun berhenti dulu untuk beristirahat sambil melihat-lihat pemandangan. Teman saya itu menunjuk-nunjukan jarinya, memberitahu posisi situs Gunung Padang. Ternyata masih harus menanjak lagi ke atas.Wow! Dalam hati saya berdoa agar BBM dalam tangki cukup untuk kembali turun nanti dan sampai di SPBU terdekat. Karena di sini jarang ada rumah dan penjual bensin eceran jarang terlihat.

Akhirnya kami sampai di depan sebuah sekolah dasar. Jalan yang hendak kami lewati sudah dipalang agar tidak dilewati oleh masyarakat sekitar dan petunjuk parkir saya lihat mengarah ke halaman sekolah tersebut. Dengan aksen Sunda yang kental, rekan saya menanyakan ada apa. Ternyata di situs Gunung Padang sedang ada pagelaran seni budaya. Jadi, halaman parkirnya tidak bisa digunakan untuk kendaraan. Kami memasuki halaman sekolah tersebut untuk memarkirkan sepeda motor kami. Karcis parkir berstempel desa Karyamukti kami bayar dengan harga tiga ribu rupiah.

Kami pun harus berjalan menuju ke pintu masuk situs megalitikum Gunung Padang. Teman saya bercerita bahwa dulu jalan ke halaman situs ini belum diaspal seperti sekarang. Dulu pengendara sepeda motor harus membayar orang yang membantu mendorong sepeda motornya untuk naik karena jalannya masih berupa batu-batu dan terjal. Jarak jalannya ternyata tidak jauh, kira-kira seratus meter dari tempat kami parkir. Di pinggir jalan kami temui rumah-rumah warga setempat yang dijadikan rumah makan dan warung.

Sesampainya di halaman masuk, kami lihat sebuah panggung dan deretan kursi kosong sudah disiapkan untuk acara pagelaran seni yang dimaksud. “Wah, kebetulan dong!” ujar saya kepada rekan saya yang seorang fotografer profesional. “Iya, mas Peb. Lumayan, human interest.” Kami lihat sebuah jam besar di halaman menunjukan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. Wah, lama juga perjalanan kami. Dari rumah saya berangkat kira-kira jam enam kurang lima belas menit. Berarti lama perjalanan kira-kira empat jam lebih. Kami kemudian bersiap dan merapikan diri di sebuah mushola. Dua orang wanita cantik berkebaya menyambut kami layaknya pagar ayu. Kami diwajibkan mengisi buku tamu sebelum masuk ke situs Gunung Padang.

Menurut informasi yang saya dapatkan, situs Gunung Padang lebih tua daripada Piramida Giza di Mesir. Konon Gunung Padang digunakan sebagai tempat pertemuan ketua-ketua adat Sunda Kuno. Sejatinya, Gunung Padang bukanlah sebuah gunung. Tapi bangunan berbentuk punden berundak-undak (terasering) yang dibangun secara bergotong-royong. Menakjubkan! Bayangkan, betapa hebatnya masyarakat zaman dahulu kala membuat bangunan-bangunan dari batu besar (megalitikum = zaman batu besar) di lokasi yang terjal hingga setinggi gunung.

Dari halaman kami harus mendaki tangga dari batu-batu alam yang berbentuk balok. Tingginya berapa meter? Tinggi banget deh pokoknya!😀 Bukan cuma tinggi, tapi juga terjal. Luar biasa ya, bisa-bisanya batu-batu sebesar ini disusun membentuk tangga yang terjal. Di sisi kanan dan kiri sudah dipasang pegangan dari besi untuk keamanan pengunjung situs.

Ketika sampai diatas kami beristirahat sejenak, menikmati pemandangan desa dari atas. Pengunjung lain terlihat sedang mendaki anak tangga yang tadi kami lewati. Di hadapan kami terhampar ‘teras’ dengan tumpukan balok-balok batu alam berukuran besar disana-sini. Beberapa tiang bendera dan umbul-umbul warna-warni terpancang. Angin meniup bendera dan umbul-umbul tersebut.

Situs Megalitikum Gunung Padang

Pemandangan ke Arah Atas dari Tangga Situs Gunung Padang Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka Cianjur, Jawa Barat

Di teras yang lebih tinggi terlihat para pengunjung berkumpul, berjalan-jalan, duduk-duduk diatas batu dan berfoto diri atau memotret pemandangan dan menuntun anak-anak mereka yang masih balita. Beberapa ABG dengan mencoloknya selfie menggunakan smartphone dan menjulurkan selfie stick andalan mereka.😀 Terdapat beberapa pesan larangan, seperti larangan menaiki atau berdiri di atas batu yang berdiri (menhir) dan larangan untuk mengetuk-ngetuk batu.

Kawat-kawat merintangi beberapa tumpukan batu dan ada larangan untuk menjangkau tumpukan batu-batu tersebut. Mungkin kekhawatiran akan rusaknya situs tersebut akibat ulah wisatawan yang tidak bertanggung jawab. Saya pun melihat tidak ada pengunjung yang berani melanggar larangan tersebut. Pengunjung lain yang terlihat membawa kamera profesional dan menenteng-nenteng tripod pun mencari lokasi yang aman dan posisi yang bagus untuk memotret di sekitar tumpukan batu tersebut. Saya pun  asyik memotret.

Sampai di teras paling atas ada pagelaran seni budaya Sunda yang dibawakan oleh civitas MAN 1 Cianjur. Saya sempat melihat dan menikmati beberapa tarian dan aksi teater siswa-siswi tersebut. Hal ini menambah menarik kunjungan saya hari ini. Saya perhatikan para pengunjung lain pun memadati ‘aula’ alam di teras paling atas situs Gunung Padang ini. Bagi saya yang paling menarik adalah aksi teaternya.

Saya dan pengunjung lain dibuat tertawa oleh aksi dan dialog siswa-siswi ini. Tema dramanya seputar politik lokal yang dibingkai dengan kehidupan rumah tangga suami istri dan kepercayaan lokal tentang ilmu pemikat. Pokoknya lucu habis deh mendengar percakapan dan gaya anak-anak ini.😀 Foto-foto mereka akan saya tampilkan pada tulisan terpisah.

Kira-kira pukul satu siang kami turun untuk kembali pulang ke rumah. Untuk turun dari teras Gunung Padang ternyata ada jalan lain yang lebih landai. Jika untuk naik anak tangganya terbuat dari batu-batu alam yang besar, untuk turun anak tangganya terbuat dari batu-batu kanstin yang lebar-lebar. Cukup aman untuk dilewati oleh anak-anak.

Dari situs Gunung Padang ini untuk kembali ke kota Cianjur jika tidak ingin tersesat cukup ikuti papan petunjuk jalan ke arah Warungkondang. Walau hanya ada satu ruas jalan yang kecil, ada beberapa tikungan yang membuat bingung. Kiri atau kanan ya?🙂 Sesampainya di jalan raya, kami berbelok ke kanan menuju kota Cianjur. Kami sempatkan beristirahat di sebuah kedai ayam bakar untuk makan siang. Belum selesai makan, ternyata hujan turun. Kami pun memilih menunggu hujan reda.

Selepas hujan reda perjalanan kami lanjutkan. Sebelum sampai di kota Cianjur kami berpisah. Teman saya berbelok ke kanan sedangkan saya lurus menuju tugu kota Cianjur untuk selanjutnya menikmati perjalanan seorang diri di kawasan Puncak. Ketika fuel meter menunjukan tiga bar, saya sempatkan kembali untuk mampir ke sebuah SPBU di kawasan Cianjur. Jangan sampai kehabisan bensin jika ternyata jalur Cipanas-Puncak macet karena track-nya mendaki. Melewati Atta’awun hingga Gunung Mas saya perhatikan kebun teh di sana ramai oleh wisatawan.

Ternyata jalur naik satu arah masih diberlakukan hingga sore hari kemarin bagi kendaraan yang berasal dari arah Jakarta atau Bogor. Saya dan pemotor lainnya masih tetap bisa lewat menuju Bogor dengan hati-hati karena melawan arus. Kemacetan parah saya temui di sekitar Gadog. Di pos polisi persimpangan Gadog terlihat bapak-bapak polisi yang bertugas mengatur lalu lintas membantu kami untuk meneruskan perjalanan. Selepas Gadog perjalanan lancar. Dari Ciawi melewati Tajur hingga Baranangsiang pun lalu lintas ramai lancar.

Demikianlah perjalanan saya menuju Gunung Padang di kota yang terkenal dengan beras dan tauconya ini. Semoga bermanfaat. Selamat berakhir pekan dan salam hangat dari kota hujan.