BANNED UNTUK SITUS DAN BLOG REMANG-REMANG

Banned

MAKLUMAT

Mulai detik ini setiap komentar yang menyisipkan link atau identitas pengunjung yang mengarahkan pengunjung lainnya ke SITUS DAN BLOG REMANG-REMANG akan RiderAlit BANNED!

Kategori situs/blog remang-remang:

  1. Berisi pornografi (termasuk yang mendekati kategori soft porn).
  2. Perjudian (online atau offline).
  3. Berisi hasutan SARA.
  4. Situs/blog yang hanya ditujukan untuk SEO.

Daftar kategori bisa bertambah sesuai dengan perkembangan teknologi dan dinamika netizen.

Sekian dan terima kasih.

Selamat Tinggal HSX 125D

IMG_3480

Honda Supra X 125D keluaran 2007

Awal bulan ini saya harus relakan Si Sepira, HSX 125D yang selama ini menjadi andalan saya untuk dimiliki oleh biker lain. Seharusnya 17 Agustus nanti tepat sepuluh tahun kebersamaan saya bersama Si Sepira. Jadi ingat waktu pertama kali Si Sepira pertama kali menjejakan dua rodanya di halaman rumah saat diantar dengan pick-up dari sebuah dealer sepeda motor di Bojonggede tahun 2007 dulu.

Sepuluh tahun waktu yang lama bagi sebuah sepeda motor dan sudah bisa dikatakan sepeda motor tua. Di saat produsen sepeda motor menawarkan produk-produk baru dengan fitur dan teknologi yang semakin advanced, rasanya lucu kalau masih harus mempertahankan mesin lawas. Oleh karena itu, saya memilih melepasnya. Bisa mengurangi kewajiban saya membayar pajak juga setiap tahunnya. Selain itu, juga mengurangi biaya perawatan yang biasanya saya keluarkan setiap bulan.

Selama hampir sepuluh tahun menemani, Si Sepira hanya satu kali mogok beroperasi dan pengalamannya saya tuliskan di sini. Memang bukan satu-satunya tunggangan saya, tapi saya merasa lebih nyaman mengendarainya dibandingkan dengan Blade 110R lawas yang sudah lebih dahulu saya lepas, New Blade 110 atau pun si kuning Minerva R150VX. Walau bobotnya lebih berat daripada Blade 110R atau New Blade 110, tapi soal kenyamanan tetap HSX 125D lebih unggul, apalagi jika digunakan untuk berkendara lebih dari satu jam atau saat terjebak macet. Lincah, torsinya cukup besar dan bertenaga. Jika bebek 110cc keluaran AHM, seperti Revo atau Blade, mengharuskan pengendaranya memuntir gas dalam-dalam saat tarikan awal jika membonceng, tidak halnya dengan HSX 125D. Membonceng penumpang atau solo riding tetap sama, cukup puntir sedikit gas, tarikan awalnya sangat responsif. Tidak galak seperti Blade 110R jika digunakan solo riding tapi loyo saat digunakan membonceng. Begitu juga dengan akselerasi.

Selama hampir sepuluh tahun banyak pengalaman suka dan duka bersama Si Sepira. Track yang dilewati pun bermacam-macam. Dari aspal mulus atau rusak, jalan pedesaan dan track off-road pun dilewati. Pengalaman paling gokil saya rasakan saat lebaran 2015 kemarin. Saat itu saya terpaksa memintas hutan di desa Sukawangi hingga Gunung Batu, Jonggol akibat kemacetan di desa Jogjogan saat akan bersilahturahmi ke rumah paman saya. Detail pengalamannya saya ceritakan di sini. Berbagai macam cuaca pun saya rasakan saat menunggangi Si Sepira. Mulai dari dinginnya udara pagi sebelum mentari bersinar, sejuknya angin pegunungan, terik dan panasnya perkotaan, banjir, hujan dan badai hingga pekatnya kabut (klik). Seriously, I’m not joking.

Pengalaman lainnya yang membuat jantung saya hampir copot bersama Si Sepira adalah hampir terperosok ke kolong tronton. Waktu itu 2013, saya berkendara dari arah Stasiun Universitas Pancasila menuju jalan Akses UI. Karena asyiknya menarik gas, saya menyalip mobil di depan saya tanpa saya sadari ada sebuah truk tronton sedang berbelok ke kiri, mungkin hendak parkir, menuju sebuah konstruksi bangunan. Seandainya saya telat menginjak dan menarik rem mungkin saya tidak bisa menceritakan hal ini. Waktu itu posisi saya kurang dari dua meter dari tronton tersebut. Cerita pengalaman saya lainnya bersama Si Sepira pernah saya tuliskan di sini dan di sini.

Hal lucu pernah saya alami saat awal 2014. Waktu itu saya berada di lampu merah Harmoni hendak menuju Pasar Baru, Juanda. Saat menunggu lampu merah berubah menjadi hijau, dua orang yang sedang berboncengan diatas matic menghampiri saya. Penumpang yang dibonceng menanyakan, “Mas, ini Supra X tahun berapa?” Saya pun menjawabnya. Kembali dia mengajukan pertanyaan, “Supra X irit nggak sih, mas?” Saya jawab, “Lumayan. Kemarin saya bawa jalan muter-muter Bogor, sampai disini sekarang bensinnya masih tiga bar, nih.” Eh, begitu lampu berubah hijau dan saya melanjutkan perjalanan, dua orang tersebut masih mengikuti sambil memperhatikan HSX 125D yang saya tunggangi.

Akhirnya awal bulan ini saya harus lepas sang HSX 125D tersebut dalam keadaan standar. Box dan bracketnya yang pernah saya pasang memang sudah jauh-jauh hari saya lepas. Kalau berminat jemput sendiri di rumah saya. 🙂 Selama penggunaan, beberapa kelemahan dari HSX 125D saya rasakan. Pertama adalah seringnya saya memperbaiki shock breaker depan yang beberapa kali bocor. Kedua adalah body plastiknya yang kendur dan bergetar saat dikendarai. Penyakit yang satu ini sepertinya memang menjangkiti bebek-bebek lawas AHM. Yang ketiga adalah pencahayaan lampu depannya yang kurang terang. Kalau untuk urusan mesin memang tidak pernah rewel. Sampai terakhir saya gunakan mesinnya masih halus tanpa asap keluar dari knalpot. Selama hampir sepuluh tahun memang baru sekali servis turun mesin.

Soul GT 125 AKS SSS

Welcome to the family 🙂

Alasan lain saya melepas HSX 125D tersebut adalah karena sejak akhir Januari kemarin saya sudah mendatangkan sang Soul GT 125 AKS. Tertarik dengan fitur AKS dan SSS serta modelnya yang lebih menarik bila dibandingkan produk sejenis dari AHM. Yeah, saya bukan orang yang fanatik dengan satu merk. Jadi, saat ini New Blade 110 yang menjadi andalan saya. Sedangkan dua yang lain masih menjadi teman jalan-jalan saat akhir pekan.

Yeah… Microsoft pun akan mematikan dukungannya untuk Windows Vista yang usianya akan menginjak sepuluh tahun April nanti. #Obsolete. Jadi, cukup beralasan kalau saya berpisah dengan Si Sepira. Heuheu… 🙂 Tapi bedanya dengan Vista yang obsolete, Si Sepira memang lawas teknologinya tapi tidak usang dan masih bisa diandalkan. Old, but not obsolete.

Hasta la vista, baby.

Manusia, Mesin dan Monster

Video Killed The Radio Star

Seperti itulah yang melintas dalam benak saya ketika akhir-akhir ini kembali ramai diperbicangkan tentang tindakan premanisme beberapa oknum yang disinyalir supir angkutan kota konvensional terhadap supir roda empat yang diduga seorang pengemudi angkutan berbasis aplikasi. Tanpa ada bukti, oknum-oknum tersebut sudah berani melakukan pengeroyokan. Pun kalau memang benar pengemudi tersebut merupakan pengemudi angkutan online berbasis aplikasi, tindakan barbar seperti itu juga tidak dibenarkan. Kita hidup di negara hukum, kan?

Memang dengan semakin maraknya layanan angkutan online berbasis aplikasi membuat pengemudi angkutan roda dua hingga roda empat konvensional semakin kehilangan ‘lahan’. Jangankan dengan angkutan online yang semakin merajalela, dengan program kredit motor murah saja supir dan tukang ojek konvensional tersebut sudah ketar-ketir. Begitu kata seorang rekan kerja. Kalau dulu dengan sesama pengemudi saja mereka masih saling sikut, apalagi saat ini.

Kalau dulu bagi mereka, pengemudi angkutan konvensional, semua serba mudah. Tinggal stand by di pangkalan atau terminal, menunggu penumpang, mengantar penumpang dengan rute yang sudah ditentukan, terima uang ketika penumpang turun kemudian setor penghasilan. Dari pagi hingga petang, day by day. Peluang berkurangnya penghasilan hanya dari sesama pengemudi. Money comes easily. Maka kondisinya tidak seperti itu lagi saat ini.

Dengan menjamurnya layanan ride sharing berbasis aplikasi, pengguna transportasi umum seperti dimanjakan. Pesan kapan saja, dari mana saja, dengan tujuan kemana saja bisa dilakukan. Mudah. Dengan tarif yang kompetitif, tidak harus menunggu di halte atau pinggir jalan, bisa dari ruang ber-AC tidak perlu berpanas-panasan dibawah terik matahari pinggir jalan yang berdebu, diperlakukan dengan ramah. Sudah tidak ada cerita lagi penumpang menunggu angkot ‘ngetem’ puluhan menit. Tidak ada cerita lagi penumpang diturunkan ditengah perjalanan dengan alasan ‘tidak ada sewa’ karena penumpangnya cuma satu dua orang saja. Tidak ada cerita lagi ‘ditembak’ tukang ojek dengan tarif yang irasional. Blaassss… semua kebobrokan masa lalu hanya tinggal kenangan dengan kemajuan teknologi.

Maka pengemudi konvensional tidak hanya bersaing dengan sesama mereka dan pengemudi angkutan berbasis aplikasi saja. Mereka pun harus bersaing dengan ‘ego’ calon penumpang. Bagaimana caranya menarik calon penumpang agar mau memanfaatkan jasa angkutan konvensional itu yang harus dicarikan solusinya. Sebagai konsumen tentu penumpang berpikiran, “Duit aing kumaha aing wae, atuh!” Konsumen punya banyak pilihan. Tidak mau yang biru masih ada yang hijau. Tidak suka yang hijau masih ada yang orange.

IBM Digital Disruption

According to an internal slide from IBM, the company believes the disruption already happened. Sumber: https://vrworld.com/2015/11/09/ibm-disruption-has-already-happened/

Like all the other tracks from the LP, “Video”‘s theme was promotion of technology while worrying about its effects. This song relates to concerns about mixed attitudes towards 20th-century inventions and machines for the media arts. – Video Killed The Radio Star, Wikipedia

Majunya teknologi memang membuat beberapa profesi dan bidang keahlian menjadi obsolete. Seberapa tenar bintang sandiwara radio dibandingkan dengan artis sinetron atau bintang Hollywood saat ini? Zip! Beruntunglah loper koran atau tukang pos tidak menggerebek kantor berita online dan layanan e-commerce atau penyedia layanan surat elektronik karena teknologi yang mereka terapkan membuat jasa tukang pos dan loper koran menjadi kurang berarti. Alhamdulillah, mereka tidak mengalami post-power syndrome saat masa jaya mereka berakhir.

Kalau sekarang angkutan konvensional dilibas dengan layanan angkutan online berbasis aplikasi, apakah hal yang sama juga akan menimpa para pengemudi angkutan berbasis aplikasi dimasa mendatang? Bisa saja terjadi. Kalau kendaraan-kendaraan otonom semakin terjangkau, teknologinya semakin mantap dan dapat diandalkan, budaya manusia yang semakin bergantung pada teknologi, maka bukan tidak mungkin penyedia transportasi berbasis aplikasi akan memilih mesin-mesin tersebut.

Banyak hal akan berubah, tapi ada satu yang tidak ikut berubah, yaitu perubahan itu sendiri. Seseorang pernah mengatakan, “Fully supported environment, but less challenged, transforms human into machine. Fully challenged environment, but less supported, transforms human into monster. What’s make human truly human?

Dalam Al Quran Allah swt berfirman:

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).” (QS. Hud: Ayat 6)

“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”” (QS. Yunus: Ayat 31)

Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman:

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d: Ayat 11)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.

Jalan-jalan ke Situ Babakan

Situ Babakan

Situ Babakan, Kecamatan Jagakarsa, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan

Bagaimana kira-kira caranya mengisi liburan atau akhir pekan di Jakarta tanpa harus pergi ke mall, nonton film baik di bioskop ataupun on-line, atau main games di komputer/gadget? Jawabannya adalah pergi jalan-jalan ke tempat wisata alam. Loh, memangnya ada wisata alam di Jakarta? Jelas ada! Situ Babakan di Srengseng Sawah, kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan misalnya. Selain wisata alam di Situ Babakan sobat bisa melihat budaya asli Jakarta, budaya Betawi.

Untuk mencapai Situ Babakan cukup mudah. Jika kita berasal dari Bogor atau Depok cukup ikuti jalan raya Margonda hingga menjumpai pertigaan jalan sebelum JPO stasiun Lenteng Agung. Dari pertigaan tersebut kita berbelok ke kiri di jalan Mohammad Kafi II. Cukup ikuti arah yang ada di papan penunjuk jalan di sepanjang jalan tersebut untuk mencapai Situ Babakan.

Situ Babakan

Ada apa saja di Situ Babakan? Selain pemandangan alam danau atau situ, di sini kita bisa jumpai kekhasan budaya Betawi, misalnya bangunan, pakaian adat dan makanan/minuman. Pemandangan indahnya bisa dinikmati sambil menyantap jajanan-jajanan yang dijajakan oleh para pedagang di sekeliling situ atau pedagang kaki lima yang kebetulan mampir di dekat tempat kita duduk di kursi-kursi atau lesehan di tempat yang disediakan.

Jangan takut dompet terkuras karenan jajanan yang dijajakan di sini tidak semahal kalau sobat pergi ke Plaza Indonesia, Kota Casablanca atau PIM. Heuheuheu… 😀 Yup, pedagang disini berdagang untuk mencari nafkah, bukan untuk membangun real estate, mall, atau kawasan perkantoran elite. Jadi, jangan sungkan-sungkan merogoh kocek sobat.

Baiklah, daripada saya berpanjang lebar bercerita seperti apa Situ Babakan apalagi sampai ngobrol ngalor-ngidul tidak karu-karuan, lebih baik sobat lihat foto-foto berikut ini. Jangan salahkan saya kalau sobat jadi penasaran dan ingin berkunjung sendiri ke Situ Babakan ini. 😀

Situ Bababakan

Selamat Datang di Situ Babakan

Situ Babakan

Lahan parkir di Situ Babakan

Situ Babakan

Kerak telor makanan khas Betawi

Situ Babakan

Salah satu kios dagangan di Situ Babakan

Pedagang kaki lima di Situ Babakan.

Pedagang kaki lima di Situ Babakan. “Bang, senyum bang!” 😀

Jalan di Pinggir Situ Babakan

Pemandangan jalan di sepanjang Situ Babakan

Wisata Air Situ Babakan

Ajak anak-anak atau keluarga sobat untuk menikmati pemandangan Situ Babakan dengan perahu-perahu yang disediakan.

Menara Masjid Terlihat Dari Seberang Situ Babakan

Pemandangan menara masjid di kejauhan yang terlihat dari salah satu sudut di seberang Situ Babakan.

Wisatawan Menikmati Hidangan di Tepi Situ Babakan

Menikmati jajanan kuliner di bawah pohon rindang di tepi Situ Babakan bersama teman, keluarga atau handai taulan.

Wisatawan di Situ Babakan

Masih menikmati kuliner di sepanjang tepi Situ Babakan. Tapi kenapa adik yang satu itu sepertinya tertidur ya, heuheuheu… 😀

Pedagang Keliling di Situ Babakan

Pedagang keliling menawarkan dagangannya pada seorang wisatawan.

Jalan di Pinggir Situ Babakan

Seperti inilah jalan di sekeliling Situ Babakan. Cukup lebar untuk dilewati dua mobil dengan kios-kios di sepanjang pinggir jalan dan meja-meja dan kursi berpeneduh di pinggir situ.
Situ Babakan

Jangan lupa dengan bir pletok, minuman khas Betawi.

Semoga bermanfaat. Salam hangat dari kota hujan.

Kalender 2017

Alhamdulillah, akhirnya bisa selesai buat posting kalender 2017 ini.

Tema kalender 2017 ini adalah mosaik. Paduan titik, garis, kurva, poligon dan warna dalam pola yang acak-acakan dalam keteraturan. Yah, walaupun tidak semuanya jadi mosaik, misalnya bulan Desember. Mudah-mudahan bermanfaat dan kalau ada yang perlu dikoreksi, silahkan masukan saran perbaikannya di kolom komentar.

Salam hangat dari kota hujan.

Bahaya Sampah Air Minum Dalam Kemasan di Jalan Raya

Kamis sore 22 Desember 2016, saat melaju dari arah stasiun Tanjung Barat menuju stasiun Lenteng Agung hampir saja nahas menimpa saya. Di tengah kemacetan lalu lintas dalam posisi stop-and-go, tiba-tiba tanpa saya sadari sesuatu mengganjal ban depan sepeda motor saya. Saya coba gas tetapi ban depan melaju seperti terseret (slip), bukannya berputar normal. Masya Allah, hampir saja terjatuh di tengah kemacetan jika kaki saya tidak menyangga beban sepeda motor.

Berhenti, coba melihat apa yang mengganjal ban. Ternyata sebuah botol air minum dalam kemasan yang dibuang sembarangan terlindas ban depan sepeda motor saya. Sebagian botol sudah gepeng terlindas tetapi leher botol yang masih tertutup tetap mengganjal roda dengan aspal. Masih dalam posisi berkendara, saya coba meminggirkan botol tersebut dengan kaki. Tidak urung pengendara roda empat dan roda dua lain di belakang saya yang tidak sabar membunyikan klakson.

Sebuah pelajaran bagi kita semua. Betapa berbahayanya membuang sampah di tengah jalan raya. Apalagi sampah sebesar botol air minum dalam kemasan. Karena dapat menjadi friksi dan membahayakan pengguna jalan raya yang melintas. Oleh karena itu, jika terpaksa membuang sampah, menepilah dan buang sampah pada tempatnya. Atau simpan dahulu di kendaraan Anda.

Semoga bermanfaat.

Mengoptimalkan Penyimpanan Portable Audio Player

Format Factory 3.7.5

Portable Audio Player

Beberapa minggu lalu waktu sedang merapikan beberapa tumpukan barang jadul di gudang saya temukan sebuah USB portable audio player diantara floppy disk 3.5 inch. Wah, jadi inget zaman kuliah dulu. Seingat saya benda ini saya beli tahun 2006 dulu. Hm, kira-kira masih bisa digunakan nggak ya?

Cek dan ricek kondisi body-nya masih bagus, kutub baterainya masih utuh tanpa karat karena memang terbuat dari kuningan. Langsung coba colok ke port USB di komputer dan tadaaaa…! Layarnya masih bisa menampakan tulisan Welcome! Langsung tekan tombol Windows+E di keyboard dan ada satu drive tambahan muncul. Horeee… berarti masih bisa. Lumayan, masih bisa digunakan untuk menemani jalan santai. 🙂 Tinggal belikan baterai rechargeable 1.2 volt ukuran AAA dan colok headphone 3.5 mm.

Berhubung storage-nya cuma sebesar 2GB, kalau dilihat dengan Windows Explorer sih nggak sampai segitu :-D, saya jadi berpikir bagaimana ya supaya bisa lebih banyak menyimpan file audio MP3 tanpa harus mengorbankan kualitas audionya. Teringat dulu zaman handphone lawas seperti Nokia 6600 yang masih menggunakan MMC suka mengkompresi audio hingga ukuran filenya kurang dari 1 MB.

Kualitas audio, khususnya audio terkompresi seperti MP3, sangat ditentukan oleh bitrate-nya. Angka bitrate biasanya ditunjukan dengan satuan KB/s (Kilo Byte per Second). Biasanya ada dua jenis MP3, yaitu MP3 dengan variable bitrate dan constant bitrate. File audio dengan variable bitrate jika dimainkan dengan MP3 player akan  menunjukan angka bitrate yang berubah-ubah, misalnya dari 128 KB/s lompat ke 256 KB/s lalu lompat lagi ke 192 KB/s dan seterusnya. Sedangkan audio dengan constant bitrate akan menampilkan angka bitrate yang tetap dari awal hingga akhir, misalnya 64 KB/s, 128 KB/s atau 192 KB/s saja. Tidak pernah berubah selama file-nya dimainkan.

Kualitas audio dengan bitrate 128 KB/s sudah setara dengan suara CD audio yang sangat jernih di telinga. Jika sebuah lagu berdurasi 3 sampai 4 menit disimpan dengan format MP3 128 KB/s biasanya memerlukan ruang penyimpanan  sebesar 4 s.d 5 MB. Bisa nggak ukurannya diperkecil dari 4MB tetapi kualitasnya tidak menurun? Maksudnya tetap terdengar jernih di telinga. Jawabannya bisa! Berdasarkan pengalaman saya kualitas 64 KB/s yang setara dengan suara radio FM paling jernih tetap terdengar nyaman di telinga. Suara bass dan treble-nya tetap mengalun jernih di telinga. Apalagi jika menggunakan headphone atau pengeras suara (speaker) plus amplifier yang berkualitas. Ukuran filenya pun cuma 1 s.d 2 MB.

Terus cara mengubah bitrate-nya bagaimana? Gunakan program konversi multimedia semacam Format Factory untuk melakukannya. Kenapa Format Factory, bukan yang lain? Yah, karena saya sudah cukup akrab dengan perangkat yang satu ini. 🙂 Selain karena lisensinya yang free, Format Factory mendukung semua format multimedia yang populer saat ini.

Yuk, langsung saja kita bahas cara mengkonversi audionya! Silahkan gunakan Google untuk mencari dan men-download Format Factory. Kalau sudah di-download jangan lupa diinstal, ya. 😀 Saya sendiri masih menggunakan Format Factory 3.7.5.

Format Factory 3.7.5

Format Factory 3.7.5

Format Factory 3.7.5

Klik menu Audio, lalu klik tombol/icon MP3.

Format Factory 3.7.5

Klik tombol Add File untuk menambahkan file audio satu per satu atau klik tombol Add Folder untuk menambahkan semua file audio/video yang ada dalam folder.

Format Factory 3.7.5

File yang akan dikonversi akan ditampilkan. Langkah selanjutnya adalah menentukan kualitas output yang diinginkan. Klik tombol Output Setting.

Format Factory 3.7.5

Pilih profile Medium Quality, selain itu untuk mengecilkan ukuran berkas MP3 atau beberapa format audio lain bisa dilakukan dengan menentukan besar bitrate. Dalam hal ini saya memilih 64 KB/s. Setting yang lain saya biarkan pada posisi default. Setelah selesai klik tombol Ok.

Format Factory 3.7.5

Kembali ke jendela sebelumnya, klik tombol Set Range di bawah tombol Output Setting. Kita bisa memotong durasi file audio/video dari detik berapa sampai detik berapa dengan mengklik tombol Start Time dan End Time. Kotak preview dan slider bisa membantu kita melakukan hal tersebut. Jika sudah selesai klik tombol Ok.

Format Factory 3.7.5

Klik tombol Ok sekali lagi dan kita akan kembali ke jendela utama. Nama berkas multimedia yang akan dikonversi akan ditampilkan pada daftar di sebelah kanan. Klik tombol Start untuk memulai proses konversi.

Format Factory 3.7.5

Saat proses konversi dilakukan akan muncul progress bar yang menampilkan persentase. Jika proses konversi telah selesai statusnya berubah menjadi Completed dan jika prosesnya gagal maka yang muncul Error disertai kode kesalahannya. Kita akan bahas penyebab kesalahannya nanti. Output file-nya disimpan dalam direktori D:\FFOutput.

Loh, kok bisa ada yang error saat proses konversi? Kenapa ya?

Biasanya beberapa program konversi audio, tidak hanya Format Factory, mengalami kesulitan saat mengkonversi audio MP3 variable bitrate menjadi audio MP3 constant bitrate. Terus bagaimana, dong? Cari program lain untuk konversi? 😦 Tenang. Format Factory masih bisa digunakan untuk mengatasi masalah ini.

Caranya adalah ubah terlebih dahulu file MP3 variable bitrate tersebut ke format audio tanpa kompresi, yaitu WAV. Jika MP3 variable bitrate dengan bitrate tertinggi 128 KB/s berdurasi 3 sampai 4 menit file-nya berukuran 4 s.d 5 MB maka setelah dikonversi menjadi WAV ukurannya bisa 10 kali lipatnya. Biasanya berkisar 40 s.d 50 MB.Nah, setelah diubah menjadi WAV, kita konversi kembali menjadi MP3 64 KB/s.

Cara mengerjakannya sama seperti langkah-langkah diatas, cuma pilih formatnya WAV. Setelah output hasil konversinya  didapatkan maka file WAV tersebut bisa dikonversi kembali menjadi MP3 seperti langkah-langkah sebelumnya.

Ok, semoga tips sederhana ini bermanfaat. Tetaplah bersyukur kepada Sang Pencipta atas karunia pendengaran yang sempurna ini. Subhanallah.

Selamat berakhir pekan dan salam hangat dari kota hujan. Bonus song: No Money by Galantis. 🙂